Darkest Dream

Darkest Dream
Keserakahan nenek moyang


__ADS_3

Zora menatap lembaran berkas yang menggunung di hadapan dengan wajah kusut. Kepala nya pusing, membaca satu lembar saja, otaknya sudah panas dingin.


Tangannya meraih interkom, untuk menghubungi sekretaris nya.


"Kau, masuk!" titah nya singkat dan padat.


klek


"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya sang sekretaris menunduk hormat.


"Kerjakan semua ini, baca dan pahami. Setelah itu, jelaskan pada ku garis besar nya saja. Aku lelah, dan ya, jangan sampai nenek ku tau jika aku tidak mengerjakan apapun di kantor. Atau kau akan ku pecat." Ancam Zora menatap tajam pada sekretaris nya.


Semenjak Sky menanda tangani peralihan ahli waris perusahaan, dan semua aset keluarga Belluwig. Zora mengambil alih semua nya, termasuk kedudukan Sky sebagai seorang CEO. Meski masih bekerja, Sky hanya sebagai seorang direktur. Dan posisi chairman masih di pegang oleh Edgar. Itulah satu-satunya alasan kenapa pria itu masih bebas berkeliaran di perusahaan sesuka hati. Kedudukan tertinggi masih dalam genggaman tangan nya.


"Maaf, nona. Saya tidak bisa, semua harus anda kerjakan sendiri. Tuan Edgar sudah mengultimatum perintah mutlak, agat segala hal yang berurusan dengan tugas CEO, anda kerjakan sendiri." Tolak Yoona tegas namun tetap dalam batasan nya.


Zora mengepal kan tangan nya, gadis itu kesal, andai saja tangkup kekuasaan tidak berada di tangan sang kakek. Akan dia lenyap kan pria tua itu dengan senang hati.


"Kau pergi lah!" usir nya dengan rahang mengeras, andai ibu nya tak bodoh. Diri nya tidak akan terjebak dalam situasi tak menyenangkan ini. Usia nya masih sangat muda untuk di pusing kan dengan urusan pekerjaan, namun ibu nya yang minim pengetahuan, malah membuat keputusan yang merenggut kebebasan nya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Dor dor


Suara tembakan tanpa basa basi menyapa dua kepala pria bertubuh tegap, senyum remeh tercetak di wajah Lizzie.


"Aku pikir nenek ku harus lebih cerdas lagi dalam memilih anjing pemburu, agar aku tidak terlalu mudah menjinakkan nya dengan peluru ku. Sayang sekali, aku harus membuang isi senjata ku hanya untuk tikus got seperti kalian." Dua pria yang membuntuti Lizzie sejak dari toko buku tadi, kini sedang otw akhirat.

__ADS_1


Lizzie menatap lurus ke sebuah jalan, entah kenapa dia begitu tertarik untuk berjalan ke arah sana. Setelah menyimpan senjata di balik jaket nya, Lizzie mulai menelusuri jalan yang nampak sepi. Hanya ada beberapa rumah, namun seperti nya di sana daerah yang benar-benar minim penduduk.


Setelah berjalan hampir 5 menit, Lizzie menatap bangunan yang nampak begitu kumuh dari luar. Tapi entah kenapa dia yakin, di dalam nya ada penghuni nya. Insting kuat memaksa nya untuk masuk, saat kaki nya mulai menapaki anak tangga, sekelebat bayangan terlintas di pikiran nya. Tentang gambaran sebuah keluarga yang sangat bahagia pernah tinggal di rumah itu. Air mata Lizzie menetes tanpa dia sadari, Lizzie mengusap air mata nya. Satu bayangan tentang anak perempuan kembali terlintas, namun kali ini dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.


Lizzie tidak tahan lagi, kaki nya melangkah mundur. Namun saat akan menuruni tangga terakhir, sebuah panggilan membuat langkah nya terhenti.


"Lizzie! Lizzie! heredero de sangre pura al trono de belluwig! bienvenido a casa!" Hembusan angin yang berhembus kencang dari arah pintu rumah yang tiba-tiba terbuka, menggema kan sebuah suara. Untuk pertama kali nya, Lizzie merasa tidak nyaman dengan keajaiban nya.


