Darkest Dream

Darkest Dream
Tambahan beban di pundak rikuh Lizzie


__ADS_3

∆Hayy hayy..! readers ku yang baik hati, sesama author terkasih🤍🤍🥰🥰


Terimakasih banyak atas atensi kalian semua terhadap karya receh ini. Sedikit informasi untuk sesama author, maaf jika dalam mencicil kadang notif kalian sering terlewat kan begitu saja dan terbilang cukup lama baru mampir lagi. Bukan niat hati, Bubun fokus pada notif paling awal masuk dan sedikit tertimpa ke bawah. Jadi notif update terbaru kadang sering Bubun othor nya skip dulu sejenak. Tapi tetap akan Bubun buka dan baca kok ya, plus Like setiap bab nya tidak pernah lupa🙏🤗


Daftar fav' author ada lebih 50, bayangan waktu 24 jam di bagi-bagi, ternyata lebih menyita waktu ketimbang nulis novel😂😂 kadang merasa bersalah kalau ada yang lama baru bisa othor samperin karya nya😢🥺


Andai ada bab yang terlewat dari jempol gajah othor, mohon di ingat kan saja dalam rupa candaan, yang sedikit menyentil ingatan othor agar kembali berfungsi dengan baik🤭😁


Sampai ke bab ini Bubun othor masih tetap semangat, tidak peduli meski hanya sekedar numpang memenuhi daftar di apk kita tercinta ini😆😆


Salam persahabatan, peluk hangat dan tos online bagi semua insan baik yang baca note gak penting si Bubun othor. Luv you kalian semua, sehat selalu Tuhan Yesus memberkati 😇😇🥰🥰🤍🤍


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Sementara tak jauh dari kastil, di pinggir sebuah danau, sekelompok sekte berjubah hitam dengan penutup kepala seperti Hoodie. Tengah melakukan sebuah ritual sama hal nya seperti yang Lizzie lakukan. Namun dengan adanya korban persembahan yang tengah terikat di sebuah tiang pancang kayu. Kepala di tutupi penutup kain hitam dan terlihat dalam kondisi tidak sadar kan diri.


Suara-suara rafalan mantra terus bersahutan dari mulut orang-orang tersebut. Kalimat dengan kata-kata yang sulit di mengerti oleh telinga manusia awam.


"el príncipe heredero ha nacido bien, ahora su alma te pertenece, nuestro señor...." kalimat tersebut terus di ulang-ulang seperti sebuah kaset yang sedang diputar.


Terlihat pergerakan dari calon sesembahan yang tengah terikat itu, kepala nya di dongak kan lalu di geleng pelan. Mungkin saja kain penutup itu membuat nya terganggu.


"To..tolong..sia..pa pun..." ucap nya lirih bahkan nyaris tak terdengar. Padahal sudah sekuat tenaga dia kencang kan suara nya, namun sama sekali tak mampu menembus kabut hitam yang mengelilingi tubuh nya.


Setelah melakukan ritual pembacaan mantra yang mereka sebut doa kepada sang raja iblis. Sekelompok orang tersebut mulai mengelilingi tubuh si pria yang terikat. Membentuk sebuah lingkaran dan saling bergandengan tangan satu sama lain. Terlihat jari-jari tangan mereka mempunyai bentuk dan warna yang hampir sama. Terlihat mengerucut tajam dan menghitam.


Tak lama suara mantra yang sama mulai terdengar kembali, pria yang tengah terikat itu mulai merasakan hawa panas yang sedikit membakar kulit mulus nya. Suara teriakan nya seperti sesuatu yang menghibur sekaligus hal menyenangkan untuk di dengar. Bukti nya mereka sama sekali tidak mempedulikan teriakan pilu si pria malang tersebut.


"Tolong hentikan!! ini menyakitkan.. please.." ratap nya memohon dengan suara yang begitu pilu. Meski tidak terlihat ada api, namun melihat warnanya kulit nya yang mulai memerah, bisa di pastikan si pria mengalami rasa sakit yang luar biasa menerpa tubuh nya.

__ADS_1


Tiba-tiba suara hening, sangat hening seperti tidak pernah ada satu pun manusia di sana. Si pria mulai merasa tenang dan aman. Rasa sakit dan perih di kulit nya berangsur menghilang.


Srrettt


"Aauuwwww!!!" pekik nya histeris, saat merasakan sayatan di pergelangan tangan kiri nya. Rasa dingin seketika menjalar di area pergelangan tangan hingga tubuh nya. Hawa dingin yang berasal dari darah yang terus mengalir lalu di terpa hembusan angin malam.


"Pleaaassee..! lepas kan aku.." ucap nya kembali memohon, terbersit sesal mendalam dalam hati nya. Andai saja dia tidak ceroboh dalam menggunakan keajaiban nya, mungkin saat ini dia tidak terjerumus dalam situasi menjebak seperti sekarang ini.


