
Bern berdecak kesal saat melihat id pemanggil di layar ponsel nya.
"Dasar pengganggu..!" gerutu nya kesal. Klik. Nada panggilan di tolak terdengar.
Drrttt drrttt drrttt
Dengan kesal Bern mengangkat panggilan tersebut. "Selamat malam komandan, saya harap anda tidak sedang mabuk sekarang. Saya sedang tidak punya waktu untuk menjemput anda di club' malam." Sungguh kalimat tak berakhlak dari seorang bawahan kepada atasan nya.
"Kau ini minta di tembak mati apa bagaimana!!" Sentak sang atasan dari seberang telepon. Nada suaranya tengah menahan geram pada Bern.
"Katakan kau sedang di mana sekarang! seperti nya kau lebih butuh pertolongan, ketimbang menjemput ku dari tempat surgawi para ja*l*ang tersebut." Cecar sang atasan kesal. Bisa-bisa nya Bern mengklaim nya sedang mabuk. Sungguh bawahan laknat.
"Aku sedang di perjalanan menuju masa depan harkat dan martabat adik kecilku. Jadi, jika tidak terlalu penting, aku mohon dengan segala rasa hormat. Kita akhiri obrolan yang akan merusak citra ku sebagai laki-laki sejati. Ini malam akhir pekan yang panjang, aku tau paman sedang kesepian. Cari lah wanita, bukan kah nyonya Therna sudah memberikan sinyal darurat cinta ala wanita dewasa? cobalah menjalin hubungan dengan nya paman, kau tidak akan rugi. Nyonya Therna akan memenuhi ekspektasi mu akan wanita penuh dengan segala kelebihan. Kurasa dia wanita yang cocok, selain memiliki keahlian dalam bidang teknologi. Nyonya Therna juga pintar dalam urusan memanjakan lidah dan perut. Dan yang paling penting, wanita itu punya ukuran yang lebih besar. Kelebihan nya akan membuat paman sesak nafas saking kagum nya. Selamat malam paman, cobalah berkencan dengan wanita kelebihan berat badan itu." Klik
Matheo menatap horor ke arah ponsel di tangan nya, yang kini sudah menampilkan wallpaper mendiang istri tercinta nya.
Pria itu mengeram kesal, andai keponakan gila nya ada di hadapan nya sekarang. Akan dia lubangi lidah lincah sang keponakan dengan senang hati.
__ADS_1
"Dasar duda sakit jiwa!!" umpat Matheo kemudian terdiam. Bukankah diri nya juga seorang duda. Matheo menggeleng kan kepalanya.
"Kami tidak sama. Aku adalah duda terhormat, sedang kan Bern duda seorang wanita ja*l*ang." Tukas nya penuh percaya diri. Sambil terus tersenyum menatap potret sang istri di ponsel nya. "Aku merindukan mu, Joa sayang. Kenapa kau tidak bertahan sebentar lagi untuk menemani ku menemukan saudari juga keponakan mu." Setetes air mata mengalir di pipinya. Terkenang bagaimana keras nya sang istri mencari saudari perempuan nya. Namun wanita cantik itu menyerah kalah pada penyakit diabetes nya 2 bulan yang lalu.
"Daddy?" Matheo lekas menghapus air mata sebelum menoleh pada sang anak.
"Ada apa son? kenapa kau belum tidur?" tanya Matheo lembut. Wajah Max duplikat sang ibu dalam versi laki-laki, itulah kenapa Matheo tidak pernah bisa melupakan istri nya.
"Aku haus, air minum di kamar ku di habis kan oleh penyusup.." Matheo terkekeh mendengar penuturan sang anak. Putri kedua nya memang punya tabiat yang sedikit unik. Setiap malam dia selalu lupa mengisi botol air minum nya, padahal Moana lah yang paling sering kehausan tengah malam. Dan akhirnya kamar Maxton lah yang di jarah nya. Tapi putra nya itu punya hati selembut ibu nya, sama sekali tak pernah marah pada sang adik.
"Lalu kenapa ayah belum tidur, dan itu..?" Max menunjuk dagu nya ke arah tangan sang ayah yang tengah menggenggam ponsel. Dengan tatapan menyelidik tanpa dia sadari.
