
Sky menatap berkas di hadapan nya dengan raut wajah tak terbaca. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan sekarang. Sementara Edgar hanya bisa menghela nafas panjang berkali-kali. Sesekali matanya bersitatap tajam dengan mata sang istri, tatapan penuh permusuhan selalu terpancar di wajah kedua nya.
"Apa mom sudah berpikir dengan matang soal ini? penyesalan selalu datang di akhir, paling tidak, gunakan akal sehat selagi bisa. Aku tidak masalah jika harus menanda tangani nya, aku juga tidak berharap untuk mendapatkan kerjaan Belluwig. Menjadi bagian dari keluarga ini, merupakan bencana untuk ku." Sarkas Sky panjang lebar. Mata Mora terbelalak lebar mendengar kalimat lugas suaminya.
Samara menatap lurus netra sang anak tanpa berkomentar apapun, wanita itu selalu bersikap manis pada Sky selama ini. Mustahil jika Samara menentang apa yang menjadi perintah putranya.
"Sebagai pewaris tunggal keluarga Belluwig, aku berhak memutuskan siapa yang tinggal dan siapa yang pergi." Zora menyela di situasi yang tidak pas. Gadis serakah itu menyeringai puas, seolah perkataan nya adalah kalimat mutlak, yang mampu meruntuhkan pertahanan siapapun. Tanpa dia ketahui, bahwa pewaris asli keluarga Belluwig, kini tengah mengintai nyawa mereka semua di balik tembok besar di luar gerbang istana tersebut.
Lizzie menyerengai penuh misteri, sesaat akan melangkah kan kaki dari sana. Seseorang menyentuh bahunya, sontak membuat gadis itu menoleh dan langsung melempar kan senyum manisnya. Membuat siapapun akan langsung terpesona oleh nya.
Sepersekian detik, pria itu sudah terkapar tak berdaya.
"Kau tau jika berurusan denganku akan membuat mu seperti apa, Pedro? ini hanya sedikit pelajaran untuk mu. Anggap saja aku sedang menyicil balas dendam di masa lalu, karena sisanya sudah terbayar oleh ketiga nyawa makhluk bodoh mu itu." Lizzie berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Pedro, yang tengah terduduk menahan rasa sakit di perutnya. Bekas sapuan hangat lutut Lizzie masih menari-nari di perutnya. Tentu saja dia tidak baik-baik saja.
"Aku hanya ingin menyapa mu, nona. Maaf jika aku mengagetkan mu, aku sungguh tidak bermaksud." Ujar pedro dengan wajah meringis menahan sakit. Usianya sudah tidak muda lagi, namun kekuasaan nya, Membuat keluarga iblis itu masih mempertahankan nya dengan sedikit ancaman.
"Kau menyapaku dengan selongsong? cara yang unik, aku tidak tau jika di negara ini punya cara yang aneh dalam memberi salam pada warga asing seperti ku." Lizzie terkekeh, kemudian bangkit dan mengulurkan tangannya ke arah Pedro.
"Ayo ku bantu" ujar nya lembut, namun tidak bagi Pedro, setiap kata yang keluar dari mulut nona mudanya, seperti hembusan api neraka. Siap membakar siapa saja yang memiliki masalah dengannya.
"Aku bisa sendiri, nona. Aku tak ingin tangan sucimu, ternodai oleh tangan penuh dosa ku ini." Pedro bersusah payah bangun dari posisinya.
"Kenapa anda tidak menghubungi ku nona? dimana anda tinggal sekarang? apakah anda datang sendiri?" pertanyaan beruntun Pedro membuat Lizzie menatap datar Pria itu.
__ADS_1
"Aku tinggal di rumah orang baik, jangan mencemaskan ku, Ped. Cemaskan saja dirimu sendiri." Peringat Lizzie penuh arti. "Ah ya, titip ayah ku lagi, aku masih belum bisa membawanya sekarang. Jaga dia untukku, jika waktu nya sudah tiba, aku akan menjemput nya kembali pulang." Lizzie berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkan Pedro yang masih memegang perutnya. Sakitnya sudah tidak seberapa, namun kini berganti dengan kekhawatiran yang luar biasa.
Bertemu dengan nona mudanya, sama seperti berjumpa dengan malaikat maut. Pedro segera menghubungi seseorang, yang dia harapkan bisa membantu nya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Leah menatap sebuah peta di tangannya, pikiran nya menerawang jauh melewati setiap sudut jalan di peta tersebut.
Klek
Leon menatap kakaknya dengan tatapan sulit di jelaskan.
"Kau juga akan meninggalkan mom, Lee?" ujar Leon duduk bersandar di dinding, kamar itu tidak memiliki ranjang. Ranjang terakhir yang mereka gunakan sudah rapuh di makan waktu. Maklum lah, segala yang mereka pakai di rumah itu adalah milik pemilik lama rumah tersebut.
Gadis itu menghela nafas berat, seolah beban nya sangat berat untuk dia tanggung seorang diri.
"Aku harus membantu, Izi. Kau tau nasibnya jika berjuang seorang diri, Izi kita tidak hanya meninggalkan kita untuk sementara waktu. Namun untuk selama-lamanya. Dan aku tidak rela. Bukan bermaksud menyalahi takdir, tapi Tuhan bisa saja mempersiapkan takdir lain, yang tidak bisa kami jangkau dengan kelebihan yang kami miliki." Leah menatap Leon yang bergeming, hati bergemuruh menahan perih. Leon memang tidak memiliki keajaiban seperti nya dan Lizzie, namun Leon punya sesuatu yang tidak mereka berdua miliki.
