
Beberapa orang nampak saling menuding, kekeliruan waktu dan tempat membuat mereka terdampar di entah berantah. Deren mengusap kasar wajah nya, pria itu frustasi. Titik temu yang mereka datangi ternyata berseberangan dengan tempat yang seharusnya mereka tuju.
"Seharusnya aku tidak menggantungkan harapan klan pada mu!" Hardik Seviel menunjuk kan jari telunjuk nya dengan wajah mengeram menahan marah. Sandora terdiam, Claine begitu pun Hurby. Semua di luar dugaan mereka. Entah kenapa mereka bisa terdampar di sana di saat nona muda mereka membutuh kan pertolongan.
Tanpa mereka tau, Lizzie lah yang mengarah kan mereka ke jalur yang salah. Di sisa kekuatan yang dia miliki, Lizzie menyamarkan arah tujuan para Servidor ke jalur hampa berkat bantuan seseorang. Dia tak ingin menambah beban di pundak rikuh nya.
"Turun kan telunjuk mu, Seviel!" titah Claine tak terima, Turner hanya menatap kosong pada klan nya yang terlihat saling menyalahkan. Seperti masa lalu, begitu lah yang dia lihat sekarang. Ternyata usia dan pengalaman, tidak menjadi kan para manusia di hadapan nya itu dewasa. Mereka masih cenderung melempar batu lalu bersembunyi untuk menghindari lemparan balasan. Sungguh miris.
"Apa kalian sudah selesai dengan saling menuding? aku tidak heran kenapa kita bisa terdampar di sini. Kehadiran kita hanya akan menjadi beban bagi nona muda. Aku bersyukur, karena semakin ke sini aku semakin mengerti satu hal." Turner menatap satu persatu klan nya, helaan nafas panjang dia keluarkan dengan desa*han berat.
"Nona muda tau jika kehadiran kita hanya akan menjadi beban dan masalah baru. Kehadiran kita hanya akan mengganggu fokus nona muda dalam memenuhi takdir nya. Seharusnya kalian menyadari hal itu sejak kita tiba-tiba berada di jalur yang salah. Tapi lihat lah, kita bahkan sibuk berargumen untuk untuk mencari kambing hitam. Sejujurnya aku malu, malu pada diriku sendiri dan malu karena di usiaku ini. Masih harus menyaksikan bagaimana klan kita ternyata masih belum tumbuh dewasa dan suka berseteru untuk hal yang tidak penting." Tukas Turner menyeka sudut mata nya. Tatapan nya bersitatap dengan Sandora, dia tau wanita cinta pertama nya itu telah melakukan kesalahan yang mengulang kisah masa lalu.
"Deren? apa ponsel mu masih belum berfungsi ?" bisik Gerald menyikut lengan sahabat nya. Dia sudah bosan berada di tengah orang-orang yang sibuk berdebat dari pada mencari solusi.
"Sudah sejak setengah jam yang lalu.." sahut Deren santai. Gerald hampir berteriak saat mendengar pengakuan sang sahabat. Bagiamana bisa Deren terlihat tenang saat mereka semua tengah di kanda kepanikan.
"Kau..!" Gerald kehabisan kata-kata, di tatapnya Deren yang terlihat begitu tenang layaknya air sungai tanpa riak sedikit pun.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mengulur waktu.." lanjut nya dengan tenang tanpa emosi apa pun.
"Apa maksudmu ? apa kau gila! kita berada di sini sudah satu setengah jam dan kau...." Gerald benar-benar di buat murka dan tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabat nya itu.
"Berhenti mendesis seperti ular kobra, G! kau akan paham nanti, dan jika kau berada di posisi ku...aku yakin, untuk sekedar bernafas pun kau akan kesulitan." Tekan Deren sedikit menaikkan oktaf nya dengan rahang mengeras. Gerald terdiam, wajah tenang Deren terlihat tertekan. Dia tak ingin lagi menambah beban pikiran sahabat nya itu dengan banyak protes.
