Darkest Dream

Darkest Dream
Benci Perpisahan


__ADS_3

"Untuk apa kau kemari? apa kau sudah kehabisan uang mu? mana pria mu yang kata nya kaya raya itu, kenapa membiarkan kekasih binal nya bertamu pagi-pagi ke rumah mantan suami nya. Kalau kau ingin menumpang sarapan, maaf, makanan ku tidak aku stok untuk menyambut mantan yang tidak di inginkan." Cerocos Bern panjang lebar, wanita di hadapannya sampai mengaga tak percaya. Pria yang selalu menatap nya penuh damba, kini terlihat jijik akan kehadiran nya.


"Apa kau sedang banyak masalah honey? maaf jika mengganggu mu sepagi ini, aku ingin membicarakan soal hubungan kita. Aku berpikir, bagaimana jika kita rujuk kembali, aku menyadari ada kekosongan setelah perpisahan kita. Mungkin aku terlalu kesepian karena sering kau tinggalkan, hingga tidak berpikir panjang. Aku berselingkuh juga karena mu, kan? aku jarang kau beri perhatian, aku haus akan kasih sayang dan belaian mu, Bern. Tidak kah kau menyadari kesalahan mu, kau membiarkan aku bermain seorang diri dengan benda laknat itu. Aku tidak sekuat itu, aku butuh belaian pria sesungguhnya. Ayo kita kembali bersama, dan kurangi kesibukan mu di kepolisian. Aku mencintaimu, Bern." Kalimat panjang dengan wajah memelas tersebut sungguh membuat Bern muak dan mual.


"Apa kau sudah selesai dengan semua curahan hati mu, aku sibuk. Jangan menggangguku lagi, aku sedang sibuk meluluh kan hati seorang gadis. Dan ya, dia jauh segala-galanya dari mu. Dan yang penting, dia bukan ja*l*ang seperti mu!" Kalimat tajam yang keluar dari mulut Bern sungguh tidak dia duga. Pria yang selalu bersikap lembut dan manis pada nya, kini sudah menemukan pengganti nya. Sungguh? air muka Melissa langsung pias.


"Apa kau lupa, kau memuja ku seolah hanya aku lah wanita di dunia ini! bagaimana bisa kau merubah arah hati mu dengan begitu mudah nya! Siapa ja*lang mura*han yang sudah merampas semua perhatian mu. Akan aku habisi wanita mura*han itu!" Teriak Melissa kalut, hati nya tak terima jika Bern sudah berpaling dari nya. Tidak saat kekasih gelap nya, kini pergi meninggalkan nya dengan hutang yang sangat besar.


"Aku!" seru Lizzie dari arah tangga. "Aku lah wanita istimewa yang sudah membuat mantan suami mu ini rela bermain solo, dengan menjadikan ku objek fantasi nya." Wajah Bern memerah mendengar ucapan frontal dari bibir mungil Lizzie. "Apa kau tau apa arti nya, Bern menjaga ku layak nya seorang ratu. Yang tidak akan dia sentuh hanya untuk memuaskan hasrat nya semata. Kau lihat, seberapa jauh perbedaan kita. Aku terlalu berharga untuk di bandingkan, dengan sampah seperti mu. Sekarang pergi lah, sebelum aku yang memaksa mu keluar dari halaman rumah, pria ku!" Usir Lizzie kemudian berlalu pergi tanpa perduli tatapan membunuh Melissa juga tatapan bodoh Bern.


"Pergilah! kehadiran mu sudah tidak di terima di sini atau di manapun aku berada." Bern menutup pintu dengan kasar, tanpa mau mendengar apapun lagi dadi mulut mantan istrinya. Melissa menendang pintu rumah Bern berkali-kali untuk meluapkan emosi nya. Hingga akhirnya pergi karena merasa tidak di peduli kan lagi. Bern telah membuat harga diri nya terjun bebas tak bersisa.


Dengan langkah lebar, Bern menyusul Lizzie kembali ke kamar. Kata pria ku yang Lizzie ucapkan tadi, telah mengusik hati nya. Boleh kah dia berharap? pertanyaan bodoh itu bergelayut dalam benak nya sekarang.


Tok tok tok


Lizzie tersenyum miring, dia tau kalimat asal nya akan membuat pria itu mengejar nya setelah ini.

__ADS_1


"Masuk lah, pintu tidak ku kunci." seru Lizzie dari dalam kamar, Bern masuk dan langsung memalingkan wajah nya ke arah balkon. Lizzie hanya mengenakan dalam*an, gadis itu terlihat mengoles semacam saleb luka pada luka nya yang bahkan sudah tertutup sempurna.


"Kenapa wajah dan telinga mu memerah, Bern ? apa suhu kamar ini kurang dingin? padahal aku sedang sangat kedinginan sekarang." Gumam Lizzie terlihat polos . Bern berdecak mendengar kalimat sok polos Lizzie.


"Duduk di sini Bern, oles luka lebam di punggung ku" titah Lizzie menepuk sisi ranjang agar Bern mendekati nya. Mau tak mau Bern menghampiri ranjang Lizzie, meski sesuatu yang lain tengah berontak dalam dirinya.


