
"Dokter! nona muda sadar!" seru seorang perawat dari dalam ruangan, membuat atensi mereka berpindah ke balik punggung si dokter.
"Tunggu lah di sini, biar kan mereka melakukan tugas nya tanpa merasa tertekan, nona muda." Ujar Jeff menghentikan langkah nona nya untuk ikut masuk ke dalam. Leah menurut, walau helaan nafas berat keluar sebagai bentuk protes nya.
"Kak, minumlah" tawar Alex menyodorkan botol minum pada kakak nya, Leah tersenyum miring melihat botol tersebut. Dia tau apa isi nya, namun tetap meraihnya lalu meminumnya beberapa teguk. Morgan menatap intens wajah Kakak, menunggu reaksi jijik bahkan muntah. Namun sampai beberapa menit berlalu, Leah masih baik-baik saja.
"Cihh.. kau selalu membedakan aku dan saudara mu yang lain kak. Lihat isi minuman ku, rasanya sangat mengerikan. Dan kau memberikan minuman terbaik untuk kakak perempuan kita ini tanpa memikirkan nasib malang ku." Protes Morgan tak terima, dirinya di Paksa meminum minuman yang dibuat oleh ibunya di kala mereka lelah. Sementara Alex tidak, begitu lah pikirnya, karena setiap kali selesai minum, tidak ada reaksi apapun dari kakaknya. Tidak seperti nya, yang langsung terlihat masam karena menahan mual.
"Mau mencobanya ?" tawar Leah penuh arti, Morgan langsung mengangguk mantap. Sekali teguk, wajah nya langsung memerah.
Tak lama, Morgan berlari menuju wastafel. Suara muntahannya terdengar menyedihkan, Leah menghampiri sang adik lalu mengusap lembut punggung adik malang nya itu.
"Ck! kau ini cengeng sekali, hanya seperti itu kau sudah tidak tahan." Omel Leah namun tetap memijit pelan tengkuk Morgan. "Ini minumlah, " Leah menyerahkan minuman kemasan lada adiknya. Morgan meneguk isinya hingga tandas tak bersisa.
"Piuhhhh... apa minuman itu berasal dari neraka ? kenapa rasanya sangat panas dan menjijikkan." Keluh Morgan masih ngos-ngosan akibat terlalu banyak muntah.
"Kau benar adikku, minuman itu resepnya dari raja iblis, dan ramuan nya berasal dari dasar neraka paling dalam. Kau harus sering-sering meminum nya agar memiliki imun yang kuat." Ledek Leah tertawa renyah. Morgan mendelik ke arah kakak nya dengan wajah tak suka.
"Kalian berdua sama-sama menyebalkan." ketus nya kembali ke tempat duduk kemudian bersandar. Dia mengantuk, sekarang sudah hampir pagi.
klek
"Nona muda sudah baik-baik saja, beliau akan kami pindah kam melalui lorong steril dari dalam ruangan ini. Silahkan menunggu di ruangan di ujung koridor ini, Jeff akan mengarah kan." Ujar nya menginformasikan kondisi terkini Lizzie.
"Ayo nona" ajak Jeff mengarah para tuan dan nona muda nya ke ruangan yang akan Lizzie tempati.
"Kak, gendong" rengek Morgan mulai bersikap manja.
Leah mendorong kursi roda yang kebetulan tak jauh dari nya "pakai kereta bayi itu saja, adik ku." Ledek Leah tertawa kecil. Morgan melipat wajahnya kesal, Alex yang tak Ingin mendengar adiknya terus merengek. Mengarah kan punggung nya pada Morgan, Membuat senyum Morgan kembali mengembang. Dengan cepat dia menaiki punggung sang kakak dan menjulurkan lidahnya pada Leah.
Leah tersenyum geli melihat kelakuan kekanakan adik sepupu nya itu. Mereka berjalan mengikuti langkah tegap Jeff menuju ruangan Lizzie. Sesampai di depan pintu, ada dua orang sedang berjaidi sana. Mereka menunduk hormat pada para anak muda itu.
