
Sesuai perhitungan, letusan pertama, keduanya segera berpindah tempat. Dan ya, Morgan dapat melihat dengan jelas pertarungan sengit kakak nya. Kamera nya sudah dalam posisi merekam. Namun sanking asyik merekam, Morgan tak lagi memperhatikan apa yang dia rekam. Mata nya fokus menatap langsung adegan demi adegan sang kakak hampir tak berkedip.
"Astaga kak! lihat itu! ada anak-anak di dalam kontainer itu!" pekik Morgan tanpa sadar. Anak-anak itu di rantai di pergelangan tangan mereka masing-masing, lalu saling menyambung pada teman-teman nya yang lain. Morgan menutup mulutnya tak percaya, iblis mana yang tega memperlakukan anak-anak seperti binatang.
Alex membidik kan senjata nya ke arah pria, yang terus menarik paksa ujung rantai dimana anak-anak itu terikat.
Wussh
Jantung Morgan di buat syok berkali-kali saat peluru sang kakak melewati persis di depan matanya.
"Kau ini kak, tidak bisa kah kau melihat posisi adik mu dulu. Bisa-bisa nya" omel Morgan mengelus dada nya yang masih berdebar.
"Kau lihat aku sedang membidik, artinya aku sedang ingin menembak seseorang. Kenapa kepala mu harus semaju itu, apa dengan begitu anak-anak itu akan bebas." Alex balas mengomel, lalu kembali membidik. Senjata nya dia pasangi dengan peredam suara, oleh sebab itu tidaklah bersuara.
Sementara pria yang tadi dia bidik, roh nya sedang berpindah ke alam lain. Anak-anak histeris, namun tak lama mereka terdiam, saat seseorang datang membebaskan cengkraman rantai di tangan mereka.
Gadis itu memberikan sebuah benda persegi berupa kompas "Ikuti sinyal ini, jika masih berkedip, maka arah kalian benar, jika tidak, kalian haru kembali ke posisi awal. Paham?" mereka semua mengangguk tanda mengerti. Lalu mulai berjalan mengikuti ujung kompas dan tak lupa memperhatikan lampu kecil yang terus berkedip.
Selesai membebaskan anak-anak, seseorang tadi mulai menelusuri sisi truk yang berjejer rapi. Mata nya fokus pada cahaya samar di atas gunung sebelah barat. Senyum nya terbit melihat kekonyolan adik-adik nya. Jika begitu, mereka akan cepat ketahuan. Tak ingin sampai kedua adik nya tertangkap, dia mengambil jalan pintas untuk segera membereskan tikus jalanan di sana.
Suara tembakan lain membuat Leah heran, tidak mungkin jika Alex menyusul nya. Matanya menatap bukit Kecil di sisi barat, lalu menghela nafas berat. Bisa-bisa nya Morgan menyalakan lampu kamera nya.
"Siapa orang gila yang menyela pertempuran ku" gerutu Leah mencari sumber tembakan yang terus bersahutan. Kilatan dari lesatan peluru bagai blitz.
Senyum Leah terbit saat melihat siapa orang gila yang ikut dalam pertarungan nya. "Aku tak tau kau akan menemukan aku secepat ini kak," Ujar Leah mulai mengarah kan ujung laras pistol nya pada musuh.
__ADS_1
Lizzie yang kehabisan amunisi, mulai terlihat lelah meladeni beberapa pria yang terus menyerangnya secara bertubi-tubi. Seakan tak memberikan sedikit pun celah pada nya untuk sekedar menghela nafas.
Leah meniup ujung pistol nya, lalu meninggalkan beberapa mayat bergelimpangan begitu saja. Dia ingin segera menemukan kakak nya, tak terdengar lagi suara tembakan bersahutan, hanya ada suara bidikan tembakan sesekali. Arti nya, kakak nya sedang di kepung, dan kakak nya itu pasti kehabisan amunisi nya.
Lizzie terpental ke dinding kontainer, darah segar keluar dari mulut nya. Namun tak sampai sekian detik, kekuatan nya pulih kembali. Sebenarnya Lizzie bisa saja menggunakan kekuatan nya, namun mengingat akan sangat memalukan, jika menghadapi tikus got harus sampai mengeluarkan semua kepunyaan nya.
Dor dor dor
Leah tersenyum miring melihat tersisa dua orang masih bertahan, sebenarnya sengaja dia sisakan sebagai mainan dirinya dan sang kakak. Melihat darah di sudut bibir Lizzie, emosi Leah seperti di sulut. Dengan kekuatan penuh, Leah menyerang satu pria yang sedang tidak fokus pada nya.
Beberapa tendangan dia hadiah kan dibeberapa bagian tubuh pria bajingan itu.
"Ini untuk luka kakak ku!" Bughh
"Ini untuk tetesan darah nya!" Bughh "ini karena sudah berani menyentuh nya!" Seru Leah penuh amarah. Bughh bugh bugh
"Sampaikan salam ku pada raja neraka! katakan, aku Leah, menantangnya!" Desis Leah menutup pertarungan dengan tendangan terakhir nya, hingga si pria rubuh sempurna di tanah.
