
Sky tidak bisa tidur nyenyak sepanjang perjalanan, pikiran nya kalut. Bagaimana bisa Jeff kini berada di pihaknya. Apa yang terjadi sesungguhnya, bukankah pria itu ada orang kepercayaan kedua orang tua nya. Ingin bertanya, namun jiwa gengsi Sky lebih mendominasi. Tidak bertanya, jiwa kepo nya meronta-ronta.
Jeff sesekali melirik spion tengah melihat Sky yang terlihat gusar di jok belakang. Namun sesekali tangan pria itu mengelus perut buncit istri nya, dan memberikan ciuman-ciuman kecil dipucuk kepala sang istri. Wanita hamil itu tertidur lelap, setelah meminum obat anti mual khusus ibu hamil yang mereka beli diperjalanan tadi.
"Anda ingin bertanya sesuatu, tuan?" Jeff bertanya dengan suara datar, tatapan nya fokus ke depan.
Sky menatap tak suka, karena Jeff mampu menebak isi pikiran nya.
"Tidak! fokuslah pada jalanan, aku tak ingin mati berjamaah dengan mu. Bisa-bisa aku akan kerepotan menarikmu dari lubang neraka nanti." Ujar Sky dengan nada ketus dan wajah tak bersahabat. Jeff hanya mengendikkan bahunya acuh, siapa juga yang akan lebih dulu mati karena terbunuh oleh rasa penasaran, pikir nya.
Suasana kembali hening, Sofi tertidur di jok paling belakang bersama Mina. Sementara Lizzie tertidur pulas dengan berbantal kan paha sang ayah.
Sky menoleh ke arah samping kirinya, terlihat matahari mulai menampakkan diri nya secara perlahan. Artinya, sudah hampir 8 jam dirinya terjaga, pantas saja matanya sangat berat dan kepala nya sedikit pusing.
Tak lama laju kendaraan mulai memelan, terlihat Jeff mulai menghentikan mobil di bahu jalan sepi yang terlihat aman untuk berhenti.
"Kenapa berhenti di sini?" tanya Sky heran.
"Aku akan menelpon sebentar, aku tidak ingin mengganggu tidur nyenyak nyonya." Setelah menjelaskan niatnya pada Sky, Jeff mulai membuka pintu mobil secara perlahan dan menutup nya Kembali.
Dari jarak yang tidak begitu jauh, Sky dapat mendengar percakapan Jeff dengan seseorang di ujung telepon walau tidak begitu jelas.
Sky menurunkan kaca jendela mobil sedikit lebih lebar, agar telinga nya dapat menangkap dengan jelas, apa yang sedang Jeff bicarakan. Namun sayang, pria itu seperti mengetahui niat Sky yang ingin menguping pembicaraan nya. Jeff berjalan sedikit lebih jauh ke depan, Sky mendengus kesal. Dia merasa seperti sedang tertangkap basah menguping, meski sebenarnya memang dirinya sedang berusaha menguping percakapan Jeff dengan seseorang yang dia tidak tau siapa.
Eeuugghhh
Cloey menggeliat, posisi nya sedikit kurang nyaman untuk ukuran wanita yang sedang hamil. Punggung nya sedikit sakit dan pinggul nya keram kebas tak karuan.
"Pagi honey? bagaimana tidur mu, nyenyak?" sapa Sky mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan untuk mencium pipi sang istri. Posisi Lizzie yang tidur di pangkuan nya membuat ruang gerak Sky terbatas.
"Nyenyak, hanya pinggang ku sedikit tidak nyaman." Jawab Cloey apa adanya, lalu memutar sedikit tubuhnya untuk melihat ke arah belakang. Terlihat putri nya masih tertidur lelap.
"Kau tidak ada tidur, dad?" tanya Cloey menatap iba kantung mata sang suami, matanya memerah menahan ngantuk.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, tidak usah di pikirkan." Elak Sky mengalihkan topik "bagaimana kabar si twin kita di dalam sini?" lanjut Sky mengelus pelan perut istri nya.