__ADS_1
Klek
Leah berlari kecil ke arah ranjang kakak nya, Lizzie tersenyum samar melihat raut kecemasan di wajah adik-adik nya. Dan tersenyum geli saat melihat Morgan tertidur seperti bayi di punggung Alex. Ekor matanya mengarah pada bed lain di sisi kiri nya, agar Alex meletakkan bayi besar itu di sana.
"Kau membuat ku takut kak" ujar Leah terisak pelan sambil memeluk tangan kakaknya.
"Kakak baik-baik saja, tidak akan mudah membuat kakak mati. Kau tau itu" ucap Lizzie mengelus pipi sang adik dengan penuh kerinduan.
"Aku tau, tapi aku juga tau. Untuk bertahan, kau harus merasakan kesakitan yang luar biasa. Itu tak adil, aku tidak rela." Isak nya semakin keras.
"Shuutttt, suaramu bisa membuat bayi kita terbangun, hmm?" bujuk Lizzie lembut. Alex menghampiri sang kakak lalu berdiri di samping ranjang Lizzie. Tatapan nya syarat makna.
"Kau tidak ingin memeluk kakak mu ini, Alex ?" suara lembut Lizzie membuat air matanya menetes tanpa permisi, lengan kokoh Alex memeluk kakaknya didadanya. Berkali-kali pria itu mencium kelapa kakak nya dengan penuh sayang, mereka bahkan baru bertemu. Namun seperti sudah terikat dari semenjak mereka belum dilahirkan.
"Kenapa kau juga jadi cengeng, apa terus bersama mereka membuat adik ku yang bagai kesatria ini berubah mellow, hmm?" Alex menyeka sudut matanya kemudian melerai pelukan mereka. Alex duduk di sisi ranjang sambil menggenggam tangan Lizzie.
"Kami mencari mu kak, kenapa kau tidak ingin kami temukan ?" bukannya menjawab pertanyaan sang kakak, Alex menanyakan pertanyaan lain yang mengusik hati nya. Lizzie tersenyum simpul.
"Jalan yang ke tempuh tidak lah mulus, aku tak ingin kalian terluka. Leon kita harus menduduki singgasana nya sebelum purnama bulan biru dua minggu lagi. Kalian bisa celaka bila bersama ku, aku tidak mau. Cukup aku saja, ini adalah takdir ku, ini peperangan ku, Lex." Ucap Lizzie memberi pengertian pada adiknya.
"Kau tau kak, mom dengan keras menentang takdir, agar aku terlahir sebagai seorang pewaris darah murni. Setiap hari ibuku itu menangisi nasib malang kakaknya, dan aku tidak ingin menjadi salah satu nya. Menjadi adik yang hanya bisa menyaksikan, bagaimana kakakku terluka sendirian tanpa bisa berbuat apa-apa." Alex menenggelamkan wajahnya di telapak tangan Lizzie, perbuatan yang dia lakukan dengan sadar itu, telah menarik sebagian energi negatif dari tubuh Lizzie ke dalam tubuhnya. Dia tidak ingin kakaknya menanggung beban dari takdir buruk nya seorang diri.
Lizzie terkesiap lalu menarik tangannya, namun sayang, Alex sudah mendapatkan sebagian dari takdir buruk nya.
"Kenapa kau lakukan ini, Alex. Apa yang harus aku katakan pada bibi jika terjadi sesuatu padamu. Bagaimana bisa aku memisahkan seorang putra dari ibunya" lirih Lizzie menatap netra Alex tak berkedip.
"Mom tau resikonya memiliki keturunan seorang pewaris, dia mengirim Morgan bersamaan ku, agar Ketika anaknya kembali. Salah satunya tetap berhasil pulang kepelukan ibu nya, meski tidak lengkap. Aku menyayangimu kak, takdirmu kini menjadi takdir ku juga." Pungkas Alex tak bisa di bantah lagi. Leah menatap kedua nya dengan burai air mata. Sebegitu besar kasih sayang Alex pada kakak nya, sehingga rela menyerahkan takdirnya ke sarang iblis tanpa paksaan.
