Darkest Dream

Darkest Dream
Tawaran


__ADS_3

Seorang pria tampan, matang dan cukup mapan (sayang nya lebih suka menumpang di rumah saudara, entah bermaksud menghemat biaya atau bagaimana), berjalan dengan gaya gagah menuju ruang kepala sekolah. Teriakan histeris siswa perempuan menguar di penjuru sekolah saat melihat pria bak dewa Yunani tersebut.


"Ck! ku harap dia bukan siswa baru." Ketus Berea menatap sekilas pada pria yang juga kebetulan tengah menatap nya dengan tatapan tak biasa.


"Memang nya kenapa kalau dia siswa baru?" tanya Zion penasaran. Tangan nya masih sibuk mengaduk minuman yang bahkan sudah tercampur rata sejak tadi.


"Apa mata mu tidak bisa melihat dengan jelas? pria itu usia nya mungkin sudah 30an, apa tidak terlalu tua untuk menjadi siswa." Ungkap Berea melirik sekilas melalui ekor mata nya. Dia tau jika pria itu masih menatap ke arah nya, dan dia paling benci jika keberadaan nya terus di sorot oleh mata yang dia anggap buaya.


"Tapi menurut ku dia tampan, seperti baru berusia 25 tahun. Aku harap dia adalah guru baru yang mengajar di kelas kita, pasti akan sangat menyenangkan, bukan? di sekolah kita tidak ada guru pria yang usia nya di bawah 40 tahun. Aku khawatir mereka terkena serangan jantung saat mengajar. Bukan kah itu akan merepotkan..." sela Helen berpendapat. Gadis itu kini menjadi bagian dari circle pertemanan Berea dan Zion sejak kejadian tiga minggu yang lalu.


"Kau ini..dasar para gadis. Memang apa untung nya punya guru pria masih muda, apa dia akan melirik mu? tidak, kan?" oceh Zion tanpa perasaan. Helen mengerucut bibir nya kesal. Zion terlalu blak-blakan jika menilai sesuatu, bahkan hampir setiap hari pria itu mengomentari cara nya berpenampilan. Sungguh menyebal kan. Meski pada akhirnya dia menuruti, hanya karena takut Berea tidak ingin berteman dengan nya lagi.


"Kenapa kau selalu membully nya? apa kau tampan? biar kan saja Helen berharap, toh hak nya untuk menyukai siapa pun. Kecuali kalau kau cemburu jika Helen menyukai calon guru baru kita tadi." Sambung Berea membuat Zion tersedak minuman nya sendiri.


"Kau kalau bicara bisa tidak jangan membuat orang selalu terkena sesak napas...dasar menyebalkan..!" Omel Zion mengelap hidung, bibir dan mata nya yang berair.


"Aku menyukai nya? yang benar saja! aku punya gadis incaran ku sendiri, dan yang jelas tidak cupu seperti nya." Elak Zion santai, seolah kata-kata nya tidak sedang menyakiti hati siapa pun. Helen mencibir, meski dia sakit hati namun benar. Siapa yang akan menyukai nya jika penampilan nya seperti itu.


"Kau seperti nya harus ikut mata pelajaran tambahan bidang studi budi pekerti, mulut mu perlu belajar etika berbicara yang baik dan benar." Ujar Berea mendelik tajam ke arah Zion yang masih belum sadar, telah membuat Helen semakin merasa insecure terhadap diri nya sendiri.

__ADS_1


Zion menoleh ke arah Helen yang jadi semakin pendiam, pria itu sedikit salah tingkah karena merasa bersalah.


"Maaf, Helen. Aku tidak bermaksud, tapi aku hanya berbicara apa ada nya. Kau sudah lumayan mengenalku belakangan ini, bukan? harus nya kau tau, aku tidak suka basa basi. Atau jangan bilang kau menyukai ku? ku saran kan jangan, aku sudah punya calon kekasih. Kau akan sakit hati nanti." Ucap Zion penuh percaya diri. Berea mencebik mendengar kalimat jumawa sahabat nya yang tak tau malu itu. Sementara Helen ternganga lebar, sungguh tidak sedikit pun terpikir untuk menyukai pria di depan nya itu.


Helen bergidik ngeri sendiri, dia harap gadis yang akan menjadi kekasih teman baru nya itu di berikan ketabahan lahir dan batin. Seperti nya akan sulit menghadapi sikap arogansi pria itu nanti nya.


"Tenang saja, Zion. Aku bahkan tidak terpikir kan sedikit pun untuk menyukai mu. Bermimpi pun tidak, aku masih cukup waras. Jadi kau tenang saja ya.." sergah Helen tenang. Zion mendelik mendengar kalimat janggal Helen yang terkesan meremehkan diri nya. Wajah nya pias karena menahan malu.


Sementara Berea tersenyum mengejek ke arah nya, seorang Zion kalah telak oleh gadis cupu. Sungguh memalukan bukan?


