Darkest Dream

Darkest Dream
Segumpal Dendam


__ADS_3

"Ah, maaf..ku pikir film kartun ini cukup menyedihkan. Bagaimana seekor kucing bisa di kalah kan oleh tikus kecil." Dengan sikap arogan nya, Lizzie menyeka sudut mata nya. Ashley menatap manik memerah itu dengan hati yang sesak. Entah berapa banyak luka tak kasat mata, yang telah di torehkan pada tubuh mungil di hadapan nya itu.


Lizzie adalah satu-satunya keponakan yang tak pernah bisa dia jangkau, meski hati nya sangat menyayangi wanita itu. Lizzie mampu menutupi segala bentuk kesakitan nya dengan sangat sempurna.


"Katakan sesuatu, agar air mata mu itu tidak keluar sia-sia," Ashley berujar dengan nada datar seperti biasa. Sungguh kalimat penuh perhatian yang memukau.


"Apa kalian begitu penasaran akan cerita kecil ku, bibi..." goda Lizzie memainkan kedua alisnya dengan gaya menyebalkan.


"Kata kan saja kak! aku harus segera kembali ke kamar, atau suami ku bisa terbujur kaku tanpa ku di samping nya." Ketus Leah mulai tak sabar. Dia tau ada sesuatu hal yang besar yang ingin sang kakak sampai kan pada mereka. Jika tidak, kakak nya tidak mungkin menggunakan cara yang heroik untuk membuat mereka berpisah sementara dari para pria. Karena hanya dengan cara itu, para lelaki pengabdi cinta itu pasti tidak akan berani protes, demi keselamatan masa depan masing-masing.


"Ck! kenapa tidak di berikan pelayanan maksimal sebelum kalian berdua menemui ku tadi." Decak Lizzie tanpa rasa bersalah sedikitpun. Delikan tajam kedua wanita beda generasi itu, seperti ujung mata pisau yang siap menghunus mulut Lizzie yang sangat pandai berkata-kata.


Kekehan Lizzie terdengar renyah namun mengandung makna tak dapat di jabarkan.


"Baiklah, seperti nya para pria di keluarga kita memang di kutuk, untuk menjadi pria pengabdi dengan tingkat kebodohan yang hakiki." Tawa Lizzie masih berlanjut, tawa penuh ironi yang syarat makna.


"Bisa kah kakak menghentikan tawa konyol mu itu. Tawa mu tak pernah mampu menutupi mendung, yang sedang menggantung di langit-langit mata mu itu!" Sarkas Leah tak tahan lagi. Mata nya sudah hampir menumpahkan tetesan air mata yang sekeras mungkin dia tahan sejak tadi.


"Katakan, takdir mana yang akan benar-benar membawa mu pergi dari kehidupan kami untuk selama nya." Ashley terkesiap, mematung dalam rasa terkejut nya. Apa yang sudah dia lewat kan. Bagaimana penglihatan itu luput dari pantauan nya.


"Kita masih punya banyak waktu beberapa bulan atau mungkin beberapa tahun ke depan. Selama putri ku masih berada di sekitar ku, arti nya. Kakak mu ini akan baik-baik saja. Jadi, boleh kah aku meminta sebuah permintaan sederhana pada mu dan bibi?" untuk pertama kali Lizzie meminta dengan nada yang terdengar penuh harapan.

__ADS_1


"Jika untuk menitipkan anak-anak mu, aku tidak bisa! anak-anak ku saja sudah membuat ku pusing. Jadi pastikan saja tak terjadi apapun padamu! jika kau ingin menitipkan suami mu yang tampan itu, mungkin akan aku pertimbangkan." Sungguh, berhadapan dengan Ashley benar-benar menguji kesabaran.


Namun tak ada yang memahami arti dari kalimat nyeleneh nya, mengandung perhatian dan kasih yang tak terungkap. Sebagaimana mesti nya orang yang tengah menyampaikan kalimat empati. Ashley selalu bersikap ketus, itu adalah salah satu cara untuk menutupi hati nya yang rapuh.


"Berea ku akan memenuhi takdir nya tepat di usia nya yang ke delapan belas tahun. Banyak hal yang akan putri ku itu hadapi. Termasuk pria jahanam itu.." kalimat penuh tekanan Lizzie terdengar bergetar, membuat sepasang mata di balik tembok itu memanas.


Ada darah yang menggumpal dalam hati nya, menjadi segumpal dendam yang tak akan pernah termaafkan. Tangan nya mengepal kuat, menyiratkan rasa sakit yang harus di bayar mahal oleh orang-orang yang telah menyakiti ibu nya di masa lalu.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Seorang pria tengah menatap sebuah pigura kecil berisi foto seorang wanita, yang sudah terlihat kumal dan ada beberapa bagian yang sudah robek.


"Apa sebenci itu kah kau padaku, hmm? kenapa harus pergi sangat jauh hanya untuk menghindari ku... kemana lagi aku harus mencari mu sweetie..?" wajah yang memiliki garis tegas dan tampan tersebut menyimpan berjuta penyesalan.


"Katakan hal baik, aku sudah lelah mendengar kata maaf.." kalimat yang sangat menakutkan bagi para anak buah nya. Namun hari ini terdengar begitu lirih dan nampak putus asa. Tatapan penuh harap juga kegetiran di saat bersamaan. Itu lah yang terlihat dari wajah sang tuan arogan.


