
Di sebuah apartemen mewah, seorang pria tengah duduk di kursi di ruang kerjanya. Asap rokok mengepul di sekitar wajah nya seperti kabut.
Suara helaan nafas berat terdengar oleh dua orang yang kini tengah berdiri tak jauh dari meja kerja nya.
"Apa hanya ini informasi yang berhasil kalian dapat kan? Aku bukan orang yang perhitungan, tapi mengingat sudah berapa banyak uang yang aku keluar kan untuk mendanai penelitian ini. Aku rasa informasi ini tidak lah sebanding, seperempat pun belum bisa memuaskan separuh hati ku" Sarkas nya dengan suara datar. Sejak usia belasan, diri nya mengabdikan seluruh hidup, waktu dan tenaga nya, untuk keluarga Belluwig. Kini keadaan merubah nya untuk menjadi seorang pengkhianat. Dan dia tidak akan menyesali nya, bukan kah hidup harus memilih? dan dia yakin telah memilih pada pilihan yang benar.
"Maaf, tuan Brian. Satu-satunya kendala dalam penelitian ini, adalah para ilmuwan itu membutuhkan tetesan darah nona muda. Karena hanya beliau lah yang terlahir di saat purnama bulan merah 21 tahun yang lalu. Dan juga, nona muda terlahir dengan membawa darah murni di dalam tubuh nya. Itu kenapa nona muda sangat istimewa, darah nya di ingin kan oleh banyak kaum pewaris lain nya." Jelas Alfred pada tuan nya. Mereka sedang melakukan sebuah penelitian untuk mencegah banyak takdir terjadi bagi para pewaris darah murni, namun sampai detik ini, hasilnya tidak lah sesuai harapan Brian.
Brian menatap lurus sebuah pigura besar yang terpajang indah persis di seberang mejanya. Bukan tanpa alasan kenapa pigura itu terpampang di sana. Agar setiap kali di melihat nya, maka diri nya akan di ingat kan, tentang siapa dia yang sesungguhnya.
"Bagaimana dengan kebocoran informasi di gudang tua itu, apa kau sudah tau, kemana nona muda pergi setelah dari sana dan bersama siapa. Kenapa tidak ada satupun rekaman yang bisa kita lacak, bahkan melalui pemancar satelit sekalipun." Ujar Brian mengalihkan arah pembicaraan mereka.
"Itu karena kekuatan nona muda tuan, nona muda sengaja membiarkan pemancar menangkap pergerakan nya hanya untuk memancing seseorang. Dan hanya mereka, yang mempunyai rekaman lengkap kejadian malam itu." Sahut Alfred menjelaskan. Brian terlihat tersenyum aneh, senyum yang sedikit mengganggu di penglihatan Alfred.
__ADS_1
"Apa anda mengetahui sesuatu, tuan?" Alfred memberanikan diri untuk bertanya.
"Tidak! Aku tidak mengetahui apa pun." Jawab Alfred terdengar begitu meyakinkan "apa pria bodoh itu tau, jika kedua orang tua nya mengorbankan nyawa mereka untuk menyelamatkan nyawa nona muda?" lanjut Brian kembali menghisap nikotin ditangan nya dengan penuh penghayatan.
"Seperti nya belum tuan, tuan Charles sangat lihai mengelabui cucu nya tersebut. Itu yang aku tangkap, karena jika cucu nya tau, jika kedua orang tua nya tidak lah meninggal dalam kecelakaan. Melainkan menukar jiwa mereka untuk kelahiran nona muda, maka bisa di pastikan, pria itu akan mencari orang yang telah menyebabkan diri nya menjadi yatim-piatu." Jelas Alfred berdasarkan sudut pandang nya.
Brian mengangguk pelan, benar, jika pria itu mengetahui sesuatu tentang kejadian 21 tahun silam. Bisa di pastikan, mafia gila tersebut akan menuntut balas atas kematian kedua orang tua nya.
"Kau boleh pergi, dan ya, pasti kan para ilmuwan itu mencari alternatif lain. Karena aku membutuhkan formula itu dalam waktu satu minggu ke depan." Ucapan Brian tidak terdengar bisa di ajak bernegosiasi. Alfred memahami betul bagaimana watak tuan nya itu, pria itu hanya bisa mengangguk pasrah lalu pamit undur diri bersama rekan nya, yang sejak tadi hanya berperan sebagai pendengar yang baik.