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Mana tugas mu, berikan pada ku..!" sentak Linda menggeprak meja Helen. Membuat gadis itu terlonjak kaget, kini posisi nya sedang sendirian. Zion dan Berea tengah mengikuti latihan basket, tadi pun dia ikut kedua teman baru nya namun karena bosan dan pusing melihat bola yang terus di perebutkan tanpa henti. Helen memutuskan kembali ke kelas saja sambil mengerjakan tugas nya.


"Aku baru akan mengerjakan nya, ini.. jika kau tidak percaya.." tunjuk Helen pada lembar buku tugasnya yang baru terisi dua baris tulisan. Linda menarik kasar hingga sedikit robek di bagian ujung. Tak lama gadis itu menghempaskan nya kembali ke wajah Helen hingga terkena kaca mata gadis itu.


"Kerjakan dan berikan padaku. Awas jika kau berani mengadu pada kedua teman mu, aku habisi kau!" ancam Linda mendorong pelipis Helen dengan jari telunjuk nya. Gadis itu hanya terdiam tanpa berucap sepatah kata pun.


Setelah selesai menekan mental Helen, Linda pergi di ikuti oleh Mona di belakang nya. Helen bernafas lega, saat pintu tertutup kasar. Paling tidak kini diri nya bisa konsentrasi mengerjakan tugas nya. Karena jika sudah pulang, dia tidak akan ada banyak waktu. Karena diri nya harus langsung pergi bekerja di sebuah minimarket hingga pukul 10 malam.

__ADS_1


Klek


Helen mendongak untuk melihat siapa lagi yang masuk ke dalam kelas nya, dia khawatir Linda kembali masuk. Namun kini kekhawatiran nya semakin bertambah berkali-kali lipat, saat melihat siapa yang masuk ke dalam kelas tersebut.


Seketika keringat di keningnya mulai berbutir, tangannya mulai dingin dan berkeringat. Helen bergegas menyimpan buku dan pulpen nya dengan terburu-buru, lalu beranjak dari kursi nya hendak pergi. Namun cekalan tangan membuat langkah nya terhenti, tubuh Helen bergetar ketakutan. Bayangan akan kembali di leceh kan oleh pria itu membuat nya tak bisa berpikir jernih.


"Aku hanya ingin duduk dan mengobrol dengan mu. Duduk lah kembali, aku janji tidak akan mengganggu mu lagi." Ucap nya penuh keyakinan, kemudian menarik pelan pergelangan tangan Helen membawa gadis itu kembali duduk di kursi nya.


Helen hanya bisa menuruti, melawan pun diri nya tak akan mampu. Tubuh nya masih bergetar menekan rasa takut.


"Apa yang sedang kau kerjakan tadi saat aku masuk?" tanya si pria basa-basi, padahal tadi diri nya sudah menyiapkan kata-kata terbaik saat akan menemui Helen di kelas itu. Namun sekarang semua narasi nya tiba-tiba menguap entah kemana.


"A_aku ta_di...hanya sedang mengerjakan tugas sekolah..tapi sekarang sudah selesai. Aku ingin melihat Zion dan Berea latihan basket. Tadi aku sudah berjanji setelah tugasku selesai, aku akan ke sana." Ucap Helen terbata, namun menjadi sangat lancar saat menyuarakan alasan nya, agar bisa kabur dari hadapan pria yang kini tengah duduk di seberang meja nya.


Helen meremat jari nya, ketakutan nya semakin bertambah saat terus di tatap oleh Grend. Ya, pria itu adalah Grend.


"Tapi tadi aku melihat mu bosan saat sedang menonton teman-teman mu bermain basket. Aku tebak kau pasti tidak menyukai nya, kan?" Helen semakin gugup, bagaimana bisa Grend tau jika diri nya sudah dari sana. apakah pria itu menguntit nya.


Grend tersenyum simpul, dia tau Helen pasti takut pada nya. Mungkin juga gadis itu trauma akibat perbuatan buruk nya kemarin-kemarin. Kini dia merasa malu pada dirinya sendiri, bagaimana bisa dia melecehkan seorang gadis begitu saja. Padahal diri nya pun memiliki adik perempuan, juga seorang ibu yang telah melahirkan nya ke dunia ini. Sungguh Grend ingin menenggelamkan kepalanya ke dalam sumur jika mengingat hal memalukan yang dia perbuat pada Helen.

__ADS_1


"Aku tau kau dari sana karena tadi aku pun di sana. Ku perhatikan kau nampak bosan melihat bola yang terus di oper dan bergerak kesana-kemari. Aku juga tidak menyukai nya, untuk itu aku tak mengikuti kelas ekstrakurikuler tersebut. Aku lebih suka berkuda, berkemah ditepi danau bersatu dengan alam, aku sangat menyukai nya." Papar Grend tanpa di minta. Helen sedikit mendongak, sejak tadi dia hanya berani menatap ubin yang tiba-tiba saja lebih menarik dari pada pria tampan di hadapan nya itu.


"Tugas mu pasti belum selesai, lanjut kan saja. Alu akan menemanimu di sini, aku janji tidak akan mengganggu." Ucap Grend mengangkat dua jari nya sambil tersenyum lebar. Helen sejenak terpana, namun segera menggelengkan kepala nya.


__ADS_2