Darkest Dream

Darkest Dream
Kucing Liar


__ADS_3

Lizzie tidak dapat tidur nyenyak, waktu sudah menunjukkan pukul setengah 4 subuh, namun matanya masih sulit terpejam. Suara getar ponsel Lex mengalih kan perhatian nya, terlihat id penelpon "Drew". Bayangan buruk langsung melintas dalam penglihatan nya, saat ponsel Lex berada dalam genggaman tangan nya.


"Lex? Bangun, seperti nya calon pengguna jasa mu yang menelpon." Lizzie menggoyang pelan bahu Lex. Pria itu mengerjab lalu menatap ke arah Lizzie sejenak sebelum akhirnya meraih ponsel nya yang sudah tak lagi bergetar.


"Maaf nona, efek luka ku semalam. Aku tertidur saat sudah pukul 2 dini hari." Jelas Lex kemudian mendial ulang nomor dengan id Drew tersebut.


Lizzie menatap apa yang di lakukan Lex, juga menguping pembicaraan nya dengan menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil.


"Baiklah, kirim kan saja alamat nya. Aku akan menggunakan Google Map untuk menemukan nya." Pembicaraan selesai, raut ngantuk tak terlihat lagi. Lizzie tau Lex sangat bersemangat karena akan mendapat uang yang banyak, terlebih setelah ini dia akan bertemu kembali dengan keluarga nya.


"Nona, kau tidak keberatan ikut dengan ku untuk menjemput titipan?" tanya Lex menoleh ke belakang.


"Tidak masalah Lex, aku akan ikut." Ucap Lizzie menangguk yakin.


"Baik nona, kita akan ke alamat ini." Lex membaca alamat yang baru saja dia terima dari Drew melalui pesan singkat.


"Daerah mana?" tanya Lizzie basa basi saat mobil mulai melaju menuju tujuan.


"Jl. St.XXX" jelas Lex sesekali melirik ponsel nya yang menampilkan titik jalan tujuan mereka.


"Bukankah itu daerah pergudangan tua di sisi barat kota ini? Bekas gudang bahan baku baja." Ucap Lizzie mengerut kan dahinya heran.


"Entah lah, nona. Drew hanya mengatakan tempat nya di sana dan mengirim kan alamat ini padaku." Ujar nya melirik ponsel nya, pergerakan mobil mereka terus mengikuti titik yang mereka tuju.


"Ah, mungkin saja barang titipan nya berupa barang yang ada di gudang itu. Itu dulu gudang penyimpanan baja, mungkin sekarang sudah beralih fungsi." Alih Lizzie agar Lex tak kebingungan dengan pertanyaan nya.

__ADS_1


"Mungkin saja nona, Drew tak mungkin menipu ku. Kami satu daerah yang sama, Drew sangat dekat dengan keluarga ku, terutama anak ku. Dia sangat menyukai anak-anak. Drew pria baik, setiap pulang mengantar penumpang, Drew selalu mampir ke rumah membawa banyak makanan." Puji Lex penuh rasa kagum pada sahabat nya. Itulah yang membuat Lizzie enggan menyampaikan apa yang dia ketahui, Lex pasti akan langsung menyanggah nya.


"Kau benar, sahabat yang baik tidak akan pernah mengkhianati persahabatan nya." Ucap Lizzie membenarkan ucapan Lex sambil menutup kedua matanya.


Diri mya mulai merasa ngantuk di saat yang tak tepat.


Lizzie merasa kan mobil Lex mulai memelan, mata nya reflek terbuka.


"Apa kita sudah sampai, Lex ?" tanya Lizzie menilik kondisi gelap gulita di sekitar gudang di hadapan mobil mereka.


"Entah lah, titik nya berakhir di sini." Lex kembali memastikan dengan berusaha menelpon sahabat nya, namun hingga panggilan ke tiga, Drew masih belum menjawab.


Lex mulai terlihat gelisah, ada perasaan was-was tiba-tiba menyelinap dalam hati nya. Tidak mungkin Drew mengkhianati nya, bukan?


"Bagaimana ?" Lex menggelang lemah, hati nya sudah mulai ketar ketir memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi. Bayangan anak istrinya langsung terlintas dalam pikiran nya.


