Darkest Dream

Darkest Dream
Kejutan kecil II


__ADS_3

Nafas Ashley memburu turun naik dengan cepat, Aslan bahkan tak berani mendekat atau sekedar menenangkan hati sang istri.


Kasur king size yang mereka tempati ternyata hanya lah kasur air. Sedetik saat Ashley menghempas tubuh nya di sana untuk menikmati fasilitas serba lux tersebut. Air menyembur keluar membasahi lantai kamar mereka. Rupanya sudah ada sedikit sayatan tumpul sehingga ketika ada pemicu, akan membuat nya koyak sempurna. Bum! Ledakan air pun terjadi.


"Anak itu benar-benar keterlaluan! Awas saja! akan aku bakar rumah ini besok pagi!" Geram Ashley dengan nada yang sangat ma yg marah.


"Honey..sudah lah, aku sudah menelpon Alex agar membuka kan kita pintu dari luar." Ujar Aslan memberanikan diri untuk membuka suara.


Ashley yang sudah terlanjur kedinginan hanya terdiam meringkuk di sofa. Tubuhnya menggigil. Bagaimana tidak, seluruh tubuh nya tenggelam dalam genangan air seperti orang yang sedang berenang. Sementara Aslan hanya sebagian kaki nya saja yang basah. Namun hawa dingin dari pendingin ruangan, membuat dia pun mulai kedinginan luar biasa. Apa kabar dengan istri tercinta nya yang jelas basah kuyup.


Klek


Ashley bergegas bangun lalu menghampiri sang anak dengan tatapan penuh selidik dan marah.


"Jangan bilang kau juga berkonspirasi dalam hal ini? jika ya, bersiaplah besok kau akan ku bakar hidup-hidup dalam rumah ini!" Alex hanya bisa menghela nafas berat. Diri nya memang tidak ikut serta dalam ide gila itu, namun dia sudah mengetahuinya sejak awal.


Sesekali sang ibu perlu mendapat kan lawan yang seimbang. Terlalu lama wanita itu membuat anak-anak nya seperti tumbuh dalam penindasan.


Brak brak brak


Ashley memukul pemukul baseball ke daun pintu kamar Lizzie. Lizzie yang baru saja selesai membersihkan diri dari sisa percintaan nya tersenyum samar. Siapa lagi kalau bukan sang bibi tercinta.

__ADS_1


"Dad, jangan pakai baju mu dulu..duduk lah bersandar di ranjang. Cukup tutupi selimut hingga batas perut kotak-kotak kesukaan ku itu." Titah Lizzie penuh maksud. Bern hendak protes, namun urung setelah mendengar kalimat pujian dari mulut sang istri. Itu sangat langka dan dia harus menuruti nya.


Klek


Lizzie membuka pintu setelah mengacak rambut lembab nya hingga sedikit berantakan.


Ashley masuk dan bersiap mengayunkan tongkat baseball ke arah sang keponakan. Namun penampakan yang menggoda iman dan tak telah menyita perhatian nya. Bagaimana tidak, perut kotak-kotak sang menantu telah mencuri atensi juga melenyap kan kemarahan nya seketika.


"Lap air liur mu bibi, suami ku memang sangat menawan. Tapi dia masih cukup waras untuk tidak berpaling dari istri sempurna nya ini." Seringai licik Lizzie tercetak jelas memperolok harga diri sang bibi.


Ashley berusaha mengatur nafas nya, lalu kembali fokus pada sang keponakan. Tatapan keduanya bertemu, tatapan sengit yang menakutkan. Bern jadi serba salah, ruang gerak nya terbatas. Karena pria itu belum menggunakan apa pun di balik selimut nya.


"Kau siluman kecil menyebal kan! Akan ku kirim kau ke Zehara sekarang juga, bedebah jahanam..!!" Umpatan demi umpatan terlontar lancar dari bibir Ashley. Rupanya emosi wanita paruh baya itu telah berada di puncak nya.


Di kamar lain, seorang wanita sibuk mengumpat sementara tangan nya sibuk mencongkel lubang kunci. Sedangkan sang suami hanya menatap kelakuan ajaib istri tercinta nya.


