
Pertarungan terjadi di sebuah gudang tua tak jauh dari pusat kota, seorang gadis tengah beradu otot dan ketangkasan dengan beberapa orang pria berotot, namun tidak cukup berotak.
Buktinya, dari 7 orang yang menyekapnya, 4 diantara nya sudah menghadap yang maha kuasa. Leah terlihat sedikit kelelahan, dirinya belum ada makna sejak pagi. Namun harus menghadapi 7 orang antek-antek sang nenek seorang diri.
flashback
"Aku melihat nya ada di kota ini, seperti nya baru tiba. Di lihat dari penampilan nya saja, aku sudah dapat menilai, jika gadis itu bahkan belum menemukan tempat untuk sekedar beristirahat." Ujar salah seorang pada temannya di sebuah bar.
"Kau yakin jika itu adalah pewaris tahta kedua? salah orang, nyawamu taruhan nya." Sang teman menatap nya menunggu penjelasan pasti, akan informasi yang temannya bawa.
"Aku yakin, gadis itu sama persis dengan foto yang aku dapatkan dari orang kepercayaan bos." Ujarnya penuh keyakinan.
"Katakan di mana gadis itu sekarang, aku harap satu dosis cukup untuk membawanya. Mengingat jika keluarga itu adalah samacam keturunan iblis, membuat ku selalu was-was." Celoteh nya menghabiskan sisa minuman di gelasnya dengan sekali teguk, kemudian beranjak pergi bersama temannya.
"Ya ampun, perutku kenapa selapar ini." Leah menatap miris perbekalan nya yang tersisa sedikit. Uang yang dia bawa tidak lah banyak, hanya cukup untuk mengnggur selama 2 minggu. Itupun harus ekstra berhemat.
Leah tengah duduk di sebuah kursi taman, dirinya baru tiba kurang dari setengah jam. Perjalanan panjang membuat nya lumayan kelelahan, rasa lapar adalah dalang utama nya.
"Akhirnya kita bertemu juga, nona. Senang bisa berhadapan langsung dengan pewaris murni seperti anda. Saya sangat tersanjung. Jadi mari kita membuat kesepakatan, ikut bersama kami secara suka rela. Maka nyawamu akan bos kami pertimbangkan. Memberontak? nyawamu sebagai taruhan." Ujar si pria bertato hampir di seluruh tubuhnya itu menyeringai iblis. Leah tersenyum sinis, sejak kecil dirinya paling tidak suka di perintah semena-mena. Dan kini? tikus jalanan merasa menjadi singa kerjaan? Astaga, Leah sungguh ingin tertawa keras sekarang. Sayang, tenaganya harus dia hemat untuk menghadapi para bandit murahan di hadapan nya itu.
"Maaf, tuan-tuan. Aku sedikit lelah, perjalanan ku cukup jauh dan itu membuat punggung ku sedikit tidak baik-baik saja sekarang. Jadi, aku akan ikut bersama kalian dengan suka rela. Jadi tidak perlu membuang energi kalian untuk menghadapi gadis lemah ini." Ujar Leah menyeringai venom, sangat samar. Hanya ujung bibirnya yang seksi terangkat. Leah adalah gambaran neraka dunia yang nyata, sementara Lizzie, adalah gambaran neraka paling mengerikan, di balik sikap tenang dan lembut nya. Keduanya memiliki sifat penumpas yang sama, hanya saja mempunyai cara tersendiri untuk melakukan nya.
__ADS_1
Leah di borgol seperti seorang tahanan, di masukkan ke dalam mobil dan di bawa pergi hingga satu setengah jam perjalanan. Sepanjang jalan, diam-diam Leah menghapal semua rute yang mereka lewati, juga rute lain di setiap persimpangan yang mereka lalui.
Sesampai di gudang yang di fungsi kan sebagai sebuah markas, Leah di dorong kasar untuk masuk ke dalam gudang.
"Hei! bung? aku bisa berjalan tanpa harus kau dorong, jadi berhentilah melakukan nya. Itu jika kau masih butuh kedua tanganmu berada tetap di tempatnya." Ujar Leah penuh peringatan. Namun si pria menanggapi nya dengan mentertawai Leah, yang menurut nya sedang ngelantur.
Setelah mendudukkan Leah di sebuah kursi kayu, dan diikat dengan tambang. Borgol leah di lepas, karena mustahil gadis itu bisa melepaskan lilitan tali yang kini mengikat kuat tubuh kecilnya.
"Kita lihat saja, apakah kau masih punya sedikit kesombongan saat nyonya Samara kemari untuk mengeksekusi mu layaknya binatang." Ujar si pria penuh tekanan. Leah melengos ke samping, si pria berbicara dengan jarak yang cukup dekat. membuat jiwa penjijik Leah memberontak.
