Darkest Dream

Darkest Dream
Pertemuan yang tak biasa


__ADS_3

Cloey terlihat gelisah, sejak tiba di kota itu. Ada perasaan lain merayap menelusuri setiap sudut hati nya. Semacam kerinduan tak bertuan.


"Sweetie? kenapa kau terus melipat kain itu hingga Kumal?" tegur Sky sedikit heran. Sejak tadi Cloey terus melipat kain sprei lalu membongkar nya lagi, kemudian melipat nya kembali.


Cloey melihat objek yang sedang dia pegang. Benar saja, kain putih gading itu terlihat berantakan di atas pangkuan nya.


"Maaf..aku hanya terpikir kan tanaman bunga yang ku tinggalkan di rumah kita. Apa sudah di siram atau belum, aku khawatir akan mati jika mereka lupa menyiramnya." Terang Cloey tersenyum lembut.


Sky menatap manik sang istri yang jelas terlihat kebohongan di sana. Cloey nya tak pandai berbohong.


"Mereka pasti akan merawat tanaman mu dengan baik, sweetie." Hibur Sky meski dia tau bukan itu yang tengah di pikirkan oleh sang istri.


"Apa kau ingin berjalan-jalan sebentar ke taman kota. Kudengar ada taman air mancur yang indah di sana. Mungkin ada beberapa anakan bunga yang bisa kita curi dari taman itu nanti. Aku yakin menantu kita Yugo pasti tidak akan membiarkan kedua paruh baya ini mendekam di penjara hanya karena kedapatan mencuri bunga di taman kota." Ucapan nyeleneh Sky mampu membuat tawa di bibir sang istri menguar.


Sky tersenyum senang, pancingan nya berhasil mengembalikan rona kebahagiaan di wajah sang istri. Selama ini, bukan hanya Sky yang diam-diam menangis di ujung malam. Cloey pun demikian. Kedua nya masih saja terus meratapi kepergian sang anak tercinta, dengan cara masing-masing.


"Seperti nya membeli akan lebih baik, dad. Aku khawatir Yugo akan di deportasi dari negara ini, dan putri galak kita akan membuat kegaduhan untuk kota malang ini." Lalu kedua nya tertawa pelan. Sky mengangguk setuju. Putri galak nya bisa sangat menakutkan di waktu-waktu tertentu. Itu lah kenapa hanya Yugo yang berhasil memperistri kan putri ajaib nya itu.


Pria dengan sejuta kenekatan yang berani mengambil resiko mati sejak malam pengantin nya. Namun berhasil memberikan mereka tiga orang cucu yang sangat hebat. Sky tersentuh bagaimana Yugo yang sederhana, mampu melunakkan hati keras putri nya. Bermodal kan kenekatan dan pekerjaan nya sebagai seorang penegak hukum. Yang hanya mengatur lalu lintas di jalanan, kini berhasil menjadi salah seorang petinggi di kepolisian.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Grend tengah di sidang oleh sang ayah, sementara sang ibu hanya berperan sebagai pendengar juga hakim yang bijak. Dia akan turun tangan jika di perlukan.


"Pastikan teman-teman mu itu tidak kau undang lagi kemari. Apa mereka pikir rumah ini adalah hotel! Sehingga bisa melakukan hal menjijikkan di mana saja. Dan kau!" kalimat Brian menggantung, wajah nya mengeras menahan marah pada putra nya.


"Kenapa kau menjadi pria yang begitu murahan. Membawa wanita ja*l*ang masuk ke dalam kamar mu untuk bercinta. Apa kau tidak tau sepak terjang keluarga Orlando itu. Yang rela mengumpan putri nya sendiri pada kolega bisnis nya demi sebuah proyek! Kau sungguh memalukan.!" Bentak Brian terlihat sangat marah dan kecewa.


Grend menunduk seraya merutuki kebodohan nya.


"Tapi aku tidak jadi melakukan nya dad. Sungguh! aku tidak berbohong. Dan lain kali bukan mereka yang akan aku ajak kemari." Senyum penuh rona kebahagiaan terpancar jelas di wajah Grend.


"Ja*l*ang mana lagi yang akan kau bawa kemari?" Grend menatap ayah nya tak suka.

