Darkest Dream

Darkest Dream
Pertemuan Terakhir


__ADS_3

Bern mengusap wajah nya berkali-kali, di tatap kaca besar di depan toilet umum bandara tersebut dengan hati berkecamuk.


Wuushhh..!


Suara angin melewati tengkuk nya membuat Bern terhenyak, dengan sigap pria itu mengeluarkan senjata nya dari balik punggung.


"Siapa kau!? jika kau berniat mengganggu hari buruk ku, maka aku akan dengan senang hati mengantar mu menuju pintu neraka lebih cepat!" Seru Bern terlihat waspada. Suara tawa menggelar dalam ruangan tersebut, memantul dan membuat telinga Bern seperti mau pecah.


"Tunjuk kan diri mu setan ja*l*ang sia*lan!!" Seru Bern tampak sangat marah.


Sekelebat bayangan akhirnya muncul di belakang Bern. Tepat nya di dalam cermin besar yang tadi Bern tatap.


"Hei! kau pria tampan...kenapa kau terlihat sangat gusar?" Bern segera berbalik, dahi nya mengerut dalam. Wanita itu sangat mirip istri nya, tidak mungkin... Itu hanya lah tipu muslihat iblis batin nya meyakinkan.


"Apa kau tidak ingin bertanya siapa aku..?"


"Tidak! aku tidak butuh penjelasan dari mu! Kau hanya ilusi yang menyerupai istri ku, dan berusaha untuk membuat perhatian ku teralih kan. Aku tau siasat iblis seperti mu..!" Bern mengarah kan pistol nya ke cermin dengan tatapan marah.


"Jika kau menembak ku, maka nyawa putri mu akan lenyap bagai abu. Aku adalah wujud dari setiap keturunan murni. Dan jika sesuatu terjadi pada ku, maka keturunan terakhir, akan menjadi diri ku dan aku akan menjadi diri nya. Lakukan lah! aku sudah lelah menjadi bayangan para clan pewaris tersebut. Aku ingin bebas, dan aku berjanji..aku akan membebaskan mu dari takdir buruk. Kematian sudah di garis kan, kau akan tewas saat penyerangan di kota dalam beberapa bulan ke depan. Aku bisa mencegah nya, menukar nya dengan nyawa yang pantas menggantikan mu. Kau pasti mengerti maksud ku Bern." Bern terdiam, membuat seringai iblis itu semakin mengembang.


Dia pikir sudah berhasil mengelabui akal mines manusia semacam Bern. Nyatanya dia salah. Bern adalah pria yang teguh pada kesetiaan juga cinta nya.


"Bahkan jika aku harus mati, tidak masalah. Keluarga ku adalah hidup ku, dan kau...tidak akan bisa menentukan takdir siapapun."


Dor dor dor


Cermin di hadapan Bern hancur berantakan, bayangan tersebut meringis menahan sakit. Jelas saja, amunisi yang Bern pakai bukan sembarang amunisi. Namun berisi serbuk ajaib racikan Bryan dan para ilmuwan di laboratorium mereka. Meski hanya menembus bayangan, bisa membuat ilusi tersebut merasa kan kesakitan luar biasa.

__ADS_1


Suara teriakan penuh kemarahan terdengar melengking, Bern tersenyum miring. Ingin menggoyah kan pertahanan nya? Oh tidak bisa!


"Dasar iblis kelas rendahan. Apa dia pikir aku akan mudah di kelabui oleh kesepakatan murahan tersebut. Sungguh iblis menyedihkan!" Bern mencuci tangan nya, lalu keluar dan menyuruh beberapa orang untuk mengganti kerusakan yang dia perbuat.


"Dad? kau dari mana? pesawat Berea akan segera berangkat..." Lizzie menyongsong suami nya dengan wajah cemas.


Bern tersenyum melihat wajah wanita kesayangan nya itu terlihat begitu khawatir.


"Aku baru saja menghempas satu hama lagi di toilet, rupa nya yang satu ini punya hobi mengintip orang buang air." Seloroh Bern mengelus pipi mulus sang istri tercinta. Rupanya bukan sekali dua kali ini saja Bern di santroni oleh makhluk serupa, untuk itu mereka sampai harus membuat beberapa senjata khusus untuk menghadapi makhluk-makhluk tersebut.


"Apa dia sempat mengintip pusaka kesukaan ini tidak?" Lizzie meremat pelan milik suami nya dan itu langsung memancing reaksi sang suami. Bern memejamkan kedua mata nya, sambil berdesis kesal.


"Honey? apa kau ingin kita mengosong kan ruang tunggu, hmmm?" ucap Bern dengan suara serak. Lizzie tertawa renyah. Dia tau suami nya paling lemah akan sentuhan nya.


"Mungkin kita bisa mampir ke hotel setelah ini, dad. Aku akan memberikan servis 1x24 jam untuk mu." Lizzie mengedipkan sebelah matanya menggoda sang suami.


Bern berdecak sebal, lalu menoleh kesana kemari seolah tengah memindai situasi.


"Putri mu ada dua dad, jika saja kau lupa?" tegur Lizzie tak suka.


"Ah ya, maksud ku Berea. Putri sulung kesayangan ku..Kemana dia? bukan kah tadi bersama mu?" Bern mendadak merasa cemas. Apa kah perkataan sang iblis itu benar, jika putri nya akan ikut tersakiti.


