Darkest Dream

Darkest Dream
Otak mesum S2


__ADS_3

Di sebuah rumah mewah di Los Angeles, seorang wanita baru saja menyelesaikan tugas terakhir nya. Pengabdian nya di anggap selesai, dan kini dirinya akan segera pergi dari sana.


"Apa kau yakin akan pergi? Padahal tidak lah masalah jika kau ingin tinggal di sini, Qyu pasti akan senang." Ujar seorang wanita paruh baya memandang sendu ke arah Sofi.


Sofi tersenyum simpul. "Aku tidak bisa meski pun hati ku ingin. Kehidupan pewaris lain sedang membutuhkan ku sekarang, aku harus tetap pergi. Takdir ku di sini hanya lah untuk sementara, anda tau itu, nyonya." Terang Sofi menatap sang nyonya abdi nya. Sofi mengabdikan bakti nya pada klan pewaris darah murni lain, keluarganya Hernandez. Keluarga itu memiliki seorang putri, yang memiliki keajaiban yang sama seperti nona muda nya dulu. Takdir membawa nya ke sana karena sebuah ketidaksengajaan. Pertemuan mereka terjadi karena putri keluarga Hernandez menginginkan Sofi sebagai pengasuh nya. Entah bagaimana gadis kecil berusia 4 tahun itu bisa tau, jika sofi, adalah seorang servidor.


Pertemuan itu terjadi di sebuah minimarket, saat Sofi menemani Kalila istri jeff berbelanja. Jeff dan kalila pun tidak keberatan. Dan di keluarga Hernandez lah, akhirnya Sofi mengabdi kan dirinya.


"Aku mengerti, hanya saja... masih berat rasa nya melepas mu pergi. Kau sudah seperti adik bagi ku dan Ed. Memikirkan takdir putri ku, hati ku menjadi tidak tenang. Andai dia tidak mewarisi kutukan itu..." Viya menangis terisak, dia masih belum menerima, jika putri keduanya harus mengemban tugas sebagai seorang pewaris darah murni.


Sofi memeluk majikan nya, dia pun tak mampu berkata apapun. Tugas nya sudah selesai, Qyu sang nona muda sudah mampu mandiri. Dan tugas pokok nya kini sedang memanggil.


"Semua sudah jalan takdir nyonya, sekeras apa pun anda menolak nya. Qyura akan tetap menghadapi garis takdir klan nya. Nona muda akan baik-baik saja, mereka memiliki seorang panglima perang yang hebat." Hibur Sofi menenangkan hati sang nyonya.


"Kau benar, bagaimana aku bisa melupakan nya." Viya melerai pelukan mereka dan mengusap air mata nya.


"Kau yakin tak ingin ku antar ke stasiun ? ayo lah, aku masih merindukan mu. Sepanjang jalan kita bisa sambil mengobrol." Tawar Viya sekali lagi. Mata nya menatap Sofi penuh harap.


"Baik lah nyonya, jika anda memaksa." Sofi akhirnya mengalah.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Suara alarm terus berbunyi, membuat seisi gedung rahasia itu terlihat kacau. Kepanikan membuat semua orang berlari keluar dan saling bertabrakan satu sama lain.


"Seperti nya ada yang salah dengan sistem alarm ini, Deren. Kau lihat? tidak terjadi apapun di dalam gedung itu." Tunjuk Gerald ke sebuah jendela yang mengarah ke ruangan khusus.


"Kau benar " balas Deren dengan nafas yang masih ngos-ngosan. Mereka langsung berlari keluar, setelah mengaman kan ruangan khusus tadi.


"Tuan, kami tidak menemukan indikasi akan ada nya kebocoran gas di dalam. Mungkin sistem alarm nya sedang eror." Lapor seorang petugas keamanan.


"Baiklah, kalau begitu segera aman kan area khusus. Perhatikan siapa saja yang keluar dan masuk di dekat area tersebut." Titah Deren dengan nada serius, seolah ada sesuatu yang akan terjadi di area yang baru saja dia sebut kan itu.


"Baik tuan, keamanan sudah kami siaga kan di sana. Kami menambah kan 2 orang untuk berjaga di sisi Utara." Terang petugas keamanan tersebut.

__ADS_1


"Baik, lanjut kan pekerjaan kalian. Oya, katakan pada yang lain, semua sudah aman terkendali Lewat sistem pengeras suara." Ujar Deren kembali memerintah. Petugas tersebut hanya mengangguk kemudian berlalu pergi.


