
"Bagaimana bisa pengeluaran mu begitu boros, apa kau tidak punya otak untuk berpikir, hah?" Samara begitu kesal, saat Ashley kembali meminta uang jajannya. Padahal bulan lalu Edgar sudah mengirim uang ke rekening Ashley dalam jumlah yang besar. Dan beru pertengah bulan berikutnya, Ashley sudah meminta lagi.
"Aku meminta hak ku, jadi berikan saja mom. Bukankah aku sudah membanggakan keluarga ini, dengan menyumbang kan nilai yang bagus." Sarkas Ashley datar, dirinya baru saja dinyatakan lulus dengan nilai terbaik.
"Nilaimu tidak akan pernah mampu menutup mata kami, kau tetap lah anak perempuan yang tidak memiliki hak apapun untuk meminta lebih. Sadari posisimu Ash, kau ini bukan seorang pewaris tahta keluarga Belluwig." Tangan Ashley mengepal erat, buku-buku tangannya memutih. Ashley berusaha keras menahan amarahnya, apalagi saat melihat perban masih melilit indah dipergelangan tangan sang ibu.
"Pewaris atau bukan, aku tetap lah keturunan mu, bukan? jadi aku punya hak yang sama seperti sky di rumah ini. Mom harus ingat, darah lebih kental dari air" perkataan Ashley membuat emosi Samara semakin meluap, sekuat tenaga, Samara mengayunkan tangan nya ke arah pipi Ashley.
Namu belum sempat sampai, tubuh Samara terpelanting hebat ke dinding. Mulut wanita itu mengeluarkan darah segar yang tak sedikit, Edgar yang dari tadi menyaksikan perdebatan anak dan istri nya dari balik pintu. Akhirnya memutuskan untuk masuk, istri nya bisa mati kalau begini.
"Kau?!" samara menatap tajam pada putrinya.
Perlahan, Ashley mendekat ke arah ibu nya, wajahnya terlihat semakin dingin. Susana terasa mencekam didalam ruangan tersebut.
"Ash, hentikan! jangan lakukan apapun, dia mommy mu jika saja kau lupa" Edgar berusaha menyadarkan sang anak, sungguh dia ketakutan setengah mati sekarang.
Ashley menatap ayahnya dengan tatapan tak terbaca "sekali pecundang akan selamanya menjadi pecundang" perkataan Ashley menampar telak harga diri Edgar, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, ucapan putrinya benar.
"Mau kemana kau, ******* kecil. kau kira mom tidak tau, kemana uang mu kau alirkan. Akan ku buat keluarga kekasih mu jadi abu tak berharga" kecam Samara dengan suara lantang.
"Samara, hentikan! dia putri kita satu-satunya, tidak bisa kah kau berdamai dengan keadaan." Edgar muak juga ketakutan disaat bersamaan. Di cemas putri nya akan menyakiti Samara lebih jaih lagi.
"Kenapa kau selalu membela nya, kau takut padanya? hanya karena dia putri terpilih, bukan berarti dia bebas melakukan apa saja." Teriak Samara pada Edgar yang mulai jenuh dengan keadaan nya.
"Anak itu harus aku lenyapkan, dia sudah memanfaatkan putri ku demi sejumlah uang." Samara keluar dari ruang kerjanya, dirumah itu ada dua ruang kerja, satu milik Edgar dan satu lagi milik Samara.
Edgar meraup wajahnya kasar, pria itu frustasi. Keluarga yang dia jaga selama ini mulai kacau berantakan secara perlahan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kau yakin kita akan pergi sekarang?" Aslan Kembali memastikan. Orang tua nya menolak pergi, mereka bilang kematian tidak bisa dihindari. Jika sudah waktunya, maka bersembunyi didalam bait Allah sekalipun. Maut akan tetap mengintai mu.
"Ya, bagaimana dengan semua uang yang kukirim kepadamu?" tanya Ashley datar.
"Aku sudah menarik semua, termasuk saham ku. Orang tua ku juga memberikan sejumlah uang yang banyak. Lalu kemana kita akan pergi?" Aslan juga terlihat bingung.
"Ke rumah kakakku dulu,"
Aslan mengernyit heran, "berarti ke rumah mu dulu, bagaimana jika kau tidak diijinkan keluar?" Aslan mulai panik.
"Kakakku punya rumah lain, rumah yang layak disebut rumah untuk pulang. Bukan rumah yang rasanya seperti neraka." Jelas Ashley tanpa ekspresi. "Ayo bergegas, apa isi koper ini" tunjuk Ashley pada kooer besar yang sedag diseret oleh Aslan.
