
Hari ini adalah hari paling sial bagi Berea. Hari pertama nya, dia harus berlari memutar lapangan baseball untuk menjalani hukuman nya.
"Sial! sial! Bukan untuk ini aku datang, kampus sialan ini telah menantang ku rupa nya." Di sela kemarahan nya, terbit senyum sejuta makna yang merencanakan banyak pembalasan di sana.
"Maaf nona, kau menghalangi jalan ku.. bisa singkirkan mendung di wajah mu sejenak, itu sedikit mengganggu pandangan ku." Berea mematung, kemudian berbalik untuk melihat pria lancang yang sudah berani mengusik hari buruk nya.
Tatapan datar Berea di sambut senyum manis dengan lesung pipi garis lurus di kedua pipi si pria.
"Kau? bagaimana bisa kau ada di kota ini juga! apa kau tengah mengikuti ku, Zion brengsek!" Berea memberikan dua kali tinjuan tangan nya ke perut pria malang itu. Zion seperti biasa, menahan sakit agar emosi Berea terlampiaskan.
"Bagaimana bisa kau ada di sini, hah?!" Ulang Berea berteriak marah. Mata nya memancar kan kilat tak biasa, Zion tau Berea sedang berada di puncak emosi nya. Segera Zion menarik pergelangan tangan Berea agar mengikuti nya menuju parkiran.
"Ini? mobil mu? apa kau merampok untuk membuat ku terkesan, katakan brengsek?!"
"Ck! kau saja yang tidak mencari tau tentang ku dengan baik. Ayo masuk," Zion mendorong tubuh Berea hingga masuk sempurna ke dalam mobil nya.
"Kenapa kau merampok mobil sekecil ini, aku bahkan sulit untuk bergerak bebas." Ketus Berea nada yang belum bersahabat. Zion mendengus mendengar kalimat absurd sang sahabat.
"Kau akan tercengang melihat kekayaan ku nanti, jadi simpan tenaga ku mu untuk mengagumi pria tampan ini." Kedipan mata Zion membuat emosi Berea sedikit melunak. Kedipan itu selalu mampu menggelitik sisi lain di hati nya.
Mobil Zion terparkir indah di basement sebuah apartemen mewah. Berea berusaha agar tak terlihat tercengang. Gengsi selalu membuat nya tak pernah sekalipun memuji siapapun kecuali sang ayah tercinta.
"Apa kau sudah mulai terkagum-kagum pada ku Berea sayang?" Zion berdiri si sisi mobil nya sambil menatap Berea dengan tatapan menjengkelkan. Berea melengos menatap barisan mobil mewah yang terparkir di sana. Mobil-mobil seperti itu banyak di garasi rumah nya. Hanya untuk koleksi ketimbang untuk di pakai, jadi dia sudah bosan mengagumi kemewahan tersebut.
"Di rumah ku, rongsokan-rongsokan ini hanya akan menjadi pajangan sesaat. Setelah bosan, ayah ku akan memberikan nya secara percuma pada beberapa pekerja nya. Apa kau lupa ? kau salah satu dari sekian banyak orang yang beruntung itu?" Zion kembali mendengus. Memajukan bibirnya hingga puluhan mil.
Benar memang, dia salah satu dari orang beruntung itu. Namun bukan karena diri nya tak mampu untuk membeli nya. Hanya saja, Zion tak rela jika mobil tersebut di berikan pada orang lain. Mobil itu menyimpan banyak kenangan nya bersama Berea. Mana mungkin dia rela membiarkan nya begitu saja.
"Ayo naik, aku akan memamerkan pada mu seberapa kaya nya aku." Zion merangkul bahu Berea membawa mya menuju elevator.
Setiba di unit nya, Zion membuka pintu penthouse nya dengan gaya jumawa.
__ADS_1
"Tadaaa...! lihat lah! bukan kah aku sudah bilang, jika aku ini orang kaya. Silah kan duduk nona Berea, kau tamu wanita pertama yang ku ajak kemari. Jadi berbanggalah untuk itu." Berea mencebik remeh.
"Itu karena tidak ada satu pun wanita di kota ini yang mau dengan mu." Ujar Berea tak mau kalah.
"Haiishhh kau ini.. Aku lapar, kau ingin ku masak kan apa?" Zion berusaha mengalihkan topik tak berbobot mereka ke menu makan malam.
"Buat kan aku steak, kau tau itu kesukaan ku. Seharusnya kau tidak perlu lagi bertanya." Zion memutar bola mata nya jengah. Lalu bergegas menuju dapur nya.
Berea melihat sekeliling, hingga akhir nya mata nya berhenti tepat pada Zion yang tengah berkutat dengan aktivitas nya. Zion terlihat sangat berbeda, lebih dewasa dan entah lah. Seperti pria asing yang baru saja dia kenali.
"Katakan jika masakan mu sudah selesai, aku ingin tidur sejenak." Berea meninggal dapur menuju ruang tamu.
"Kau bisa tidur di kamar ku di atas, Be!" seru Zion dari arah dapur, namun tak di hiraukan oleh gadis itu. Berea lebih memilih tidur di sofa empuk itu kemudian tak lama gadis datar itu terlelap.
Satu jam berkutat dengan hawa panas, Zion menghampiri Berea yang tengah tertidur pulas.
Tangan Zion terulur merapikan anak rambut Berea yang menjuntai menutupi sebagian wajah cantik alami gadis itu.
Diam-diam ada mata yang hampir menetes kan air bening dari sudut mata nya. Berea tidak benar-benar tertidur lelap, tadi nya dia ingin mengejutkan pria itu dengan kejahilan nya. Namun malah diri nya yang di buat terkejut.