__ADS_1


"Helen bukan ja*l*ang! dia kekasih ku, dan Helen adalah gadis baik-baik. Tidak ada yang pernah menyentuh nya selain...." Grend terdiam, kalimat nya sungguh menjebak. Lalu teringat bagaimana Dom dan Andy sahabat nya, pernah meremas bokong dan dada sang kekasih. Hati nya sesak. Penyesalan nya kembali menyeruak hingga ke sum-sum. Dia menyesal pernah menjadi pria brengsek itu.


"Selain apa? selain kau maksud nya, begitu! astaga! Grend, bagaimana bisa kau merusak gadis baik-baik!" geram Brian menatap tajam pada sang anak, suara nya yang meninggi tadi kini terdengar lemah penuh nada kekecewaan.


"Bukan dad, maksud ku..aku hanya..." Grend bingung harus menjelaskan nya dari mana. Dia malu membahas hal sensitif di hadapan kedua orang tuanya.


"Hanya apa? hanya merusak nya, itu yang coba kau jelaskan?!" nada tak bersahabat masih terlontar dari mulut sang ayah.


Grend nampak frustasi sendiri, lalu menatap sang ibu berharap ada sedikit bantuan dari sang wasit. Namun ibu nya justru terlihat sibuk menatap layar ponsel tanpa sekalipun menoleh padanya.


"Hanya mencium dan meraba nya, puas! Astaga!haruskah sedetail ini aku menjelaskan nya. Apa daddy tidak pernah muda?" kesal Grend berusaha menutupi rasa malu yang bersarang jelas di wajahnya.


"Dasar anak berandalan!" pekik Sofi kesal. Lalu melempar bantal sofa pada putranya.


"Mom" protes Grend.


"Lagi pula aku tidak sampai melakukan nya. Aku ingin menjaganya hingga kami menikah setelah lulus sekolah nanti." Lagi-lagi kalimat nya memancing amarah Sofi. Dengan brutal wanita memukul Grend dengan bantal sofa.


Setelah kelelahan, wanita itu kembali duduk bersandar dan terlihat frustasi.


Tak lama pria itu mulai bersuara.


"Benarkah? itu bagus. Segera lah menikah setelah kau lulus sekolah nanti. Daddy sudah tidak sabar di panggil kakek." Brian menanggapi ucapan sang anak dengan hati girang. Sofi menegak kan tubuh nya menatap horor pada sang suami.


"Hey honey, jangan marah dulu...kau lihat suami mu ini sudah tua, aku ingin segera menjadi seorang kakek selagi sempat." Kilah Brian menolong dirinya dari amukan sang istri tercinta. Grend mencebik melihat bagaimana sang ayah nampak sangat menyedihkan saat memohon seperti itu.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Ashley terlihat menekuk wajah kesal, diri nya di suruh bersiap tanpa tau akan di bawa kemana. Dua Limosin membawa keluarga itu menuju sebuah rumah yang terlihat seperti sebuah istana.


"Kenapa gerbang utama dibuat sangat jauh dari rumah, bagaimana kalau membutuhkan bantuan segera. Bisa-bisa sudah menjadi mayat baru mendapatkan pertolongan." Ashley tak henti mengomel sejak mereka baru berangkat. Yang lain menyumpal telinga dengan headphone masing-masing. Tapi tidak bagi Aslan. Suara ocehan sang istri selalu terdengar merdu ditelinga nya. Mungkin pria itu sudah sedikit tak waras, itulah yang sering dikatakan oleh anak-anak nya.


"Astaga! lihat teras rumah ini. Kenapa rumah sebesar ini, penerangan nya sangat minim. Pemilik rumah ini pasti menjadi orang kaya karena menimbun uang mereka. Dasar orang kaya kikir." Oh ya ampun! mulut wanita itu memang ingin di sumpal black card agar bungkam.

__ADS_1


"Aku memang menimbun uangku hingga tak mampu lagi di tampung oleh bank manapun. Itulah sebabnya aku menjadi sekaya ini. Pelit itu perlu, terutama jika kau memiliki keluarga yang suka dengan sesuatu yang gratis." Suara sarkas yang terdengar tak asing, membuat semua insan itu menoleh sempurna. Kecuali ketiga kakak beradik itu, mereka terlihat tenang menanti reaksi keluarga mereka.


