
"Pagi dad, kenapa kau yang memasak? kemana Mina?" Cloey duduk di kursi di meja dapur. Wanita itu menatap suaminya yang tengah sibuk membuat kan sarapan.
"Ini khusus untuk mu, sweet heart. Mina sedang ke belakang sebentar," ujar Sky menoleh sekilas lalu kembali fokus pada masakkan nya.
"Morning.." sapa seorang gadis duduk di seberang meja yang Cloey duduki.
"Pagi juga, Ash. Apa tidur mu nyenyak semalam? maaf, semalam? aku tidak menyambut mu." Cloey menatap adik iparnya dengan perasaan tak enak.
"Tidak masalah kakak ipar, kau butuh banyak istrahat. Lagipula aku juga langsung tidur semalaman." balas Ashley tersenyum ramah. Sky speechless, adiknya yang terkenal dingin dan datar kini tersenyum selebar itu pada istri nya. Padanya saja, adiknya itu pelit sekali batin Sky berontak.
"Jangan mengatai ku kak, fokus pada masakkan mu saja." Tegur Ashley membuat tangan Sky hampir terkena teflon panas.
"Ck! siapa juga yang sedang mengataimu" ujar Sky kesal. "Mana Aslan, apa dia masih bernafas? Biasanya seseorang yang terlalu lama berada disekitar mu akan mati membeku." Sindir Sky namun tak di hirau kan oleh sang adik.
"Aku disini kak" jawab Aslan seolah sedang mengabsen dirinya sendiri. Pria itu duduk disamping kekasih kulkas nya.
"Kukira kau sudah tidak bernyawa didalam sana, suhu dinging menyeruak dari dalam kamar kalian melalui lubang udara. Tikus pun langsung tewas membeku ketika melewati nya." Ujar Sky menaruh sepiring spaghetti didepan sang istrinya.
Ashley menatap kakaknya dengan tatapan sebal.
"Kenapa cuma ada satu piring, lalu kami sarapan apa?" protes Ashley membuat jiwa tidak enakan Cloey mencuat.
"Ya dad, kenapa hanya ada satu. Lizzie bagaimana?" sambung Cloey menatap intens manik sang suami.
"Sudah saya siapnya nyonya" suara Mina menyela obrolan pagi keluarga majikannya. "Maaf, ini saya taruh di sini tadi," Mina mengeluarkan sandwich dari dalam tudung saji susun di sudut meja dapur. Tudung tersebut dilengkapi dengan pemanas yang tersambung melalui aliran listrik.
"Mau susu atau teh herbal nona? dan anda tuan?" tanya Nina sambil menata sarapan majikan nya.
"Aku susu coklat hangat, dia berikan saja teh herbal." Titah Ashley dengan gaya nya yang tegas.
"Baik nona" Mina menuju rak penyimpanan, lalu Membuat kan susu juga teh herbal untuk kedua adik majikannya.
"Mau kemana kaliam setelah dari sini?" tanya Sky sambil mengaduk susu hamil sang istri.
__ADS_1
"Entah lah, kami masih mencari tempat yang jauh dan juga menarik untuk dijadikan tempat tinggal. Mungkin aku akan menikah dengan si bodoh ini sesampai kami di tempat tujuan nanti." Ucap Ashley tanpa beban, telah mengatai sang kekasih bodoh.
Sementara Aslan tersedak potongan sandwich nya hingga matanya berair. Sky segera memberikan segelas air putih pada Aslan, karena jika menunggu adiknya berinisiatif. Maka bisa dipastikan, beberapa jam kedepan, mereka akan disibukan dengan prosesi pemakaman Aslan.
"Baby? bisakah kau tidak selalu mengataiku bodoh." Protes Aslan namun tak berani marah "aku terlalu mencintaimu, makanya aku terlihat bodoh." Sambung Aslan tak Terima by..
"Makan saja sarapan mu, kau bisa benar benar mati jika meminta pengertian nya" sela Sky iba, dia tau Aslan sangat mencintai adiknya, bulan lalu tanpa sengaja dia melihat Aslan disalah satu perusahaan rekan bisnis nya. Ternyata Pria itu sedang mengadakan pertemuan dengan pemilik perusahaan tersebut. Membahas soal saham yang pernah dia investasi kan diperusahaan itu.
Dan saat Sky mencari tau, untuk apa Aslan menarik semua sahamnya. Ternyata, pria itu sedang merencanakan masa depan nya bersama Ashley. Juga merancang aksi kabur dari keluarga nya, dengan membawa lari Ashley. Atau lebih tepatnya, Ashley lah yang membawa kabur Aslan. Karena dia diketahui, Aslan yang begitu mencintai adiknya hingga tidak memiliki akal sehat lagi.
