Darkest Dream

Darkest Dream
Terlalu Banyak Kecewa S2


__ADS_3

"Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan anda, nona muda." Hurby menunduk hormat pada Lizzie begitu pula dengan Claine.


"Aku tidak tau harus senang atau sedih, bertemu dengan kalian seperti menantang maut untuk diri ku sendiri." Ungkap Lizzie apa adanya. Hurby menatap nanar netra yang terlihat redup tanpa cahaya tersebut. Hati nya miris menahan sesak. Andai, andai karma masa lalu itu bisa dengan mudah di bayar tunai dengan perdamaian, dan sepenggal kata maaf. Mungkin diri nya, Claine juga yang lain nya, tidak perlu repot-repot menanggung takdir perpisahan yang menyakitkan hati dengan masing-masing pasangan.


"Boleh saya memeriksa anda nona muda?" Claine berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Aku baik-baik, Claine. Putra mu sedikit berbeda, aku hampir tak percaya jika pemuda tampan dan angkuh itu adalah putra mu. Hampir saja aku mengirim nya ke Enter saat mendengar kalimat frontal nya pada ku." Claine menghela nafas panjang, putra nya itu benar-benar. Tidak bisa kah bekerjasama sekali saja, tanpa membuat jantung tua nya harus terpental oleh kata-kata tajam nona muda nya.


"Maaf kan sikap tidak sopan putra ku nona muda, Deren masih muda dan sedikit emosional. Mohon di maklumi, 10 tahun tanpa bimbingan seorang ayah juga harus berperan ganda di dalam keluarga. Itulah yang membuat nya sedikit berbeda, keadaan mengubah karakter seseorang. Begitu pula dengan putra ku." Tukas Claine memohon pengertian juga pengampunan bagi putra galak nya.


"Aku tidak tau konteks muda di usia 30 tahun. Ku pikir itu adalah usia yang matang, namun tidak jadi masalah. Aku memaklumi nya. Kau benar, keadaan bisa mengubah karakter seseorang, aku belajar banyak dari pengalaman. Keadaan selalu mampu mengendalikan sifat dasar manusia, aku bersyukur karena terlahir dengan membawa sifat dasar yang alamiah dari seorang wanita hebat." Tekan Lizzie sarkastik. Setiap kalimat nya mengandung banyak makna, keempat orang yang berada di dalam ruangan itu terdiam. Kata-kata Lizzie berhasil menyentil hati kecil mereka, di mana sifat dasar mereka telah berkali-kali membuat mereka menjadi seorang pengkhianat, lalu kemudian bertobat.


"Lupakan kata-kata ku. Beri aku serum yang sedang kalian kembangkan, aku butuh itu untuk nanti. Dan untuk kalian berdua, aku tak ingin apa yang telah ku korbankan berakhir sia-sia seperti dahulu. Aku tidak berkorban sejauh ini hanya untuk di kecewakan. Jadi kali ini saja, aku mohon bekerja samalah dengan baik. Sekarang tinggal kan aku sendiri." Tatapan mengiba Miu tidak menghasilkan apapun, Lizzie sudah pada keputusan akhir nya.

__ADS_1


"Bisa kah aku tetap di sini sebentar, nona?" Dengan sisa keberanian nya, Hurby menatap penuh permohonan pada Lizzie. Ada hal yang harus dia sampaikan secara langsung pada nona muda nya, tentu saja tidak di hadapan Zig maupun Miu. Karena apa yang akan dia sampai kan, pasti akan membuat kedua nya larut dalam kekecewaan. Mengingat waktu yang di korbankan selama 21 tahun bukan lah sebentar.


"Aku tau apa yang akan kau sampai kan pada ku, Hurby. Kekuatan ku tidak memudar hanya karena terlalu banyak menanggung beban kecewa dan rasa sakit." Hurby tertegun mendengar penuturan lugas Lizzie. Nyali nya seketika menciut tak bersisa.


"Maafkan atas sikap kurang sopan ku nona, sungguh aku tidak bermaksud untuk meragukan kemampuan anda. Aku pikir jarak akan membuat telepati anda mungkin saja berpengaruh. Sungguh aku tidak punya maksud lain, mohon maaf kan kebodohan ku." Ucap Hurby sambil menunduk dengan suara rendah. Sungguh dia menyesali pikiran sempit nya, yang dengan begitu cepat mengambil kesimpulan tanpa berpikir panjang.


"Tidak masalah Hurby, jika di posisi mu, aku yakin juga akan melakukan hal yang sama. Kau sudah mengabdi terlalu banyak, kau dan Claine. Aku bahkan ragu, bisa membuat kalian tersenyum bangga pada ku kelak. Hanya saja bisa kah kalian percayakan semua ini padaku? aku butuh dukungan, bukan sekelompok orang yang hadir lalu pergi kemudian mengkhianati." Hati keempat orang itu semakin sesak, seperti ada beban jutaan ton menghimpit dada mereka.