"Hai..dad. Aku baru dari toilet, ku lihat toilet pria rusak parah. Apa daddy baru saja bergulat dengan salah satu penyihir genit?" Sela Berea menatap sang ayah penuh tanya.


"Ah ya, wanita iblis itu mencoba merayu daddy mu yang tampan ini untuk memberi nya sedikit ciuman panas. Sayang sekali waktu nya tidak pas, jika memungkinkan. Barangkali daddy akan mempertimbangkan nya..." Cubitan panas menjalar di perut sixpack nya.


"Auww honey..! kau bisa membuat ku tidak berdaya nanti.." protes Bern tertawa penuh kemenangan. Dia suka jika Lizzie memperlihatkan kecemburuan nya.

__ADS_1


"Pelayanan ku berkurang dari kesepakatan!" ketus Lizzie dengan nada dingin. Bern panik seketika.


"No honey! kau tidak bisa ingkar... tetap sesuai kesepakatan, tidak boleh berkurang. Lebih, aku akan menerima nya dengan lapang dada." Bern mengerling pada sang istri penuh rayuan. Lizzie membuang pandangan ke arah lain, dia tak suka tatapan Bern yang selalu membuat nya terpesona.


"Maaf tuan, pesawat anda sudah siap di landasan pacu." Lapor salah seorang kepercayaan keluarga Bern. Bandara tersebut memiliki lahan khusus untuk pesawat pribadi bagi keluarga kaya raya tersebut.


"Baik lah Ludo, bawa barang-barang putri ku terlebih dahulu." Bern menatap sang istri yang tetap terlihat datar tanpa ekspresi apa pun. Dia tau jika Lizzie hanya berusaha menutupi kegetiran hati nya di balik sikap dingin tersebut.


"Aku akan mengantar putri ku masuk, kau yakin tidak ingin ikut masuk ke dalam honey?" tawar Bern kesekian kalinya. Lizzie menggeleng pelan lalu menatap sang anak dengan tatapan tak terbaca.


"Pergi lah! Dan cobalah untuk tidak membuat masalah di mana pun kau berada. Suami ku tidak bisa selalu kau andal kan untuk menjadi tameng mu. Dia juga punya anak-anak yang lain juga istri yang harus dia urus." Sungguh kalimat petuah yang sangat tak biasa. Bern mengepalkan kedua tangan nya dengan perasaan hati tak suka.


Tak ingin Berea menahan sesak lebih lama, Bern segera menengahi situasi di hadapan nya.


"Baiklah, sweet heart..ayo Daddy antar masuk.." Berea mengalihkan tatapan nya dari sang ibu, lalu menatap ayah nya dengan pikiran berkecamuk.


"Aku bisa masuk sendiri dad, sampai di sini saja. Pulang lah, hari ini Josy ada turnamen berkuda." Berea memeluk sejenak sang ayah dengan menahan tangis yang sudah hampir meledak.


"Aku pergi, jaga mom dan kedua adik ku..titip Zion dan Helen juga, kata kan aku menyayangi mereka meski selalu terlihat menyebal kan." Kekeh Berea menahan perih di hati nya.


"Dan kau akan semakin menyebalkan jika terus mengulur waktu seperti ini. Bandara ini milik umum, pesawat mu akan membuat rute penerbangan komersial menjadi kacau." Lagi-lagi kata-kata Lizzie membuat helaan nafas Bern terasa berat. Mata nya menatap tajam pada istri nya, dan itu adalah pertama kalinya. Entah kenapa Bern merasa kan ini ada pertemuan mereka yang terakhir dengan sang anak. Hati nya kacau, namun istri nya malah menambah beban pikiran semakin tak karuan.


"Aku pergi, i love you dad" bisik Berea lirih, lalu kembali memeluk sang ayah, kali ini sangat erat. Bern mengelus punggung kecil sang anak dengan perasaan tak menentu.


Berea meninggalkan kedua orang tua bahkan tanpa sekalipun menoleh. Hingga di ujung koridor, Bern masih berharap sang anak mau menoleh pada nya. Namun sampai menghilang dari pandangan nya, Berea tak sekalipun menoleh kebelakang. Air mata nya mengalir tanpa bisa dia cegah.


"Hapus air mata mu dad, Berea hanya akan pergi untuk menjalani takdir nya. Kota ini terlalu kecil untuk putri mu yang memiliki banyak impian besar. Kelak saat dia menyadari jika menjauh dari keluarga adalah sebuah kekeliruan. Maka Berea akan kembali. Ayo pergi, sebelum aku berubah pikiran." Lizzie berbalik terlebih dahulu, namun Bern masih bergeming di tempat nya.

__ADS_1


"Kau tak akan mengerti arti tangis seorang ayah, honey. Berea ku berusaha menukar takdir kita semua seperti yang pernah kau lakukan dulu. Beda nya, Berea terlalu sempurna dalam mengendalikan pikiran nya hingga tak mampu terbaca oleh siapapun. Termasuk diri mu. Itu karena ikatan batin kalian yang memudar seiring berjalannya waktu. Kau akan menyesali ini suatu saat...aku akan menjadi orang pertama yang akan berpaling, saat air mata pertamamu kau teteskan untuk Berea, putri tercinta ku." Bern berbalik menyusul sang istri. Dia tau hubungan mereka kedepannya tidak akan sama lagi.


Meski cinta itu masih menggebu, perasaan itu masih sama besar nya. Namun kepergian Berea dari kehidupan mereka, akan mengubah segala nya. Termasuk keceriaan yang selama ini tak mereka sadari.


__ADS_2