
"Mana Alex? apa dia masih sering menghabiskan waktu dengan papan Ouija untuk mencari keberadaan gadis itu?" Sela Ashley menatap sekeliling mencari putra sulung nya.
Kehidupan Alex sedikit kacau setelah kehilangan jejak gadis pujaan nya. Selepas kepergian mereka pulang, Alex kehilangan jejak gadis tersebut. Jeff pun tak tau kemana gadis itu pergi. Itulah alasan nya kenapa Alex belum menikah hingga sekarang.
Berbeda dengan Morgan yang memang terlalu pemilih soal wanita. Jika tidak sesuai dengan kriteria nya, maka akan langsung dia singkirkan bagai sampah. Belum lagi sikap manja nya pada Cloey sering membuat para wanita ilfil. Namun di balik sikap kekanakan tersebut, ada satu hal besar yang tak di ketahui bahkan oleh sang ibu sekalipun. Ada batas pada diri nya yang tak mampu di tembus oleh siapapun terkecuali sang pewaris yang hilang.
"Aku tidak seperti itu mom, berhenti lah memfitnah anak-anak mu." Protes Alex yang baru saja bergabung. Wajah nya di tekuk sempurna.
"Lalu kenapa kau masih betah sendirian? apa kelakian mu mulai bermasalah? Oh Astaga! kau anak sulung Alex, bagaimana bisa kedua anak ku punya kelainan sehingga tidak tertarik pada wanita mana pun." Ratap Ashley sungguh menyebal kan. Morgan dan Alex hanya bisa mengelus dada, menahan gejolak ingin menyumpal mulut sang ibu menggunkan saos pedas level akhir.
"Honey, berhenti lah menindas putra-putra ku." Sambung Aslan membela kedua anak nya, sehingga senyum kedua nya terbit sempurna. Seolah mengejek sang ibu.
"Mungkin memang ketampanan mereka kurang maksimal, biarkan saja alur Tuhan yang bekerja. Kita sudah cukup menciptakan benih terbaik yang kita bisa." Sungguh Alex ingin mengoles bubuk cabai di mulut sang ayah menggunakan pisau daging. Pria itu terlalu takut berpihak pada anak-anak nya demi ranjang hangat malam hari nya. Adakah orang tua yang lebih durhaka dari kedua orang tuanya itu? Alex ingin membuat semacam komunitas, agar mereka bisa saling berbagi pengalaman dalam hal menindas mental anak-anak mereka.
Sementara Ashley tersenyum penuh kemenangan, suami nya tidak akan pernah mengkhianati nya. Karena nasib pria itu ada di pangkal lidah nya sendiri. Tentu saja Aslan tak ingin mengambil resiko. Akan lebih baik mengorbankan kedua putranya yang malang pikir nya tanpa dosa.
"Apa istilah nya jika seseorang berbuat jahat pada orang tuanya sendiri, mom?" tanya Morgan pada sang ibu.
"Durhaka.." sahut Ashley santai.
"Nah, jika di balik apa istilah nya masih sama? dasar orang tua durhaka..!" celetuk Morgan dengan hati dongkol.
Sky hanya tertawa pelan, adik nya tidak pernah berubah. Sikap acuh, tegas dan lugas nya selalu membuat nyawa orang lain serasa melayang di udara setiap kata-kata nya meluncur keluar. Namun Sky sangat bahagia dan bersyukur memiliki adik seperti Ashley. Kasih sayang wanita itu sebesar sikap angkuh nya. Jadi semakin angkuh seorang Ashley dalam bersikap dan bertutur kata, semakin besar pula rasa sayang nya pada seluruh anggota keluarga. Begitu lah cara mereka menunjukkan betapa keluarga adalah segala nya. Melalui cara ekstrim yang tak ada dua nya.
__ADS_1
π·π·π·π·π·π·π·
Zion menumpuk makanan di piring nya dengan lincah, tanpa perasaan malu apa lagi sungkan.
"Bibi, sarapan buatan mu selalu membuat ku tak kuasa menahan diri. Kau membuat tumbuh kembang ku sempurna, terimakasih banyak bibi ku yang cantik dan murah hati." Puji Zion seperti seorang anggota parlemen yang tengah menjilat atasan nya.
"Makan saja tidak usah banyak bicara... setelah ini pulanglah, aku khawatir makan siang kami tidak akan cukup untuk di bagi dengan mu." Zion pura-pura tak mendengar apapun. Tangan dan mulut nya bekerja sama untuk mengeruk sarapan di atas meja makan tersebut.
"Apa kegiatan kalian hari ini?" sela Bern seraya menyambut piring dari tangan sang istri.
"Kami ingin ke pantai, paman. Berea tiba-tiba ingin ke sana, mungkin bila bermain air laut kesialannya akan luruh seketika. Aku lelah menjadi tameng nya, popularitas ku menurun karena menjadi kekasih palsu putri kesayangan paman ini. Dia galak, suka berkelahi dan ya...dia selalu membuat kesehatan jantung dan mental ku sedikit terganggu." Celotehan Zion begitu lancar, selancar air laut yang membentang tanpa halangan.
