Darkest Dream

Darkest Dream
Air mata yang mengering


__ADS_3

Ale menyeringai mendapat kan kabar baik dari salah seorang anak buah nya.


"Akhir nya kau ku temu kan, ja*l*ang!" ucap Ale kemudian tertawa menakutkan. Ale terlihat senang walau buruan nya masih belum ada di depan mata. Informasi mengenai keberadaan Lizzie saja, sudah cukup membuat senang. Berbagai rencana telah dia susun untuk menyambut kehadiran Lizzie. Terutama rencana jahat yang tengah bersemayam dalam pikiran dangkal nya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Deren menyetir ugal-ugalan, pikiran nya melayang entah kemana. Gerald terlihat pucat pasi, perut nya seperti di kocok mixer berkekuatan maksimum.


"Bisa kau henti kan kegilaan ini, D...!" Teriak Gerald terus memegang hand grip agar mampu menopang tubuh nya dari goyangan dan benturan keras.


Telinga Deren seolah tuli, teriakan ketakutan Gerald tidak dia hirau kan. Pikiran melayang pada gadis yang kini tengah menjadi tujuan pengejaran nya. Bagaimana bisa gadis itu keluar tanpa terdeteksi oleh perangkat pengaman apapun.


"D..! Jika kau tidak bisa mengemudi dengan benar, turun kan aku sekarang! Aku mual..." Seru Gerald sedikit melemah. Kepala nya berdenyut pusing, perut nya mual dan ketakutan akan kematian sudah menempel di pelupuk mata nya. Tentu saja diri nya tidak baik-baik saja.


"Bisa kah kau diam, G..!" Bentak Deren kesal. Dia tak ingin kehilangan jejak nona muda mereka, dan Gerald terus saja rewel seperti bayi.


"Aku mual, sangat.. tolong menepi lah sebentar D.." pinta Gerald dengan suara semakin melemah, wajah nya sudah seperti mayat hidup.

__ADS_1


Mau tidak mau Deren menepi, Gerald langsung keluar sesaat mobil Deren berhenti. Suara muntahan nya membuat Deren menghela nafas panjang. Bukan begini partner kerja yang dia ingin kan. Sayang nya, Gerald lah yang bersedia menjadi rekan nya dalam situasi apapun.


Dengan malas Deren memijat tengkuk Gerald yang terlihat menyedihkan.


"Aku.. seperti..akan mati.. sebentar lagi.. tolong tulis kan aku surat... wasiat.." ucap Gerald melantur. Bukan pijitan nikmat dia rasakan, tapi tabokan laknat dia dapat kan.


"Auuwww..! kenapa kau selalu kasar pada ku.. berhenti lah menganiaya ku, jika aku benar-benar mati... tidak akan ada satupun orang yang mau menjadi partner kerja mu." Seru Gerald marah. Pria itu kembali ke mobil duduk bersandar dengan berselonjor kaki ke samping.


"Kita tidak akan bisa mengejar nya walau mobil ini kau terbang kan sekali pun. Kau tau kenapa? karena kita tidak di beri celah untuk bisa mencapai nya, meski sekeras apa pun usaha yang kita buat. Gadis itu bukan manusia biasa, bisa di katakan dia adalah leluhur yang hidup kembali dalam rupa seorang wanita cantik. Aku bersyukur tidak sempat menaruh harapan pada nya, jika tidak aku bisa gantung diri karena kecewa berat." Gerald tertawa pelan saat mengakhiri kalimat panjang nya.


Deren terdiam, hati kecil nya tersentil. Diam-diam hati nya menyimpan perasaan, yang tidak seharusnya dia kelola hingga sejauh ini. Deren menarik nafas dalam-dalam, untuk sekedar meringan kan beban hati kecil nya yang tidak tau diri.


