
Semesta seolah berpihak pada Lizzie, kekuatan nya seperti terisi penuh. Namun dia tau, saat menggunakan kekuatan itu. Maka itu akan menjadi hal terakhir yang dia miliki. Kekuatan yang juga akan mengantar nya pada lorong kematian tak lama lagi.
Samara menjerit menahan sakit, tubuh nya terpental ke dinding batu seperti tembok besar raksasa.
"Masih harus kah kita melanjutkan ini nenek...aku akan dengan suka rela memberikan sedikit darah ku sesuai kebutuhan mu. Jika saja kau mau menurunkan sedikit ego mu." Tawar Lizzie sedikit bernegosiasi.
"Cuihhh..!! terus lah bermimpi anak laknat..! Kau belum menang, ingat itu!" Sergah Samara tak terima dengan penawaran Lizzie, yang terdengar merendahkan martabat dan harga diri nya.
Lizzie mendesah pasrah, gadis itu menyerah. Rupa nya keangkuhan telah menggerogoti jiwa perikemanusiaan sang nenek.
"Kalau begitu mari kita lihat, seberapa hebat nya cucu rusak mu ini nenek.." ucap Lizzie tersenyum menyeringai sambil mengangkat kedua tangan nya ke atas, menyerupai sebuah lingkaran yang melingkari bentuk bulan biru yang semakin membulat sempurna.
"Baiklah..ayo kita lanjut kan reuni kecil-kecilan penuh kasih sayang ini. Aku ingin lihat, takdir siapa yang akan berakhir malam ini." Ucap Lizzie sarkastik. Dia sudah lelah menuntun sang nenek ke jalan pertobatan. Sudah saat nya dia mengirim wanita iblis itu ke tempat di mana seharusnya sang nenek berada.
__ADS_1
Adu sihir kembali terjadi, Samara terlihat semakin tertekan dengan keadaan. Cahaya purnama bulan biru yang mengenai kulit nya terasa membakar seluruh tubuh nya. Harus nya, dia sudah selesai melakukan ritual penyucian darah putra mahkota dan pewaris darah murni. Agar saat purnama tiba, diri nya sudah kebal dan bahkan semakin tak terkalahkan. Namun kehadiran Lizzie yang tidak di sangka-sangka, telah mengacaukan segalanya. Rupa nya dia terlalu meremehkan cucu jahanam nya itu. Lizzie tidak selemah pewaris darah murni sebelum nya, dia lengah dan kini harus terkapar tak berdaya tanpa sedikitpun bantuan.
Berkali-kali Samara berusaha berlindung di balik jubah nya. Namun berkali-kali juga Lizzie menyingkap jubah tersebut. Hingga akhirnya Samara terkapar di atas rerumputan, dalam kondisi sedikit terbakar diarea kulit nya, yang terpapar langsung oleh sinar bulan biru.
Langkah Lizzie sedikit terseok, namun ciri khas nya mengalahkan sisi lemah nya. Saat mendekati sang nenek, Lizzie menarik wanita iblis itu hingga terduduk dengan kondisi memprihatinkan.
"Apa kau tidak pernah menonton televisi nenek...apa kau tidak tau, jika pemeran utama selalu menjadi pemenang. Tidak peduli seberapa sekarat nya sang tokoh utama, kemenangan akhir akan tetap menjadi milik nya. Mutlak dan tak terbantahkan!" bisik Lizzie di telinga sang nenek, jarak mereka cukup dekat. Lizzie merengkuh tubuh Samara, Samara merasa kan energi yang luar biasa menyusup ke dalam tubuh nya. Beberapa detik keadaan nya kembali normal, seperti layaknya manusia biasa saat Lizzie memeluknya.
"Aku ingin kau merasakan sakit yang lebih sakit dari pada siksa neraka dan hukuman para dewa. Jadi ku berikan sedikit anugerah padamu, nenek. Pergunakan lah dengan sebaik-baiknya." Lanjut Lizzie masih berbisik. Sebenar nya Lizzie sudah berada di limit terakhir kekuatan juga kesadaran nya. Hingga untuk berbicara pun, dia sudah hampir tidak mampu.
"Kau masih selamat di tangan ku nenek, tapi tidak di tangan putri ku kelak. Kau akan menjadi abu, dan jiwa mu tidak akan di terima meski di neraka sekalipun." Ujar Lizzie dengan sisa kesadaran yang dia punya. Mata nya mulai mengabur, tubuh nya ambruk ke tanah bersampingan dengan sang nenek. Mata nya mulai redup, sebelum benar-benar tertutup sempurna, Lizzie menyebutkan nama saudara nya satu persatu. Juga kedua orang tua nya. Ingatan itu yang akan dia bawa dalam tidur panjang nya. Ingatan penuh kebahagiaan dan kasih sayang, yang akan menyelimuti memori nya dari segala pengaruh sihir jahat.
Derap langkah terdengar semakin mendekat, namun mata Lizzie sudah tak mampu untuk di buka. Senyum manis tercetak di wajah nya. Takdir nya akan di mulai malam ini. Takdir yang seharusnya tidak melibatkan siapapun, namun sayang, Ale yang angkuh dan nenek nya yang ceroboh. Telah merubah takdir baik Lizzie hingga hancur lebur tak bersisa.
__ADS_1
Kini mata nya telah tertutup sempurna, detak jantung nya telah berhenti, denyut nadi nya kini sudah tak ada lagi. semesta menukar nyawa gadis tak berdosa, untuk menebus kecerobohan dan dosa para leluhur dan banyak klan. Kelahiran di garis kan untuk menjadi seorang penebus. Kelahiran nya di gadang akan membawa banyak bencana bagi para sekte sesat. Namun kelahiran nya juga, telah menyelamatkan banyak nyawa umat manusia. Dari keserakahan dan hukuman alam semesta.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Derap langkah setengah berlarian kulu kilir terdengar menghentak lantai marmer berkali-kali. Beberapa orang seperti sedang berlomba dengan sesuatu. Sesekali mereka berkomunikasi melalui kode gerakan tangan juga lirikan bola mata.
"Bagaimana bisa kita melakukan nya, Eun..." ucap rekan nya terlihat putus asa. Kepala nya menunduk dalam di kedua lutut nya.
"Serum itu tidak bekerja sesuai harapan.. lebih baik aku mati saja kalau begini. Aku tidak sanggup lagi..aku menyerah!" sambung nya lagi sambil meraup wajah nya dengan kasar. Wajah frustasi berat yang terpampang jelas di sana.
"Aku sudah mengatakan apa yang harus dilakukan untuk menyempurnakan serum tersebut. Namun tak ada satu pun yang mengidahkan ku.." ucap Eun menimpali rekan sejawat nya dengan nada ketus.
"Kau tahu itu mustahil, bukan? kenapa harus meminta sesuatu yang tidak mungkin akan kau dapat kan.." Ramos menatap Eun dengan tatapan pasrah.
__ADS_1
Eun mendengus mendengar kata-kata Ramos, sama saja seperti rekan nya yang lain.
"Aku hanya sedang berusaha menyelamatkan utusan juru selamat umat manusia. Harus nya kau diam saja jika tidak bisa mendukung ide ku, bukan nya malah menekan ku dengan kalimat intimidasi di rapat para dewan." Sarkas Eun kesal. Rupa nya kekesalan nya pada Ramos masih berbuntut panjang. Rekan sekaligus sahabat nya itu malah ikut-ikutan menyudutkan nya, saat rapat dewan beberapa waktu lalu.