Darkest Dream

Darkest Dream
None


__ADS_3

"Apa kau ingin menyontek tugas ku lagi? jika iya, maaf aku tidak bisa memberikan nya. Berea akan memarahi ku, Zion pasti akan terus mengatai ku bodoh karena mau di peralat oleh orang lain." Terang Helen dengan sedikit keberanian yang dia miliki. Walau suaranya sedikit bergetar, namun dia harus mulai mempertahankan apa yang menjadi hak nya. Juga harga diri nya sendiri.


Grend tertegun mendengar kalimat lugas Helen yang meski disampaikan dengan nada takut-takut. Dia tidak marah soal itu, namun saat Helen menyebutkan nama Zion. Grend tidak menyukai nya, entah lah.


"Tidak, Helen. tidak! aku benar-benar hanya ingin duduk di sini saja, aku tidak membutuhkan salinan tugas mu. Aku bisa mengerjakan nya sendiri jika ada tugas sekolah." Tegas Grend meyakinkan Helen. Tangan nya terulur untuk meraih jemari Helen, namun gadis itu dengan sigap menepis nya pelan. Helen trauma di sentuh oleh pria itu. Grend tersadar lalu menarik tangannya kembali. Suasana terasa canggung, padahal selama dua tahun ini, Grend selalu ketus dan jahat pada nya. Kini pria itu seolah orang asing di dalam tubuh seorang Grend.


"Hel..."


"Grend.."


Kedua kikuk karena sama-sama akan melontarkan kalimat.


"Kau saja duluan." Putus Grend menengahi situasi canggung mereka.


"Kau saja tidak apa-apa, mungkin yang ingin kau katakan lebih penting dari ku." Balas Helen salah tingkah. Grend tersenyum gemas melihat tingkah malu-malu Helen. Padahal dulu dia menganggap tingkah gadis itu konyol dan memalukan.


"Aku hanya ingin mengajak mu ke pesta ulang tahun pernikahan orang tua ku besok malam. Aku harap kau punya sedikit waktu senggang, aku berjanji akan mengenal kan seseorang pada mereka. Semacam teman dekat... seperti itu lah..jika kau tidak sibuk." Ucap Grend mengusap tengkuk nya untuk menepis rasa malu yang kini mendera nya. Wajah nya memanas, pasti akan terlihat memerah sekarang. Sungguh Grend mengutuk tingkah nya yang seperti orang cacingan.


Sementara Helen tercengang, tidak salah kah Grend mengajak nya. Apa pria itu tengah mabuk? atau sedang melakukan taruhan untuk mempermalukan nya nanti di hadapan banyak orang.


"Apa kau sedang ingin mengerjai ku? jika kau bermaksud demikian, sebaik nya aku jawab dengan jelas agar kau tidak lagi mengusik ku. Aku tidak bisa, maaf Grend. Aku ingat bagaimana buruknya perlakuan mu dan teman-teman mu. Apalagi kekasih mu, Linda. Dia pasti akan mencincangku hidup-hidup jika berani mendekati kekasih nya. Kau bisa cari korban lain untuk kalian jadikan bahan leluncon, aku sudah punya teman yang bisa membela ku saat aku sakiti." Urai Helen dengan berani. Gadis itu menggebu-gebu saat menyuarakan isi hati nya.

__ADS_1


Grend kembali tercengang, separah itu kah perlakuan nya selama ini. Sehingga begitu sulit bagi Helen untuk mempercayai nya. Wajah Grend menyendu, hati nya terasa getir. Pria itu tersenyum miris, tadi nya dia hanya akan menawarkan perdamaian dan mengungkapkan kata maaf secara perlahan. Di mulai dengan berteman dengan Helen, dia pikir bisa membuat gadis itu menaruh kepercayaan pada nya. Kini dia benar-benar menyesal, andai dia tidak pernah menjadi pria brengsek selama ini. Mungkin tidak akan sesulit ini mendekati gadis itu.


"Aku mengerti kau masih takut dan tak percaya padaku, aku tidak marah. Kau berhak untuk memproteksi diri mu sendiri. Aku memahami nya, sangat. Hanya saja, aku tidak sedang mempermain kan mu. Aku serius mengajak mu, aku tau aku pria bejat. Aku menyesali nya, sungguh." Lirih Grend menatap manik hijau Helen yang semakin membuat gadis itu bertambah cantik. Entah kemana saja akal sehat nya selama ini, sehingga mampu memperlakukan gadis itu dengan buruk.


