Darkest Dream

Darkest Dream
Niat Terselubung


__ADS_3

Riuh tepuk tangan para tamu undangan membuat suasana pesta semakin meriah. Bern tidak tanggung-tanggung, pria itu menggelontorkan dana tak sedikit untuk pesta mewah tersebut. Entah mengapa perasaan nya mendadak mellow. Seolah ini adalah pesta terakhir bagi nya.


Tatapan nya tak lepas memperhatikan apa saja yang di lakukan oleh putri sulung nya. Berea hari itu lebih banyak tersenyum dan terlihat lebih ramah dari biasanya. Sedikit aneh memang, mengingat putri nya begitu susah untuk berbaur.


"Putri mu sangat cantik, Bern."


Bern tersenyum simpul penuh rasa bangga.


"Tentu saja, dia putri ku. Jelas sangat cantik!" Sahut pria itu dengan senyum yang semakin mengembang.


"Yang di sebelah sana itu, adalah putra ku.." tunjuk pria di samping Bern, mengarah kan jari nya ke sudut lain yang berseberangan dengan keberadaan Berea. Bern menoleh sekilas, dia seperti mengenali pria muda tersebut.


"Apa kah putra mu satu sekolah dengan putri ku?" tanya Bern setelah sempat terdiam sejenak. Tatapan nya masih menelisik putra sang kolega bisnis nya.


"Dulu, ya.. sekarang dia sudah lulus dan sedang menjalani pendidikan kepolisian. Dia sangat ingin menjadi seorang abdi negara yang hebat." Pamer sang ayah bangga. Ada maksud terselubung dari makna kalimat nya. Bern berusaha serius menanggapi nya tanpa merespon niat khusus dari kalimat sang rekan bisnis.

__ADS_1


"Itu bagus! kota ini butuh orang-orang dengan tekad dan dedikasi yang hebat. Sangat jarang ada yang memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang abdi negara tanpa campur tangan orang tua mereka." Si pria terlihat pias mendengar kalimat Bern, yang terdengar tengah menyindir.


"Maksud ku, anak muda cenderung memiliki banyak impian lain yang barangkali berseberangan, dengan kehendak para orang tua. Dewasa ini sangat sulit untuk menyetir masa depan seorang anak sesuai harapan kita, bukan?" Bern mengakhiri kalimat nya dengan kekehan yang membuat kerongkongan pria di samping nya mendadak gersang. Terasa tandus dan butuh segera di sirami air kehidupan.


"Anda benar tuan, Bern. Untung saja putra ku sedikit berbeda dari remaja kebanyakan. Samuel sangat penurut pada kami, bukan kah pria seperti putra ku itu adalah impian setiap orang tua para anak gadis?" lanjut nya menimpali dengan kekehan meski sedikit terkesan memaksa kan diri. Ekor mata nya menangkap lirikan Bern tertuju pada putra nya. Tentu saja hati nya senang. Siapa yang tak mau, jika anak nya bersanding dengan anak orang paling kaya di kota itu. Juga salah satu pengusaha terkaya dalam deretan para pengusaha dunia. Dia pun berharap bisa meminang salah satu putri pria di samping nya itu. Meski harapan nya setipis kertas. Namun apa salah nya berusaha, begitu lah pikir nya.


"Kau benar sekali tuan, Orlando. Lalu bagaimana dengan putri mu? Dia masih satu sekolah dengan putri ku, bukan? Apa cita-cita nya setelah lulus nanti. Mengingat ujian hanya menghitung hari. Anak perempuan cenderung memiliki impian yang lebih tinggi ketimbang anak pria." Alih Bern menyempurnakan respect nya meski hati nya sedang tak ingin membahas hal tersebut. Namun membiarkan obrolan tak menyenangkan itu menyentil kehidupan pribadi sang putri. Oh tidak! Bern tidak rela, putri nya jelas punya pilihan masa depan termasuk jodoh impian yang dia inginkan. Bukan seseorang yang di sodorkan oleh orang tua nya karena asas simbiosis mutualisme. Bisnis bagi nya adalah hal sampingan, sejak awal diri nya hanya ingin memperkaya diri untuk tujuan mempertahankan istri beserta putri nya. Bukan justru menjerumuskan anak nya untuk sebuah obsesi dan ambisi.


"Rosa ingin menjadi seorang Dokter, tuan Bern. Dia sangat ingin menjadi dokter bedah terbaik di rumah sakit milik keluarga anda. Putri ku selalu mengagumi bagaimana kota Hermie sangat maju setelah mengetahui seluk beluk awal, kota ini. Dia mengagumi bagaimana anda mengubah kota kecil ini menjadi kota yang layak, maju dan di lihat oleh dunia. Dia pengagum berat anda, saya sampai merasa cemburu. Bukan kah anak gadis adalah kecintaan para ayah?" Bern mengatup mulut nya dengan perasaan tak nyaman.


"Itu bagus! Menjadi seorang dokter adalah pekerjaan mulia. Selain gaji yang fantastis, dokter biasa nya memiliki jiwa sosial juga kepedulian yang sangat tinggi. Apa putri mu mengikuti salah satu organisasi para penyintas bagi anak-anak terlantar atau korban bencana alam? Itu salah satu organisasi milik keluarga ku, tepat nya istri ku. Wanita hebat itu mencetak banyak sekali para muda mudi yang memiliki jiwa sosial yang luar biasa. Sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga menengah kebawah. Luar biasa, bukan? Ketidakmampuan dari segi ekonomi tidak membuat semangat dan tekad mereka surut. Banyak diantara orang mampu, justru menutup mata akan hal-hal kecil seperti itu. Aku harap putri mu adalah salah satu dari anggota organisasi tersebut. Itu hal yang selalu membuat ku bangga." Tandas Bern. Gluk!