"Kenapa dia bisa, kenapa aku tidak ?" tanya Leah menyela situasi, seakan tak terima pada Alex yang begitu mudah menukar takdir nya. Suaranya tercekat menahan sesak.
Lizzie menatap adik nya dengan senyum teduh, persis seperti ibu mereka. Hati Leah menghangat melihat ketulusan kasih sayang kakaknya.
__ADS_1
"Karena kau istimewa, kau akan menjadi penjaga adik-adik kita. Jangan remehkan takdir mu sendiri, itu tidak baik." Nasihat Lizzie bijak. Adik-adik nya memiliki keistimewaan masing-masing, mereka hanya perlu menemukan nya di dalam diri mereka bila saatnya sudah tiba.
Klek
"Maaf nona, saya hanya ingin mengantar kan makanan, dan mengabarkan jika kamar untuk kedua tuan muda sudah siap." Ucap seorang pria menyela.
"Kami di sini saja dulu, makanan nya akan kami makan di sini juga. Terimakasih" ucap Alex mewakili saudara nya.
"Baik tuan muda" balas nya menunduk hormat, lalu mempersilahkan seorang wanita masuk mendorong troli makanan.
"Jika masih ada yang di butuhkan, katakan saja pada ku tuan, nona. Namaku Nayana, silah kan di makan" ujar nya mempersilahkan, setelah menunduk hormat pada para majikan nya. Nayana undur diri.
"Gadis yang sangat cantik, bukan?" ujar Lizzie tiba-tiba. Alex salah tingkah mendengar ucapan kakak nya.
"Biasa saja" elak nya mulai memilih makanan yang akan dia makan. Namun sebelum itu, Alex memilah makanan untuk sang kakak terlebih dahulu.
"Makanlah kak, kau harus banyak makan." Ujar Alex menyerah kan piring berisi banyak makanan untuk kakak nya. Lizzie tersenyum melihat porsi makanan di piring nya.
"Kau ingin membuat kakak mu ini gendut, dengan makanan sebanyak ini" ujar Lizzie terkekeh geli.
"Dia suka melihat wanita montok kak, jadi jangan heran jika Alex meracik makanan mu seperti orang tidak makan 3 hari." Sambung Leah meledek adik nya. Wajah Alex pias mendengar celotehan kakak nya.
"Ck! mana ada seperti itu, kak Lizzie butuh banyak makan agar segera pulih. Kau ini" rajuk Alex menekuk wajah nya.
"Ya sudah, aku akan memakan nya. Kalian berdua juga, makan lah. Morgan jika bangun akan menghabiskan nya tanpa sisa." Ujar Lizzie menengahi perdebatan kedua adik nya.
Leah mengambil makanan untuk diri nya, makanan yang sangat lezat. Seumur hidup, mereka tidak pernah memakan nya. Teringat akan nasib ibu dan adik mereka Leon. Ibu nya pasti sedang menunggu sisa sarapan adik mereka itu. Mata kedua nya berembun mengenang masa-masa sulit mereka selama ini.
Alex yang peka meletakkan sendok nya "bibi dan Leon makan dengan baik sekarang, jangan khawatir kan mereka." Ucap Alex menenangkan kedua kakak nya. Ibu nya pasti sudah menemukan keberadaan keduanya sekarang, berkat seorang Servidor yang ada di rumah mereka.
Andai mereka tau sejak lama keberadaan bibi nya itu, maka kehidupan mereka tidak akan sesukar itu. Untuk makan pun bibi nya harus menunggu sisa, agar makanan mereka tetap cukup untuk besok dan besok nya lagi.
__ADS_1
Mereka kembali makan dalam diam, pikiran mereka menerawang jauh berkelana menembus batas waktu masing-masing.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