"Baik, aku terbangun karena merasa kan pergerakan yang cukup kuat dari dalam sana." Ujar Cloey terkekeh pelan. Sky pun ikut tersenyum senang, hatinya sedikit lega, meski dirinya was-was akan nasib mereka sekarang. Jeff membuat Sky sedikit khawatir, apa yang sebenarnya pria itu ingin kan dengan membantu keluarga kecil nya.
"Kita di mana, dad?" tanya Cloey menatap ke arah depan, terlihat Jeff yang masih berbicara dengan orang di telepon. Wajah serius Jeff membuat Cloey khawatir.
"Aku pun tidak tau, pria gila itu membawa kita tanpa menjelaskan kemana tujuan kita akan di bawa." Ujar Sky dengan suara kesal, namun tetap terkendali mengingat putri nya sedang tidur.
"Pria gila itu sudah menolong kita, dad. Jangan lupakan itu" tukas Cloey menenangkan suaminya.
"Tetap saja aku tidak percaya padanya, Jeff adalah orang kepercayaan orang tua ku. Dan sekarang pria itu di sini bersama kita, dalam satu mobil dengan tujuan yang entah kemana." Balas Sky sedikit frustasi. Namun sebisa mungkin dia bersikap setenang mungkin di hadapan sang istri.
"Kita lihat saja kemana Jeff akan membawa kita, dad. Jika tujuan nya buruk. Maka kau hanya perlu menembak kepalanya hingga berlubang, agar dia sedikit sadar." Ucap Cloey enteng. Sky sampai tertegun mendengar kalimat ajaib istri nya. Kenapa malah sekarang dirinya mulai merasakan kekhawatiran yang lebih besar pada Cloey, ketimbang Jeff si pembunuh bayaran.
Susah payah Sky menelan ludahnya yang terasa kaku melewati tenggorokan. Tak lama pintu mobil terbuka, Jeff masuk dengan wajah datar, tanpa sapaan selamat pagi, pria itu kembali menjalankan mobilnya tanpa berbicara apapun.
"Kemana arah tujuan kita, Jeff?" tanya Cloey menatap tenang ke arah jalanan.
"Neraka juga tempat yang aman, kau tidak perlu berkendara jauh dan menyiksa bayimu dengan duduk manis berjam-jam." Balas Cloey dengan nada tak kalah dingin dan datar dari Jeff. Wanita hamil itu berkata dengan menekan setiap kata dalam kalimat nya.
Sky lagi-lagi tercengang, mendengar kalimat berani yang dilontarkan oleh sang istri. Bukannya dia takut pada Jeff, hanya saja posisi nya yang sedang berusaha melindungi istri sekaligus anaknya, membuat Sky terpaksa harus mengikuti alur permainan Jeff.
Sementara Jeff, merasa dirinya sedang duduk disamping bara neraka paling panas. Wanita di samping nya ini, bahkan tidak sedikit pun menunjukkan raut ketakutan padanya, dari sejak pertama mereka bertemu di gelanggang semalam. Jeff harus mulai mengantisipasi wanita hamil ini daripada Sky, tuan mudanya yang menyebalkan.
Jeff berdehem pelan untuk menetralkan perasaan yang mulai tak nyaman "kita akan ke Catalina, nyonya. Jadi silahkan bersabar dan katakan padaku jika anda butuh beristirahat. Karena perjalanan kita masih sangat jauh dari tujuan." Jelas Jeff tetap tenang, dia tidak ingin terpancing oleh perkataan penuh sindiran dan intimidasi sang nyonya mudanya. Dari ekor matanya, dapat dia lihat ujung pegangan pistol di saku bagian dalam, cardigan rajut milik Cloey.
Entah kapan wanita itu memegang senjata, apa kah suaminya juga mengetahui hal tersebut. Namun di lihat dari ekspresi Sky yang biasa saja, bisa dipastikan, pria malang itu tidak mengetahui perihal senjata tersebut.
"Jika menemukan minimarket, berhentilah sebentar." Titah Cloey kembali memeluk perut besarnya dan memejamkan kedua matanya.
Sky yang tadi hanya menyimak gesture tak nyaman istri nya, memilih diam. Dia tau istri nya sedang sangat kelelahan sekarang, dia tidak ingin menambah beban pikiran sang istri.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
__ADS_1
"Kau ingin ku temani, sweet heart?" Sky sedang menggendong tubuh Lizzie. Anak itu ternyata sedikit demam, hingga terlihat lemas.
