Darkest Dream

Darkest Dream
Penyatuan takdir


__ADS_3

"Ya seperti nya begitu, salon langganan nenek menawarkan cream menicure terbaru. Kata nya itu produk terbaik meski baru di luncurkan, tapi nenek malah mengalami iritasi menyebal kan ini." Keluh Samara sedikit menggaruk kulit disekitar kuku jari nya. Zora hanya mengangguk paham. Kemudian pergi meninggalkan ibu dan nenek nya di meja makan.


"Mora..hari ini hingga dua hari ke depan, pergi lah ke rumah orang tua mu. Menginap lah di sana untuk sementara, Zora biar aku yang akan mengurus nya." Titah Samara pada menantu nya setelah punggung kecil Zora sudah tak terlihat lagi.


Walau heran, namun Mora tidak pernah bisa membantah ucapan mertua nya. Semua yang wanita itu katakan, seperti suatu kewajiban yang harus dia patuhi setiap saat.


"Baik mom, aku akan berangkat siang ini. Boleh kah aku menghubungi Zora saat aku akan berangkat nanti ? aku tak ingin putri ku mencemaskan kepergian ku yang terkesan sangat mendadak ini." Tanya Mora hati-hati.


"Silah kan, katakan salah satu orang tua mu sedang sakit. Kau ingin menjenguk mereka untuk beberapa hari ke depan. Jangan lupa hubungi juga kedua orang tua mu, pasti kan mereka mengatakan hal yang sama seperti yang kau katakan pada nya." Mora mengangguk paham tanpa banyak bertanya lagi. Lebih baik diam dan di jauh kan dari masalah, begitulah pikir nya.


Mora pun pamit pergi bersiap di kamar nya, membawa berbagai macam pertanyaan yang tak mungkin berani dia tanyakan.


Samara menatap kepergian Mora dengan tatapan tak terbaca. Lalu melirik jari-jari tangan nya yang semakin menghitam hingga buku jari dekat telapak tangan nya. Pikiran nya kacau, namun sebisa mungkin terlihat tenang seolah tak terjadi apa-apa.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Lizzie berusaha menahan kesadaran nya sebisa yang dia mampu. Rupa nya obat bius yang di tembakan ke punggung nya memiliki dosis yang tidak bisa dia lampaui.


"Siram dia dengan air dingin, pasti kan dengan banyak es batu. Aku tidak berminat meniduri ja*l*ang pemalas!.." Simburan air es membuat Lizzie terbatuk-batuk juga menggigil kedinginan. Mata nya mengerjab untuk melihat situasi keberadaan nya sekarang. Mata nya seketika redup saat melihat takdir buruk kini berada tepat di hadapan nya. Takdir yang paling dia hindari, kini malah datang menghampiri.

__ADS_1


Lizzie tersenyum miris, rasa nya dia ingin tertawa keras sekarang. Tawa untuk menghibur hati nya yang sebentar lagi akan berduka.


"Apa kau senang bertemu dengan ku nona Lizzie ? aku sangat merindukan mu, sungguh. Andai saja kau tidak mengacau kan bisnis yang ku bangun dengan susah payah. Dan baru-baru ini ku dengar, kau lah penyebab kedua orang tua ku tewas. Mereka tewas karena menyelamatkan kau dan ibu mu! andai mereka tidak menyelamatkan kalian dari ledakan mobil itu. Kedua orang tua ku pasti masih hidup, bersama ku dan aku tidak akan menjadi anak yatim piatu yang menyedihkan..." Ale merendahkan suara di ujung kalimat nya, nada suaranya terdengar begitu lirih dan menyedihkan.


Lizzie menatap nanar pria yang kini tengah mencengkeram kedua pipinya dengan sangat keras.


"Apa sikap emosional mu ini untuk sebuah pengakuan, jika hati mu telah terpaut pada ku tuan Alessandro Del Piero ?" ucap Lizzie terdengar mengejek.


Ale menghempaskan wajah Lizzie ke samping lalu menampar nya bolak balik.


"Tingkat kepercayaan diri mu terlalu tinggi nona. Kau terlalu jauh dari bayangan wanita idaman yang mampu menarik perhatian ku." Sanggah Ale dengan sikap arogan. Lizzie tertawa pelan, sikap angkuh yang pria itu tunjukkan, sudah menjelaskan segala nya.


