Darkest Dream

Darkest Dream
Cara Ekstrim mengungkap kejujuran


__ADS_3

"Kemari kau!" desis Alex menarik kerah baju sang adik menuju kamar nya. Morgan meringis menahan sakit di pangkal leher nya.


Bug bug bug


"Katakan apa yang tidak kami ketahui brengsek!" Alex memukul Morgan dengan membabi buta. Entah kemarahan apa yang coba dia lampiaskan pada adik nya itu.


"A..apa ma..mak..sud mu kak.." sahut Morgan terbata-bata, rasa sakit menjalar di tubuh nya. Sementara leher nya seperti sedang tercekik tali tambang.


"Jika kau tidak mau mengatakan nya, akan aku kirim kau ke neraka! jadi l,.jangan menguji ku Morgan..." ucap Alex menahan marah, kepalan tangan nya masih melayang di udara, siap untuk layangkan kembali pada sang adik.


"Kirim saja dan selesai kan sekarang juga! dan setelah itu, kau akan mom jadi kan daging guling panggang untuk makan malam. Lakukan, mulai dari kepala nya. Patah kan lehernya terlebih dahulu, berikut nya akan lebih mudah untuk memutilasi tanpa perlawanan."


Glek!


Kedua pria itu susah payah menelan ludah masing-masing, tatapan tanpa ekspresi sang ibu sungguh menakutkan.


Alex masih mematung kepalan tangan nya perlahan turun ke samping, dan cengkraman di leher baju Morgan mulai mengendur.


"Kenapa kalian jadi diam saja..ayo lanjutkan!" titah Ashley semakin membuat kedua anak nya tak berkutik.


"Astaga..! apa aku mengajari mu selama bertahun-tahun ini tidak ada satupun yang bisa kau cerna dengan baik, Alex!" seru Ashley geregetan sendiri, wanita itu berjalan ke arah kedua nya dengan langkah tak sabar.


Morgan melotot saat melihat Alex di singkirkan begitu saja oleh sang ibu hingga terjungkal ke belakang. Satu tangan Ashley telah membelit leher Morgan dengan sikap sempurna. Satu lagi menempel di atas kepala anak malang itu.


"Mom!" seru Alex memperingatkan. Apa ibu nya sudah gila.


"Kenapa? bukankah kau sangat bersemangat saat memukul nya tadi. Mom hanya melanjut kan apa yang belum kau tuntas kan. Perhatikan lah ini, lihat gerakan mom lakukan dengan seksama. Kau hanya perlu mengunci pergerakan leher nya agar tak banyak bergerak, lalu taruh satu tangan mu di atas kepala nya. Setelah itu, putar dengan kuat hingga mengeluarkan suara. Krekkk! Maka lawan mu selesai." Ujar Ashley berteori. Kemudian mulai menggerakkan tangan nya.


Tubuh Morgan bergetar ketakutan, keringat dingin membanjiri tubuh nya.


"Mom!!" teriak Alex namun Ashley seolah tuli. Apa arwah nenek nya merasuki sang ibu sekarang, wanita itu terlihat seperti iblis di mata Alex dan Morgan. pergerakan tangan Ashley sudah memutar kepala Morgan ke samping.


"Kakak masih hidup! kak Lizzie masih hidup! kakak pergi ke utara, hanya itu yang aku tau. Demi Tuhan! hanya itu saja mom, aku bersumpah..!" Seru Morgan ketakutan luar biasa. Bayangan leher nya patah membuat nya terpaksa berkhianat pada sang kakak.


"Anak cerdas!" puji Ashley mengelus kepala Morgan dengan sayang lalu mencium pucuk kepala anak nya itu.


Morgan bernafas lega, tidak dengan Alex. Pria itu menatap datar pada ibu nya yang terlihat santai, setelah hampir saja membuat jantung kedua anak nya berhenti berdetak.


"Kenapa kau menatap mom begitu, Alex? jika kau juga ingin mom elus kemari lah, peluk wanita lemah lembut ini. Mom juga masih merindukan mu, sweet boy.." ucap Ashley tersenyum miring. Alex mendengus mendengar kalimat tak ada akhlak sang ibu.

__ADS_1


"Aku belum mamdi mom, nanti saja. Aku tak ingin membuat mom pingsan karena mencium aroma tubuhku." Tolak Alex halus dengan senyum yang terlihat sangat terpaksa.


