
"Eh?.." Bern menatap bukit batu yang terlihat menghalangi jalan di depan nya. "Orang gila mana yang membuat jalan melewati bebatuan ini. CK! menyusahkan saja..!" Gerutuan Bern terus berlanjut tanpa henti. Pria itu susah payah memanjat tebing batu tersebut untuk mencapai puncak nya.
Dengan nafas ngos-ngosan, Bern berhenti sejenak saat sudah mencapai puncak. Mata nya menelisik ke bawah dari balik cahaya redup bukan di atas langit malam. Siluet tubuh tergelak di rerumputan membuat atensi Bern terpancing. Dengan sedikit tergesa Bern menuruni tebing menuju ke arah tubuh tersebut.
Sesaat tiba di bawah, Bern berlari kecil menghampiri tubuh kecil berlumuran darah itu.
Bern berjongkok kemudian merapikan helai rambut yang mengering bersama darah di wajah lebam si wanita. Hampir saja mata dan jantung Bern melompat keluar.
Wanita yang sangat dia rindukan kini berada di hadapan nya dalam keadaan mengenaskan.
"Honey? what happened to you..." suara Bern bergetar menahan sesak. Wanita yang sudah dia klaim menjadi milik nya, kini tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Dengan tangan gemetar, Bern berusaha menghubungi sang paman. Namun sayang, di sana tidak ada satu garis pun Singal. Bern berteriak frustasi.
"Bertahan lah honey..kau berhutang banyak pada ku. Kau sudah mengacaukan kehidupan ku belakang ini, dan kau juga membuat ku menjadi seorang pengangguran sekarang. Bangunlah..aku mohon.." Lirih Bern mengangkat tubuh Lizzie. Matanya menelusuri sisi hutan untuk mencari jalan keluar lain, hingga matanya melihat sebuah cahaya redup dari kejauhan. Hati nya berharap itu adalah orang baik.
Dengan langkah gemetar dan ketakutan yang menyelimuti hati nya, Bern sedikit berlari membawa tubuh Lizzie di gendongan nya. Tujuan nya adalah cahaya yang terlihat semakin mendekat ke arah mereka.
Keringat dingin mengucur deras di tubuhnya, hingga akhirnya sebuah mobil berhenti di hadapan Bern yang sudah terlihat sangat kelelahan. Bagaimana tidak, pria itu berlari menyongsong jalan yang ditumbuhi pepohonan kecil dan batuan tajam.
__ADS_1
"Berikan nona muda pada kami, tuan." Bern mendekap tubuh Lizzie dengan kuat.
"Tidak! jangan ambil dia dari ku..!" seru Bern dengan nafas terputus-putus. Pria itu berteriak seperti orang gila.
"Kau akan membunuhnya jika terus menahannya di sini, letnan. Serahkan pada kami, kau pun boleh ikut. Nona muda hanya punya sedikit waktu sebelum jiwa nya benar-benar tak bisa lagi kembali." Brian mencengkeram kerah baju Bern dengan keras, mata nya melirik ke cahaya bulan yang mulai meredup. Arti nona mudanya hanya punya sedikit waktu untuk bisa mereka selamat kan.
"Berikan padaku, tubuh lemah mu akan membuat nya terjatuh." Brian meraih paksa tubuh Lizzie ke dalam gendongan nya. Seorang pria yang datang bersama Brian membantu mengangkat tubuh Bern masih terasa bergetar. Mereka masuk ke dalam mobil, tanpa terucap sepatah kata pun.
Brian melirik kaca spion untuk melihat kondisi Bern, yang terlihat jauh lebih mengkhawatirkan dari pada nona muda nya. Psikologis pria itu pasti tengah terguncang hebat dengan keadaan yang terjadi. Tatapan tak biasa itu menyiratkan banyak hal. Seharusnya Bern bukan pria yang ada di garis takdir nona muda nya. Namun sayang, si mafia bodoh Alessandro telah mengubah garis takdir nya sendiri, dengan melepaskan Lizzie ke tangan pria lain.
