
"****!" umpat polisi tersebut saat merasakan panas akibat tendangan di punggung nya. Kedua kini mulai saling menyerang satu sama lain dengan tangan kosong, rupanya pria yang menyerang nya juga tengah kehabisan amunisi nya.
Lizzie sedang melawan dua orang yang kini tengah mengepungnya dari dua arah berseberangan. Sudut bibir nya berdarah, rasa nyeri di perut nya semakin menambah daftar rasa sakit yang luar biasa. Peluru nya masih tersisa 3, namun Lizzie sengaja tidak menggunakan nya.
"Cih! dasar anjing lemah, menghadapi satu wanita saja, kalian sampai harus mengeroyok ku." Ucap Lizzie meludah tepat di punggung sepatu pria di depannya.
"Dasar ja*l*ang! rasakan ini" seru pria tadi merasa terhina, karena Lizzie berani meludahi nya. Kedua nya menyerang Lizzie bertubi-tubi, namun Lizzie masih bertahan. Beberapa kali terpental, Lizzie masih mampu mempertahankan diri nya.
"Seperti nya kau sudah selesai menumpas kecoa yang mengganggu mu, Letnan Bern." Lizzie tersenyum miring sambil menyeka sudut bibirnya. Meski sedikit terkejut, Letnan Bern berusaha fokus pada satu musuh yang kini mulai berbalik arah menghadap nya.
Kedua bertarung sengit melawan dua kecoa yang tersisa. Beberapa menit berlalu, masing-masing lawan sudah dalam kondisi yang tidak lagi baik, namun adu otot tersebut berhasil di menangkan oleh Lizzie dan letnan Bern.
"Kau baik-baik saja nona?" Bern menghampiri Lizzie dan membantu nya berdiri.
"Apa aku terlihat baik, letnan ?" balas Lizzie balik bertanya.
"Kau terlihat cantik" sarkas nya sedikit menggoda, wajah Lizzie lumayan babak belur, bibir dan pipinya lebam dan sedikit membengkak.
"Terimakasih! susah menjadi orang cantik, dalam kondisi apapun, mata para buaya selalu licah menelisik. Mana yang benar-benar cantik, mana yang sekedar cantik saja" balas Lizzie sarkastis. Bern tertawa renyah, lalu memapah Lizzie keluar dari gudang, di luar sudah banyak anggota Bern mengamankan senjata ilegal yang akan di seludupkan ke Meksiko.
__ADS_1
Setelah mendudukkan Lizzie di jok mobil belakang, Bern pamit untuk menanyakan satu dua hal pada anggota nya. Lizzie menatap lurus pada apa yang sedang dimasukkan ke dalam sebuah mobil lapis baja.
"Aku harap kau tidak terlalu marah besar padaku, tuan Alessandro. Aku tidak sengaja terlibat dalam takdir yang paling ku hindari. Sebuah keluarga sedang menanti kepala keluarga nya pulang dalam keadaan baik-baik saja, aku terpaksa melakukan ini. Sungguh!" gumam Lizzie terdengar lirih. Kepala nya dia sandarkan ke sandaran jok mobil, dia berharap Leah tidak dapat menembus batas pikiran Lex. Hanya itu harapan nya sekarang, agar adik-adik nya tetap aman.
"Kau mau minum? ini baru, aku belum membukanya, kau cek saja." Bern datang membawa minuman kemasan untuk di berikan pada Lizzie.
"Terimakasih" Lizzie menyambut nya, dia butuh sedikit minuman sekarang. Rasanya untuk bernafas pun terasa begitu berat, rasa sakit mengoyak hampir semua bagian tubuh nya.
"Kau akan ikut dengan ku? maksud ku, aku tidak melihat ada kendaraan lain di sini." Tawar Bern, jauh dalam benak nya dia penasaran akan kehadiran Lizzie yang tiba-tiba muncul dalam misi penyergapan nya di sana. Dia ingin bertanya banyak hal jika Lizzie ikut bersama nya.
"Aku akan menumpang mobil mu saja, tadi aku sedikit tersesat. Seorang sopir baru mengantarku pada alamat yang salah, dan sialnya aku tertinggal saat pergi memenuhi panggilan alam." Kekeh Lizzie lemah, Bern ikut tertawa kecil.
"Baiklah, kita berangkat sekarang. Anggota ku akan menyusul setelah selesai dengan semua pekerjaan mereka." Bern masuk dan duduk di kursi kemudi. Sepanjang perjalanan, Bern sudah gelisah ingin menanyakan banyak hal pada Lizzie.
Lizzie tersenyum samar sebelum menjawab, dia tau seberapa gatal nya lidah pria di depannya itu. "Namaku Lizzie, Lizzie Velasquez. Aku hanya kebetulan saja melewati tempat di mana kau ternyata tengah berusaha meringkus para tikus jalanan. Seperti yang ku bilang, aku hanya gadis malang yang tersesat dan sedikit kehilangan arah. Soal namamu, aku pernah melihat mu di sebuah acara berita televisi, kau rupa nya sangat terkenal letnan." Jelas Lizzie panjang lebar dan memberikan pujian tulus di akhir kalimat nya.
