Darkest Dream

Darkest Dream
kejutan kecil


__ADS_3

"Aku harap fasilitas yang kau berikan, sekelas VVIP. Aku tidak suka kamar yang biasa-biasa saja." Ucap Ashley dengan nada pongah. Lizzie tersenyum miring, membuat sisi liar Ashley mulai tak tenang.


"Bibi tenang saja, rumah sederhana ku ini meski hanya memiliki 20 kamar. Ku rasa akan cukup membuat bibi tercengang kagum. Jadi nikmatilah fasilitas gratis dari ku. Aku sudah mengeluarkan uang tak sedikit untuk pendingin ruangan yang mampu membuat bibi tidur nyenyak hingga berhari-hari." Glek! 'sialan' maki Ashley dalam hati. Dia terjebak oleh kata-kata nya sendiri.


"Mom, dad. Kamar kalian persis di samping kamar putri ku, Berea. Aku harap kalian juga menyukai nya. Aku sendiri yang menyiapkan kamar itu, khusus untuk kedua kesayangan ku." Oh, lihatlah. Wanita itu begitu lembut pada kedua orang tua nya.


"Kak, kenapa kamar ku di lantai paling atas?" protes Leah tak terima. Dia sedikit ngeri dengan segala macam bentuk ornamen, yang di pajang di sepanjang lorong juga dinding lantai atas itu.


"Apa kau takut?" ejek Lizzie tersenyum simpul. Lembut sekali, seperti seorang peri kematian. Senyum menyebalkan di mata Ashley dan Leah.


"Siapa bilang!" sanggah Leah tak suka akan tuduhan sang kakak.


"Hanya saja terlalu jauh jika ingin turun kemari." Elak wanita itu tak mau terlihat lemah.


"Ada elevator, dik. Jangan berkata yang membuat ku seolah seperti orang tak punya." Balas Lizzie tersenyum angkuh. "Baiklah. Jadi kalian sudah tau kamar masing-masing, bukan? Soya, tolong antar keluarga ku ke kamarnya masing-masing. Kau ingat urutan nya, bukan?" tatapan penuh arti sang majikan membuat Soya mengangguk patuh.

__ADS_1


"Kau yakin Ingin memberikan sedikit kejutan pada bibi mu honey ?" setiba di kamar Bern langsung berubah menjadi selembut jelly. Menuruti apa saja dan melakukan tanpa di minta. Pria itu sungguh punya kepribadian ganda.


"Hanya sedikit sambutan selamat datang. Semoga bibi menyukai nya.." Lizzie berucap dengan tenang. Tangan kreatif sang suami sudah mulai bekerja giat kesana kemari. Pria itu seolah tak ada bosan nya melakukan kegiatan penuh lenguh tersebut setiap malam. Tidak kata absen bagi Bern. Kecuali lampu merah sedang menyala. Namun Lizzie selalu punya cara, untuk membuat Suami nya mengejang dan mengerang menyebut nama nya dengan racauan keras. Itulah yang membuat cinta pria itu semakin menggebu-gebu.


"Aku sangat merindukan milik mu, honey..." rayuan khas Bern mulai menguar. Merindukan? setiap malam pria itu selalu mendapat kan makanan penutup sebelum tidur. Dan Bern masih mengatakan sangat merindukan? benar-benar kebucinan yang hakiki.


"Bisa kau ganti kalimat mu dengan kalimat yang lebih membuat ku bergairah, dad..." bisik Lizzie di telinga sang suami dengan nada yang sangat sensual. Oh tidak! lihat bagian bawah pria itu semakin mengeras sempurna. Hanya mendengar suara bisikan istri nya saja, tubuh Bern sudah memanas.


"Oughh.. honey.. kau membuat otot-otot milik ku semakin tak tersentuh.. lihat dia honey... menjulang sempurna.." Lihatlah Bern sudah mulai meracau walau permainan baru akan di mulai.


Bern terkekeh parau, istri nya itu memang tak pernah berkata manis meski mereka sedang bercinta sekalipun. Itulah yang membuat nya semakin mencintai wanita itu setiap detiknya. Bukan nya dia tak tau, jika Alessandro masih gencar mencari sang istri. Pria dengan setumpuk penyesalan itu ingin mengambil kembali wanita yang sangat penting dalam hidup nya. Tentu saja Bern tak sebodoh itu. Bukan tanpa alasan Bern memperkaya diri nya, agar kekuasaan nya jauh melampaui apa yang Alessandro miliki.