"Daddy masih setia pada mommy mu, son. Dia wanita yang tidak tergantikan. Kalian harus bangga terlahir dari wanita hebat seperti mom." Jelas Matheo lugas. Putra nya sudah berusia 16 tahun, sedikit banyak mengerti soal hubungan orang dewasa.
"Daddy sedang menelpon kakak sepupu mu. Anak itu semakin salah jalur saja belakangan ini, entah apa yang merasuki otak cerdas nya." Keluh Matheo tanpa sadar telah mencurahkan sebagian kecil kegundahan hati nya. Jika biasa Joa lah yang akan mendengar semua keluhan nya, kini tidak ada lagi.
"Kak Bern sedang dalam masa sulit. Bukan kah kakak baru saja bercerai dari wanita penyihir itu..mungkin hati nya masih belum rela. Daddy tau kan bagaimana kakak memperlakukan wanita itu layak nya seorang ratu." Ucap Max panjang lebar dan terdengar sangat bijak untuk anak seusianya. Dia sedang berusaha untuk menjadi pendengar juga teman berkomunikasi yang baik bagi sang ayah. Dengan begitu mereka tidak akan cemas akan kehadiran seorang ibu tiri. Memikirkan nya saja, sudah membuat mereka merencanakan banyak rencana jahat dalam otak kecil ketiga anak Matheo tersebut. Apalagi jika sampai terjadi. Di hari pertama perkenalan, di jamin, calon ibu tiri mereka akan langsung menghuni kamar mayat.
__ADS_1
"Kau benar. Tapi kali ini kakak mu itu sedikit berbeda. Kau ingat saat Daddy terlambat pulang waktu itu? malam itu ada penyergapan di gudang baja, dan kakakmu yang memimpin penyergapan itu. Dan setelah kejadian itu, Bern berubah drastis. Sering melamun dan tersenyum seorang diri di kantor. Pria gila itu bahkan pernah mengatakan, jika bokong deputi inspektur, tidak proporsional. Entah setan mana yang menempeli nya dari gudang tua itu. Kakak mu benar-benar butuh bantuan psikiater.." Matheo berkeluh kesah panjang, sementara Max tersenyum geli.
"Kakak hanya sedang jatuh cinta dad. Mungkin saja ada setan cantik yang berkenalan dengan nya saat di gudang itu. Bukan kah itu gudang terbengkalai selama bertahun-tahun.." Sanggah Max membela sang kakak.
"Kau ini.. harus nya kau khawatir dengan tingkah tidak waras kakak mu. Kenapa malah mendukung nya menjadi semakin gila." Omel Matheo kemudian melirik jam dinding.
"Tidur lah, dad juga sudah mengantuk. Besok kita akan melakukan perjalanan piknik sesuai janji Daddy. Pasti kan kalian bangun cepat." Max hanya mengangguk. Mata nya menatap punggung lebar sang ayah yang terlihat lebih kurus sekarang. Ada rasa bersalah karena telah mewanti-wanti agar ayah nya tidak menikah lagi. Namun dia punya dua adik perempuan, yang membutuhkan kasih sayang yang utuh dari sang ayah. Moana 14 tahun dan Jessy 10 tahun. Bukan nya dia bermaksud egois, dia hanya sedang memikirkan psikis adik-adik nya jika kasih sayang sang ayah terbagi.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Bern bergidik saat mobil nya memasuki area hutan lebat tersebut.
"Apakah yang mengirimkan aku pesan adalah setan penunggu hutan ini..." monolog Bern terus bergumam ngeri. Namun kakinya masih tetap menginjak pedal gas meski ketakutan mulai merajai pikiran nya.
Hingga hampir satu jam perjalanan yang cukup menguji adrenalin, Bern sampai di ujung jalan yang buntu.
Sebenarnya sinyal yang terlacak tidak sampai ke sana, namun rasa penasaran nya mengalah kan rasa takut.
__ADS_1
"CK! awas saja jika aku sampai bertemu orang gila yang tersesat di hutan ini. Berani-beraninya mengusik malam Minggu kelabu ku." Omel Bern terus berjalan melewati jalan setapak yang sudah di tumbuhi rumput liar. Cahaya ponsel nya terus terarah ke jalan yang sudah tak berbentuk sebuah jalan tersebut.
Bern mengikuti kemana insting membawa nya. Hingga...