Orlando seperti menelan sekam panas. Kalimat nya selalu di bayar tunai oleh Bern dengan harga yang jutaan kali lipat lebih tinggi. Pria itu seolah tau, kemana arah percakapan mereka berakhir. Dengan sedikit gugup, Orlando berusaha mengatur kalimat balasan yang menyelamatkan harga diri nya.


"Kau benar sekali tuan Bern, jarang ada muda mudi yang mau terlibat dengan kegiatan semacam itu. Putriku baru akan mengikuti nya setelah lulus nanti, Rosa sangat tekun untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi ujian akhir. Setiap hari putri ku itu selalu menghabiskan sebagian besar waktu nya, untuk membaca beberapa buku referensi. Belajar adalah kesukaan nya. Mengingat menjadi seorang Dokter butuh otak yang cerdas." Sungguh Bern ingin tertawa keras. Mendengar kalimat Orlando seperti mendengar sebuah leluncon.

__ADS_1


Apa kata nya? menghabiskan waktu untuk belajar? apa kah keluar masuk hotel bersama pria berbeda-beda, adalah termasuk dari kegiatan belajar untuk menganalisis sistem reproduksi para pria? Bern tersenyum simpul penuh arti.


"Itu sangat bagus. Apa putri mu lebih suka menghabiskan waktu belajar nya di luar rumah? maksud ku, beberapa kali aku pernah tanpa sengaja melihat putri mu check_in di salah satu hotel milik ku. Mungkin saja putri mu butuh suasana baru untuk tempat belajar yang menenangkan. Putri ku memiliki kebiasaan belajar di rumah pantai kami. Di sana dia bisa lebih fokus pada apa yang tengah dia pelajari. Kau tau aku memiliki dua anak dengan kelakuan yang ajaib, jadi menjauh dari rumah adalah pilihan terbaik saat sedang butuh waktu sendiri. Itu yang sering di lakukan oleh Berea ku."


Kalimat Bern lagi-lagi menguliti Orlando hidup-hidup. Pria itu mengepalkan tangannya dengan emosi tertahan. Sangat sulit menjebak pria ini dengan tubuh molek anak nya. Tak dia sangka, Bern yang dermawan dan murah hati. Memiliki mulut setajam belati. Harus kah dia merutuki mulut ceroboh nya, mematik api tanpa mempersiapkan alat pemadam. Sungguh bodoh jika dia mengira mampu menggoyahkan pertahanan seorang Bern. Seorang pengabdi cinta, karena semua kepunyaan nya semata-mata hanya demi dua wanita. Lizzie dan Berea.


Bern menyeringai puas, melihat ekspresi pias penuh kekesalan tercetak sempurna di wajah Orlando. Pria penuh obsesi dan ambisi gila. Rela "memperjual belikan" anak-anak nya demi menaikkan harkat dan martabat keluarga. Sungguh miris dan menyedih kan.


"Oh itu..mungkin saat itu kebetulan saja. Rosa sering kali ku minta tolong untuk mengantar berkas yang tertinggal. Usia membuat ku sering melupakan hal-hal seperti itu. Untung saja Rosa anak nya tak banyak membantah. Walau sibuk dengan pelajaran nya, putri ku itu selalu menyempatkan diri untuk melakukan apa yang di minta oleh orang tua nya." Dengan sedikit gugup, Orlando menyampaikan pembelaan nya. Keringat dingin mulai mengalir tak nyaman di tubuh nya. Berhadapan dengan Bern seperti sedang menguji nyali.


"Wah! aku benar-benar sangat mengagumi bagaimana kau mampu mendidik anak-anak mu sedemikian rupa. Ku harap semua didikan mu kelak menjadi hal yang bisa mereka pegang teguh. Kau tau, didikan orang tua adalah pondasi awal untuk mental, karakter dan kepribadian seorang anak. Anak yang baik, cerdas dan memiliki kepribadian yang hebat. Biasa nya berasal dari keluarga dengan didikan moral yang luar biasa. Aku selalu salut bagaimana para orang tua mampu mencetak generasi penerus bangsa, dengan moral dan attitude yang baik."


Orlando meneguk minuman nya dengan dua kali tegukan. Tenggorokan nya mendadak haus dan butuh di segar kan. Merasa obrolan mereka mulai terasa tidak menyenangkan apalagi menguntungkan. Orlando pamit undur diri dengan alasan masih ada beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan.


Bern menatap punggung tegap Orlando dengan seringai licik. Dia heran, bagaimana masih ada saja orang yang mencoba mencari celah, untuk bisa meruntuhkan pertahanan hati nya. Mengingat hampir di setiap pesta, Bern bahkan tidak pernah melepaskan sedikit pun genggaman tangan nya dari sang istri tercinta.

__ADS_1


Sebuah tepukan halus menyadarkan nya dari tatapan tak berarti itu. Pria itu menoleh dengan senyum sejuta watt yang selalu bersinar terang.


__ADS_2