"Ini aneh. Dan ini untuk yang pertama kali nya." Keluh Deren masih heran akan situasi yang batu saja terjadi.


"Kau dengar tadi, mungkin saja memang sistem alarm nya bermasalah. Maklum, barang tua. Butuh perbaikan atau mungkin pergantian." Ucap Gerald menenangkan rekan nya. Kedua nya kembali masuk ke dalam gedung dengan perasaan berkecamuk. Deren dengan segala keraguan nya, Gerald dengan segala sikap tenang dan positif terhadap keadaan yang terjadi.


Sesampainya mereka di dalam ruang gedung, ada beberapa orang penjaga sudah bersiaga di depan pintu khusus tersebut.


"Apa kalian berjaga di sini setelah alarm berbunyi atau bagaimana ?" tanya Deren memastikan.


"Kami masuk ketika alarm mulai berbunyi tuan, mungkin 1-2 dua menit setelah nya." Jelas salah seorang penjaga mewakili rekan-rekan nya.


"Baiklah, aku mau masuk. Pasien kami tinggal kan dalam kondisi belum sepenuhnya selesai di periksa." Jelas Deren memaparkan maksud nya.


"Silah kan tuan." Ucap seorang penjaga mempersilah kan Deren dan Gerald untuk masuk. Setelah masuk, kedua nya langsung bergegas menuju lorong, yang mengarah ke sebuah ruangan steril sebelum memasuki ruangan, di mana ada dua pasien terbaring koma di sana.


Saat pintu terakhir di dorong, keduanya di buat terkejut bukan main. Saat melihat siapa yang tengah berdiri di antara dua ranjang yang terlihat mengapit tubuh kecil nya.


"Apa yang anda lakukan di ruangan ini nona?!" seru Deren mengeluarkan senjata nya mengarah kan tepat ke kepala Lizzie. Lizzie membuka matanya perlahan, diri nya sedang sangat kelelahan. Hampir separuh energi nya, dia berikan kepada kedua pasien tersebut. Dalam keadaan membelakangi pintu masuk, Lizzie tersenyum miring. Dia tau kini kepala nya sedang di todong senjata dari jarak kurang lebih 5 meter.


"Siapa kau? apa yang kau lakukan pada pasien ku?" Cecar Deren tak sabar, dia mengabaikan perkataan Lizzie walau dia juga penasaran. Bagaimana gadis itu bisa masuk ke sana tanpa terdeteksi oleh sinar inframerah juga kamera pengawas.


"Aku butuh bantuan, bisa kah memberikan sedikit belas kasihan pada gadis lemah ini?" ujar Lizzie terlihat memelas. Setelah berucap seperti itu, tubuh nya ambruk di antara kedua ranjang pasien tersebut.


Gerald bergerak cepat untuk menolong gadis itu, meski Deren sudah mencegah nya.


"Kita harus menolong nya terlebih dahulu, jika kita ingin tau apa tujuan gadis ini kemari." Jelas Gerald menatap Deren memohon pengertian. Kedua tangan nya sudah menopang tubuh lemah Lizzie, Lizzie terserang demam akibat kehabisan tenaga nya.


Deren mendengus kesal lalu mempersilah kan Gerald membawa tubuh lemah Lizzie keluar.


"Jika gadis ini membuat ulah kembali, aku sendiri yang akan mengirim nya ke neraka." Ketus Deren menatap jengkel pada rekan nya.


"Kita tolong saja dulu, kondisi nya masih belum cukup mungkin untuk berbuat ulah sekarang." Kekeh Gerald sedikit kewalahan membawa tubuh Lizzie. "Apa gadis ini makan batu? bobotnya terasa berat sekali, padahal lihat ukuran tubuh nya. Hanya sebesar anak balita" kelakar Gerald mencair kan suasana. Walau sebenarnya Lizzie tidak lah seberat itu, namun jika menggendong nya sejauh jarak mereka sekarang. Maka cukup lumayan melelahkan juga.

__ADS_1


"Tidak lucu G!" sarkas Deren kesal. Gerald semakin tergelak, membuat nya sedikit keteteran menopang bobot tubuh Lizzie akibat terus tertawa.


"Kau mau menyelamatkan nya atau membuat nya mati terjatuh ke lantai, sih? kemarikan!" Dengan sedikit sentakan kasar, Deren mengambil tubuh Lizzie dari gendongan Gerald.