"Apa tidak ada satu pun di antara klan kita yang mewarisi bakat para leluhur? kau? Sando.." Seviel yang masih dalam emosi jiwa rupanya belum bisa berkompromi dengan situasi yang ada.
"Jika aku punya, kita semua sudah keluar dari kabut sialan ini. Kau pikir aku suka terkurung di sini dan tidak ingin berbuat apa-apa." Sergah Sandora menatap sinis ke arah Seviel.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Aarrgghhhh...!!! brengsek! brengsek! bajingan kau kak! aku membenci mu hingga ke sendi-sendi ku...!" Leah meraung marah, kesal dan sedih, dia merasa di bohongi, hati nya terkhianati oleh keadaan. Mereka tiba di jalur hampa yang membuat nya kesulitan untuk mencari jejak sang kakak. Yang paling menyakitkan, ketika dirinya sudah menyiapkan jiwa dan raganya untuk menolong sang kakak. Justru Lizzie menolak pertolongan dan kehadiran mereka.
"Kak hentikan!" Morgan yang tenang dan cenderung kekanakan, kini memperlihatkan sisi lain dari dirinya. Alex terkesiap melihat perubahan adik nya, namun tetap diam saja. Mencegah Leah melakukan apa yang dia inginkan di kala hati nya sedang di liputi kemarahan. Sama saja menembak kan pelatuk ke dalam mulutnya sendiri.
Leah menatap nyalang pada sang adik, entah kenapa semua orang di matanya terlihat seperti seorang pengkhianat. Seperti sang kakak, mengkhianati takdir mereka semua.
__ADS_1
"Kau? punya nyawa berapa kau berani membentak ku, hah!.." teriak Leah tak terima.
"Aku punya banyak, jadi berhenti lah bersikap yang semakin membuat kita semua menjauh dari jangkauan kak Lizzie. Aku muak! aku muak berpura-pura tak tau apa-apa. Apa kakak tau, kita semua terdampar di sini. Itu karena ulah ku, aku menyamarkan jalur para klan Servidor juga jalur kita. Agar tidak satu pun dari kita yang akan menjadi beban kakak ku lagi. Tidak setelah Leon mengacaukan segalanya..." suara Morgan semakin lemah, bergetar dan mulai terisak keras.
flashback
Klek
"Kak? kau akan pergi sendiri tanpa melibatkan saudara-saudara mu?" Lizzie tersentak kaget lalu menoleh. Bibir nya melengkung kan sebuah senyuman yang teramat sangat manis untuk di lihat oleh siapa saja. Untung saja Morgan adalah adik nya, jika tidak pria itu pasti akan langsung terpesona oleh senyum manis sang kakak.
"Ayo kita duduk di luar..." Lizzie merangkul bahu sang adik dan membawa nya keluar kamar. Setelah duduk di sofa di ruang tunggu, Lizzie menatap adik nya dengan tatapan berbeda.
"Mau kah kau berjanji satu hal pada ku, adik ku sayang.." Morgan merasakan hawa-hawa pemanfaatan. Namun kepala nya tetap mengangguk pelan dan terlihat tak bersemangat.
"Jika malam purnama biru tiba, pasti kan keajaiban mu bisa membuat kakak mu ini tetap berumur panjang. Akan ada banyak rasa sakit yang akan aku alami nanti, bahkan kematian ku bisa terlihat sangat jelas meski baru saja aku memulai peperangan ku." Lizzie menarik nafas panjang, hati nya mendadak terasa ngilu dan perih.
"Arah kan mereka ke jalur hampa, di bagian barat kota...dari sana Leah tidak akan bisa menggunakan keajaiban nya, hanya kau yang bisa. Pantau saja nasib kakak mu ini melalui insting mu, aku percaya kau mampu melakukan nya. Walau nanti...." Lizzie menelisik wajah tampan adik nya dengan seksama.
__ADS_1