"Kami sudah menemukan kota terkahir yang nyonya singgahi. Hanya saja... setelah dari sana, polisi itu menghapus semua jejak keberadaan nyonya juga..putri anda." Mata nya memanas menahan dorongan sesak yang menghimpit hati nurani nya. Sudah belasan tahun, bahkan rupa putri nya saja. Dia tidak mengetahui nya.


Ale tertawa penuh ironi, tawa yang menyimpan guratan luka yang begitu dalam. Andai? Andai waktu bisa dia putar kembali, hanya satu yang dia inginkan. Lizzie si gadis angkuh, dia tidak meminta hal lain lagi. Bahkan jika dia harus kehilangan seluruh milik nya yang berharga, Lizzie akan tetap menjadi pilihan nya.


Kini dia hanya bisa meratapi nasibnya, sikap arogan nya telah mengantar nya pada puncak kehancuran yang tak terelakkan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Pedro, aku tau kau sudah berusaha dengan sangat baik." Ale terdiam sejenak menatap kosong pada satu pigura lagi yang berisi sebuah foto ultrasonografi 4 dimensi. Terlihat bayi mungil tengah mengemut ibu jari nya dengan pose yang sangat menggemaskan. Senyum nya mengembang sempurna, hanya foto itu lah yang dia miliki. Entah orang baik mana yang dengan sengaja mengirimkan paket tak terduga dan tak bernama itu ke perusahaan nya.


Di foto kecil itu, tertera nama Lizzie sebagai ibu kandung nya. Itu adalah benih nya, bayi mungil itu adalah bukti nyata dari kebejatan nya di masa lalu. Namun dia sangat menginginkan nya, dia menyayangi nya meski tak sekalipun berjumpa. Dia harap, kelak hati putri nya mampu memaafkan juga menerima diri nya.


"Pergi lah, Ped. Kau boleh mengambil libur beberapa hari sampai aku menghubungi mu kembali. Pergunakan waktu mu bersama anak-anak mu." Titah Ale tak terbantahkan. Pria itu begitu berubah setelah apa yang dia alami belasan tahun yang lalu.


Di mana dia tau jika kedua orang tua nya masih hidup, juga pengorbanan kedua orang tua nya agar Lizzie dan ibunya selamat dari kecelakaan di masa lalu. Sungguh penyesalan Ale bagai pisau tajam yang siap menggores ulu hati nya lebih dalam.


"Saya permisi tuan, hubungi saya jika anda membutuhkan bantuan pria tua ini." Pedro pamit undur diri meninggalkan sang tuan dalam lamunan nya.


"Daddy sangat ingin berjumpa dengan mu, sweet heart. Kau dan ibu mu adalah permata hati Daddy. Baik-baik lah sampai saat Daddy menemukan kalian, dan membawa kalian kembali dalam hidup daddy kelak." Netra berkaca-kaca itu menatap lekat tanpa berkedip dua sosok yang sangat dia rindukan tersebut. Sosok yang hanya bisa dia lihat melalui sebuah potret. Namun cukup untuk mengobati kerinduan nya yang teramat sangat dalam.


Dua wanita yang telah menduduki tahta paling tinggi dalam kerajaan hati nya.


Kelak takdir akan membawa Ale pada kenyataan lain, begitu pun Lizzie serta Berea putri nya. Kehilangan akan menjadi pengantar pertemuan mereka di kemudian hari. Masa di mana Lizzie harus memulai kehidupan nya dari awal. Kehidupan yang telah dia bangun dengan penuh perjuangan, namun hancur oleh karena takdir masa lalu.


Bern akan menjadi kenangan terbaik yang mengisi hati nya hingga hembusan nafas terakhir nya di dunia. Bern adalah takdir lain yang mengisi kekosongan nya, Bern adalah pria gila dengan sejuta cara untuk menaklukkan dinding keras hati nya. Bern adalah cinta pertama putri nya, Berea. Bern adalah pria yang sempurna, di saat dia hanya lah sebutir debu tak berharga.


βˆ†Kisah Berea akan sedikit menguras kornea mata, kehidupan menjungkirbalikkan hati kedua wanita tangguh yang menjadi tokoh utama di dalam kisah ini. Dua wanita dengan miliyaran nyawa, meski harus di tukar dengan nyawa-nyawa orang-orang terkasih mereka.


βˆ†Andai ada yang bertanya, sebesar apakah cinta Lizzie kepada Bern. Jawaban nya sederhana, Lizzie menyayangi Bern dengan seluruh jiwa nya. Bern adalah kekasih halal yang menyentuh nya dengan triliunan cinta dan kasih sayang. Cinta bagi Lizzie adalah sebuah ungkapan, namun kasih sayang adalah bentuk dari sebuah ketulusan. Cinta bisa memudar seiring berjalannya waktu. Namun kasih sayang membuat seorang bajingan sekalipun, akan memahami arti kata tega dan tegas di waktu bersamaan.

__ADS_1


βˆ†Terus dukung author receh ini, beberapa jejak akan membuat sepotong hati mengembang sempurna. Terimakasih sudah menjadi pembaca setia hingga part ini. Sehat selalu para readers ku, juga sesama author terkasih πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ€πŸ€


__ADS_2