Dengan sekali tarikan nafas, Lizzie memutuskan untuk kembali melanjut kan langkah nya menaiki anak tangga. Saat mencapai daun pintu, mata nya menelisik setiap sudut ruangan tersebut. Hal yang menarik perhatian nya adalah, sebuah pigura besar yang terpajang indah di dinding. Seperti ada magnet yang menarik nya untuk masuk, Lizzie mulai melangkah pelan. Ada setitik keraguan namun rasa penasaran nya jauh lebih besar.


Krek


Lizzie melempar pandangan nya ke bawah, ternyata kaki nya tanpa sengaja menginjak sebuah pigura kecil. Di raih nya pigura tersebut lalu membersih kan debu tebal yang menempel di sana.


Mata nya menyipit, saat melihat potret seorang gadis yang sangat mirip dengan nya. Hanya saja dalam balutan busana gadis pada zaman nya, dengan rambut ikal panjang dan poni menutupi kening nya. Sangat mirip, jika saja mereka di dandani dengan pakaian dan model rambut yang sama, maka akan sangat sulit untuk membedakan kedua nya.


"Selamat datang di rumah, Lizzie" sapaan hangat mencuri perhatian Lizzie dari pigura tersebut. Saat mata nya menatap lurus ke depan, Lizzie dapat melihat dengan jelas, jika situasi di dalam rumah itu nampak begitu berbeda. Bersih dan rapi, juga seorang gadis cantik yang persis seperti diri nya tengah berdiri sejarak satu depa dari nya.


"Aku senang akhirnya kau datang, aku menunggu mu lama sekali. Seharus nya kau sudah tiba kemari saat pertama kali kau tiba di kota ini. Sulit sekali ya, menemukan jalan pulang ?" kekeh nya di akhir kalimat. Lizzie masih belum bereaksi apa-apa, wajah datar nya menyirat kan jika dia menolak untuk mempercayai apa yang dia lihat.


Seperti memahami apa yang sedang Lizzie pikir kan, gadis itu kembali bersuara.


"Kau tau kita sama, jadi jangan memaksa ku mengurai apa yang ada dalam pikiran mu saat ini, juga waktu yang akan datang." Ucap nya lagi.


"Kau hanya ilusi " sarkas Lizzie lalu melempar pigura tersebut ke arah gadis yang dia anggap ilusi nya. Pigura itu menembus tubuh gadis itu, dan membuat nya tertawa renyah dengan suara yang sedikit mengerikan.


"Tidak salah kau terlahir sebagai pewaris darah murni, Lizzie. Kau pemberani, tangguh dan tak terkalahkan. Hampir tidak ada celah dalam diri mu yang dapat di tembus bahkan oleh keturunan murni lain nya. Namun sayang, takdir mu tak seindah keajaiban yang kau miliki." Ujar nya tersenyum miring.

__ADS_1


"Aku punya satu penawaran untuk mu, kau bisa menukar takdir buruk mu, dengan tetesan darah murni lain nya. Aku akan dengan senang hati mensucikan takdir yang telah di garis kan untuk mu." Wanita itu menjeda ucapannya, menatap Lizzie penuh makna. "Aku menginginkan Leon, adik kesayangan mu yang sedikit cengeng dan tidak berguna itu. Maka akan ku berikan tahta kerjaan Belluwig secara suka rela, ku kembali kan ayah tercinta mu, dan ku utuh kan kembali, kebahagiaan kedua orang tua mu. Dan kau, akan terbebas dari segala keburukan, bagaimana ?" Lanjut nya menanti jawaban dengan penuh harapan. Tawa Lizzie pecah, suara tawa yang tidak terdengar baik-baik saja.


Setelah puas mentertawai penawaran konyol tersebut, Lizzie kembali menatap datar pada gadis itu.


"Kau sungguh ilusi paling menyedihkan yang pernah ku lihat. Kau tau, Leon ku sangat lah berharga. Leon ku yang kau sebut tak berguna itu, bahkan mampu meruntuhkan tembok pertahanan kerajaan Belluwig hanya dengan satu kalimat. Dan kau? astaga, kau adalah gambaran nenek moyang yang penuh ambisi dan keserakahan hakiki. Tidak salah kenapa nenek ku bisa menjadi seperti jelmaan iblis, ternyata nenek moyang ku tidak lebih dari setengah penghuni neraka jahanam." Lontaran kalimat Lizzie mematik kemarahan gadis itu, dengan seringai menyerupai bentuk tubuh setengah manusia dan setengah iblis. Wanita itu menyerang Lizzie dengan segenap kekuatan penuh yang dia miliki.