"Lalu aku hanya duduk diam menyaksikan kedua kakakku berjuang dengan maut, tanpa bisa melakukan apa-apa? bukankah aku ini sangat tidak berguna?" Mata Leon berkaca-kaca, diantara mereka bertiga, Leon lah yang paling mudah menagis. Hati pria itu selembut kapas, kepekaan nya melebihi anak perempuan.
"Ck! jangan cengeng. Kemarilah!" Leah merentangkan kedua tangannya yang di sambut hangat oleh Leon. Didalam pelukan sang kakak, tangis Leon pecah. Leah menepuk pundak sang adik dengan penuh kasih sayang.
Setelah kepergian sang kakak, Lizzie. Pandangan Leah berubah, jika Leon bisa ada disini karena takdir yang tanpa sengaja dia ubah. Maka tidak menutup kemungkinan, sang kakak pun tetap bertahan dan Kembali berkumpul bersama mereka lagi. Dia hanya perlu mencari celah, agar takdir bisa dia kelabui. Setidaknya dia harus berusaha, meski harus menambah goresan luka di hati sang ibu. Wanita itu pasti akan sedih atas keputusan nya. Namun dia yakin, kelak akan membawa kakak juga ayah mereka ke rumah yang seharusnya.
__ADS_1
"Sudah, nanti mom dengar. Jadi lah lebih tegar, kau boleh bersedih, namun lakukan seperlunya. Jangan biarkan kesedihan berlarut mengambil sisi tegas dalam diri mu. Kau akan menjadi pelindung mom dan Mina selama aku dan kakak belum kembali. Buatlah mom tidak terus memikirkan tentang ketiadaan kami di samping nya. Bisakah aku mempercayai tanggung jawab besar ini padamu, my Lion king yang hebat. Hmm?" Ujar Leah lembut, sambil melerai pelukannya.
Leon mengusap air matanya, dan mengangguk mantap.
"Bagus, ini baru adikku. Calon raja yang hebat." Puji Leah tulus dan penuh makna. Leon memang tidak pernah membantah titah kakak-kakak nya. Walau terkadang dia tidak memahami arti dari perkataan keduanya, namum dengan menuruti nya Leon terselamatkan dari banyak masalah.
"Kakak bisa percaya kan mom padaku, aku memang tidak bisa melihat takdir. Tapi aku bisa melakukan hal lain, yaitu Membuat senyum mom tetap terjaga sampai kalian kembali." Balas Leon tanpa keraguan. Pria muda itu sudah sangat yakin, jika dia memiliki takdir lain yang sudah Tuhan persiapkan untuk dirinya.
"Bagus! kakak akan berangkat subuh nanti, kakak tidak akan berpamitan padamu juga ibu. Jadi tidur lah yang nyenyak, kakak tidak akan menggangu." Lanjut Leah kemudian menyiapkan segalanya. Tas ransel nya sudah sangat usang, namun itu adalah pemberian sang ibu sebagai hadiah ulang tahun nya dan Leon, masing-masing satu buah tas. Tentu saja akan dia pakai hingga sudah tak mampu menampung apapun lagi di dalamnya.
"Mau pakai ransel hadiah pertandingan ku kemarin?" tawar Leon hati-hati, dia tidak ingin sang kakak salah paham maksud baiknya. Lean tersenyum simpul, dia tau Leon Taku dirinya tersinggung.
"Tas ini saja. Lagipula aku merasa selalu dekat dengan mom jika membawanya kemanapun aku melangkah pergi. Kau ingat tas yang di bawa kakak pergi tempo hari? tas itu sudah sejak kelas satu SMA. Meski sudah memiliki bekas jahitan di beberapa bagian, kakak selalu bangga memakai nya kemana-mana."
Leon mengangguk mantap, membenarkan ucapan sang kakak. Lizzie tidak pernah membeli tas baru, meski dia juga bekerja sejak kelas 2 sekolah menengah pertama, di sebuah toko roti sebagai penjaga toko merangkap cleaning servis.
Kakaknya itu sangat sederhana, dan dia selalu bangga mempunyai kakak yang cantik, pintar dan hebat seperti kedua kakaknya tersebut.
"Ayo tidur." Ajak Leah merentangkan selimut hingga menutupi mata kaki nya juga Leon. Kedua nya berbagi tempat tidur sejak kecil. Lizzie tidur bersama Mina, meski lebih banyak waktu Lizzie gunakan, untuk berlatih diam-diam ditengah malam buta. Mengasah kemampuan nya dalam berbagai bidang keahlian, merakit bom dengan bahan seadanya, merakit senjata, dan melatih bakat bela dirinya.
Malam semakin larut, namun mata Leah masih belum bisa terpejam. Diliriknya sang adik yang tengah tertidur pulas, sudah saat nya dia pergi. Wajah damai Leon Membuat hatinya justru gelisah. Lizzie mereka pasti tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja sekarang, perlahan Leah melepaskan pelukan Leon di perutnya.
Setelah segala persiapan yang dia butuhkan sudah siap, Leah kembali mencium kening adiknya dengan sayang.
__ADS_1
"Jaga ibu dengan baik, aku tau kau punya ke ajaiban lain yang tidak bisa ku tembus. Namun aku yakin, kakak sudah mengetahui nya bahkan sejak kau belum dilahir kan. Pergunakan itu untuk menjaga mom dan dirimu saat kami pergi. Kakak mencintaimu dan mom juga Mina tua kesayangan kita." Tanpa Leah ketahui, Leon tidak lah tidur. Saat gerakan pertama sang kakak. Matanya reflek terbuka, namun tak ingin kakaknya pergi dalam dilema karena sifat cengeng nya. Leon lebih memilih untuk berpura-pura tidur.