"Tunggu lah sebentar lagi baby, mungkin saja ada sedikit gangguan teknis. Rumah ini kan serba otomatis." Yugo berusaha menenangkan sang istri. Walau dia tau tidak lah seperti itu. Rumah itu memang serba digital, namun kondisi mereka saat ini benar-benar di rencana kan oleh sang tuan rumah. Dia hanya tidak ingin menyulut api kemarahan istri menjadi semakin membara.


"Apa kau buta, semua yang kita alami ini adalah situasi yang disengaja. Kakak benar-benar memancing kemarahan ku kali ini." Gigi Leah gemeletuk menahan amarah.


Lizzie benar-benar telah berhasil memberi kan sambutan spesial bagi kedua wanita itu. Lihat lah bagaimana kalang kabut nya dua wanita pemarah itu mendapati jika diri mereka telah di jadikan objek humor Lizzie yang sama sekali tidak lucu.

__ADS_1


Sementara perkelahian kedua wanita beda generasi itu masih berlanjut, Bern menatap miris seisi kamar nya dengan tatapan iba. Perabotan mahal di dalam sana kini telah menjadi korban perang saudara.


Ashley dengan emosi nya, sedang kan Lizzie dengan sikap tenang nya. Wanita itu lebih banyak menghindari serangan dari pada membalas. Hingga akhirnya sang bibi mulai terlihat kelelahan. Terang saja, usia mempengaruhi ketangkasan dan daya tahan.


"Apa bibi ingin ku buat kan es limun?" tawar Lizzie mulai membenahi rambut nya di depan cermin yang kini hanya tinggal memperlihatkan sebagian tubuh nya di dalam sana.


"Lima gelas dan sepiring steak daging sapi kualitas terbaik..!" ucap wanita itu kini tengah bersandar di balik sofa.


Bern kembali melongo, bagaimana bisa ada orang yang baru saja bertarung sehebat itu, langsung berubah menjadi kawan dalam waktu sepersekian detik. Tapi itu lah kenyataan yang kini terpampang nyata di hadapan nya. Keluarga istri nya benar-benar membuat Bern harus memiliki imun yang kuat.


"Baiklah! keluar dari kamar ku sekarang, kecuali bibi masih betah menikmati pemandangan gratis di atas ranjang itu. Tetaplah di sini sementara aku membuat lima gelas limun dingin. Bibi perlu ganti pemandangan sesekali..." oh Lizzie! wanita itu sangat murah hati, sehingga dengan suka rela berbagi pemandangan gratis pada tubuh berotot suami nya pada sang bibi tercinta.


Ashley mencebik kesal, "suamiku juga masih berotot dan perkasa. Aku keluar saja, bantu bibi mu ini berdiri setan kecil!" Lizzie berjalan menghampiri sang bibi yang terlihat menyedihkan. Sungguh Lizzie ingin tertawa keras namun tak sampai hati dia lakukan.


"Apa kau juga mengerjai adik mu, Lizzie ?" pertanyaan Ashley membuat senyum simpul dibibir Lizzie semakin berkembang sempurna. Ashley mende*sah lelah melihat reaksi sang keponakan sebagai jawaban dari pertanyaan nya.


"Aku harap adik mu tidak melubangi kepala mu yang terlalu kreatif dan inovatif ini. Kau tidak tau saja bagaimana Yugo pernah hampir kehilangan masa depan nya hanya karena salah menggandeng seorang wanita di kerumunan pesta." Cerita Ashley hingga sampai di muka pintu. Sebelum menutup pintu kembali, Lizzie mencium lembut pipi sang bibi dengan penuh kasih sayang. Tak lupa bisikan maut nya mampu membuat Ashley tak dapat berkata-kata.


"Aku menyayangimu, bibi. Maaf kan atas kejutan kecil ku, aku tau bibi sangat menyukai nya. Tidak usah berterimakasih pada ku..aku memang sebaik itu." Bruk!


Ashley menatap daun pintu dengan berbagai rencana jahan tersusun di otak keriput nya. Dasar keponakan laknat batin nya kembali mengumpati sang keponakan. Tendangan kecil dia arah kan sebelum beranjak meninggalkan area kekuasaan keponakan terkutuk nya itu.

__ADS_1


__ADS_2