Bruk
"Ck! salah mu sendiri telah mengatai putri ku yang tidak-tidak." Seperti biasa, Bern akan lebih membela putri nya meski sudah jelas jika anak kesayangan nya itu tengah menggorok leher Zion di depan matanya. Pria itu akan pura-pura tidak melihat apapun.
Lizzie menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan. Ayah dan anak itu selalu menguji kesabaran nya.
"Makan lah Zion, nanti bibi akan mengompres kening mu. Dan kalian berdua, berhenti lah bersekongkol melakukan kejahatan. Kau itu penegak hukum dad, astaga! bisa-bisa nya kau memelihara seorang psikopat di rumah ini." Ujar Lizzie frustasi, sementara Bern hanya terkekeh pelan. Berea ? tentu saja wajah datar nya lebih mendominasi.
"Kami juga mencintai mu mom." tukas Bern entah kemana arah nya. Jawaban pamungkas yang selalu menjadi jurus andalan untuk meredam hawa panas yang mulai menjalar di kepala sang istri tercinta.
"Makan makanan kalian, Vins, Josy hari ini kalian berdua ikut lah kakak kalian jalan-jalan. Habis kan waktu dengan nyaz agar orang tau jika kalian ini bersaudara." Titah Lizzie terdengar mutlak tak terbantah.
__ADS_1
"Mom!" seru Berea tak terima, dia punya misi lain dan kedua adik nya akan mengacaukan segalanya.
"Kami akan ikut mom, tenang saja. Kami akan menjaga kakak dengan baik. Bukan kah kami ini dewa pelindung...". potong Josy cepat. Seringai venom dia perlihatkan pada sang kakak yang kini juga tengah menatapnya tajam. Hingga akhirnya Berea menyerah, des*ahan pasrah dari mulut dan hidung nya menandakan jika Josy lah, yang sedang memegang kendali kemudi hari ini.
"Jangan membuat masalah untuk ku nanti, jika tidak...kalian berdua akan aku tenggelam kan ke tengah laut terdalam." Ancam Berea menatap kesal ke arah ibu juga kedua adiknya secara bergantian.
"Dengar kan kakak kalian, twin. Jangan membantah nya, kalian paham?" nah, sang ayah suri telah memberikan peringatan tegas, untuk meringankan beban pekerjaan sang anak sulung. Sungguh ayah idaman, hampir saja Josy melempar pisau daging ke mulut menyebalkan sang jika tidak ingat dosa.
"Baik dad, kami sangat paham. Putri kesayangan mu itu adalah segala-galanya, jadi kami tidak akan membuat nya kerepotan nanti." Ujar Josy patuh. Meski hatinya mengumpat banyak sumpah serapah.
"Itu kau tau," sahut Bern enteng. "Baiklah, Daddy akan menghabiskan banyak waktu bersama mommy kalian. Syukur-syukur jika kami bisa memberikan kalian seekor dua ekor lagi adik." Ucapan absurd Bern di hadiahi lemparan serbet bekas pakai oleh Lizzie.
"Jaga ucapan mu dad, kamar tamu kita terlalu lama tak berpenghuni jika kau lupa." Bern sontak kalang kabut lalu berjalan kemudian meraih pinggang kecil sang istri dengan posesif.
"Tentu saja aku ingat honey, bagaimana aku bisa lupa jika tamu langganan kita hanya Zion seorang. Baik aku ralat perkataan ku. Mau kah kau hari ini menghabis waktu bersama suami tampan mu ini, honey? mungkin kita bisa bercinta dengan berbagai gaya di berbagai sudut rumah ini." Rayu Bern dengan nada sensual tanpa peduli keberadaan anak-anak nya yang malang.
"Astaga! bisakah kalian bermesraan saat kami sudah pergi. Zion, habiskan sarapan, makan siang dan makan malam mu dengan cepat. Aku mual berlama-lama di sini." Jika Zion tersedak atas sindiran Berea terhadap porsi makannya, lain halnya dengan Bern. Pria itu tergelak keras mendengar kalimat laknat sang anak kesayangan.
"Dia putri mu.." cetus Lizzie menatap kasihan pada Zion yang malang.
"Tentu saja, aku lah yang membuat nya tumbuh subur, sehat dan cerdas di dalam perut ratamu ini honey.. Semburan sp*e*rma ku adalah multivitamin yang tak ada dua nya di apotik mana pun. Vitamin penguat kandungan dengan merk ekslusif." Bern kembali tergelak melihat kedua anak kembar nya serentak menutup kedua telinga mereka.
Lizzie menggeleng miris melihat kekonyolan sang suami, namun itulah yang membuat hidup nya sempurna. Suami siaga yang mencintai nya serta sang putri sepenuh hati. Bahkan tak akan ada yang mengira, jika Berea bukanlah putri kandung Bern. Sikap posesif dan perhatian serta kasih sayang Bern pada Berea, melampaui batas seorang ayah dan anak sambung. Bern begitu menyayangi Berea layaknya permata. Siapa pun yang berani mengusik ketentraman sang anak, maka akan langsung dia tangani.
__ADS_1
Penanganan yang mampu membuat siapa saja berpikir jutaan kali, untuk mengusik sang anak.