"Morning dad" sapa Lizzie dengan penampilan yang sudah rapi, juga Sofi yang berjalan dibelakang nya.
"Nona muda sudah mandi tuan, nyonya." Lapor Sofi pada kedua majikannya.
"Terimakasih Sofi, kau sarapan lah bersama Mina" Cloey tersenyum ramah pada pengasuh putri nya yang dibalas anggukan dan senyum serupa oleh Sofi. Wanita muda itu batu bekerja 2 bulan atas rekomendasi Maria. Dia tetap bertahan di mansion keluarga Belluwig, agar dapat mengetahui, rencana apa saja yang tuan besarnya rencanakan. Lagi-lagi, Wanita itu mengorbankan apapun untuk Sky.
"Hari ini kau tidak ada kemanapun, Ash?" tanya Cloey menatap pada adik iparnya.
"Tidak kak, jika kau tidak mengajakku mengerjakan apapun, aku hanya ingin bermain bersama Lizzie." Ashley menatap Lizzie dengan tatapan berbeda, begitu Lizzie. Dia belum sempat berkenalan dengan bibi nya, namun dia sudah bisa mengenal nya dengan baik.
"Tentu saja, kita akan bermain seharian, jika ibumu tidak membutuhkan bantuan bibi hari ini." Ashley melirik kakak iparnya melalui ekor matanya.
"Itu.. ya aku ingin kau menemaniku membuat kue kering jahe, aku masih suka mual kadang-kadang. Cemilan itu rasanya cocok di lidahku." Jelas Cloey tak enak, jika saja dia merepotkan adik iparnya.
"Bagaimana Lizzie, apa kita membantu ibu dulu baru bermain setelah nya?" Tawar Ashley bernegosiasi pada keponakan nya.
"Baiklah, aku juga ingin membantu" jawab Lizzie bersemangat.
"Oke, deal! kita sepakat!" keduanya mengerling kan mata yang aneh menurut penglihatan Sky, namun tidak bagia Aslan dan Cloey. Itu adalah candaan antara keponakan dan aunty nya.
Sky menatap adiknya gusar, dia tak ingin Ashley mengajar kan hal aneh pada putri nya. Namun yang di tatap seolah-olah tak tau-tau.
"Habiskan susumu sweet heart, tinggal sedikit lagi" bujuk Sky, dia tau Cloey sangat tidak suka minum susu. Namun dia terpaksa harus memaksa. Ini demi perkembangan calon anak mereka.
__ADS_1
Cloey menatap mual pada gelas susu yang masih tersisa seperempat, namun terlihat penuh dimata Cloey.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Katakan sekali lagi Jeff" titah Edgar dingin, Jeff merasa kaki nya mulai tak memijak lantai. Tangannya berkeringat hebat, Jeff terlihat gelisah saat tatapan membunuh masih mengarah tajam padanya.
"Saya melakukan nya atas perintah nyonya, tuan. Keluarga saya berada dalam target nyonya, jika saja saya tidak melakukan nya." Jawab Jeff dengan suara bergetar hebat. Tubuh terasa ringan, andai saja dia punya sedikit kuasa. Dia ingin mengganti kedua tangannya dengan sayap. Lalu terbang setinggi mungkin untuk menjauhi keluarga penuh misteri ini. Jiwanya terancam setiap detik, dan Jeff mulai tak sanggup lagi. Hidup dalam tekanan membuat nafasnya terasa sesak setiap saat.
"Lalu kenapa kau tidak bisa melakukan perintah ku saja, kenapa harus menuruti perintah istri ku? apa bedanya kami dimatamu?" Tatapan membunuh Edgar mulai meneduh. Nafas Jeff semakin tercekat, dia tidak mampu menjawab. Pertanyaan yang terdengar begitu sepele, namum jawaban nya menentukan hidup dan matinya.
"Kalian sama di mataku, tuan. Aku menghormati anda dan nyonya sama besarnya maaf atas keteledoran ku kali ini, tuan. Aku berjanji akan memperbaiki nya" Jeff mengucap kan kata-kata dengan kepala menunduk dalam. Wajah garang tuannya yang berubah teduh, membuat Jeff serba salah.