"Ah, baiklah. Morgan, lain kali jangan membahayakan nyawa mu sendiri. Kau bukan tandingan mom dalam menyimpan rahasia. Keajaibanmu dan kakak mu sudah mom ketahui sejak kalian masih di dalam kandungan." Ashley berucap datar menatap pada kedua anak nya bergantian.


"Maaf mom. Aku sudah berjanji pada kakak untuk menyimpan rahasia kepergian nya saat purnama bulan biru berakhir." Sahut Morgan dengan suara serak. Membahas sang kakak membuat hati nya sesak.


" Ada kalanya rahasia mu harus kau bagi. Dan pastikan hanya kepada orang yang tepat saja. Pastikan hanya kita bertiga saja yang mengetahui hal ini. Dan jangan bertanya apapun, cukup diam dan berpura-pura lah seperti saat kalian baru tiba. Bersihkan kakak mu, berikan gaun yang cocok untuk di gunakan seorang anak perempuan. Kau paham, Alex..?" Alex hanya mengangguk pelan mendengar perkataan panjang sang ibu.


Sepeninggalan sang ibu, Alex menatap Morgan dengan tatapan dingin.


"Kau bedebah kecil sialan..! keluar dari kamar ku!" usir Alex kesal. Bisa-bisa nya Morgan menunggu maut menjemput nya baru berbicara jujur. Hampir saja diri nya terkena serangan jantung akibat ulah sang ibu dan kecerobohan sang adik.


"Kau yang menarik ku seperti anak domba. Kenapa malah mengusir ku seperti aku yang sengaja memasuki kamar mu." Gerutu Morgan beranjak dari posisi nya di lantai.


Setelah pintu kamar tertutup dengan suara menjengkelkan, Alex merebahkan tubuh lelah nya di kadur king size favorit nya. Ah, dia sungguh rindu tidur di tempat yang nyaman dan layak.


Hampir saja mata nya terpejam kalau saja dia tidak mengingat pesan sang baginda ratu. Alex beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri nya lalu dia akan menyeka tubuh sang kakak.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Leah mengerjab kan kedua matanya, gadis itu terusik saat merasakan hawa dingin di kulit nya.


Alex tersentak kaget melihat pergelangan tangan nya di genggam erat oleh sang kakak.


"Aku sedang membersihkan tubuh jorok mu kak, lepas kan tangan ku agar bisa melanjutkan pekerjaan menyebalkan ini." Ketus Alex datar.


Leah melepaskan genggaman nya lalu menatap wajah datar adik sepupu nya.


"Aku akan langsung mandi saja." Ujar Leah kemudian duduk di sisi ranjang. Alex melilit kan handuk bersih di punggung sang kakak yang hanya memakai kaos dalam.


"Mandilah. Kau sangat bau, lihat lah kamar ini jadi sarang lalat sekarang." Titah Alex merapikan baskom air hangat dan handuk yang tadi dia gunakan untuk mengelap tangan dan wajah sang kakak.


Leah mencebik mendengar hinaan tak langsung tersebut.


"Apa aku ada baju ganti di sini.." tanya Leah memastikan.


"Ada, aku baru saja mengeluarkan uang yang banyak untuk membeli kan mu pakaian, jadi mandi lah yang bersih. Jangan sampai ada sisa daki di tubuh mu, kakak akan membuat pakaian mahal nya jadi tidak berguna." Ucap Alex acuh lalu bergegas keluar kamar untuk mengantar baskom air dan handuk kotor ke lantai bawah. Leah menatap punggung sang adik dengan tatapan nanar, namun sudut bibir nya melengkung membentuk senyuman yang teramat sangat manis.


Dia tau Alex sangat menyayangi nya, Alex memperlakukan nya layaknya seorang ratu. Pria itu tengah melampiaskan rasa sayang dan perhatian nya yang tidak sempat dia berikan pada Lizzie. Kini beralih semua pada Leah. Sebagai satu-satunya anak perempuan yang tersisa dalam garis keturunan mereka.