Bern mendudukkan diri nya ke ranjang dengan sedikit hempasan kasar "mana saleb nya?" Ucap Bern singkat.


"Ini, tolong kondisi mata mu. Cukup fokus pada lebam nya saja, karena bagian tubuh ku yang lain masih mulus." Ucap Lizzie santai tanpa menoleh.


"Ck! aku bahkan tidak tertarik untuk melihat kulit tubuh mu" sanggah Bern menyelamatkan harga diri nya. Bern mengoles pelan cream saleb ke punggung Lizzie, tangan nya sedikit bergetar, meski terlihat lebam. Namun kemulusan kulit gadis itu, mampu membangkitkan junior nya di bawah sana. Apa kabar jika diri nya menyentuh bagian mulus lain nya, yang tidak terdapat lebam di sana. Mungkin junior laknatnya akan langsung memuntahkan lahar nya tanpa tau malu.


"Cih, kau ini. Aku hanya terlalu perlahan agar kau tidak kesakitan, jangan suka menuduh ku yang tidak-tidak!" Sergah Bern dengan wajah semakin memerah, akan sangat sulit beranjak dari sana dengan kondisi junior nya yang tengah tegak menjulang.


"Aku hanya mengingat kan, bukan kah para pria bisa melakukan nya hanya dengan naluri mereka. Aku hanya mengantisipasi keadaan, bisa saja kau menjilati ludah mu sendiri. Mana aku tau, kan?" ujar Lizzie enteng. Gadis itu beranjak dari ranjang dengan hanya mengenakan pakaian dalam, lalu menuju kamar mandi.


Sepergi nya Lizzie ke kamar mandi, Bern meraup wajahnya kasar. "Apa kau selalu membuat para pria tersiksa seperti ini, nona Lizzie " ucap nya frustasi "dan kau, kenapa begitu murahan sekali. Bisa-bisa nya kau berdiri tegak tanpa aku minta, dasar benda kurang belaian. Kita sama-sama kesepian, jadi tolong, bekerja samalah dengan baik. Kau tau gadis itu mulut nya tajam seperti belati, kau bisa terpotong karena begitu mudah tergoda dengan kulit mulus nya." Celoteh Bern panjang lebar pada junior nya. Lizzie berusaha keras menahan tawa dari balik pintu kamar mandi. Dia tidak akan mandi, hanya ingin berganti pakaian. Karena hari ini, dia sudah memutuskan untuk pergi dari sana. Ujung misi nya tinggal beberapa hari lagi, dan sekelebat penglihatan buruk sudah memenuhi seluruh pikiran nya.

__ADS_1


Bern adalah takdir lain yang di siapkan untuk mengisi perjalanan takdir nya. Dia tidak ingin pria baik itu terlibat terlalu jauh dalam takdir nya.


klek


"Ku pikir kau sudah pergi?" ucap Lizzie acuh. Gadis itu mulai merapikan isi ransel nya. Tak lupa saleb ajaib nya selalu dia bawa kemana pun dia pergi.


"Kau akan pergi?" tanya Bern terlihat sedikit gusar.


"Ya. Aku rasa sudah cukup merepotkan mu dua hari ini, terimakasih sudah merawat ku dengan baik. Aku akan terus mengingat kebaikan mu, Bern. Soal mantan istrimu, aku minta maaf, jika sedikit lancang mencampuri sesuatu yang bukan urusan ku." Ujar Lizzie menatap Bern sambil tersenyum simpul. Bern terpesona, senyum itu begitu samar. Namun mampu meluluh lantakkan pertahanan hatinya.


"Tapi kau belum pulih benar, bertahan lah beberapa hari lagi. Aku tidak merasa di repotkan. Kehadiran mu sedikit menghibur pria kesepian ini." Kekeh Bern hambar, entah kenapa hati nya tak rela jika Lizzie pergi begitu cepat.


"Kau mungkin tidak keberatan, tapi waktu ku yang tidak mendukung ku untuk berlama-lama di sini. Aku punya sedikit urusan lain, jadi maaf, jika kau akan menjadi pria kesepian lagi tanpa suara ocehan ku." Balas Lizzie tertawa kecil. Ranselnya sudah dia sampirkan di bahunya, menandakan jika dia akan segera pergi.


"Biarkan aku yang mengantar mu, dengan begitu aku bisa sedikit tenang. Kau pergi dari rumah ku, jika terjadi sesuatu pada mu, orang-orang pasti akan mencariku." Kilah Bern agar Lizzie membiarkannya mengantar gadis itu pergi ke tujuan nya.


Setelah berpikir sejenak, Lizzie akhirnya mengangguk. Bern nyaris melompat karena kesenangan.

__ADS_1


"baik, ayo." Ajak Bern penuh semangat, paling tidak dia akan tau, kemana tujuan gadis itu nanti. Begitu lah pikirnya.


Satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di tujuan. Suasana hati Bern semakin kusut, kenapa harus ada pertemuan pikir nya. Dia benci perpisahan, benci saat gadis itu sudah berhasil mencuri habis hati dan fokus nya.


__ADS_2