"Angkat kepalamu jika kau sedang berbicara dengan seseorang. Kau akan dianggap tidak menghargai lawan bicara mu jika begitu." Teguran Edgar membuat nyali Jeff semakin ciut, namun terus menunduk bukanlah pilihan yang menyelamatkan. Perlahan, Jeff mengangkat kepalanya. Hal pertama yang dia lihat, adalah ujung laras pistol Glock 17 yang mengarah tepat ke kepala nya. Susah payah, Jeff menelan ludahnya. Kerongkongan nya tiba-tiba kering, dia butuh air sekarang. Andai saja dia berani berbicara seperti itu disaat nyawanya sedang diujung tanduk. Sayang nya, Jeff tidak memiliki keberanian.
"Maaf kan saya tuan, jika telah menyinggung harga diri anda. Sungguh demi apapun, saya tidak bermaksud melakukan nya. Keadaan saya sedang sangat terdesak, keluarga saya dijadikan sebagai jaminan, jika saja saya tidak melakukan tindakan segera." Suara Jeff begitu rendah, ketakutan telah menguasai habis pikiran nya.
"Kau tau sesuatu Jeff? aku paling benci penghianatan. Kau telah melakukan Kesalahan besar dengan bertindak untuk hal yang bertentangan dengan kehendak ku." Suara berat Edgar diliputi oleh kekecewaan besar pada Jeff, pria yang dia pungut di selokan, kini berbalik menyerang nya.
"Ampuni kebohongan yang telah saya perbuat, tuanku." Jeff menjatuhkan tubuhnya, pria itu berlutut memohon pengampunan. Tubuh bergetar menahan ketakutan.
Edgar hanya menatap pria yang sudah seperti putranya itu dengan tatapan nanar. Hatinya kecewa, sunggu. Namun memikirkan nasib putri nya yang bisa saja, sekarang sedang dalam bahaya. Edgar tak punya pilihan, selain membiarkan Jeff tetap bernafas sementara waktu. Namun membebaskan Jeff dengan mudah, akan membuat pria itu sulit untuk belajar dari kesalahannya. Edgar ingin melihat, sebesar apa, Jeff mampu membuktikan dirinya benar benar telah menyesal.
"Kau boleh pergi!" Jeff terpaku, dia dibebaskan? kenapa? tidak ada satu penghianat pun yang bisa keluar hidup-hidup dari sana. Apakah ini semacam permainan? diri nya dibiarkan keluar, lalu diburu sebelum akhirnya dibunuh dengan cara yang sadis. Jeff bergidik ngeri, membayangkan tubuhnya di kuliti dalam keadaan sadar sepenuhnya.
"Apa yang kau tunggu Jeff? kau benar benar ingin merasakan panasnya peluru ku bersarang diotak dangkalmu? Aku tau apa yang sedang kau pikirkan, pergilah sebelum aku berubah pikiran." Titah Edgar membuka pintu otomatis agar Jeff segera keluar dari sana.
Jeff buru-buru bangun dan berjalan dengan langkah lebar menuju pintu. Meski hatinya ketar ketir, akankah Edgar menembak nya dari arah belakang.
"Kau berhutang nyawa padaku hari ini, Jeff!" Suara bariton menghentikan langkah kaki Jeff. Jeff bahkan tidak berani menoleh sedikit pun.
"Aku membebaskan mu, agar kau dapat mengawasi putri ku. Jaga dia dengan seluruh nyawa yang kau miliki. Karena hutang mu hari ini, akan aku hitung dan aku catat sebagai pengingat. Jangan coba-coba untuk melakukan kebodohan yang sama. Kau tidak ku sekolah kan tinggi-tinggi untuk menjadi seorang idiot!" Sarkas Edgar penuh penekanan disetiap kalimat nya.
Jeff akhirnya berbalik, lalu menatap Edgar dengan mata berkaca-kaca. Pria baik hati yang batu saja dia kecewa kan, kini memberikan nya kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Jeff tersentuh, meski cara penyampaian Edgar yang terkesan menekan dan mengintimidasi nya. Itu memang gayanya, dan Jeff sama sekali tidak keberatan.
__ADS_1
"Baik tuanku, mulai hari ini, aku Jeff Weiner, bersumpah dihadapan mu sekali lagi. Aku akan mengabdi seluruh hidup ku untuk melayani mu dan nona muda. Terimakasih sekali lagi, aku tidak akan mengecewakan mu lagi. Akan aku buktikan" Jeff membungkuk kan tubuhnya, sebagai tanda jika dia sangat menghormati pria yang telah memberikan nya kesempatan kedua.
Sepeninggal Jeff, Edgar menyapu sudut matanya. Kini dia merasa benar benar sendiri, kedua anak nya telah memilih jalan hidup mereka masing-masing. Entah untuk apa lagi dia hidup, siapa lagi yang harus dia jaga. Keluarga? apa kah pantas keluarga nya yang toxic di sebut sebuah keluarga.