"Kau lihat apa yang sudah aku lakukan, aku berusaha untuk mematahkan takdir buruk nona muda. Dan lihat, aku sukses menjadi seorang pengkhianat. Apa kau bangga pada ku sekarang. Kenapa kau masih bersembunyi, nona muda mu membutuhkan kan mu, dia membutuhkan kita sekarang. Kembali lah pada ku sayang, aku merindukan mu." Suara Brian terdengar begitu lirih, sebuah nama terukir indah di bingkai foto tersebut. "My Sofi, My Wife n My Life".
Air mata yang sudah belasan tahun dia tahan, kini tumpah ruah karena terlalu merindukan wanita nya. Istri nya yang kini entah berada di mana. Namun dia tidak menyesal telah mengirim Sofi sebagai pengasuh nona muda mereka. Namun kini dia merindukan wanita itu dengan perasaan penuh. Entah di mana kini istri nya berada, di keluarga pewaris mana kah, istri nya menaruh pengabdian nya. Sejak kejadian di pulau Catalina 17 tahun lalu, Sofi nya menghilang bagai di telan bumi. Lenyap tak terlacak. Dan Mina tua pun tidak mengetahui keberadaan keponakan nya itu.
__ADS_1
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Dua hari setelah kejadian di gudang baja waktu itu, kondisi Lizzie berangsur membaik. Luka nya pulih dengan cara yang ajaib. Bern benar-benar di buat takjub sekaligus takut. Apakah gadis yang tinggal bersama nya adalah seorang penyihir. Lalu kenapa dia membiarkan dirinya terluka, jika mempunyai kekuatan sehebat itu.
"Kenapa kau terus menatap ku, Bern? tidak kah kau khawatir akan jatuh cinta padaku nanti?" perkataan Lizzie membuat Bern salah tingkah, berusaha menutupi kegugupannya, Bern berdecih.
"Kau terlalu percaya diri nona. Aku menatap mu karena sedang memikirkan, bagaimana bisa luka mu sembuh secepat kilat. Apa kau keturunan penyihir?" dalih Bern memberikan pertanyaan balasan.
"Aku lebih dari keturunan seorang penyihir, tapi aku adalah ratu dari segala keajaiban dunia. Aku bisa meramalkan apa yang akan terjadi padamu beberapa menit ke depan, jika kau ingin tau. Sejauh apa kuasa yang aku miliki" seringai Lizzie membuat bulu kuduk Bern terangkat semua. Gadis itu bisa terlihat begitu menakutkan, bahkan di saat dia tersenyum begitu manis sekalipun.
"Kau takut pada ku?" ledek Lizzie menepuk pelan bahu Bern, gadis itu meninggal kan Bern yang masih termenung. Namun sebelum benar-benar pergi, Lizzie kembali menoleh. "Mantan istri mu akan datang sebentar lagi, aku sudah merapikan bekas sarapan ku. Sisa nya ku serah kan pada mu. Dan ya, bertindak lah seperti seorang pria sejati." Setelah melempar kalimat tak mengenakan, Lizzie naik kelantai atas. Diri nya memilih mengamankan diri nya sendiri, menghadapi wanita binal itu, hanya akan menghabiskan energi nya saja.
Bern masih mematung di tempatnya, bagaimana bisa gadis itu menebak sesuatu yang belum terjadi. Dia merasa di kerjai, gadis itu pasti tengah meledek nya. Mengingat di kamar nya masih tersimpan foto mantan istrinya di laci nakas didalam kamar yang di pakai oleh Lizzie.
__ADS_1
Tak ingin pusing dengan pikirannya sendiri, Bern berniat untuk bersiap kerja. Namun saat kaki nya akan menaiki tangga menuju lantai atas, suara bell pintu menghentikan langkahnya. Dahi nya mengernyit heran, siapa yang bertamu pagi-pagi begini. Tak ingin di buat penasaran, Bern melangkah kaki nya menuju pintu depan. Saat pintu terbuka, terlihat sosok wanita cantik dengan dandanan menor berdiri di depan pintu rumah nya. Jika dulu kehadiran dan dandanan wanita itu selalu di puja nya, kini menatap nya saja, Bern ingin mengeluarkan semua isi perut nya. Jika saja tidak mengingat, kalau sarapan yang dia makan adalah hasil olahan tangan Lizzie. Sudah dia muntahkan semua isi perut ke wajah wanita itu.