"Kau sangat payah!" ketus seorang wanita, membuat si pria tersentak kaget. Karena tiba-tiba ada orang berbicara tepat di samping telinga kiri nya.


"Siapa kau? kenapa kau lakukan ini pada ku!" teriak Leon marah. Ya pria malang itu adalah Leon, diri nya mencoba peruntungan takdir dengan menyerahkan diri pada sang nenek, berharap sebuah perdamaian atas takdir sang kakak. Namun sayangnya, sebagai junior yang terlambat menyadari keajaiban nya. Kini nasib Leon malah berakhir di tiang pancang. Di korbankan pada sang iblis , agar para pengikutnya dapat memulihkan diri dan kembali hidup abadi.


Leon telah melakukan kesalahan besar, dan lagi-lagi Lizzie lah yang harus menanggung nya. Entah berapa banyak lagi kecerobohan orang-orang yang Lizzie kasihi, hingga harus membuat nya berkorban lebih banyak lagi.


Srekk


Penutup kepala Leon di buka dengan cara yang kasar. Mata nya terbelalak saat melihat rupa orang yang telah melukai tangan nya. Wanita tua yang terlihat dalam wujud nyaris seperti penyihir. Atau lebih tepatnya, seperti rupa seorang iblis, terlihat begitu menakutkan.


Leon bergidik ngeri, di tatap nya wanita yang masih tertawa itu lalu beralih ke kalung liontin yang sama persis seperti milik sang kakak. Apa kah wanita mengerikan itu adalah nenek nya? Leon sungguh sangat menyesal sekarang. Tanggungan beban di pundak rikuh sang kakak kini akan semakin berat akibat ulah nya.


"Ne..nek.." ucap Leon terbata, tawa wanita itu menjeda. Di tatap nya lekat wajah Leon yang mengingatkan nya pada putra nya, Sky.


"Kau mengenali ku rupa nya.. cucu yang sangat baik, tidak seperti kakak mu yang angkuh itu. Sayang nya aku akan mengirimmu ke surga malam ini. Jadi, katakan apa yang kau ingin kan sebagai permintaan terakhir juga hadiah kecil atas pertemuan pertama kita, cucuku tersayang." Seringai iblis di bibir hitam Samara cukup mengganggu penglihatan Leon. Dia ketakutan, tentu saja. Siapa yang tidak takut jika berhadapan dengan iblis yang terlihat nyata di depan nya seperti ini. Apa lagi dalam rupa yang memang sangat menakutkan, meski sekedar tak sengaja terlihat.


"Bisa kah nenek hentikan ini.." mohon Leon mengiba. "Aku akan memberikan darah ku hingga tetesan terakhir, tapi lepas kan ikatan takdir pada setiap keturunan murni berikut nya. Aku mohon, aku yakin jauh di dasar hati nenek, masih tersimpan sisi kemanusiaan walau hanya se ujung kuku." Lanjut Leon dengan tatapan memelas, berharap empati sang nenek meski terlihat mustahil.


"Kau pikir kau siapa berani memerintah ku!!" bentak Samara terlihat marah. Sementara para pemuja iblis lain masih mengelilingi Leon, seakan mereka sedang membangun tembok agar keberadaan Leon tidak tertembus. Dan dua orang lain nya tengah merafal kan sebuah mantra di samping kiri Leon. Sebuah cawan berisi penuh dengan darah Leon berada di genggaman tangan nya. Dan satu orang lagi tengah memegang sebuah belati dan mahkota bertahtakan berlian berwarna biru dan merah di tengahnya. Terlihat sangat indah memantulkan cahaya berkilauan.


"Karena kau tidak menginginkan sebuah permintaan, maka aku akan mengirimmu lebih cepat menuju keabadian." Tawanya kembali menggema. Seakan kematian Leon adalah hal yang begitu menyenangkan.

__ADS_1


Seorang pria dengan belati berputar-putar mengelilingi Leon hingga tujuh kali putaran. Kemudian berhenti persis di hadapan tubuh Leon yang mulai melemah.


"Sampai kan salam hangat nenek pada para malaikat. Katakan, bahwa nenek mu ini akan kembali abadi untuk seratus tahun lagi." Lalu suara tawa menyusul di iringi hembusan angin kencang dari segala penjuru lembah tersebut.


Saat belati itu sudah terayun semakin dekat ke jantung Leon. Sekelebat bayangan menghantam sang eksekutor hingga terpental ke arah gundukan batu. Atensi mereka mulai sedikit terpecah, namun Samara berhasil menjaga formasi agar tetap berada dalam lingkaran yang seharusnya.


"Kau rupa nya sudah pulih, cucu ku.." ucap nya dengan nada mengejek. Leon menatap miris sang kakak yang terlihat babak belur. Sebelum Lizzie berhasil masuk ke lingkaran para penyembah iblis itu, diri nya di serang habis-habisan oleh para pengikut sang nenek yang bertugas menjaga setia penjuru portal masuk ke sana.