"Baiklah, tidak apa-apa. Masih besok malam. Kau bisa memikirkan nya dulu, kau bisa mengajak teman-teman mu juga jika kau ragu pada ketulusan ku." Grend beranjak dari kursi nya dengan perasaan kecewa. Kecewa pada dirinya sendiri, kenapa baru menyadari jika sebenarnya hati nya selama ini tertuju pada gadis yang sering dia hina bahkan dia lecehkan tersebut. Dia pria populer, anak pengusaha sukses juga wakil ketua yayasan tempat nya menimba ilmu tersebut. Gengsi adalah pilihan terbaik.


Helen si gadis miskin yang bisa bersekolah di sana hanya karena beasiswa prestasi. Selain itu, gadis itu sangat aneh menurut nya. Penampilan nya tidak menarik, juga wajah Helen selalu terlihat menyebalkan di mata Grend.


Sebelum benar-benar keluar dari kelas Helen, Grend kembali menoleh.


"Linda bukan kekasih ku, hubungan kami bukan sesuatu yang layak di sebut sebuah hubungan. Apa pun yang pernah kami lakukan, hanya semacam simbiosis mutualisme. Mungkin ditelinga mu aku terdengar brengsek, aku tak menampik. Aku pria normal, aku di tawarkan bukan yang menawar untuk diberikan. Nilai aku dari sudut pandang ku, bukan dari mulut orang lain." Selesai dengan kalimat nya Grend kini mulai menghilang dari balik pintu.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Seorang wanita terlihat duduk di kursi taman sambil menatap lalu lalang kendaraan, dengan wajah datar dan sebal.


"Ku pikir kota yang di sebut kota kecil ini, akan lebih tentram dari polusi udara dan populasi manusia. Lihatlah..ini bukan kota kecil. Dasar adik sialan!" Oceh nya penuh emosi dan makian. Andai ada orang di dekat nya, mungkin saja akan menyangka diri nya tengah di rundung masalah keluarga yang pelik.


"Awas saja kau! jika kau datang berkunjung kemari, akan ku beri kau perhitungan." Gerutu nya lagi, tangannya terampilnya terus melempar batu ke arah kolam air mancur tanpa peduli akan merusak apapun di sana.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


"Berhenti lah tersenyum Mo. Atau orang-orang akan mengira kami sedang membawa kabur pasien rumah sakit jiwa."


"Ck! tidak bisa kah mom berkata lembut seperti mommy ku yang satu ini. Mommy, apa aku terlihat seperti orang gila.." pertanyaan konyol tersebut mendapat kan hadiah lemparan sepatu dari sang ibu suri.


"Auww..! mom, kenapa kau suka sekali menganiaya ku. Mommy, lihatlah kelakuan mom padaku. Aku merasa seperti anak pungut saja" rajuk nya kesal, usianya sudah kepala tiga, namun lihat lah tingkah nya.


"Kau anak mommy yang tampan dan baik. Jadi berhenti lah membuat mom mu kesal, Morgan sayang. Kemarilah, duduk di samping mommy saja. Lihatlah para wanita sedang mencuri pandang ke arahmu, perhatikan penampilan mu, jangan lupa juga Zipper celana mu." Ucap Cloey sontak membuat Morgan menatap ke arah celananya. Dia baru saja dari toilet, mungkin saja celana nya lupa di kancing.


"Mommy..!" Rajuk Morgan terlihat malu. Cloey terkekeh lalu mengusap lembut pipi keponakan nya dengan sayang.


"Honey, aku baru saja menelpon Alex. Dia akan menjemput kita di bandara, sementara Leon akan tiba di sana mungkjn 10 menit lebih belakangan." Sela Sky tiba-tiba, dia baru saja menelpon keponakan di luar ruang tunggu.


"Apa wanita galak itu tau jika kita akan datang? aku rasa dia pasti akan langsung membunuh ku jika aku tiba di sana. Mommy harus menyelamatkan ku dari singa itu nanti." Ucap Morgan meminta perlindungan dari mommy kesayangan nya. Cloey hanya mengangguk pelan, meski dia sangat ingin tertawa sekarang.


Catatan. t. : thanks atas doa nya para readers ku yang baik hati, putri kecil ku sudah mulai aktif kembali sekarang walau belum pulih benarπŸ™πŸ™




Makasih uncle/onty atas doa nya, Qaeyra sudah boleh menikmati berkat kesehatan kembaliπŸ™πŸ™πŸ₯°πŸ₯°πŸ˜šπŸ˜š Semoga Tuhan membalas nya dengan berkat berlimpah. AminπŸ˜‡πŸ˜‡

__ADS_1


__ADS_2