Dia akan menanti kisah penyesalan penuh drama si mafia dengan senang hati. Dia ingin menjadi orang pertama yang mentertawai kebodohan pria angkuh itu dengan suara paling keras.
"Sayang? apa yang kau rasakan sekarang.." Brian mengelus pipi tirus istri nya. Sofi mengorbankan diri nya agar sang nona muda terselamatkan. Itulah kenapa dia tidak bisa tinggal lebih lama pada keluarga abdi nya. Nona muda nya membutuhkan darah murni yang dia miliki. Diam-diam Sofi ternyata adalah putri dari hasil hubungan rahasia seorang Servidor dan pewaris darah murni. Itu lah kenapa Sofi punya sedikit keistimewaan dalam darah nya. Dan kelahiran nya pun sudah di garis kan oleh takdir. Kedua orang tua nya sudah meramalkan hari ini akan terjadi. Dan tidak satu pewaris darah murni lain nya yang hadir, saat nona muda nya sedang sangat membutuhkan pertolongan.
Dan Sofi lah yang di takdir kan untuk semua rahasia alam semesta ini.
"Aku baik.. bagaimana dengan putri kecil ku. Apa darah ku berhasil.." Sofi menatap sendu wajah suaminya. Kedua telah berkorban begitu banyak. Rela terpisah belasan tahun, namun tetap teguh pada kesetiaan.
"Putri kecilmu baik-baik saja... serum dari darah mu berhasil honey. Istirahat lah, kau terlihat sangat kurus bahkan saat sudah bersamaku. Aku sedih sayang, hati ku sesak melihat ini, ini dan ini. Semua begitu sulit aku cubit lagi." Kekeh Brian menunjuk kedua pipi dan dagu tirus istri nya. Brian punya kebiasaan mencubit kedua pipi juga dagu istri nya jika sedang gemas.
__ADS_1
Hatinya berdenyut sakit melihat keadaan sang istri yang begitu lemah. Lebih dari 50 persen darah nya diambil untuk di donor kan pada Lizzie.
"Jangan menatap ku begitu..apa aku sudah tidak terlihat cantik lagi sekarang.." seloroh Sofi mengalihkan situasi canggung mereka.
"Kau selalu cantik di mataku, oleh sebab itu aku tidak bisa menemukan pengganti mu selama ini. Kau terlalu sempurna untukku tukar dengan wanita lain. Kelas mu beda sayang, mereka tidak akan bisa minimal menyamainya." Tegas Brian menatap sang istri penuh cinta dan damba.
"Aku ingin seorang bayi menemani masa tua kita ini. Kita akan melakukan proses bayi tabung nanti jika kau sudah pulih. Dia pasti akan bangga terlahir dari rahim wanita hebat dan murah hati seperti mu." Ucap Brian meraih jemari tangan sang istri.
"Kita sudah seharusnya menggendong cucu, bukan lagi anak bayi, suamiku.." kekeh Sofi tertawa geli.
"Tidak masalah, aku akan menjadi ayah dan suami siaga untuk kalian. Lagi pula aku baru 47 tahun, kau bahkan baru 39 tahun. Peluang kita masih terbuka lebar, aku benar-benar tidak sabar memiliki bayi mungil bersama mu." Binar bahagia di wajah Brian membuat Sofi merasa bersalah.
"Maaf kan aku..." lirih Sofi terisak pelan.
"Tidak sayang, bukan salah mu. Kita punya takdir yang harus kita jalani. Dan sekarang takdir berpihak pada kita. Mari kita jalani takdir kita dengan damai sejahtera dan penuh cinta. Aku masih sangat mencintai mu, melebihi rasa cintaku pada diriku sendiri." Ungkap Brian tulus.
Sofi tersenyum lalu mengangguk pelan, Brian naik ke atas ranjang pasien kemudian berbaring memeluk erat sang istri.
Bern yang tak sengaja melewati ruang rawat Sofi tersenyum haru melihat kesetiaan kedua nya. Cinta itu bahkan semakin tumbuh subur tanpa berkurang sedikit pun. Dia berharap cinta nya pada Lizzie sekuat bahkan lebih kuat lagi dari kisah cinta yang dia lihat saat ini.
__ADS_1