
Ashley tampak gelisah, tidur lelap nya terganggu oleh mimpi buruk yang sangat mengerikan. Kini wanita hamil itu sedang duduk di sofa tunggal, dekat jendela yang mengarah ke halaman depan rumah nya. Pikiran nya berkelana ke tempat yang jauh, memikirkan sesuatu yang selama ini berusaha ia abaikan.
"Baby? Kenapa kau di duduk disini, mau makan sesuatu?" Aslan tersentak bangun saat meraba sisi tempat tidur istri nya yang kosong.
"Tidak, aku hanya sedikit gelisah. Tidur nyenyak ku terganggu oleh mimpi yang menyebalkan. Duduk di sofa itu, aku ingin tidur di pangkuan mu." Tunjuk Ashley ke arah sofa tak jauh dari tempat nya duduk.
Aslan mengangguk lalu mengangkat tubuh istrinya yang mulai berisi.
"Aku meminta mu duduk di bukan menggendong ku" protes Ashley kaget akan tindakan reflek suaminya.
"Aku tidak ingin kau lelah, kurang tidur juga bisa membuat mu kelelahan. Tidak baik untuk mu dan bayi kita" terang Aslan seraya mendudukkan Ashley di ujung sofa, kemudian dirinya ikut duduk di ujung sebelah nya.
"Ayo, berbaring lah." Titah Aslan setelah menaruh satu bantal disamping pahanya, agar leher dan bahu istri nya tidak sakit karena menopang beban kepala.
"Kau tidak ingin tidur juga?, kalau kau ingin tidur aku tidak apa-apa" Ashley terlihat tak tega pada suaminya. Seharian Aslan bekerja sebagai buruh pabrik, tentu saja sangat lelah dan butuh istirahat yang cukup.
"Tidak, baby. Aku baik-baik saja. Berbaring lah, lalu tidur. Setelah kau pulas kita akan pindah ke kamar, kau tidak masalah bukan? jika aku pindah kan nanti?" tanya Aslan memastikan.
__ADS_1
"Ya, tidak masalah. Aku tiba-tiba ingin tidur begini, mungkin bawaan bayi kita. Pindah kan aku saat aku sudah tertidur lelap." Ujar Ashley kemudian merebahkan tubuhnya, Aslan menepuk pelan pundak sang istri. Hatinya pun gelisah, memikirkan ibu dan adik perempuan nya, yang kini sedang di rawat di ruang ICU.
Di tatapnya wajah damai sang istri, wanita yang membuat nya mampu mengambil tindakan berani. Dengan meninggalkan kehidupan nyaman nya, juga secara tak langsung, mengorbankan keluarga nya. Namun sunguh dia tidak menyesali keputusan nya memilih dan mencintai Ashley. Benar kata sang ayah, seorang pria hebat bukan karena harta dan kekuasaan yang dia punya. Melainkan sikap tegas dan berani berkorban untuk orang yang di cintai, itu yang membuat kita berharga di mata seorang wanita.
Untung saja ada orang baik yang mau menampung keluarga nya, dan merawat adik serta ibu nya di tempat rahasia. Aslan baru mengirim kan sejumlah uang, pada sang ayah atas nama orang lain. Dirinya meminta salah seorang temannya mengirimkan uang pada keluarga nya, lalu kemudian mengganti nya dengan uang tunai.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Setelah perjalanan yang melelahkan jiwa dan raga, akhirnya Sky sekeluarga telah sampai di Long beach California, dari sana mereka menggunakan helikopter menuju pulau Catalina. Kemudian mendarat di heliport pebbly beach beberapa menit dari jantung Avalon, pusat kota Catalina.
"Kau lelah, honey? kau ingin ku gendong menuju mobil?" walau tubuhnya juga hampir mati rasa, namun Sky lebih mengkhawatirkan sang istri. Wajah Cloey nampak begitu pucat, kelelahan juga stress perjalanan, membuat wanita itu nampak kuyu.
"Baiklah, pelan-pelan saja. Regangkan kakimu terlebih dahulu, Mina akan menggendong Lizzie." Kedua turun dari helikopter menuju mobil jemputan.
Perjalanan hampir 15 menit, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah di tepi pantai. Jeff mengatakan bahwa itu merupakan rumah perlindungan. Karena keluarga Belluwig tidak akan berpikir hingga ke pulau kecil itu untuk mencari mereka.
