
Lex terlihat begitu senang malam itu, Lizzie tidak ingin merusak nya. Keduanya tengah duduk di sebuah kedai kopi. Menikmati lalu lalang kendaraan yang lewat tanpa henti. Lizzie sengaja memilih duduk di kursi luar kedai. Perasaan nya sedikit tidak nyaman saat akan duduk di dalam tadi, hingga memutuskan kembali keluar.
"Kau tau nona, setelah pekerjaan ku besok subuh. Aku ingin mengambil istirahat panjang, agar punya banyak waktu untuk membantu istri ku merawat anak kami juga ibu mertuaku. Oh ya, aku hampir lupa, mertuaku menitipkan banyak terimakasih padamu, uang yang kau berikan telah menolong nyawa mertua ku. Beliau bisa di operasi seminggu kemudian karena uang yang kami punya sudah cukup. Ibu mertua ku sangat ingin berjumpa dengan malaikat baik hati seperti mu, nona. Jika kelak kau sudah tidak sibuk, mampir lah ke gubuk kecilku. Kami akan membuatkan kalkun panggang untuk menyambut mu." Papar Lex panjang lebar. Binar matanya malam itu membuat hati Lizzie sesak.
Kalimat beristirahat panjang, dalam arti yang Lizzie tangkap, membuat hati nya tak tega. Luka nya bahkan masih terasa nyeri, harus kah diri nya kembali menetes kan darah nya untuk menukar takdir buruk pria malang ini.
"Nona? kau mendengar kan ku? maaf jika mulut ku sedikit cerewet seperti perempuan. Aku hanya terlalu senang bisa bertemu kembali dengan mu. Kau ingat saat kau menyuruhku pulang segera setelah mengantar mu? padahal aku berencana untuk mencari penumpang lain yang bisa sekalian aku bawa sekembalinya aku ke Meksiko. Lumayan untuk tambahan biaya berobat mertua ku. Dan beruntung nya aku bertemu dengan mu, malam itu terjadi razia besar-besaran bagi para sopir gelap seperti ku." Ucap nya dengan wajah sendu, andai dia tak menuruti Lizzie. Mungkin nasib nya akan berakhir di deportasi atau parahnya akan di penjara beberapa tahun lamanya.
"Aku berhutang banyak pada mu nona, begitu juga keluarga ku. Kau malaikat tak bersayap yang hadir di saat kami tengah kesulitan dan butuh pertolongan tanpa kami sadari. Untuk itulah aku sangat senang bisa berjumpa dengan malaikat baik hati seperti mu." Lanjut Lex menuturkan ungkapan syukur nya pada Lizzie.
Lizzie tersenyum samar, hati nya semakin tak tega, saat melihat wajah berkaca-kaca pria di hadapannya itu. Maut akan segera menyapa nya, tapi lihat lah, senyum penuh harapan agar bisa mendapatkan uang yang banyak dan kembali berkumpul bersama keluarga kecil nya. Terpampang nyata tanpa beban apapun.
Lizzie menghela nafas berat, seperti nya dia harus kembali mengalah kali ini. Bukan salah pria itu, karena memiliki takdir yang buruk. Mereka hanya dua orang yang kebetulan dipertemukan oleh garis nasib, di jalur yang sedikit berbeda. Dia dengan segala kelebihan nya, Lex pria itu, dengan segala harapan besarnya untuk bisa membahagiakan orang-orang yang dicintainya.
"Aku juga senang bisa bertemu dengan mu, Lex" ucap Lizzie syarat makna. "Bolehkah aku menumpang di mobil mu untuk tidur malam ini. Aku selain tidak punya cukup uang, malam ini aku ingin menenangkan pikiran ku. Mungkin saja saat aku terbangun besok, aku sudah mendapatkan pencerahan, pekerjaan mana cocok untuk ku." kelakar Lizzie berusaha menutupi rona kegelisahan di wajah nya.
Lex ikut tertawa renyah, tawa yang membuat Lizzie bertekad, untuk mengembalikan pria itu pulang dalam keadaan baik-baik saja hingga sampai ke pelukan keluarga nya.
Kedua nya terlibat obrolan ringan seputar pekerjaan dan hal lain nya. Hingga akan tengah malam, kedua nya memutuskan untuk kembali masuk ke dalam mobil. Namun saat baru beberapa meter dari kedai, suara dentuman keras membuat keduanya sedikit terpental meski tak terlalu jauh.
Lex merintih saat siku nya menyapu aspal jalanan, rasa perih menjalar dilengan nya. Lizzie baik-baik saja, tidak ada luka apapun yang dia alami. Namun rasa nyeri di perut nya seperti di siram air garam.
Rupanya, sebuah pipa gas bocor dan membuat ledakan itu terjadi. Kericuhan terjadi, ada dua korban tewas ditempat, salah satunya adalah koki juga satu orang pengunjung yang kebetulan sedang di toilet persis disamping dapur yang meledak itu. Yang lain nya hanya mengalami luka-luka akibat serpihan kaca dan benda lain.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa, Lex.?" Lizzie membantu membawa Lex menuju mobil, di sana dia mengobati luka lecet Lex dengan saleb luka yang dia bawa.
"Mau aku balut dengan perban ?" tawar Lizzie selesai mengobati luka di siku Lex.
"Tidak nona, begini saja supaya cepat kering. Terimakasih banyak nona, kau baik-baik saja?" saking berusaha menahan sakit, dirinya sampai melupakan Lizzie yang juga ikut terkena efek ledakan.
"Aku baik, jangan mencemaskan ku." Aku ingin melihat ke sana dulu, tinggal lah di sini."