"Tidak perlu, Sofi juga akan ke toilet bersamaku. Carilah tempat duduk yang nyaman, pesan kan sup untuk Lizzie dan susu coklat hangat. Sekalian untuk ku juga, apa saja." Cloey berjalan ke arah samping minimarket bersama Sofi. Wanita itu sudah lebih baik, setelah meminum antibiotik dan anti nyeri.
"Kalau anda sudah selesai duluan tunggulah aku nyonya. Dari belakang sini cukup jauh ke depan" Ujar Sofi mengingat kan.
"Baik Sofi" keduanya masuk ke dua bilik berbeda untuk menuntaskan hajat masing-masing.
Sky sedang duduk memangku Lizzie, sementara Mina sedang memesankan mereka makanan.
Sementara Jeff masih mengisi bahan bakar di depan minimarket, yang berdampingan dengan restoran kecil disamping nya.
Kembali ke toilet umum di belakang minimarket, Sofi menatap heran pada ceceran darah di lantai hingga keluar toilet. Jantung berdebar kencang, Sofi menatap pintu toilet yang berhadapan dengan toilet yang dia gunakan. Pintu nya sedikit terbuka, perasaan was-was mulai menelusup dalam hati nya. Dengan sedikit dorongan, pintu itu terbuka lebar. Namun tidak ada siapapun di dalam nya. Bukankah tadi nyonya nya masuk ke sana, bersamaan dengan dirinya yang masuk ke toilet seberang nya.
Sofi seketika panik, saat akan keluar Sofi di kejutkan dengan kehadiran Cloey yang menatap nya heran dari arah pintu keluar.
"Kau kenapa, Sofi?" tanya Cloey seolah tak terjadi apa-apa, wanita itu mencuci tangannya di wastafel tanpa berkata apapun lagi. Dapat Sofi lihat warna air yang di dalam wastafel berwarna sedikit kemerahan. Namun nyalinya ciut untuk sekedar bertanya, apa yang sebenarnya sudah terjadi.
"Sofi? kau sudah selesai? kita harus segera kembali." Sofi hanya mengangguk pelan, lalu keduanya berjalan keluar toilet umum tersebut seakan tak pernah terjadi apa-apa. Hal yang memang tidak Sofi ketahui kebenaran nya, untuk itu dia lebih memilih diam.
Setelah sampai di dalam restoran, Cloey duduk disamping sang suami. Sofi mengambil tempat di samping Mina, sementara Jeff memilih duduk seorang diri di sudut restoran.
"Kenapa lama sekali, honey?" tanya Sky setelah selesai meniup sup milik istri nya.
"Tadi aku merasa sedikit mulas, mungkin masuk angin, punggung ku juga terasa sedikit pegal." Jelas Cloey tenang, tak ada ekspresi aneh dari raut wajah juga nada suara nya. Sofi benar-benar di landa rasa penasaran juga ketakutan dalam waktu bersamaan.
"Duduk di belakang saja nanti, biar kau bisa berbaring dengan nyaman, Lizzie yang akan duduk didepan." Ujar Sky cemas, mengingat kondisi istri nya yang sedang hamil besar. Sky dengan telaten menyuapi istri dan anaknya secara bergantian.
"Kau tidak makan, dad?" tanya Cloey dengan mulut penuh.
"Makanlah duluan, tadi aku sempat memakan satu bungkus roti manis juga minum teh herbal. Kalian yang harus makan banyak, ayo, buka mulut mu mungil mu, honey." Titah Sky berseloroh, tak lupa tangan kekarnya terus terangkat, untuk menyuapi kedua bidadari kesayangannya.
Jeff menatap dengan seksama apa yang tuan mudanya lakukan, sungguh tipe suami idamanan pikir nya geli sendiri. Bagaimana bisa dia mengagumi apa yang Sky lakukan, bisa-bisa dirinya nmdi sangka berbelok arah. Jeff bergidik sendiri memikirkan pikiran konyolnya.
__ADS_1