Sementara rekan pria itu yang tengah menyerang Lizzie meneguk ludah nya kasar. Namun tetap dalam mode waspada, Lizzie terlihat sedikit lemah, karena sejak peluru nya habis, dia harus menggunakan kekuatan otot penuh menghadapi belasan orang sendirian.
"Kau menyerah paman ?" tanya Lizzie basa basi, atensi pria itu kembali fokus pada Lizzie.
"Cihh! dasar ja*lang kecil! aku tidak takut pada mu atau gadis itu " tunjuk nya menggunakan dagi nya dengan angkuh.
Leah sudah akan mengambil ancang-ancang, namun Lizzie mengangkat tangannya. menandakan jika itu adalah pertempuran nya, Leah mengalah dan duduk di atas kap mobil bekas. Menonton bagaimana sang kakak melawan anjing penjilat itu, dalam keadaan yang sudah sangat lemah.
__ADS_1
Tetesan darah dari balik baju Lizzie membuat Leah was-was, dia tidak tau jika sang kakak terluka. Namun melihat betapa gigih ya Lizzie menghadapi pria itu, dia tak ingin membuat kakaknya merasa di kasihani.
setelah hampir 5 menit, si Pria terduduk sambil memegang lehernya yang kini berada dalam jepitan lengan Lizzie.
"Aku ingin mengirim mu ke akhirat malam ini, sangat. Tapi mengingat jika putri mu sangat membutuhkan kehadiran mu disisi nya. Aku akan melepaskan mu, paman. Ini adalah kemurahan hati ku untuk kesekian kalinya untuk para bajingan seperti mu. Aku tau kau akan melepaskan pisaumu ke punggung ku saat aku melepaskan mu nanti, jadi rogoh pisaumu dan lempar ke arah adik ku. Karena jika dia yang melawan mu, aku jamin. Sekarang roh mu sedang bersiap angkat kaki dari tubuh penuh dosa mu ini. Aku kelelahan, kedinginan, aku... sekarat.. tolong bekerja sama lah.." Leah melihat gelagat tak biasa kakaknya segera menghampiri, buru-buru pria itu merogoh pisau dibalik pinggang nya dan melemparkannya ke arah kaki Leah.
Dia ketakutan akan perkataan Lizzie, entah bagaimana bisa gadis itu mengetahui isi pikiran nya. Dia benar-benar di landa ketakutan besar sekarang, apa lagi tatapan mata tajam Leah begitu mengerikan.
"Kau baik-baik saja kak?" tanya Leah sambil meraih pisau dari tanah. Lizzie hanya mengangguk lalu melepas belitan lengannya dari leher pria itu. Tubuh Lizzie ambruk ke tanah, rupanya Lizzie kehabisan banyak darah.
Leah segera menyingkir pria tadi dengan cara menendang nya kesamping.
"Kak? kau kenapa? jangan membuat ku takut, bertahan lah. Aku akan meminta Alex menjemput kita sekarang." Isak Leah terdengar begitu lirih di telinga Lizzie.
Leah menghubungi kedua adiknya agar segera menjemput mereka. Saat menyentuh luka diperut sang kakak, Leah mendapatkan penglihatan. Rupanya sang kakak lebih dulu melihat penglihatan itu, dimana kakak nya sudah mengetahui rencana penyergapan mereka. Dan seharus nya dia lah yang tertembak, dan bahkan tertangkap malam ini. Namun lagi-lagi Lizzie berhasil mengelabui takdir, kakaknya itu menukar nya dengan tetesan darah nya.
Leah menangis semakin keras, itulah Kenapa Lizzie tidak pernah mau jika mereka mengikuti jalan nya. Kakak nya tidak ingin kehilangan siapapun diantara mereka. Sementara si pria tak kunjung beranjak pergi, mata nya menatap lurus ke arah mata Lizzie yang tertutup. Mengingat kata-kata Lizzie soal putri nya, hati nya berdesir penuh penyesalan.
"Nona, aku bisa membawa kalian dengan truk ke rumah sakit" tawar nya dengan sedikit keberanian, namun tatapan membunuh Leah membuat nyali nya ciut. Tak lama suara decitan ban mobil terdengar, suara langkah kaki yang berlari ke arah mereka membuat kedua nya menoleh.
Ternyata Alex dan Morgan yang datang, "kak Lizzie ? bagaimana bisa?" ujar Alex penuh kebingungan, di benak nya tadi saat Leah menghubungi. Leah lah yang terluka dan butuh pertolongan nya, namun fakta membuatnya tercengang.
"Alex, bergegas lah. Kak Lizzie kehabisan banyak darah, hubungi paman Jeff setelah kita diperjalanan." Alex menggendong tubuh kakak nya lalu membaringkan di jok belakang, dengan paha Morgan sebagai bantalan.
Mereka pergi meninggalkan si pria yang juga mulai beranjak menuju truk, dia juga akan ke rumah sakit untuk menjenguk putri nya.
__ADS_1
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