Kondisi nya yang lemah membuat nya kewalahan. Namun beruntung diri nya mampu mengalahkan para anjing penjaga tersebut, dengan sedikit bantuan senjata. Yang diam-diam dia ambil dari balik pinggang Pedro, saat pria itu menggendong nya keluar dari sarang manusia iblis, Alessandro.


Lizzie menyeringai angkuh seperti biasa nya. Gaya khas seorang Lizzie yang tidak suka di tindas namun tetap dalam mode yang sangat elegan.


"Bukan kah aku cucu kandung mu, nenek ku sayang..tentu saja aku akan pulih dengan cepat. Bukan kah setiap garis keturunan mu di lahir kan sepaket komplit dengan segala kelebihan nya..." sahut Lizzie tersenyum miring. Senyum yang membuat Samara merasa tersentil.


"Kau sangat angkuh cucu ku.. apa kah kau masih akan seangkuh itu saat adik kesayangan mu ini, ku kirim ke alam baka sebentar lagi.." Samara tertawa menyeringai ke arah Lizzie kemudian melirik sekilas ke arah Leon yang terlihat ketakutan.


"Lihat lah calon raja mu..aku heran kenapa pria lemah ini bisa terlahir dengan nasib sebagai seorang putra mahkota. Lihatlah, di tilik dari sudut manapun, Leon tidak pantas menyandang gelar mulia tersebut. Tapi aku cukup berterima kasih, berkat pilihan para leluhur. Aku bisa menjadi abadi dalam beberapa menit ke depan." Tawa Samara kembali menguar di susul oleh para pengikut nya.


Lizzie tersenyum miring, satu tangan nya terayun ke arah kedua tangan dan kaki sang adik yang terikat. Samara terbelalak saat melihat ikatan tali jerami yang mengikat Leon terlepas bahkan hingga terbakar menjadi abu.


"Kau masih meremehkan cucu cantik mu ini, nenek.." ucap Lizzie dengan nada mengejek. Samara mengepalkan kedua tangannya lalu mengayun ke depan, kilatan cahaya merah mengarah tepat ke arah Lizzie berdiri. Namun Lizzie yang cekatan berhasil menghindari nya. Dan kini dia sudah berdiri sempurna sambil menopang tubuh lemah sang adik.


"Dasar ja*l*ang kecil jahanam!!" hardik Samara terlihat sangat marah, lalu kembali mengayun kan kedua tangan nya namun Lizzie seperti kilat. Pergerakan nya sangat cepat dan lincah.


Pedro dan Luo tersentak kaget saat seseorang menggedor kaca jendela mobil mereka. Dengan cepat keduanya keluar dari dalam mobil untuk melihat siapa orang gila yang berani berkeliaran di tengah entah berantah tersebut. Mereka saja di landa rasa takut setiap detik nya, jika saja tidak mengingat tugas penting itu. Sudah dipastikan kini mereka sudah kabur dari sana dengan perasaan penuh suka cita.


"Nona muda, anda..." tunjuk Pedro ke arah Lizzie lalu menunjukkan seorang pria yang terlihat menunduk dengan lumuran darah di tubuh nya.


"Ini adik ku, bawa dia pergi. Hubungi Jeff. Katakan padanya, stok darah terakhir telah menemukan pemilik nya. Dan ya,.." Lizzie terlihat berusaha mengatur alur nafasnya yang sedikit tidak beraturan. "katakan tidak perlu menyusul ku, aku sudah mendapatkan bantuan. Arah kan adik-adik ku ke jalur hampa di bagian barat, mereka tidak akan mampu mendeteksi keberadaan ku di sana. Juga hubungi sekelompok manusia gegabah dan ceroboh itu, aku tidak butuh tambahan beban. Suruh mereka kembali saja, malam ini tidak akan ada kemenangan untuk siapapun. Maka percuma saja mengerahkan segala kemampuan yang mereka punya. Hanya akan membuat banyak korban saja, dan lagi-lagi aku yang harus membereskan kekacauan akibat kecerobohan orang lain." Lizzie berbicara cepat sambil menatap Pedro yang tengah menyimak serius setiap perkataan nya.

__ADS_1


"Pergi lah, aku tau kau masih belum mampu mencerna kalimat dongeng ku yang terlalu panjang. Kau akan mengerti nanti.." Lizzie menepuk bahu Pedro, sekejap saja pria itu berkedip. Lizzie sudah tidak terlihat lagi di hadapan nya. Bulu kuduk nya meremang, begitu juga dengan Luo. Kedua bergegas memapah tubuh lemah Leon ke dalam mobil, lalu meninggalkan tempat itu. Pikiran mereka diliputi banyak rasa penasaran juga pertanyaan yang entah kepada siapa mereka akan menemukan jawaban nya.


Saling melirik melalui ekor mata, namun mulut mereka seolah terkunci. Keheningan sepanjang jalan membuat suasana dalam mobil itu sedikit mencekam. Belum lagi jalan yang sedikit terjal dan di penuhi rimbunan pepohonan lebat.


__ADS_2