
Lizzie menatap lamat-lamat wajah ibunya yang tengah tertidur lelap. Terlihat gurat lelah tercetak jelas di wajah sang ibu, hati Lizzie berdenyut nyeri. 17 tahun bukanlah waktu yang singkat, dan selama itu pula, sang ibu sudah berjuang seorang diri dengan begitu keras dan sabar. Wanita itu bahkan tidak sekalipun mengeluhkan keadaan mereka yang selalu pas-pasan.
Sudah saatnya Lizzie membalikkan keadaan, tangan mungilnya meremat kertas yang tengah dia genggam. Ada perasaan sedih meninggalkan wanita yang sudah melahirkan nya itu. Namun inilah yang harus dia lakukan. Membawa kembali sang ayah dengan caranya sendiri, jika cara yang baik sudah tidak bisa lagi membuat keluarga kecil mereka bersatu. Maka cara kasar pun tidak masalah, akan dia lakukan dengan senang hati.
"Aku mencintaimu, mom. Bertahanlah sampai aku kembali, dan saat aku kembali, aku harap senyum mu pun akan kembali utuh. Akan ku rebut kembali kebahagiaan yang seharusnya mom dapat kan. Sudah terlalu lama, kita membiarkan mereka berbahagia di atas derita yang mereka tebar dalam hidup kita. Saatnya untuk melapas jala dan meraih Kembali, apa yang sudah para bajingan itu rampas dari mu. Aku mencintaimu, kedua adikku, dan juga dua adikku yang akan hadir nanti saat daddy Kembali. Aku sudah menulis nama-nama mereka dikertas ini, aku harap pengorbanan kecilku ini. Dapat mengembalikan semua senyum dan kebahagiaan semua orang dikeluarga kita. Love you forever, mom." Setitik air mata Lizzie terjatuh tanpa bisa dia cegah.
Bayangan tidak akan pernah bisa melihat wajah teduh Ibu nya, membuat hati Lizzie meringis sakit. Di usap nya air matanya dengan kasar, bukankah setiap perjuangan itu butuh pengorbanan? Kini saatnya dia yang melakukan sedikit pengorbanan itu, dia tau akhirnya akan sebanding. Dan dia tidak masalah untuk apapun yang akan terjadi terhadap dirinya sendiri.
Setelah meletakkan surat yang sudah terlihat sedikit kumal akibat remasan nya, Lizzie berbalik pergi meninggalkan kamar sang ibu. Gadis itu bahkan tidak menoleh lagi, dia tidak ingin hatinya kembali sakit. Saat melihat wajah teduh yang selalu menenangkan hatinya, namun diam-diam menyeka air matanya di sudut malam tanpa satu orang pun mengetahui nya.
Seperginya Lizzie, air mata Cloey mengalir deras tanpa suara. Isakan kecilnya dia redam dibalik ujung selimut yang kini tengah dia gigit keras untuk meredam suara pilunya. Cloey sudah bangun sejak pertama kali suara handle pintu terdengar, kebiasaan waspada Cloey hadir setelah kejadian belasan tahun lalu. Suara sekecil apapun akan langsung dia tangkap meski sedang terlelap sekalipun.
__ADS_1
Dia sengaja tidak bangun, karena ingin tau, kenapa di tengah malam buta bahkan hampir subuh. Putri nya menyambangi nya ke kamar, itu bukan kebiasaan Lizzie. Dan ya, hatinya ikut merasakan sakit berkali-kali lipat saat mendengar kalimat menyayat hati putri nya. Dia pikir selama ini, Lizzie kecilnya, sudah melupakan kejadian tragis itu. Ternyata dia salah, diam-diam, Lizzie nya menanggung segala duka hatinya seorang diri.
Dia tidak dapat mencegah putri nya pergi, ini sudah takdir sang anak. Jika kalian bertanya apakah Cloey tidak mengetahui tentang keajaiban putri? jawaban nya, tentu saja Cloey mengetahui nya. Namun sikapnya yang pura-pura polos ketika putri nya bersikap aneh, mampu mengelabui semua orang, termasuk suaminya.