Lizzie keluar lalu membantu beberapa orang, ada beberapa mobil polisi datang juga ambulans dan mobil pemadam kebakaran. Lex menatap kagum pada gadis muda yang sudah menolong nya berkali-kali. Kini dia paham saat Lizzie lebih dulu menoloynya ketimbang korban lain yang lebih parah. Rupanya Lizzie tengah menyingkirkan nya dari pantauan para polisi di sana.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Alex tak henti menyalahkan diri meski Leah sudah berkali-kali mengatakan, bahwa itu bukan salah nya. Tangan nya baru saja di balut oleh leah, pria itu melampiaskan rasa sesalnya dengan mengadu kepalan tinju nya ke tembok.
"Apa kita hanya akan menunggu hingga paman Jeff kemari? kenapa kita tidak berangkat saja, dan bertemu di jalan ? bukankah dengan begitu akan lebih menghemat waktu?" ucapa tiba-tiba Morgan seketika membuat wajah Alex bersinar cerah, kenapa dia bodoh sekali. Seperti nya jatuh hati telah merenggut kecerdasan otak nya.
"Baiklah, kita berangkat sekarang. Ku liat ada mobil di garasi, kita bisa menggunakan itu. Urusan paman Jeff biar aku yang mengurus nya, Morgan, siap kan apa yang kita butuhkan." Titah Leah berbicara cepat, Alex dan Morgan bergerak cepat untuk menyiapkan semua mereka perlukan.
"Kau yakin kak? ini namanya mencuri" tegur Alex sedikit keberatan, saat tau rencana kakaknya yang akan mencuri kunci mobil di pos jaga.
"Kita tidak mencuri nya, Lex. Kita hanya sedang meminjam nya, secara teknis seperti mencuri, tapi tidak. Kau tenang saja, dosa orang cantik akan sangat mudah di ampuni. Begitu lah hukum alam bekerja." Balas Leah santai, tubuh kecil nya sudah berhasil masuk lewat celah sempit di samping meja. Setelah berhasil meraih kunci mobil, Leah kembali keluar.
"Ayo, aku sudah meminjam nya pada Arfin" Jelas Leah saat mendapat kan tatapan tak sedap dari adik nya.
__ADS_1
"Sungguh, kenapa aku tak percaya" ucap Alex memicing kan matanya.
"Aku mengatakan, paman aku meminjam salah satu mobil di garasi itu, nanti akan aku kembali kan jika mobilnya masih utuh. Tidur lah yang nyenyak dan jangan lupa bermimpi indah." balas Leah enteng, kemudian melangkah pergi meninggalkan adik-adik nya yang masih melongo, mendengar kalimat mencengangkan kakak sepupu mereka.
"Ck! itu sama saja tidak pinjam. Bagaimana bisa dia mengijinkan kalau tidur nya saja seperti gorila gunung." Oceh Alex melirik sekilas ke arah Arfin yang tengah menggorok di kursi putar nya. Mereka menyusul langkah lebar Leah menuju garasi.
Jeff mengamuk pada Arfin juga orang-orang yang dia tugas kan untuk menjaga para pewaris. Kini dia malah kecolongan akibat keteledoran anak buah nya.
"Apa aku menggaji mu untuk tidur, hah!" Arfin terdiam tak dapat membalas meski hanya sekedar untuk membela diri nya. Salah nya juga terlalu banyak makan hingga akhirnya mengantuk tak tertahankan.
"Maaf kan kami tuan, kami akan segera menemukan keberadaan para pewaris." Ucap salah seorang anak buah Jeff. Mereka bergegas menuju mobil masing-masing, Jeff tersenyum penuh arti saat melihat mobil kesayangan nya sudah tidak ada di tempat nya lagi.
"Anda pintar dalam memilih, mana mobil yang bagus nona muda." Ucap Jeff menatap jejak decitan ban mobilnya dengan tatapan miris. Dia berharap mobil nya masih berbentuk saat dia berhasil menemukan keberadaan nona muda nya.
"Aku menemukan ini di balik bantal nona muda, tuan." Suara Nayana mengalihkan perhatian Jeff. Tangannya terulur meraih sepucuk surat yang terlipat begitu rapi, ada perasaan was-was dalam benak nya.
Saat membuka lipatan surat tersebut, mata Jeff sudah memanas. Kata-kata sederhana Lizzie berhasil meruntuhkan tembok angkuh seorang Jeff. Kegarangan di wajahnya seakan tak mampu menopang rasa sesak di hati nya.
"Drake! siap kan semua nya, jangan sampai ada satupun tertinggal. Peperangan yang sesungguhnya akan segera di mulai . Siap kan persenjataan lengkap kalian, nona muda kita butuh banyak prajurit." Setelah memberikan titah nya, Jeff mengeluarkan kain pembungkus berwarna hitam dari balik jaketnya.
Sebuah pistol jadul yang di berikan Sandora padanya tempo hari. "Aku akan memilih dengan bijak nyonya, tapi tidak salah satu dari mereka. Aku akan memilih kedua nya untuk di selamat kan. Kita lihat bagaimana takdir akan menghukum ku nanti, aku tidak peduli." Jeff memasukkan kembali senjata nya, pria itu masuk ke dalam mobil dan memimpin pasukan nya di baris paling depan.
Bayangan wajah keluarga nya satu persatu melintas dalam pikiran nya. Pasti akan menyakitkan, namun akan lebih sakit lagi, jika diri nya tidak bisa menyelamatkan kedua nona muda nya. Biarlah takdir Tuhan yang akan berbicara, diri nya akan menggerakkan takdir itu dengan sedikit bantuan kedua tangannya.
__ADS_1
βBaca pelan-pelan saja (di cicil), itu akan lebih baik. Like seperlunya jika merasa sreg dengan bab yang di baca, ππππ
βTermikasih sudah menjadi pembaca setia ku, sehat selalu, Tuhan memberkati πππ₯°π₯°