Entah mengapa diri nya tak bisa menembus batas pikiran dan isi hati Zion. Kini dia tau penyebab nya. Sama seperti sang ibu, diri nya tak akan mampu menembus batas pikiran orang yang menyayangi nya dengan tulus.
Pantas saja jika selama ini, Lizzie tak pernah tau bagaimana isi hati sang suami. Bagaimana terluka nya hati pria itu akan perilakunya pada Berea. Lizzie hanya melihat kulit luar nya saja, tanpa tau jika isi nya perlahan mulai membusuk.
Berea melenguh pelan, berpura-pura seolah diri nya terganggu oleh sentuhan Zion.
"Hei putri tidur..apa tidur mu nyenyak hmmm?"
"Ck! kau pasti sengaja membuat ku terbangun, bukan? Apa masakan mu sudah jadi, aku sangat lapar." Berea beranjak menuju meja makan. Liur nya hampir menetes melihat menu menggugah selera tersebut.
"Aku memasak nya khusus untuk tamu spesial ku. Jadi berterima kasih lah pada ku, untuk jamuan istimewa ini." Ucap Zion memamerkan wajah tengil nya.
__ADS_1
"Kau selalu saja merusak mood ku, untung aku lapar. Jika tidak, masakan tak enak mu ini akan sia-sia saja." Elak Berea memalingkan wajah nya ke arah piring steak daging di hadapan nya. Dia terlalu malu menatap wajah Zion berlama-lama. Entah mengapa setelah mengetahui isi hati pria itu, malah membuat nya tak berdaya.
"Makan nya pelan-pelan saja, aku tau masakan ku tak ada dua nya. Tapi jangan terlalu nampak, itu akan membuat image mu terjun bebas tak bersisa." Cerocos Zion memotong steak tersebut hingga menjadi potongan kecil.
Itu kebiasaan nya dari dulu, dia tak suka jika Berea bersusah-payah mengunyah nya berlama-lama. Perhatian itu terasa berbeda bagi berea, malah membuat nya salah tingkah dan gugup bersamaan.
"Kau tinggal di apartemen mana?" Sela Zion menatap Berea.
Deg
Oh Ghost! tatapan mata itu. Berea tak tahan lagi.
"Makan lah yang benar Zion, kau bisa tersedak jika terus berbicara." Ujar Berea kesal.
"Ck! aku hanya bertanya, di mana kau tinggal. Tinggal jawab saja kenapa susah sekali." Gerutu Zion mencebik kesal.
"Aku tinggal di gudang! apa itu cukup untuk meraih simpati mu? Aku anak paling malang di dunia ini, keluarga ku kaya raya dan ibu ku dengan suka rela menempatkan ku di sebuah gudang untuk di jadikan kamar tidur ku..." Berea terisak tanpa sadar, kini dia hanya ingin menumpahkan seluruh kesesakan nya. Dia sudah bosan menangis di balik selimut guna meredam suara tangisan nya.
Dia butuh di dengar kan, dia butuh sandaran dan ayah nya tak berada di sisi nya. Dia butuh pelukan hangat yang menenangkan, dia butuh Zion melakukan semua itu untuk nya. Namun lagi-lagi lidah nya terlalu kaku, terbiasa menyelesaikan masalah nya sendiri sejak kecil, jiwa tangguh nya menolak untuk di kasihani.
Zion beranjak dari kursi lalu memeluk Berea tanpa meminta persetujuan.
"Hei, kenapa gadis jagoan ini menangis hmmm? apa hawa kota ini membuat hormon mu berubah menjadi seorang wanita seutuhnya?" Seloroh Zion berusaha menahan air matanya agar tak terjatuh. Dia tau masa sulit Berea sejak gadis itu kecil. Di abaikan hanya karena darah mengalir di tubuh nya.
"Dasar perusak suasana.!" Hardik Berea kesal, Zion tergelak renyah guna menyamarkan luka hati gadis itu. Gadis yang teramat sangat dia sayangi, hingga rela meninggalkan keluarga nya sejak usia remaja. Hidup di kota asing seperti anak yatim piatu. Mengurangi usia nya agar sepantaran dengan usia Berea, yang dua tau lebih muda dari nya. Jika Berea genap berusia 18 tahun, di tahun ini. Maka Zion, genap berusia 20 tahun di tahun dan bulan yang sama dengan nya.
Mereka sudah di garis kan oleh takdir untuk saling melengkapi, sehingga kelahiran nya begitu mudah dan menjadi berkat bagi keluarga besar nya. Ayah nya hanya seorang sopir taksi lepas, namun kini menjadi pengusaha properti sukses berkat takdir kelahiran nya. Di usia nya yang ke 17 tahun, kedua orang tua nya menceritakan tentang wanita baik hati yang telah merubah nasib mereka. Dan Zion, adalah jodoh terpilih untuk putri wanita itu kelak. Itulah kenapa Zion di kirim ke kota di mana Berea tinggal, agar bisa dekat dengan jodoh sejati nya.
Takdir tak pernah ada yang mampu untuk menebak nya, begitu lah takdir Zion dan Berea. Terbiasa saling melontarkan kalimat saling meledek, kini berusaha menyimpan perasaan masing-masing dengan sedikit canggung.
∆Tambahan informasi guys, novel ini akan membagi give away berupa pulsa 20rb untuk tiga orang yang mendapat kan julukan silver fans, dan pulsa 50rb untuk dua orang dengan julukan gold fans. Akan di undi di akhir Oktober bulan depan yaa.(Pulsa bisa di ganti dengan token listrik ya, kalau mau)
__ADS_1