Berkat bantuan sang paman tercinta, Bern memperoleh hak warisan nya dari kedua orang tua nya. Uang tak sedikit itu dia pergunakan sebaik mungkin. Ditambah lagi bantuan langsung dari Brian. Maka lengkaplah sudah kekayaan nya. Meski bukan kekayaan yang dia kejar. Dia hanya butuh kuasa di atas kekuasaan pria jahanam itu. Demi bisa mempertahankan sang istri juga putri tercinta nya. Berea adalah permata hati nya, dia adalah cinta pertama sang anak. Mereka memiliki ikatan batin yang kuat.


Kembali ke permainan penuh peluh, Bern lebih mendominasi permainan. Sudah satu jam berlalu, tenaga nya seolah tak mau padam. Hingga getar tubuh Lizzie yang menandakan kli*maks untuk kesekian kali nya. Bern pun bersiap untuk menembak kan amunisi cairnya. Tubuh kedua bergetar dsn mengejang hebat. Nafas memburu dsn saling berlomba mengakhiri pergulatan panas tersebut.

__ADS_1


",Kau hebat honey...kau selalu bisa mengimbangi permainan kita dengan sangat luar biasa...milik mu selalu yang terbaik, rasanya semakin membuat gila.." puji Bern sembari menciumi seluruh wajah sang istri penuh rasa. Begitu lah Bern, selalu ada pujian disetiap akhir sesi panas mereka.


"Aku melakukan perawatan mahal untuk bagian kesukaan mu ini, dad...jadi jangan heran, jika uang mu terkuras tak sedikit." Bern terkekeh kecil mendengar kalimat sang istri.


"tidak masalah..aku menyukai nya, jadi habiskan saja uang yang ada. Aku masih punya banyak pohon uang." Balas Bern pongah. "Apa milik ku masih segagah dulu honey..?" ada nada khawatir dari kalimat sang suami, Lizzie menatap netra yang selalu menatap nya penuh damba dan puja tersebut.


"Tentu saja...lihatlah..kau membuat nya lecet lagi malam ini." keluh Lizzie dengan wajah kesal. Bern tergelak renyah, dia melihat nya tadi namun tak bisa berhenti. Terlalu nikmat untuk dihentikan dengan cepat itulah yang dia pikir kan.


"Maaf honey.. berbaring lah seperti biasa. Aku akan mengobati nya..lagi." Lizzie mencebik mendengar kata terakhir sang suami. Bern berjalan menuju nakas untuk mengambil saleb luka. Dengan tubuh polos yang membuat jantung Lizzie berdetak tak karuan. Namun memiliki pengendalian diri yang cukup baik, membuat nya terlihat pongah meski sedang sangat ingin di sentuh.


"Buka kaki mu honey," titah Bern mulai membersihkan area basah tersebut, sebelum mengolesi luka lecet nya dengan begitu hati-hati. "Aku tak tau kenapa selalu tak bisa menahan diri pada mu honey..lihatlah, dia bahkan sudah berdiri tegak menantang sekarang." Keluh Bern menatap miris milik nya. Tatapan kedua nya bertemu, Lizzie segera mencari aman.


"Berikan ku jeda untuk memulihkan diri dad. Ayo, kita berpelukan saja." Ajak Lizzie menawarkan solusi lain. Milik nya masih berdenyut nyeri, dan lihat lah suami nya sudah menegak kembali. Dasar maniak. Umpat Lizzie dalam hati.


"Baiklah, aku ingin membersihkan sisa obat ditangan ku dulu." Bern beranjak ke kamar mandi untuk mencuci tangan nya, juga meredam milik nya dengan air dingin. Bern keluar setelah beberapa menit menidurkan junior nya. Rupa nya Bern langsung mandi. Lizzie menatap kasihan, namun dia juga tak mungkin memaksakan diri. Suaminya pun pasti tak akan tega, Bern selalu seperti itu. Meski sangat ingin melanjutkan ke sesi berikutnya, jika kondisi sang istri tak memungkinkan dia akan urung dan menahan nya dengan cara mandi air dingin.

__ADS_1


__ADS_2