
Berea menatap ke atas meja dengan tatapan tak bersemangat. "Apa kalian tidak ada makanan yang layak untuk di makan? aku pikir akan ada daging panggang dan kentang goreng. Apa perut kalian kenyang hanya di isi oleh minuman saja. Ck! Dasar orang kaya pelit.." Gerutu Berea menatap tumpukan minuman beralkohol juga bersoda di atas meja di tepi kolam renang.
Grend menyahut cepat, dia tak ingin Berea merasa bosan di rumah nya. "Tentu saja ada, sebentar aku suruh antar kemari," Grend meraih gagang telpon untuk meminta pesanan makanan yang Berea ingin kan, meski dia sendiri tidak tau makanan tersebut ada atau tidak.
"Tunggu lah sebentar lagi, makanan akan segera datang. Helen, ayo duduk lah di sana." Grend meraih lengan Helen membawa duduk di sofa yang hanya muat dua orang saja.
Dom mencibir melihat sikap sahabat nya yang sangat bertolak belakang tersebut.
"Kenapa kau tidak menghidangkan pada kami jika ada makanan. Kau membuat ku kembung sejak tadi." Omel Dom tak terima, sahabat nya terlihat pilih kasih.
"Kau tidak meminta nya, Berea kan meminta tentu saja aku hidangkan." Elak Grend tak ingin di salah kan.
Dom kembali mencebik kesal, "sahabat macam apa kau ini..!" ujar Dom dongkol. Pria itu kembali berenang dengan perasaan kesal maksimal.
Sementara di sudut lain, di sebuah kamar yang di peruntukan bagi tamu yang menginap. Dua insan saling berbagi peluh dan lenguh.
Linda menghentikan langkahnya saat tanpa sengaja sayup-sayup dia mendengar suara tak biasa dari arah bawah tangga. Di mana ada sebuah kamar tamu di sana. Dengan langkah pelan, gadis itu mulai menjinjitkan kedua kaki nya agar tak mengeluarkan suara derap langkah.
Mulut Linda menganga lebar, saat melihat bagaimana kekasih nya tengah bermain akrobat bersama sang sahabat dari arah belakang. Bukan perkara cemburu, namun ini adalah kesempatan nya untuk menjatuhkan sang sahabat laknat tersebut.
Melalui celah pintu kamar yang sedikit terbuka. Tangan nya mulai membuka aplikasi kamera video, merekam adegan demi adegan dengan santai tanpa sedikitpun merasa kan sakit hati. Senyum miring tercetak jelas di bibir nya, saat mendengar suara laknat Rosa. Sahabat nya itu bahkan tidak mengenakan apapun di tubuh nya, berbeda dengan Andy. Pria itu hanya menaikkan kaos nya hingga dada.
Era*ngan panjang menandakan jika aktivitas penuh peluh tersebut telah usai, nafas kedua nya memburu. Rosa terkulai lemas ke atas meja dalam keadaan telungkup, Andy memakai pakaian nya kembali lalu memakai kan dress Rosa.
"Pakai pakaian mu, kita harus segera kembali sebelum semua orang menyadari ketiadaan kita di sana." Ujar Andy setelah berhasil mengatur alur nafasnya dengan baik.
"Kau duluan saja, lutut ku masih lemah, kau menghajar ku seperti orang kerasukan." Omel Rosa masih menelungkup kan tubuhnya karena kelelahan.
Andy terkekeh pelan, mendengar nada protes dari Rosa. "Bukankah kau selalu suka jika bermain kasar dan lama? aku hanya mengikuti alur mu, aku juga menikmati nya. Kau nikmat baby. Aku menyukai gaya liar mu saat kita bermain, Linda terlalu membosankan. Terlalu banyak mengatur, aku merasa menjadi pria lemah di hadapan nya." Ungkap Andy mencurahkan isi hati nya.
__ADS_1
"Ah ya, terimakasih sekali lagi sudah mau menampung benih ku di dalam sini " Andy meremas pelan area lembab Rosa hingga gadis itu kembali mengeluarkan suara biadab. "Kau sungguh liar, nanti sepulang dari sini aku akan menginap di apartemen mu lagi. Kita bisa berc*inta sepotong malam ini hingga besok." Setelah mengatakan hal-hal vulgar, Andy meninggalkan Rosa yang masih tak berdaya. Mereka berc*inta sejak dari lorong taman belakang hingga ke kamar bawah tangga tersebut, tentu saja sangat melelah kan. Kedua nya bahkan lupa jika di rumah itu terpasang banyak cctv.
Linda bersembunyi di balik punggung sofa, setelah Andy pergi dia pun segera menyusul melalu jalur lain.
"Kau ingin tambah lagi?" Helen menggeleng pelan, dia masih ingin hanya saja dia berusaha menjaga image nya. Dia tak ingin membuat Berea dan Zion malu akan sikap nya yang terlihat rakus.
"Tambah saja, aku sudah terlanjur memotong nya untuk mu. Ayo, buka mulut mu lagi..." titah Grend tak ingin di bantah, Helen menoleh sejenak ke arah Berea yang terlihat cuek sambil memakan daging panggang nya. Begitu juga Zion yang sedang menikmati Coca cola dan kentang goreng milik nya.
"Berea tidak akan memarahi mu, ayo buka mulut mu..." ujar Grend lagi, Helen mau tak mau membuka mulut nya.
"Ini kentang goreng nya, aaa..." Grend begitu asyik menyuapi Helen sampai lupa menyuapi diri nya sendiri. Malam ini dia sangat bahagia, namun ada setitik penyesalan di hati nya saat mengingat diri nya hampir saja bercinta dengan Rosa tadi. Dia hanya merasa putus asa karena Helen menolak nya.