"Terimakasih dude, coba sejak tadi. Kau ini, dasar tidak pengertian." Keluh Gerald memijit lengan nya yang pegal sambil terus mengikuti langkah Deren dari samping.


"CK! kalau tidak ingat sisi kemanusiaan ku, sudah ku buang gadis ini ke selokan." Sengit Deren dengan nada jengkel.


Setelah hampir 6 menit berjalan memutar, mereka sampai di sebuah ruangan. Tubuh Lizzie di baring kan di sebuah brankar, lalu mulai di periksa oleh Gerald. Saat akan memasang stetoskop di dada Lizzie, tanpa sengaja Gerald tersingkap kerah baju Lizzie ke samping. Gerakan tangan nya terhenti di udara, dada nya berdegup kencang layak nya orang habis maraton ribuan mil. Bukan karena dada mulus Lizzie, pemandangan seperti itu sudah biasa dia lihat. Baik dalam masa bakti nya sebagai seorang dokter, maupun kehidupan pribadi nya.


Namun tanda biru di bawah tulang selangka Lizzie, itulah yang membuat nya bersyukur telah segera menyelamatkan gadis itu.


Gerald menoleh ke arah Deren yang sibuk sendiri dengan ponsel nya tanpa peduli bagaimana kondisi Lizzie.


"Kau harus bersyukur sudah pernah menyentuh tubuhnya juga menggendong nya, D. Kita terberkati. Coba mendekatlah kemari, kau akan bersujud syukur setelah nya." Ucap Gerald membuat Deren mau tak mau mendongak. Dahinya mengerut heran mendengar kalimat ganjil rekan nya tersebut.


"Apa setelah menolong nya otak mu sedikit geser? periksa dia segera, jika tidak terlalu berbahaya, lekas suruh orang menyingkirkan nya. Aku tidak ingin menambah pekerjaan ku, kita sudah cukup di buat stress dengan dua pasien yang tidak kunjung ingat jalan pulang mereka." Ketus Deren tanpa peduli tatapan putus asa Gerald.


Gerald menarik nafas panjang, teman nya sangat susah untuk menaruh rasa empati pada orang yang dia anggap mengganggu pekerjaan nya. Gadis itu sudah berani masuk ke ruangan khusus tanpa ijin. Dan itu membuat Deren marah, dia yakin pekerjaan nya akan bertambah karena ulah gadis pengacau itu.


"Cobalah kemari, D. Kau akan menyesal jika menolak ku kali ini." Gerald menggeser tubuhnya agar Deren segera menghampiri ranjang pasien tersebut. Dengan malas Deren beranjak menuju ranjang yang di tempati oleh Lizzie.


"Apa yang menarik dari nya? apa kau ingin aku bercinta dengan nya untuk melampiaskan rasa kesalku, begitu ? Baiklah, keluar sana. Aku masih punya harga diri untuk tidak bercinta secara live untuk kau tonton gratis." Ucap Deren asal. Sebuah timpukan mengenai kepala bagian belakang nya, Deren mengaduh sakit lalu menatap horor pada Gerald.


"G! apa kau sudah gila hah? kepala ku ini aset berharga jika saja kau lupa!" teriak Deren marah. Tangan nya masih sibuk mengusap kepala nya yang terasa benjol di sana.


"Lihatlah dulu, brengsek!" Gerald menari kerah kaos Lizzie sedikit ke bawah. Deren menatap sekilas lalu melengos. "Astaga... lihatlah dulu bajingan!" kesabaran Gerald sudah berada di ujung ubun-ubun nya menghadapi tingkah kekanakan sahabat nya itu.


"Kenapa kau terus memakai ku!" Bentak Deren tak terima. "Baiklah, aku akan melihat nya. Sebesar apa buah dada nya sampai kau sangat penting menyuruh ku untuk melihat." Deren si otak mesum mulai menoleh ke arah Lizzie, saat mata nya menatap ke arah di mana tangan Gerald menahan kerah baju tersebut. Mata nya terbelalak sempurna, tanda itu mengingat kan nya pada sesuatu.


Kini kedua nya saling melempar tatapan penuh arti.


"Tuan dan nyonya?" ucap mereka bersamaan, setelah itu kedua nya bergegas kembali ke ruangan khusus tadi tanpa berbicara apapun lagi. Pikiran keduanya berkecamuk kacau.

__ADS_1


Klek


__ADS_2