Jika dulu leluhur pewaris darah murni melibatkan hampir seluruh klan, baik klan Servidor hingga mengorbankan klan pewaris darah murni lain nya. Namun kali ini, mereka di buat takjub sekaligus miris. Begitu banyak pengorbanan gadis muda itu untuk semua klan tanpa terkecuali, bahkan sejak usianya balita, Lizzie sudah kenyang akan sebuah pengorbanan.


"Aku membutuh kan mu dalam peperangan lain, Hurby. Tidak untuk pertumpahan darah. Tidak kali ini, dan tidak untuk meninggalkan keluarga mu lagi. Ini takdir ku, leluhur kita telah menggoreskan tinta merah pada garis tangan ku. Aku harus memutuskan nya sendiri, pahami lah jangan membuat ku kecewa untuk kesekian kali nya." Tumpah sudah air mata Hurby, masing-masing mereka menyeka sudut mata agar air sialan itu, tidak membuat sang nona muda terbebani.


"Keluar lah, aku ingin sendiri." Tukas Lizzie lagi tak terbantahkan. Mereka keluar dengan pikiran berkecamuk, jika leluhur membutuhkan banyak prajurit di garda depan medan perang. Lalu kenapa nona muda mereka menolak semua bala bantuan? Purnama bulan biru hanya terjadi sekali sepanjang seribu tahun, mampu kah gadis itu menghadapi takdir nya seorang diri. Samara? wanita dengan sejuta ambisi, ego yang tinggi dan sisi kemanusiaan yang nyaris tak ada lagi. Bisa kah kedua wanita beda generasi itu berdamai? hanya itu harapan mereka, jika Lizzie menolak segala bentuk bantuan paling tidak, salah satu dari keturunan terkuat tersebut ada yang mau mengalah. Lizzie bisa saja menurunkan ego nya, namun Samara? wanita itu terlalu berbahaya dan licik.

__ADS_1


"Dad? apa yang terjadi di dalam sana? kenapa wajah mu semuram ini? apakah nona muda membuat sesuatu hal yang ajaib lagi?" cecar Gerald menatap penuh tanya dengan raut wajah kebingungan. Rasa penasaran nya kian membesar, tentang nona muda yang membuat ayah nya rela menukar kebahagiaan keluarga, demi sebuah pengabdian.


"Biarkan ayah mu ini bernafas dengan teratur, G! kau membuat kepalaku semakin berdenyut hebat." Sarkas Hurby menggaplok kasar kepala sang anak, dan kini dia tau rasa nya menjadi Deren saat berhadapan dengan putra bungsu nya itu.


"Auuwww.. dad... kenapa Daddy jadi seperti Deren sekarang, hobi sekali memukul kepala ku." Ucap Gerald tak terima, satu hari kepalanya sudah mendapatkan dua kali tabokan tak berperikemanusiaan.


"Harus nya mulut mu itu langsung di jahit saja!" Ketus Deren ikut menimpali. Pria pemarah itu duduk santai dengan bersedekap dada, menatap Gerald dengan tatapan mengejek.


"Bagaimana keputusan mu, Hurby? aku bimbang, jujur saja. Keputusan nona muda sesuatu yang mutlak, tapi jika kita tidak ikut serta dalam peperangan ini. Apakah kita akan mengulang kisah lalu..?" ujar Claine terlihat ragu-ragu.


"Jangan dulu mencecarku dengan pertanyaan yang kau sendiri sudah tau jawabannya, Claine!" Tekan Hurby dengan suara di berat.


"Jika kalian butuh bantuan, aku siap kapan saja. Dan sebelum bertindak, sebaiknya pikir kan apa dampak yang akan kalian sebabkan di kemudian hari." Ucap Deren datar kemudian keluar dari ruangan sang ayah.

__ADS_1


"Aku tidak memahami apapun soal klan para pewaris, atau klan Servidor leluhur kita. Tapi aku hanya ingin menyampaikan apa yang aku pikirkan saja. Jika semua sudah menjadi keputusan nona muda, sebaiknya ayah dan paman tidak perlu melakukan apapun. Jangan mengulangi kesalahan para leluhur di masa lalu, karena pewaris darah murni tidak lahir setiap tahun." Selesai dengan kalimat bijak penuh peringatan tersebut, Gerald ikut keluar menyusul Deren.


Kedua pria tampan itu punya pemikiran masing-masing meski tujuan nya sama. Sama-sama tak ingin salah satu dari klan mereka, mengulang cerita lampau. Tidak jika salah satu nya adalah orang terkasih mereka.


__ADS_2