"Uang, semua nya uang, maksud ku ada beberapa pakaian juga di dalamnya, sedikit."
Aslan seakan melayang tinggi, ini pertama kalinya dirinya dipuji oleh sang kekasih. Tentu saja dia senang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sky mematung didepan pintu, melihat siapa tamu nya malam-malam begini.
"Tidak ingin menyuruhku masuk, aku lelah" Ashley nyelonong masuk tanpa menunggu dipersilahkan. Sky berdecak kesal lalu menyuruh Aslan ikut masuk.
"Kenapa kalian bawa koper segala, mau liburan?" Sky bertanya dengan bingung, lagipula dari mana sang adik mengetahui tempat tinggal nya.
"Kami akan menginap disini beberapa hari saja, setelah itu kami akan pergi dan tidak akan muncul lagi." Sky menatap heran pada sang adik.
__ADS_1
"Katakan apa masalah mu, Ash. Tidak baik lari dari masalah seperti ini." masih Sky mencoba mencegah sang adik pergi.
"Lalu apa bedanya kita, kau pasti tidak lupa siapa aku kak. Jangan meremehkan adikmu ini, aku selalu bisa mengatasi masalah ku sendiri. Kau lah yang harus berhati-hati, keluarga mu sedang dalam incaran empuk ke-dua orang tua kita yang gila." Sky membelalakkan matanya, mendengar penuturan sang adik.
"Aku lupa beberapa bagian tentang mu," aku Sky jujur. Ingatan nya memang Kembali, namun Sky hanya mengingat sedikit tentang adiknya. Diapun heran.
"Tidak masalah, kadang ada sesuatu yang tidak baik untuk diingat meski tak sengaja teringat." Perkataan Ashley serasa menampar nya telak. Adik kecilnya yang begitu dewasa menyikapi segala masalah yang dia hadapi. Kadang sky heran, usia adiknya sangat tidak cocok dengan karakter yang begitu dewasa dan bijaksana.
"Istrahat lah di kamar, kakak akak akan menyuruh Mina menyiapkan kamar kalian. Apa kalian..." kalimat Sky menggantung karena bingung sendiri harus mengatakan apa.
"Kami satu kamar saja, atau besok pagi dia sudah dingin dan kaku karena jauh dariku." Potong Ashley yang paham arah pertanyaan sang kakak.
Aslan hanya bisa diam menahan malu, kekasih nya ini benar-benar. Untung saja dia cinta mati.
"Baiklah, kakak akan ke kamar, kakak ipar mu sedang beristirahat. Kau bisa bermain dengan Lizzie dia di kamar nya di lantai atas, dia masih bermsin tadi. Kamar kami yang di belakang tangga" Jelas Sky runtut.
"Istrahat lah, kakak ipar sedang ingin kau elus perutnya, aku juga lelah ingin di kamar saja, Lizzie juga sudah tidur sekarang" Setelah mengatakan kalimat ajaib nya, Ashley menyeret kopernya, yang di ikuti oleh Aslan yang sama bingung nya dengan Sky.
Sky lagi-lagi hanya bisa melongo, merinding? pasti, bagaimana bisa adiknya tau semua itu. Sky benar-benar khawatir sekarang, putrinya saja sudah membuat jantung nya bekerja ekstra. Di tambah sang adik, Sky harus benar-benar menjaga kesehatan jantung nya sedemikian rupa setelah ini.
klek."Sweet heart? kenapa kau kau duduk di luar hmm?" Sky memeluk sang istri dari belakang.
"Siapa yang datang, aku mendengar suara bell pintu?" Cloey balik bertanya.
"Ashley dan kekasih nya, mereka akan menginap di sini selama beberapa hari. Apa kau tidak keberatan sweet heart?" tanya Sky hati-hati. Dia takut Cloey salah paham, karena adiknya tidak sejahat orang tua nya.
"Tidak masalah, suruh mina memasak makanan yang banyak besok pagi, terutama kesukaan adikmu. Dan ya, aku tidak masalah, dia adikmu berarti adikku juga. Lizzie pasti senang bertemu dengan aunty nya." Papar Cloey panjang lebar.
__ADS_1
"Lizzie pasti senang ada yang se frekuensi dengannya sweet heart, aku yang sedikit tidak tenang" namun itu hanya mampu Sky katakan didalm benaknya saja.