Kejadian beberapa belas tahun yang lalu di toilet umum kala itu, Cloey mendapatkan penglihatan pertama nya.
Flashback
Di usapnya perut nya untuk memulihkan tubuhnya agar tenang, lau perlahan Cloey membuka pintu tersebut.
Sesaat setelah terbuka, seseorang mendorong pintu dengan kasar. Untung saja Cloey sudah bersiap dengan besi di tangannya. Dengan kekuatan penuh, Cloey menancap kan besi tersebut di dada kiri pria bertato tersebut. Beberapa detik pria itu mulai melemah, hingga tersungkur di muka pintu. Rupanya tusukan Cloey mengenai tepat di jantung nya.
__ADS_1
Dengan susah payah, Cloey menyeret tubuh pria tersebut keluar dari toilet menuju hutan dibelakang toilet itu. Setelah beberapa meter masuk ke dalam hutan, Cloey menimbun tubuh pria asing itu menggunakan daun-daun kering. Kemudian kembali ke dalam toilet seolah tak terjadi apa-apa. Dia sempat kaget saat melihat pengasuh sang anak yang tengah berdiri panik, menatap tetesan darah di lantai. Belum lagi kedua tangannya yang juga sedikit berdarah.
Namun sebisa mungkin Cloey bersikap tenang, "Kau kenapa, Sofi?" pertanyaan itu sebagai bentuk dari kegugupan Cloey yang berusaha di tekan. Namun Sofi hanya bergeming Tanpa menyahut apa-apa. Cloey bergegas mencuci tangannya sebelum mereka kembali ke restoran, tanpa berniat menjelaskan apapun pada gadis polos itu.
Cloey Kembali berkata "Sofi? kau sudah selesai? kita harus segera kembali" lagi-lagi Sofi tidak menjawab, hanya anggukan kecil yang dia perlihatkan. Cloey tidak ingin ambil pusing, kepalanya sendiri sudah cukup pusing dengan apa yang baru saja dia alami. Semenjak memasuki bulan ketujuh kehamilan nya, hidup tenang Cloey sedikit terusik.(Bab 16)
Berbagai penglihatan dia alami, bahkan dia merasa bisa berkomunikasi dengan putri nya, Lizzie tanpa harus terlibat obrolan langsung. Dan itu membuat nya sedikit frustasi.
Puncaknya sesaat sebelum tragedi penyerangan di Catalina, Cloey sudah mengetahuinya. Untuk itu dia bisa begitu ikhlas menerima takdir nya hingga kini, karena dia tau, suaminya pasti akan kembali padanya meski melalui pengorbanan putri kecilnya, Lizzie.
Namun penglihatan itu lenyap sesaat setelah dia melahirkan kedua anaknya, Cloey yakin, salah satu dari anak-anaknya lah, yang memiliki keajaiban yang dia 'pinjam' selama kehamilan nya dua bulan terakhir ini.
__ADS_1
Kalian ingat saat Lizzie berkata pada ayahnya, jika Leon tidak akan ada didunia ini jika bukan karena keajaiban yang dimiliki adiknya, Leah. Ya, seharusnya Leon meninggal sesaat di tusuk pisau saat di toilet umum waktu itu. Namun keajaiban Leah lah, yang membuat Cloey bisa bersikap impulsif saat itu (bab 21 "Ajaib"). Dan dari semua rentetan kejadian-kejadian itu, jelas bahwa putrinya Leah, juga memiliki keajaiban yang sama dengan Lizzie, sang kakak. Hanya saja, Lizzie memiliki satu kelebihan yang bahkan tidak dimiliki oleh satupun, keturunan murni keluarga Belluwig. Dan nanti akan diperlihatkan saat dirinya terlibat langsung, dengan para antek-antek keluarga kejam tersebut. Juga saat dirinya harus terpaksa berhadapan dengan keturunan langsung garis keturunan nya, yaitu sang nenek.