Bern nampak mengangguk-angguk pelan, sebagai orang yang sudah berpengalaman dalam bidang nya. Tentu saja diri nya tidak begitu saja mempercayai apa yang Lizzie ucapkan. Namun melihat wajah pucat Lizzie semakin melemah, Bern menjeda sejenak kalimat tanya nya yang masih menggantung dalam benaknya. Dia ingin segera membawa gadis itu kerumah sakit.
"Bisa kah kau mengajakku ke rumah mu saja, bukan kah kau tinggal sendirian ? bukan apa-apa, aku hanya takut bertemu dokter. Aku punya sedikit trauma ketika berhadapan dengan alat-alat medis." Ujar Lizzie sedikit memohon meski wajah nya tidak terlihat sedang memelas. Matanya masih terpejam sempurna untuk sedikit mereda kan rasa yang semakin mendera nya.
__ADS_1
Lagi-lagi Bern tertegun, bagaimana bisa Lizzie tau jika dirinya tinggal seorang diri. Apa di berita juga di sebut kan jika diri nya seorang duda kesepian yang tinggal sendirian. Pikiran nya mulai merasa kan janggal, namun tetap menuruti apa yang Lizzie inginkan.
"Baiklah, nona Lizzie." jawab Bern akhirnya setelah sempat terdiam.
"Lizzie saja," ucap Lizzie mulai melemah "jika kesadaran ku mulai menghilang, tolong jangan panggil kan dokter atau bantuan pada siapapun. Cukup beri aku sedikit morfin, lalu rendam tubuhku dalam bathtub dengan banyak es batu. Cukup begitu saja dan biarkan aku terbangun sendiri." Hening, tak lagi terdengar suara Lizzie dari jok belakang. Bern menghentikan mobilnya di bahu jalan, lalu menoleh ke belakang. Ternyata Lizzie pingsan, darah merembes dari balik baju kaos yang dia pakai. Bern segera memacu mobil nya menuju rumah nya.
Entah kenapa keadaan Lizzie membuat nya kalut dan tak bisa berpikir jernih. Seakan apa yang Lizzie ucapkan tadi, seperti sebuah mantra. Bern hanya berfokus pada apa yang di katakan gadis di belakang jok nya dalam keadaan tak sadar itu. Sesampai nya di rumah, Bern menggendong tubuh Lizzie dan masuk melalui pintu penghubung dari garasi menuju dapur. Pria itu membawanya Lizzie naik ke lantai dua rumah nya, sejenak Bern meletakkan Lizzie di ranjang besarnya lalu bergegas masuk ke kamar mandi untuk mengisi bathtub dengan air, tak lupa, pria itu berlari turun kelantai bawah untuk mengambil es batu di kulkasnya. Namun sayang jumlah nya tidak banyak, terbersit di ingatan nya. Jika tetangga memiliki usaha pemotongan daging sapi, pasti akan memiliki stok es batu yang banyak pikir nya.
Bern berlari menuju rumah tetangga nya, dengan tak sabar Bern mengetuk rumah tuan Turner dengan gedoran keras.
"Tuan Turner ? Nyonya Turner ? tolong buka pintu nya, aku butuh sedikit bantuan!" teriak Bern tak sabar.
klek
Tuan Turner menatap heran pada Bern, lalu dilirik nya jam dinding di ruang tamu. Menunjukkan pukul setengah enam pagi.
"Apa kau sedang mengingau, Bern ?" tanya Turner menatap wajah pucat Bern.
"Aku butuh es batu dalam jumlah yang banyak, tuan Turner. Tolong berikan padaku, aku membutuhkan nya sekarang juga." Ucap Bern cepat, nafas nya naik turun karena khawatir akan kondisi Lizzie. Entah lah, padahal mereka baru saja bertemu.
__ADS_1
"Kau benar-benar mimpi buruk rupanya, cepatlah cari pengganti Melissa. Wanita binal itu tidak pantas membuat mu sampai sekacau ini" tukas Turner menatap kasihan ke arah Bern.
Bern mengusap wajahnya kasar " tuan Turner, tolong! aku memang sedikit frustasi sekarang. Tapi bukan karena wanita ja*l*ang itu. Ada seseorang yang harus aku tolong di dalam rumah ku, dia terluka parah dan sebelum pingsan. Gadis itu berpesan padaku, agar aku merendam nya dalam air yang di isi banyak es. Astaga! seperti nya aku sudah sedikit gila sekarang." Ucap Bern terlihat putus asa, Turner menatap sejenak kemudian berbalik masuk. Tak lama terdengar suara benda yang seperti di dorong paksa.