
Beberapa bulan setelah pertemuan pertama keluarga penuh keajaiban tersebut. Hari-hari mereka berjalan normal dan baik-baik saja. Hingga tiba di mana sang penerus garis keturunan murni berulang tahun. Ada beberapa hati yang menyambut nya sebagai sebuah malapetaka. Namun sebagian yang tidak memahami arti konteks usia bagi Berea, menyambut nya dengan suka cita.
Hiasan di taman belakang rumah megah Lizzie sudah seperti sebuah pesta princess kerjaan. Semua orang mendekorasi nya dengan perasaan yang berbahagia. Namun di balik gorden di lantai dua rumah itu, ada sepasang mata yang menatap setiap detail dekorasi tersebut dengan hati yang sakit.
Bayangan kehilangan sudah berbaur di pelupuk mata nya. Sungguh hati nya tak rela. Dia sengaja menjaga jarak nya dengan sang anak selama ini bukan tanpa alasan. Berea nya akan pergi saat waktu nya tiba, dia tak yakin bisa sekuat hati baja sang ibu. Yang melepaskan mereka pergi untuk mengarungi takdir di masa lalu.
"Honey..?" Pelukan hangat tangan kekar melingkar di perut rata Lizzie. Sungguh Lizzie ingin menangis sekeras-kerasnya. Tangan kekar yang akan selalu di rindukan kelak.
"What happen, hmmm? jangan selalu menyimpan segala sesuatu seorang diri, buatlah suami mu ini berguna honey. Tatap aku, katakan apa yang membuat mendung di wajah istri luar biasa ku ini." Seloroh Bern namun dengan wajah serius.
Lizzie mengulurkan tangan nya lalu mengusap rahang kokoh suami nya. Bern memejamkan kedua matanya, meresapi setiap sentuhan sang istri dengan hati bermekaran. Hingga kalimat Lizzie membuat mata nya terbuka sempurna
"Berjanji lah, jika terjadi sesuatu kelak.. jangan menyalahi aturan takdir.." Bern mengernyit dahi nya penuh rasa penasaran.
"Jelaskan honey, kau tau kapasitas otak ku hanya mampu mencerna suara de*s@han mu saja. Otak ku terlalu malas untuk memikirkan hal lain lagi." Itu lah Bern, walau kecemasan melanda hati nya. Namun pria itu selalu bersikap seolah semua nya akan baik-baik saja.
"Berjanji lah jangan mengorbankan apapun, apa lagi dengan nyawa mu. Kau tau Berea sangat menyayangi mu melebihi rasa sayang nya padaku. Aku tak ingin kehilangan mu, terlebih putri nakal mu itu. Tetap lah hidup seribu tahun lagi, jangan melakukan sesuatu yang akan selalu ku sesali sepanjang hidup ku kelak." Deg!
Jantung Bern mulai berdebar tak karuan, ini kah arti kata 18 tahun adalah puncak dari segala takdir? akan kah kisah masa lalu di luar nalar itu kembali terjadi. Oh sungguh dia tak rela.
__ADS_1
"Kau tau aku tak akan bisa hidup tanpa mu, honey...akan lebih baik jika aku yang pergi duluan. Aku tak ingin melakukan dosa dengan mengakhiri hidup ku sendiri, jika aku benar-benar kehilangan mu kelak. Kau tau, jantung ku yang sesungguhnya ada pada mu, jika jantung itu berhenti berdetak...maka aku pun akan mati saat itu juga." Lizzie meneteskan air mata nya tanpa bisa dia cegah. Air mata pertama yang dia lihat selama belasan tahun ini.
"Shuutttt..jangan menangis. Mari kita buat takdir itu kalah lagi kali ini. Jika memang tidak bisa di hindari, maka jangan pernah menyalah kan takdir. Siapapun yang akan pergi lebih dulu, itu adalah takdir Tuhan. Tak perlu di sesali apa lagi menyalahkan siapapun. Aku mencintaimu dengan seluruh hidup ku, jiwa raga ku milik mu. Jadi ijin kan raga pria yang mulai menua ini terus menjadi pelindung mu hingga batas akhir." Isakan Lizzie semakin keras, tubuh nya berguncang hebat di dada bidang Bern.
