Darkest Dream

Darkest Dream
Lawan Yang Salah


__ADS_3

Berea menatap lalu lalang kendaraan yang seolah tanpa lelah terus berkeliaran di jalanan tersebut. Berkali-kali Berea menghela nafas berat, tubuh nya lelah begitu pula dengan pikiran nya.


Akhir nya setelah terdiam cukup lama mengamati setiap sudut kota yang baru saja dia kunjungi. Langkah lelah nya membawa nya ke salah satu gang di ujung jalan sepi tak jauh dari tempat nya berdiri.


Berea menatap malas melihat rumah tingkat yang kini akan menjadi tempat tinggal nya.


"Apa mom sudah gila.. bagaimana bisa aku di berikan tempat tinggal seburuk ini." Gerutu Berea kesal.


Klek


Seorang wanita bertubuh tambun membuka pintu lalu tersenyum ramah pada Berea.


"Kau pasti Berea ?" tebak nya basa basi. Dia sudaj mengetahui tentang Berea karena Lizzie sudah mengirimi nya foto gadis itu. Sama persis dengan yang terlihat di potret. Datar dan tak tersentuh.


"Apa aku perlu memperkenalkan diri dulu, bibi?" Sonya tersenyum masam. Sungguh di luar ekspektasi nya.


"Tidak perlu..ayo masuk, kau pasti sangat lelah. Kamar mu di lantai atas, maaf jika tidak sesuai harapan mu." Berea hanya mengekori Sonya tanpa berkata apapun lagi. Fisik nya sudah terlalu lelah menempuh perjalanan yang sangat jauh.


"Di sini lah kamar mu, ada seseorang yang baru menempati kamar di sebelah mu. Mungkin kalian bisa berkenalan nanti, dia kuliah di kampus yang sama dengan mu. Mungkin saja kalian bisa menjadi seorang teman senasib. Sama-sama jauh dari keluarga..." Terang Sonya dengan suara yang heboh.


"Mungkin aku bisa memikirkan nya nanti, sekarang apa boleh aku langsung beristirahat saja. Aku sangat lelah.."


Sonya kembali tersenyum kecut.


"Silah kan..besok pagi sarapan pukul 7 pagi, kau terlambat...jatah mu akan di lahap oleh penghuni lain rumah ini. Begitu lah aturan yang berlaku di rumah ini." Jelas Sonya mengingat kan.

__ADS_1


"Baik. Sekarang aku benar-benar harus menutup pintu ini, bibi." Ujar Berea penuh penekanan. Sonya tersenyum simpul dalam rasa kesal membalut hati nya. Berea menutup pintu sedikit keras, hampir saja Sonya terjun bebas dari ujung tangga paling atas saking kaget nya.


Wanita lebar itu mengusap dada nya sambil komat-kamit membaca doa keselamatan jiwa raga. Seperti nya umur nya tidak akan panjang jika gadis seperti Berea tinggal di rumah nya untuk waktu yang lama.


"Apa-apaan ini..!" sungut Berea tak suka. Kamar mandi yang menurut nya lebih cocok untuk toilet umum di rest area. Kumuh dan jorok. Itu lah penilaian nya saat pertama kali masuk ke dalam sana.


"Kau benar-benar membuat ku semakin tak menyukai mu, mom!" Berea meremat gagang sikat pel hingga patah. Berea akhir nya memutuskan untuk membersihkan kamar mandi nya ketimbang beristirahat. Satu jam aktivitas menyebal kan itu akhirnya selesai. Berea menarik sudut bibir nya tersenyum penuh kepuasan.


Tak tanggung-tanggung, Berea membersihkan hingga plafon kamar mandi.


"Kau tidak akan bisa mematah kan semangat ku mom. Kau salah jika menganggap ku terlalu lemah. Aku bahkan sanggup menantang dunia dengan kekuatan ku sendiri tanpa menggunakan keajaiban sialan ini." Berea bergumam mengeluarkan kedongkolan di hati nya. Dia tau niat Terselubung sang ibu menempatkan nya di sana, agar dia merasa jengah dan tertekan oleh keadaan.


Apa ibu nya itu lupa, jika dia sudah mandiri sejak bayi.