"Cuihhh.." Ale meludahi wajah Lizzie dengan penuh kebencian. "Bahkan untuk mengenal mu saja, aku tak sudi. Kini aku akan menghapus jejak perkenalan yang seharusnya tidak pernah terjadi diantara kita." Seringai serigala Ale perlihatkan membuat harapan Lizzie semakin menipis.


"Beri dia dua dosis sekaligus..aku ingin melihat reaksi wanita ja*l*ang ini saat aku gagahi.." Ale kemudian tertawa jahat, sangat jahat yang pernah Lizzie lihat. Hati menangis keras, bayangan wajah keluarga nya bermunculan satu persatu layaknya sebuah kaset yang sedang diputar. Yang berputar berulang-ulang di pelupuk mata sayu nya.


Detik demi detik berlalu, dua menit sudah setelah jarum suntik menembus kulit mulus lengan nya. Lizzie mulai terlihat gelisah, keringat dingin mulai terlihat berbutir di kening nya.


"Aku mohon, Ale. Ini adalah permohonan terakhir ku, henti kan ini. Aku tidak ingin membenci mu, sungguh. Orang tua mu masih hidup, mereka berada di markas Utara." Suara Lizzie bergetar, entah perasaan apa yang kini berusaha keras dia tahan. Ale kembali menyeringai, permohonan Lizzie bagai angin lalu di telinga nya.

__ADS_1


"Kau ingin mengelabui ku? ya ampun..kau bahkan berani menyebut namaku dengan tidak hormat. Rupa nya kau masih menyimpan keberanian di sisa kesadaran mu ini, nona. Kau menyedihkan, ayo kita rengkuh nikmat nya nirwana yang tidak akan pernah bisa kau lupakan bahkan hingga tertidur pun, kau akan selalu mengingat nya." Ale mengelus pipi lebam Lizzie, satu tangan nya bergerak lincah membuka Zipper jaket kulit di tubuh Lizzie.


Setelah yakin Lizzie mulai terbuai dengan segala sentuhan nya, Ale melepaskan ikatan di kedua tangan Lizzie secara perlahan. Dia yakin obat perang*sang yang dia masukkan ke dalam tubuh gadis itu bekerja dengan baik. Dua dosis sekaligus, bayangkan saja. Satu dosis saja bisa membuat wanita kehilangan kesadaran nya, apa dua dosis. Gadis itu bisa mengalami gagal jantung. Dan itu yang dia harapkan. Tekad nya sudah bulat, untuk membalas kan kematian kedua orang tua nya. Juga adik yang bahkan belum sempat dia lihat diperut ibunya, juga ikut pergi karena kejadian naas itu.


"Rileks baby.." bisik Sky dengan suara sensual di telinga Lizzie. Rupanya obat tersebut telah berhasil menguasai sepenuhnya sisa kesadaran yang mati-matian Lizzie pertahanan kan.


Lenguhan Lizzie membuat Ale semakin bersemangat, untuk menjelajahi lekuk tubuh Lizzie yang terlihat menggiurkan.


Hingga akhirnya terjadi lah penyatuan takdir yang di dasari dendam dan sebuah kutukan. Yang kelak akan menghadirkan peri cantik yang di beri nama, Berea.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Bern terengah-engah keringat dingin membanjiri tubuh nya. Baru saja pria itu mengalami mimpi terburuk sepanjang hidup nya.


"Aku harap kau baik-baik saja, honey..." Bern mengusap kasar wajah nya yang sudah basah di penuhi oleh keringat. Bayangan senyum manis Lizzie ketika mereka akan berpisah, terus membayangi ingatan nya.


Bern meraih baju kaos yang sengaja Lizzie tinggalkan di dalam lemari kamar tamu. Pria itu mendekap erat baju tersebut dengan penuh kerinduan. Di hirup nya aroma khas Lizzie di baju tersebut. Baju itu selalu dia bawa untuk menemani nya tidur.


"Aku merindukan mu, kau bahkan tidak memberi ku nomor ponsel yang bisa aku hubungi." Bern terkekeh saat mengingat, jika Lizzie adalah satu-satunya wanita yang di jaman ini. Yang tidak memiliki benda wajib umat manusia milenial tersebut.

__ADS_1


__ADS_2