Rasa sesak nya semakin tak terbendung, Bern tak akan membiarkan sesuatu terjadi pada nya. Artinya dia yang harus mengalah pada takdir, menyerahkan Bern kesayangan nya untuk menjadi tameng nya jika saat itu tiba. Sungguh menyakitkan memang, Bern adalah pria kesayangan nya. Dia menyayangi pria itu sepenuh hati nya.
π·π·π·π·π·π·π·
"Kau salah! bukan begitu cara menyusun nya.." suara cempreng Josi sejak tadi mendominasi ruang keluarga tersebut. Mereka tengah mempersiapkan beberapa balon untuk di rangkai di taman belakang membentuk sebuah lengkungan. Josi yang paling banyak protes di antara para sepupu nya.
"Kau ini, kenapa tidak kau sendiri saja yang memompa balon-balon ini. Kenapa harus meminta bantuan sekompi keluarga untuk membantu mu." Sahut Brandon menggerutu kesal. Sejak tadi Josi selalu protes apa saja yang mereka lakukan. Mulai dari ukuran balon nya yang terlalu besar, atau terlalu kecil. Warna nya yang tidak sesuai penempatan dan lain sebagainya.
"Kalau kau tidak ikhlas membantu sebaik nya kau pergi saja!" usir Josi tak mau kalah. Mata bulat nya melotot tajam seperti mata pisau, Brandon bergerak secepat tornado untuk menghindari tatapan keponakan laknat nya. Meski lebih muda, Brandon menang di jalur garis keturunan. Sebagai paman termuda, bagi nya sebuah tingkat jabatan yang layak untuk di bangga kan.
Berea menatap daun pintu dengan tatapan malas, dia tau siapa yang tengah mengusik ketenangan nya.
Klek
Pintu terbuka walau tanpa persetujuan sang pemilik kamar. Wajah tak bersahabat Berea langsung menyambut Alex, membuat pria itu tertawa pelan.
__ADS_1
"Paman pikir kau sedang butuh teman, jadi paman dengan suka rela meluangkan waktu berharga paman hanya untuk menemani mu." Senyum seringai Alex membuat Berea berdecak sebal.
"Kenapa tuan putri ini belum bersiap, hmmm? harus nya sekarang kau tengah sibuk mencoba beberapa gaun dan lain nya." Oceh Alex menatap netra muram itu dengan tatapan tak terbaca.
Dia tau apa yang Berea pikir kan, dan dia pun tak sanggup memikirkan beban yang akan gadis itu pikul nanti.
"Apa paman menyayangi ibu ku?" pertanyaan Berea hampir membuat udara di kerongkongan Alex menyasar ke dalam kepala.
"Tentu saja! kenapa pertanyaan mu begitu tak bermakna. Ibu mu adalah ratu di hati ku, untuk itulah kenapa paman tampan mu ini belum menikah hingga sekarang."
"Ck! itu karena paman memang tidak laku!" sarkas Berea lugas.
Alex menghirup udara sebanyak mungkin, kata-kata Berea memukul telak harga diri nya.
"Bisa kah kata-kata yang keluar dari mulut mu itu sesekali menyenangkan pendengaran seseorang?" protes Alex jengah.
"Jika ingin mendengar kalimat menenangkan dan penuh kasih sayang, paman salah masuk kamar. Mungkin paman harus ke kamar sebelah, nenek akan dengan senang hati mendongeng kan puisi-puisi indah untuk paman dengar." Alex memutar bola matanya malas. Tak akan ada satupun perdebatan yang bisa dia menangkan, jika sudah berhadapan dengan keponakan nya yang satu ini.
Alex berdecak kesal, "apa kau ingin paman membantu mu memilih aksesoris dan gaun?" Alex berusaha mengalihkan topik mereka yang mulai terdengar menyebalkan.
__ADS_1
"Aku ingin menggunakan celana jeans dan baju kaos saja. Dress akan membuat ku terlihat seperti anak perempuan." Ya ampun, seperti nya Alex memang salah masuk kamar. Lihat lah sekarang, urat lehernya sudah mulai kaku menghadapi gadis datar itu.
"Baiklah! paling tidak kau harus pakai pakaian, jika tidak paman akan dengan senang hati memakai kan mu popok dan baju jumper bayi ukuran dewasa." Alex akhirnya menyerah. Percuma saja memaksa gadis keras kepala ini, kesabaran nya benar-benar di uji hingga ke limit terakhir.