Namun sayang, Lizzie yang memang terbentuk dari semua gambaran masa lalu, mampu mempertahankan diri dari serangan bertubi-tubi tersebut. Saat tangan nya terangkat, sebuah cahaya keluar dari telapak tangan nya.


"Aku ingin memberikan sedikit hadiah untuk mu, bawa kembali ke sarang pewaris yang seharusnya menempatkan dimana kau harusnya nya berada." Sekali sentakan, cahaya itu sudah berpindah ke tubuh wanita setengah iblis itu. Teriakan pilu terdengar begitu menyayat hati, kini balik Lizzie yang menyeringai puas.


Kumpulan asap mulai menghilang bersamaan dengan lenyap nya wanita tadi. Dan suasana di dalam rumah itu kembali seperti semula, dimana saat pertama kali Lizzie melihat nya.


"Entah ini kemalangan atau keberuntungan, aku terlahir dari wujud hasil keserakahan nenek moyang ku." Ujar Lizzie terdengar begitu lirih. Sudut matanya berembun, kala mengingat akhir dari perjuangan nya nanti.


Lizzie kembali menatap pigura besar di dinding, tatapan nya penuh kesedihan.


"Kau senang melihat bagaimana anak cucu mu saling menyakiti, hanya demi sebuah kekuasaan ? aku harap neraka masih mau menampung manusia barhati iblis seperti mu. Sekarang tatap keturunan mu dari sudut neraka paling panas, agar kau tau, hasil dari ambisi mu di masa lalu. Telah mengutuk garis keturunan anak perempuan, di keluarga mereka masing-masing. Kau benar-benar malapetaka, nenek buyut!" Ujar Lizzie mengeluarkan uneg-uneg di hati nya.


Rasa marah dan tak terima akan takdir yang dia ampu, membuat jiwa nya tertekan setiap waktu tanpa ada seorang pun yang tau. Kerapuhan nya selalu dia sembunyikan di balik sikap tak tersentuh, namun sangat hangat untuk keluarga nya.


Lizzie keluar dari rumah itu membawa sejuta jawaban, yang kini akan menjadi jembatan nya untuk membawa sang ayah kembali. Dan menempatkan Leon di tempat yang seharusnya dimana adik nya berada. Yang harus dia lakukan lebih dulu adalah mencari keberadaan adik-adik nya yang lain di kota itu, dia tau Leah menggunakan Alex sebagai tameng. Karena adiknya itu memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengelabui keadaan. Leah tidak ingin di temukan, karena peperangan ini bukanlah untuk nya. Sebagai panglima perang, Lizzie ingin menarik adik-adik dari Medan perang. Dia tidak ingin kehilangan satupun di antara mereka, dan sayang, Leah sudah mengetahui semuanya.


Note :


"Lizzie! Lizzie! heredero de sangre pura al trono de belluwig! bienvenido a casa!"(Lizzie! Lizzie! Pewaris darah murni takhta Belluwig! Selamat datang di rumah!)


**โˆ†Kisah ini murni hasil kehaluan hakiki author, mohon maaf jika tidak sesuai dengan ekspektasi para Readers. Terimakasih sudah mengikuti cerita receh othor hingga ke bab ini, semoga terhibur. Semua hal yang tertuang dalam novel ini tidak untuk di tiru, maaf jika kesan moral nya minim. Author masih belajar menjadi penulis yang berbobot seperti author lain yang sudah senior dan hebat.

__ADS_1


โˆ†Mohon dukungan nya bagi yang menyukai nya saja, ya. Tidak ada paksaan ๐Ÿค— tinggalkan jejak kalian. Bagi sesama author, maaf jika dalam mencicil nya agak sedikit slow. Karena terlalu banyak yang author cicil, saling mendukung itu penting, agar kita bisa berkembang bersama tanpa saling menumpang nindihkah karya sesama penulis. Bisa di lihat level membaca author yang menanjak naik, author kesulitan baca ngebut karena ada banyak karya yang masuk daftar favorit othor. Yang bab nya udah banyak, author usaha kan mencicil nya sedikit-sedikit.


โˆ†Salam hangat sesama author, sehat selalu. Tuhan memberkati ๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ**


__ADS_2