"Bisakah kau berbicara dengan radius yang jauh? aku mual mencium aroma mulut dan tubuh mu yang menjijikkan." Sarkas Leah tanpa rasa takut sedikitpun. Si pria yang tak terima memberikan satu bogeman di pipi mulus Leah, hingga mulut nya berdarah.
Leah meludah di atas sepatu si pria seolah menantang, membuat emosinya semakin terpancing jauh. Dengan kekuatan penuh, pria itu menendang dada Leah hingga gadis itu terhempas bersama kursinya. Leah terbatuk-batuk menahan rasa sakit yang tak tergambarkan. Takut? menyerah? ooh, tentu saja tidak semudah itu Orlando. Leah semakin gencar memancing emosi si pria dengan cara meremehkan kemampuan nya.
Dor!
Si pria ambruk dalam posisi berlutut di hadapan Leah. Rupanya, peluru yang dia arah kan ke kepala Leah, berbalik mengenai kepala nya sendiri. Teman-teman si pria bergidik ngeri, melihat kejadian gaib yang terjadi tepat di hadapan mereka.
Keenam pria yang tersisa saling melempar pandangan, mengisyaratkan, siapa yang lebih dulu menghadapi gadis di depan mereka.
"Bisa kah menolong ku untuk duduk, posisi ku sangat kurang enak di lihat. Paling tidak, berikan aku tempat terjatuh yang sedikit lebih keren dari ini. Pinggang ku pegal terlalu lama dalam posisi ini." Mohon Leah dengan tatapan yang tidak menyiratkan bahwa dirinya butuh pertolongan.
__ADS_1
Dengan ragu ke enam pria itu mulai mengatur strategi keamanan bersama. Posisi Leah yang terjatuh dengan sandaran kursi yang sudah patah, bisa saja gadis itu akan bebas sebentar lagi. Dengan sedikit keberanian, dua di antara mereka mulai mendekati Leah. Dengan maksud akan memborgol Kembali gadis itu, agar mereka aman sampai sang nyonya sampai.
Sesaat setelah berhasil mendudukkan kursi dalam posisi yang seharusnya, si Pria mulai memasukkan salah satu tangan Leah ke borgol. Sayang, Leah yang lebih gesit mampu membalikkan situasi. Dalam keadaan yang masih terikat di kursi walau sudah sedikit longgar, Leah berdiri dan menghantam ujung kaki kursinya ke perut dua orang pria itu sekaligus. Perkelahian sengit terjadi dan menciptakan sedikit ketegangan. Bagaimana tidak, satu lawan enam orang pria sekaligus.
flashback off
Leah berusaha menetralkan raut wajahnya, rasa sakit menghantam hingga ke tulang-tulangnya.
"Kau ingin menyerah, nona?" ejek seorang pria menatap rekeh ke arah Leah sambil menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Leah tertawa pelan. Menyerah? yang benar saja.
"Aku kasih punya sedikit kekuatan tersembunyi, paman. Perhatikan saja pinggang mu, kau sudah cukup tua untuk melawan ku yang jauh lebih muda." Balas Leah melempar ledekan.
Panas mendengar ledekan anak kemarin sore? tentu saja! Dengan sisa tenaga nya, pria itu di bantu teman-teman nya kembali menyerang Leah. Mereka begitu percaya diri bisa mengalahkan gadis sok jagoan itu. Berkali kali Leah terpental namun tenaganya seolah terisi secara otomatis.
Pertarungan sengit terjadi hampir setengah jam, akhirnya, kini hanya satu yang tersisa. Atau lebih tepatnya, sengaja Leah sisakan sebagai map nya selama dirinya di California.
"Aku membiarkan mu tetap hidup bukan tanpa alasan, jadi perlihatkan tubuh tegap mu padaku paman. Jangan membuat para lansia malu, karena melihat otot mu tidak sesuai dengan tubuh lemah mu ini." Sarkas Leah sedikit tersengal-sengal. Dirinya kelelahan, haus dan kelaparan.
"Ayo ikut dengan ku, paman. Aku lapar, aku masih punya sedikit recehan untuk kita makan bersama." Ujar Leah meraih tas punggung nya yang di buang di pojok ruangan.
Harlan, nama pria itu. Kini mengekori Leah layaknya anjing penjaga. Meski Leah memperlakukan nya dengan manusiawi, namun rasa malu, membuat nya merasa rendah diri.
__ADS_1
Harga diri nya kini berada di inti bumi paling dasar, terjatuh telak oleh gadis muda yang dia anggap anak kemarin sore.