"Apa pun yang terjadi pada ku, jangan menghiraukan ku. Saat ada kesempatan, pergi lah berlawanan arah dari arah kita datang. Saat kau sampai di perbatasan kota, berhenti lah. Akan ada sebuah mobil Rover berwarna hitam akan berhenti setelah kau berhenti di sana. Salah seorang penumpang mobil itu akan menghampiri mu, usahakan jangan sampai dia menyentuh mu. Jikapun terpaksa tak dapat kau hindari, pejam kan kedua mata mu. Dan jika terdesak karena kau ketakutan, fokus kan pikiran mu pada anak dan istri mu saja. Penuhi seluruh otak mu dengan bayangan mereka." Lizzie sejenak berpikir.


"Maaf jika penjelasan ku terlalu panjang, kau akan mengerti saat situasi mengajak mu mempraktekkan nya secara langsung. Aku berharap ini bukan pertemuan terakhir kita. Aku masih berharap takdir yang kulihat benar, putri sulung ku akan menjadi menantu mu kelak. Jadi jagalah calon menantu ku dengan baik, kau orang luar pertama yang ku beri kesempatan untuk mengetahui sedikit tentang keajaiban ku." Kekeh Lizzie tertawa hambar. Lex terdiam menyimak penjelasan panjang Lizzie, otak nya masih belum mampu mencerna dengan cepat.


Namun tetap mengangguk seolah dirinya paham.


Dor dor dor


Suara tembakan terdengar dari arah gudang, Lex langsung memucat, sementara Lizzie tersenyum sinis.

__ADS_1


"Dasar kucing liar" gumam Lizzie pelan.


"Pergilah sekarang, aku ingin berkenalan dengan sahabat baik mu itu. Siapa namanya ?"


Wajah Lex pias mendengar ucapan Lizzie, meski dia tau, gadis itu tidak bermaksud untuk menyindir nya.


"Drew, nona. Entah apa tujuan nya menjebak ku seperti ini, aku sungguh tidak menyangka." Ucap Lex terlihat sedih.


"Dia ingin kau mengambil paket ilegal dari gudang itu, setelah kau mendapatkan nya. Mereka akan menyingkirkan mu, dan mengambil alih hasil kerja pertaruhan nyawa mu. Sesimpel itu Lex, hidup jangan terlalu menggantungkan kepercayaan mu setinggi langit pada seseorang. Tidak peduli dia keluarga mu sekali pun. Pergilah sekarang " Lizzie menepuk bahu Lex lalu keluar dari mobil. Tatapan nya menyiratkan agar Lex segera pergi, dengan berat hati pria itu meninggal kan orang yang sudah berkali-kali menyelamatkan nyawa nya.


Setelah mobil Lex menjauh, Lizzie berjalan menuju gudang tua tersebut. Senjata nya sudah berada di tangan nya dalam kondisi siap tempur.


Dor dor


Dua sasaran sudah Lizzie dapat kan, "dasar amatir " ucap Lizzie remeh. Kemudian kembali mengendap menelusuri lorong yang sedikit gelap, menuju ke arah tembakan bersahutan di dalam sana.


Dari arah nya berdiri, dapat Lizzie lihat, ada beberapa orang petugas Kepolisian sedang berusaha meringkus antek-antek pemilik senjata api ilegal, yang akan di seludupkan Menuju Meksiko.


"Ternyata takdir memang tidak bisa di ajak berkompromi rupa nya" Lizzie tersenyum miris saat melihat salah seorang pria yang sangat dia kenali.


"Aku harap kau tidak akan menyesali tindakan mu nanti, tuan Alessandro." Lirih Lizzie mulai mengarahkan senjatanya ke arah para kucing jalanan tersebut.


Salah seorang polisi mengernyit dahinya heran, kenapa ada suara tembakan dari arah di mana tidak terdapat satupun anak buah nya disana. Peluru nya habis, dan di saat bersamaan ada seseorang yang tanpa di duga datang di waktu yang tak tepat.


Bugh

__ADS_1


Sebuah tendangan mendarat di punggung nya, saat dirinya sedikit berjongkok untuk melihat, siapa orang yang sudah datang tanpa di undang.


__ADS_2