Nafas Ashley memburu, meski tau jika Lizzie masih hidup. Namun ternyata tinggal di kota yang sama dengan putra putri nya. Dan dia tak mengetahui apapun, membuat hati nya kesal.


"Kau! jahanam kecil menyebalkan..!" tangan Ashley terangkat sempurna untuk memberikan serangan gaib miliknya yang tersisa. Namun Lizzie membalasnya hanya dengan lirikan mata. Setelah tangannya terhempas kesamping, Ashley maju lalu memberikan tinjauan kecil ke bahu sang keponakan. Sungguh suatu penyambutan dan pertemuan yang mengharu kan.


"Mom? daddy?" Cloey dan Sky menubruk tubuh kecil sang anak dengan penuh rasa rindu.


"Kenapa kau meninggalkan kan kami nak, apa kau tau..daddy hidup dalam banyak sesal karena kehilangan mu.." lirih Sky bergetar menahan tangis. Pria itu sangat lemah jika menyangkut keluarga nya.


"Aku hanya ingin memperkaya diriku seperti kata bibi ku yang cantik ini, dad." Ashley mencibir ucapan laknat sang keponakan.


"Ayo masuk mom, ada tiga makhluk menyebalkan di dalam rumah ini. Kalian harus menemui mereka juga." Kekeh Lizzie tersenyum penuh arti


"Dad? ini kedua orang tua ku, kurasa Daddy ku ingin memberimu sedikit pelajaran karena berani menikahi putri nya tanpa ijin." Gluk! Bern meneguk ludahnya susah payah.


"Hai, dad. Aku Bern, suami dari putri cantik mu ini. Dan ayah dari ketiga cucu hebat mu." Bern dengan bangga memperkenalkan dirinya.


"Ayo berkenalan dengan nenek kakek dan paman bibi serta sepupu kalian." titah Lizzie pada ketiga anak nya.


"Hai aku Berea, dan ini kedua adik ku. Mereka menyebalkan tapi tetap aku sayangi, sayang sekali. Padahal aku sangat ingin menenggelamkan kepala mereka ke dasar pasir jika membuat ku kesal." Ashley dan Leah yang bahkan lebih tajam lidahnya, di buat melongo dengan cara gadis itu memperkenalkan diri juga kedua adiknya. Keduanya menelan ludah masing-masing dengan perasaan was-was.


"Ah, maaf jika perkenalanku terlalu singkat. Kau tak pandai berkata-kata. Nenek dan kakek ku ternyata masih terlihat muda. Tampan juga cantik. Pantas saja gen ku sesempurna ini diantara keturunan yang lain." lanjut Berea tersenyum manis lalu memeluk kedua paruh baya itu penuh kasih sayang.


Sementara yang lain seperti menelan empedu saking pahit nya kata-kata yang Berea keluarkan.


"Ck! kenapa putri mu mulut nya seperti pisau pemotong rumput. Kata-kata nya membabat habis harga diri orang lain." Kesal Ashley yang kini merasa terancam oleh mulut berbisa layak nya ular Afrika paling mengerikan.


"Bibi harus punya kesiapan mental yang kuat untuk menghadapi putri ku itu. Berea ku seperti mata panah, siap menyasar lawan hingga batas tak terhingga." Bisik Lizzie penuh ancaman mengejek.


"Cih! awas saja jika putri mu berani membuat ku terpojok. Akan ku cincang hingga halus lalu jadikan santapan greefy." Balas Ashley tak kalah mengerikan.


"Aku jadi penasaran, apa kabar greefy bersama ibu tersayang mu bibi." Lagi-lagi ledekan Lizzie membuat kerongkongan Ashley kering seketika.

__ADS_1


"Jika sekali lagi mulut mu berceloteh, ku lubangi dengan senapan mesin hingga tak berbentuk." Ketus Ashley segera berlalu meninggalkan sang keponakan dengan hati terbakar telak oleh kekalahan.


Sementara keluarga tersebut saling bertukar kisah dan kerinduan. Ashley dan Leah sibuk menyiapkan amunisi untuk mempersiapkan diri. Dari serangan mulut manis Berea. Lihatlah gadis itu nampak begitu manis dan anggun duduk diantara nenek dan kakeknya. Sesekali ekor matanya melirik dua calon musuhnya dengan seringai venom.


__ADS_2