Cloey sangat senang, di sana ada keluarga angkat nya dengan begitu, anggap saja dirinya tengah pulang ke kampung halaman.
__ADS_1
"Tuan, saya akan kembali nanti malam. Sebelum nya saya hanya ini mengatakan sesuatu pada anda." Jeff berusaha menetralkan perasaan gugup nya dihadapan Sky. "Ini soal nyonya Cloey..." Jeff terlihat ragu-ragu, dan Sky menyadari itu.
"Katakan dengan jelas Jeff, aku bukan cenayang yang mampu menembus isi pikiran dan hatimu." Tukas Sky tegas.
"Kejadian di rest area tadi pagi, apa anda mengetahui sesuatu? maksud ku, apa nyonya Cloey mengatakan sesuatu pada anda?" Jeff susa payah menelan ludahnya yang terasa kaku. Pertanyaan nya di luar jalur dan ranahnya, namun rasa penasaran nya pada sang nyonya. Membuat Jeff bertekad menantang maut untuk dirinya sendiri.
"Apa yang kau ketahui Jeff?" Sky membalikkan pertanyaan, Jeff tercekat, Kenapa dia merasa malah dirinya yang sedang di jebak oleh pertanyaan tuannya. Dan bodohnya, Jeff tidak menyiapkan jawaban untuk pertanyaan menjebak tersebut.
"Kau dengar aku, Jeff? apa yang kau lihat dan dengar tadi pagi?" Sky mengulangi pertanyaannya, sambil terus menatap tajam pada Jeff yang terlihat semakin gelisah ditempat duduknya.
"Aku tidak melihat dan mendengar apapun, tuan." Akhirnya Jeff menjawab dengan jawaban yang paling aman baginya.
"Benar! kau tidak melihat juga mendengar apapun, tidak tadi pagi atau pagi-pagi berikut nya setelah hari ini. Dan aku harap, aku bisa mempercayai mu, Jeff. Aku tidak tau kau bekerja pada siapa, dan setia pada siapa. Yang ingin ku ketahui adalah, kau bisa ku percaya saat kau bekerja untuk ku. Apa yang kau lihat dan kau dengar, cukup kau simpan untuk dirimu sendiri. Aku tidak meminta loyalitas penuh darimu, cukup katakan ya atau tidak, maka nasibmu akan berjalan mulus bersama takdir mu." Tutur Sky lugas, tidak ada keramahan dalam setiap kalimat nya. Artinya, Jeff harus benar-benar menjaga mulut agar tetap tertutup rapat, tentang apapun yang berhubungan dengan nyonya mudanya Maupun nona muda nya, Lizzie.
"Baik tuan, anda bisa mempercayai ku sepenuhnya." Jawaban singkat Jeff penuh kesungguhan, dan dapat Sky nilai dari gestur tubuh pria itu. Meski terlihat sedikit tertekan dalam kondisi yang serba salah, namun Sky dapat melihat keseriusan di wajah Jeff, tanpa dibuat-buat untuk sekedar menyelamatkan diri nya.
"Hmmm... Aku mempercayai mu sampai dimana kau sanggup menjadi setia hanya pada satu tuan. Sekarang aku hanya cukup percaya dengan apa yang kau kerjakan, tanpa harus meletakkan kepercayaan penuh padamu. Kita lihat, seberapa besar loyalitas mu dan pada siapa kau patut menunduk hormat." Selesai dengan kalimat yang membuat kinerja jantung dan otak Jeff hampir lumpuh total, Sky meninggalkan Jeff yang masih duduk termenung di kursinya.
__ADS_1
Sky tau Jeff orang yang sangat setia, hanya saja, Pria itu memiliki tanggung jawab lain, yang tidak bisa dia abaikan begitu saja. Begitu juga Sky, prioritas nya adalah keluarga kecilnya. Tidak peduli apa yang akan di hadapi, Sky sudah memutuskan untuk berdiri tegap, tepat didepan istri dan anak-anaknya. Menjadi tameng kedua wanita kesayangan nya, tanpa peduli apa yang keduanya perbuat.
Hidup ini tentang siapa yang mampu bertahan dam mempertahankan hak hidup nya, tanpa peduli apa yang telah diterjang untuk mampu melampaui batas-batas tersebut.