"Kau suka?" ulang Grend. Helen mengangguk pelan.
"Aku suka, aku jarang makan daging. Apa saja jenis masakan nya akan selalu terasa enak di lidah ku. Aku penyuka semua jenis makanan." Ucap Helen jujur.
"Jadi jika batu dan kayu bisa di masak, kau akan menyukainya juga, begitu?" celetuk Marcia mengacaukan momen romantis tersebut dengan senyum mengejek. Dom menarik pergelangan kekasih nya dengan panik.
Grend menatap tak suka pada Marcia, tatapan menghunus bagai mata pedang. Dia tak suka ada yang meledek gadis yang dia sukai.
"Seperti nya makananmu kurang banyak Grend, lihatlah nona Marcia. Mulut nya masih lapang untuk mengucapkan kata-kata tak enak di dengar. Aku sangat ingin menyumpal nya dengan seloyang daging panggang, agar kicauan nya tak mengusik ketenangan makan malam ku." Ujar Berea menyeringai ke arah Marcia, membuat gadis itu meringis ngeri.
"Jangan dengar kan dia, nikmati makanan mu Berea. Jika kurang kau bisa memesan nya lagi," Tukas Grend memberikan tatapan penuh peringatan pada Dom, agar segera menangani mulut sang kekasih. Dom yang tanggap segera membawa Marcia ke sisi lain, untuk menjauh. Meski gadis itu sedikit berontak tak terima.
Linda sampai terlebih dahulu, tak lama di susul oleh Andy dari sisi lain.
"Kalian kenapa datang dari arah berlawanan ?" tanya Dom heran, Andy menatap kekasihnya juga dengan tatapan heran.
"Aku mencari Andy dan tak menemukan nya di manapun. Jadi aku memutuskan untuk berkeliling saja." Sahut Linda seolah tak pernah terjadi apapun. Andy menarik nafas lega lalu menghampiri sang kekasih dan merangkul nya mesra. Ingin sekali Linda mendorong tubuh Andy ke dalam kolam lalu mengikat tubuh pria itu dengan tambang dan batu.
__ADS_1
"Maaf, tadi perutku sedikit merasa tak enak. Jadi aku terlalu lama di toilet," Linda tersenyum penuh arti, sayang nya Andy tak dapat menangkap maksud senyum devil tersebut.
"Tidak apa-apa, kalau begitu tidak perlu mengantar ku nanti. Aku bisa pulang menumpang pada Dom dan Marcia. Apa kalian keberatan?" tanya Linda basa-basi.
"Tentu saja tidak. Kau juga bisa menginap di rumah ku malam ini." Marcia menyambut girang ucapan Linda. Linda tersenyum kaku, dia tak berniat untuk menumpang mobil apalagi menginap. Dia punya misi lain, namun karena tidak ingin membuat Andy curiga. Akhirnya Linda hanya bisa mengiya kan saja.
"Kemana Rosa? Grend, apa setelah kalian berc*inta kau membuat sahabat ku tidak bisa berjalan lagi? kau benar-benar sangat buas rupanya." Seru Marcia menatap sinis ke arah Helen. Grend kalang kabut lalu menatap manik Helen dalam.
"Aku..tidak melakukan apapun tadi, aku bersumpah." Ujar Grend dengan nada pelan, pria itu seolah sedang tertangkap basah oleh kekasihnya.
"Itu urusan mu, kenapa kau bersusah-payah menjelaskan nya padaku. Aku hanya memenuhi undangan mu saja, agar aku tak merasa berhutang apapun padamu." Tukas Helen tenang, walau hatinya tak baik-baik saja.
Wajah Grend semakin panik, sikap tenang Helen membuat ketenangan jiwa nya kalang kabut tak karuan.
"Helen, bukan kah kau harus cepat pulang. Ayo, aku sudah kenyang. Grend, terimakasih atas jamuan nya. Dagingnya enak, sering-sering lah mengundang kami. Aku selalu suka makanan gratis." Zion mendengus mendengar kalimat menyedihkan sahabat nya.
"Kau seperti anak orang melarat saja, setiap hari kau bisa memakan daging jika kau mau. Jangan membuat kekayaan orang tua mu menangis pilu karena kau lebih suka makan makanan gratis." Celetuk Zion menasehati dengan nada dongkol. Berea terkekeh kecil, satu tangan nya meraih sisa potongan daging yang baru saja akan di sambar oleh Andy.
"Upz.!! maaf, kau kalah cepat bung.." ejek Berea kemudian melahap daging tersebut dengan gaya tengil. Andy mengertak kan gigi nya menahan marah sekaligus merasa dipermalukan oleh Berea.
"Aku akan mengantar mu pulang," tawar Grend menyela, dia masih ingin berdua dengan Helen, untuk memastikan arah hati nya.
"Tidak perlu, lagipula aku akan menginap di rumah Berea malam ini." Potong Helen cepat.
"Ide bagus, aku dan Zion ada sedikit urusan mendadak. Grend, tolong antar Helen ke rumah ku. Akan aku kirim kan alamat nya pada mu. Berikan nomor ponsel mu pada ku." Grend segera memberikan nomor ponsel mya dengan penuh semangat, berbeda dengan Helen yang mulai gelisah.
"Baiklah, kami pergi duluan. Berhati-hati lah, jangan macam-macam pada teman ku. Atau kau akan berakhir di peti jenazah besok pagi." Peringatan Berea membuat Grend dan teman-teman merinding ngeri.
Di balik senyum manis Berea, tersimpan sebuah misi rahasia.
__ADS_1