"Kau benar-benar ingin mempersulit ku, mom. Sebenci itu kah kau pada wajah dan darah yang mengalir di tubuh ku ini.." Tanpa terasa, air bening di sudut mata nya mengalir bebas begitu saja. Dalam kesesakan nya, Berea teringat senyum hangat sang ayah yang selalu mampu menenangkan hati nya.


"Aku merindukan mu dad...aku berjanji, tak akan ku biar kan setetes pun darah mu mengalir untuk ku. Kau hidup ku..." mata Berea meredup seiring sang malam mulai menarik nya masuk ke dalam bait mimpi.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Apa gadis itu cantik?"


"Aku belum tau, aku belum melihat nya..tapi seperti nya sangat spesial, kau tau kamar itu sudah lama tidak di tempati bukan? bahkan dua hari yang lalu kamar itu adalah sebuah gudang.." Luis tersenyum penuh arti. Lalu mereka semua tertawa tanpa tau, Jika seseorang yang tengah mereka bicarakan sedang berdiri di ujung tangga di samping dapur tersebut.


"Ternyata kau memang tengah mengumandangkan perang terhadap ku, mom. Bisa-bisa nya kau menempatkan ku di kamar bekas gudang, yang bahkan tidak di bersihkan sebagai mana mesti nya." Gumam Berea mengepal tangan nya.

__ADS_1


Alih-alih ikut mengambil jatah sarapan nya, Berea memutuskan untuk langsung berangkat ke kampus. Dia akan mengurus semua kebutuhan administrasi nya sendiri. Di kota yang asing, tanpa siapa pun yang dia kenal.


Seorang pria turun dari mobil sport milik nya, menatap sekeliling area parkiran dengan tatapan angkuh.


"Kita akan bertemu kembali, Berea sayang. Kali ini sebagai orang asing. Aku harap kau tak membenci ku nanti.." Setelah melepas pergelutan batin nya sejenak, akhir nya dia memutuskan untuk menuju kelas nya.


Brugh!


Berea jatuh terjengkang dalam posisi yang tak enak di lihat. Sontak memancing gelak tawa penghuni kampus tersebut. Yang kebetulan berada di sana, menyangsikan momen memalukan itu.


"Upz! maaf, aku sengaja..." Ucap seorang gadis menutup mulut nya dengan senyum miring.


"Tidak masalah. Aku mengerti, mungkin saja kau menderita penyakit mata yang parah sehingga tidak melihat tubuh ku melintas di depan mu." Balas Berea tanpa nada kemarahan sedikit pun.


"Hei..! Jaga bicara mu pada sahabat ku! apa kau tidak tau siapa dia? ah, kau pasti mahasiswi baru, kan? Perkenalkan, gadis yang baru saja kau katai memiliki penyakit mata ini adalah anak dari ketua yayasan kampus ini..Jadi perhatian ucapan mu, terutama jika kau ingin hidup tentram tanpa gangguan." Ancam seorang gadis yang terlihat lebih seperti seorang penjilat ketimbang seorang sahabat.


"Oh maaf, aku pikir penyakit yang ku sebut kan tadi tidak akan tau jika kau anak pemilik yayasan atau anak pemilik kampus ini. Apa kau lupa, jika penyakit orang kaya selalu yang paling mengerikan. Itu karena hidup mereka yang terlalu serba mudah, akhirnya penyakit pun dengan mudah menelusup masuk ke tubuh mereka tanpa hambatan. Itu teori ku, semoga saja kau tipe orang kaya yang tidak serakah dan tamak." Berea tersenyum menyeringai kemudian berbalik pergi begitu saja.


Sementara gadis yang menabrak nya terlihat sangat marah dan juga malu. Seumur hidup nya, diri nya tak pernah di permalukan seperti ini.


"Kenapa kau diam saja? apa kau sedang merencanakan sesuatu pada anak baru itu?" ucap salah seorang temannya menelisik raut wajah Olivia yang terlihat memendam sebuah rencana jahat.


"Kita lihat saja, apa kah dia masih memiliki nyali sebesar ini ketika merasakan pembalasan ku nanti." Ucap Olivia sembari menyeringai devil.


Tak tau saja, jika mereka tengah berhadapan dengan lawan yang salah.

__ADS_1


__ADS_2