Gerald menatap miris sahabat nya, dia tau beberapa hari ini Gerald sedikit melunak karena kehadiran Lizzie. Namun sayang, Deren bukan lah takdir gadis itu. Dengan gaya gontai Gerald kembali duduk di jok nya lalu memasang seatbelt. Deren kembali melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang. Gerald benar, meski mereka terbang sekalipun Lizzie tidak akan mampu mereka gapai.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Cloey menatap nanar secarik kertas di tangan nya. Air mata nya sudah mengering, kehidupan yang keras sudah merenggut habis air bening di pelupuk mata nya.

__ADS_1


"Aku sudah menyuruh orang untuk mencari keberadaan Leon. Kakak beristirahat lah, Leon akan baik-baik saja. Percaya pada anak-anak hebat itu, kepergian Leon untuk membawa kembali semua saudara juga ayah nya. Andai aku bisa memilih, aku yang akan mengambil beban ini. Tapi sayang, masa ku sudah lewat." Ucapan panjang Ashley seolah tak mampu menembus batas kesadaran batin Cloey, yang tengah kacau di hantam badai kenyataan menyakitkan.


"Kak, kau dengar aku..." Ashley mengusap pelan bahu kakak ipar nya dengan hati yang sama sakit nya.


Cloey tersentak lalu menoleh, hal pertama yang Ashley lihat adalah senyum tulus di bibir sang kakak ipar. Sungguh Ashley ingin menangis keras sekarang, namun berusaha keras dia tahan di balik sikap angkuh nya.


"Kakak baik-baik saja Ash, jangan terlalu mencemas kan ku. Kau juga harus beristirahat, ini sudah malam. Bukan kah bayi besar mu tidak bisa tidur tanpa kau beri nutrisi terlebih dahulu.." kekeh Cloey berusaha menyamarkan cahaya redup di mata nya.


"Aku akan tidur setelah memastikan kalau kakak ipar ku ini juga ikut tidur." Cloey tersenyum hangat mendengar perhatian Ashley pada nya. Dia tau adik ipar nya itu tidak pandai berbasa-basi. Kata-kata nya akan selalu terdengar lugas meski sedang merayu sekali pun.


"Baik lah, kakak akan tidur sekarang. Tolong mati kan lampu nya jika kau keluar." Cloey akhirnya mengalah. Dia hanya tamu di sana tidak peduli apa pun status nya. Tamu tetap tamu, dan dia harus bersikap selayaknya seorang tamu.


"Baik lah. Tidur yang nyenyak, karena aku tidak ingin melihat mata panda kakak semakin terlihat mengerikan besok pagi." Setelah melontarkan kalimat nyelekit, Ashley melenggang pergi dari kamar Cloey. Tak lupa dengan lampu nya.


Sepergi nya Ashley, Cloey kembali termenung. Takdir hidup nya membuat nya tersenyum miris dengan luka hati yang nyaris tak terobati. Kepergian suami nya adalah hal pertama yang membuat kehidupan keluarga kecil nya kacau balau. Kebahagiaan kecil yang mereka punya di rampas paksa oleh orang-orang yang tampak dan tidak berperasaan. Sungguh Cloey ingin sekali menyalahkan takdir, kenapa harus keluarga nya? kenapa harus anak-anak nya? dan kenapa harus diri nya yang menanggung beban hati seberat ini seorang diri.


"Mom harap kalian baik-baik saja, berjuang lah anak-anak mom yang hebat. Dan lekas lah kembali. Mommy sangat merindukan kalian.. kasihanilah wanita rapuh ini.." lirih Cloey menekan sesak di dada nya. Mata nya terasa perih, ingin menangis namun mata nya sudah tak mampu lagi mengeluarkan air mata.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Son..hari ini hadir lah di rapat pemegang saham. Kau punya saham mayoritas di perusahaan selain Daddy dan paman mu, Joss. Jadi suara mu sangat penting untuk di pertimbangkan oleh para pemegang saham." Ucap Edgar menyarankan di sela sarapan nya. Ekor mata nya melirik ke arah di mana istri nya duduk. Dia tau wanita itu tidak suka dengan keputusan nya, namun dia pun tidak perduli. Sudah saat nya memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi hak keturunan keluarga nya.


__ADS_2