
"Euughhh..." lenguhan Leon hampir saja membuat Pedro membanting kemudi ke arah jurang. Luo berpegangan pada hand grip dengan tubuh gemetar menahan takut. Dada kedua nya seolah sedang ikut lomba maraton nonstop. Berdebar kencang hingga bernafas pun mereka kesulitan.
"Tu..tuan muda..anda sudah bangun.." namun tidak ada sahutan, Luo berbalik ke belakang untuk memeriksa tuan muda nya. Tangan nya terulur menyentuh pergelangan tangan kanan Leon. Dengan segenap harapan semoga saja denyut nadi sang tuan muda masih berdenyut. Wajah lega nya membuat Pedro menghela nafa panjang.
"Balut pergelangan tangan muda, aku tidak bisa berhenti.. ini hanya tinggal setengah jam kurang lebih. CK! andai saja iblis punya jam, kita bisa menyesuaikan waktu dengan nya agar sama. Dasar setan, jam saja tidak punya. Lalu apa yang dia punya selain wajah seram untuk menakut-nakuti para manusia." Gerutu Pedro panjang lebar. Ucapan melantur nya adalah bentuk dari penghiburan diri, dari rasa takut juga kecemasan akan keselamatan nona muda mereka. Luo yang kini sudah berpindah ke jok belakang hanya bisa menatap punggung rekan nya sambil menggelengkan kepala.
Dia yakin Pedro sama tertekan nya seperti diri nya. Dari cara pria itu berbicara yang sedikit belok arah, Luo tau betapa gigih nya Pedro selama ini untuk memperbaiki diri. Dengan suka rela mengabdi kan diri nya pada keluarga iblis itu, agar dapat mengetahui segala pergerakan dan rencana apa saja yang di lakukan oleh sang nyonya iblis. Satu-satunya orang yang entah beruntung atau tidak, terkena kutukan yang mampu melindungi batas pikiran dan isi hati nya, agar tidak tertembus oleh para kaum pewaris juga pemuja iblis. Pria itu adalah Pedro.
Kutukan itu berasal dari nona muda mereka, saat penyerang di pulau Catalina 17 tahun silam. Si kecil Lizzie sengaja melakukan nya, agar diri nya punya mata juga telinga untuk mengawasi sang nenek sekaligus ayah nya. (Bab 31 'Pedro' Mencoba Mengelabui takdir)
Mobil Jeff mulai memasuki jalan berbatu dan sedikit licin. Sesekali pria itu melirik benda melingkar di tangannya. Hati semakin cemas saat melihat hanya beberapa menit lagi, purnama bulan biru akan muncul.
Namu saat akan berbelok, sebuah cahaya dari arah depan membuat nya menghentikan mobilnya dengan cepat. Begitu juga sang pengemudi dari arah berlawanan. Suara decitan ban mobil yang sedikit terseret, membuat suasana gelap hutan belantara itu sedikit ricuh.
Klek
Kedua sopir dari dua mobil itu sama-sama keluar dengan wajah galak. Namun beberapa detik kemudian, Pedro lebih dulu menubruk tubuh tegap yang sangat di rindu kan nya itu.
"Tuan..aku sangat senang bisa bertemu dengan anda lagi.." ucap nya kegirangan sampai meneteskan air mata. Jeff mendorong pelan bahu Pedro bukan karena tidak suka, namun mereka sedang berlomba dengan waktu.
__ADS_1
"Kita masih punya banyak waktu untuk saling meluap kan rasa rindu, Pedro. Tapi nona muda tidak.." ujar Jeff penuh peringatan, Pedro lekas mengusap air mata nya. Bertemu dengan bos nya membuat nya sedikit mellow.
"Maaf tuan, tuan muda ada di di dalam mobil dalam keadaan terluka parah. Nona muda berpesan, agar tuan tidak perlu menyusul nya. Tuan muda harus segera mendapatkan donor darah murni." Ucap Pedro cepat sebelum di sela oleh bos nya. Jeff terlihat berpikir sejenak kemudian mengangguk paham. Mereka kembali ke mobil masing-masing lalu melanjutkan perjalanan keluar dari belantara tersebut.
Sementara di pusat kota, awan gelap telah menutupi cahaya bulan. Kegelapan tak biasa menyelimuti perkotaan. Ale menatap langit yang mulai menggelap sempurna. Berita kabur nya Lizzie telah sampai ke telinga nya, namun dia tidak berbuat apapun. Pertahanan gadis itu tidak akan mampu bertahan jauh. Tubuh lemah nya hanya akan bertahan beberapa jam saja, begitu lah pikir nya.
"Astaga.. apa para dewa tengah marah pada kita.." ucap seorang wanita pada suami nya. Mereka tengah makan malam di sebuah restoran, dan menyaksikan perubahan kota yang mulai meredup. Cahaya lampu yang tadi nya terang benderang, kini semakin remang dan nyaris tak mampu bercahaya.
"Entah lah.." jawab sang suami. Keduanya saling berpelukan, paling tidak jika kiamat tiba, mereka mati dalam keadaan saling memiliki.