__ADS_1


Leah menghela nafas panjang, menatap pintu kamar mandi seperti melihat medan perang. Menyebal kan menjadi anak perempuan. Untuk itu Leah sangat suka musim dingin, dia tidak perlu mandi setiap hari. Cukup membersihkan apa yang perlu di bersihkan saja, tanpa repot-repot berjibaku dengan air.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Sweet heart? sayang?" Sky memanggil sang istri yang tiba-tiba menghilang dari samping nya. Bukan kah tadi mereka tertidur bersama setelah saling melepas rindu. Lalu kemana istri nya sekarang.


Klek


suara pintu kamar terbuka, terlihat lah Cloey yang sudah berganti pakaian dengan tampilan yang sangat memukau di mata Sky. Dress bunga-bunga kesukaan sang istri dengan rambut di biarkan tergerai, wajah nya terlihat sangat cerah.


"Kemana saja, aku mencari mu tadi. Jangan meninggalkan ku saat aku masih tidur, aku ketakutan kau hanya mimpi. Kemarilah sweet heart.." Sky merentangkan tangan nya agar Cloey mendekat.


"Aku baru saja selesai membuat makan malam,, kau pasti sangat merindukan masakan sederhana buatan ku, bukan?" jelas Cloey membelai wajah tampan suami nya yang terlihat tirus.


"Kau benar, aku tidak makan dengan baik selama bertahun-tahun ini. Saat aku makan, aku selalu merasa asing dengan aroma masakan yang hendak aku santap. Aku akan mandi, kau tidak ingin menemani ku honey ?" goda Sky menggesek kan hidung mancung nya ke dada sang istri.


"Tidak. Aku takut akan membuat orang-orang menunggu kita hingga mati kelaparan di meja makan. Mandi lah, aku akan menyiapkan pakaian mu." Cloey mencium pipi sang suami lalu melerai pelukan mereka. Wanita itu berjalan menuju lemari pakaian, di sana ada beberapa stel pakaian Sky yang sengaja dia beli beberapa waktu setiba mereka di rumah adik ipar nya.


Entah kenapa dia sangat yakin suami nya akan segera kembali.


Sky menatap punggung kecil istri nya dengan perasaan perih. Dia merindukan putri kecil nya Lizzie. Sebelum menciptakan suasana sedih kembali, Sky bergegas ke kamar mandi. Di nyalakan nya shower untuk meredam suara tangisannya. Tubuh Sky berguncang hebat, kehilangan putri nya seperti kehilangan separuh jiwa nya. Akan lebih baik jika seorang anak menyaksikan kepergian orang tuanya. Sesedih apapun akibat kehilangan tersebut, tidak akan lebih sakit dari kehilangan seorang anak.


Berkali-kali Sky memukul dadanya yang terasa semakin sesak. Ingatan tentang Lizzie menorehkan luka di hati nya. Andai dia mampu menyingkirkan sang ibu, mungkin putri nya masih ada. Bersama nya dan memanggil nya dengan suara lembut seperti saat Lizzie masih kecil.


"Daddy..! sudah.. aku geli, nanti aku bisa mengompol...hihihii..."


"Daddy? apa Daddy akan selalu menyayangi ku jika adik-adik ku sudah lahir..?"


"Daddy...apa kau masih ingat mantra yang sering kita ucapkan bersama..?"


"Sejauh apapun jarak di antara kita, daddy akan selalu mengingat jalan pulang kembali. Aku, mom dan adik-adik akan selalu menunggu daddy kembali..."


Tubuh Sky ambruk di lantai basah kamar mandi tersebut, bayangan wajah imut putri sulung nya seperti belati yang menusuk tepat ke jantung nya.


Tok tok tok


"Dad! kenapa lama sekali..?" suara Cloey menghentikan tangis pilu Sky, dengan keras pria itu berusaha menahan getar suara nya.


"Sebentar lagi honey, turunlah duluan. Aku akan menyusul..!" balas Sky berseru dari kamar mandi. Tangannya meremat kuat dada nya agar tidak kembali menangis.

__ADS_1


Dia sadari, sejak di mana mereka kembali berkumpul. Maka sejak saat itu pula, Lizzie akan menjadi bayangan mereka setiap hari. Kebahagiaan yang mereka raih, adalah hasil pengorbanan sang anak. Maka konsekuensinya, mereka akan masing-masing menyimpan luka yang sama, dengan berpura-pura bahagia. Saling melempar canda dan tawa, namun di dalam dada. Rasa sesak tetap masih berkuasa.


__ADS_2