Semua orang mulai panik, seisi kota mulai kacau balau. Bayangan kiamat yang akan tiba membuat keadaan kota menjadi porak-poranda. Penjarahan dan tindakan anarkis di mana-mana. Para warga menjadi tidak terkendali, saling menyakiti bahkan membunuh satu sama lain demi memperebutkan stok makanan dan kebutuhan lain untuk bertahan hidup. Ban mobil di bakar di jalan-jalan di beberapa sudut kota. Suara teriakan histeris para wanita dan anak-anak seperti lagu selamat malam yang terus menguar pilu di telinga. Sungguh miris, kekuatan alam semesta membuat logika dan nurani para manusia lenyap seketika.
Beberapa kali di serang dari berbagai arah, masih membuat nya bertahan. Sihir nya mulai memudar, sementara masih ada 4 orang penyihir lain bertahan dengan kekuatan yang masih terisi maksimal. Bayangan senyum teduh sang ibu, yang seolah memanggil nya pulang membuat jiwa rapuh Lizzie menjerit pilu.
"Apa kau menyerah cucu ku..." ejek Samara menyeringai puas. Lizzie mengalami luka dalam akibat serangan sihir bertubi-tubi. Dia yakin cucu nya itu pasti akan menyerah kalah di tangan nya. Dengan darah Lizzie, maka sempurna lah keabadian mereka semua. Karena di dalam darah Lizzie, telah mengalir darah murni para leluhur. Leon hanya lah pelengkap nya saja.
Lizzie tertawa renyah, seakan nenek nya sedang mengajak nya bergurau.
"Aku masih belum merasa kan apapun nenek..serangan sihir mu seperti nya kurang full power." Sahut Lizzie meledek sang nenek. Dia akan menyulut percikan amarah nenek nya, dengan begitu dia bisa mencari celah kelemahan wanita tua itu.
__ADS_1
"Kau..!!" tunjuk Samara dengan jari nya yang sudah tidak lagi berbentuk jari manusia pada umumnya.
"Lihat kuku mu nenek..apa kakek tidak memberi mu cukup uang untuk melakukan perawatan menicure.." ejek tertawa pelan, dada nya berdenyut nyeri, panas seperti terbakar api. Pengaruh sihir itu rupanya sudah mulai berefek pada tubuh lemah nya.
Samara yang sudah tidak tahan mendengar hinaan terang-terangan Lizzie kembali menyerang. Ketiga penyihir lain pun ikut berkontribusi untuk menjatuhkan Lizzie. Namun sayang, dua di antaranya harus menyusul para penyihir lain ke dunia entah berantah. Samara semakin marah, dengan brutal wanita itu menyerang Lizzie dengan kekuatan yang dia miliki. Di bantu oleh satu penyihir yang tersisa, kedua nya melakukan penyerangan dari berbagai sisi. Tujuan nya adalah membuat Lizzie semakin kewalahan.
Bias kilatan cahaya juga erangan, terdengar beradu dengan suara angin yang berhembus semakin kencang. Satu penyihir yang tersisa untuk membantu sang nenek sudah terkapar tak berdaya di atas bebatuan besar. Terhempas dari ketinggian akibat serangan Lizzie di udara, iblis pun mungkin akan mengalami patah tulang atau sekedar pingsan. Apalagi hanya seorang penyembah kelas rendahan seperti penyihir tersebut.
Lizzie masih bertahan di udara, begitu pula dengan Samara. Kini terlihat jelas bibit keangkuhan Lizzie berasal dari mana. Kedua wanita beda generasi itu, sama-sama memiliki watak yang keras dan tidak suka di tindas apalagi mengalah.
"Apa nenek berubah pikiran sekarang?.." ucap Lizzie tersenyum miring, sudut bibir mengeluarkan bercak darah segar. Luka dalam yang dia alami semakin terasa tidak nyaman.
"Cih! dalam mimpi mu..!" sahut Samara angkuh, sama sekali tipikal gaya khas yang sulit untuk di hilangkan.
"Baiklah, kita lihat bagaimana pertempuran kecil ini akan berakhir, nenek ku sayang..." Lizzie kembali mengayun tangan nya melontar kan sebuah kilatan cahaya biru ke arah sang nenek. Samara menghalau nya dengan membalas memberikan serangan yang sama. Keduanya sama-sama terpental hingga akhirnya jatuh ke atas rerumputan.
Tidak puas menggunakan kekuatan magis, adu ketangkasan pun terjadi. Lizzie yang memang sudah lemah, beberapa kali terkena pukulan telak di tubuh nya tanpa bisa dia elak.
"Ternyata keangkuhan mu tidak mencerminkan kepribadian hebat, yang setingkat lebih baik dari sikap mu. Kau lemah..! kau keturunan rusak yang harus di musnahkan!!" Seru Samara mengayun sihir terakhir yang dia pikir akan melumpuhkan sang cucu. Namun sihir nya justru berbalik arah saat purnama bulan biru mulai menampak kan diri sedikit demi sedikit, memancarkan cahaya nya di atas langit malam.
__ADS_1