
"Sofi? kenapa kau terlihat begitu gelisah?" Mina memperhatikan sang keponakan yang bersikap tak biasa. Sejak tadi terlihat gelisah dan sesekali melirik nyonya muda mereka. Mina merasa tidak enak hati jika sampai Sky mengetahui nya.
"Hah? ya bibi, maafkan aku. Aku hanya gelisah kemana tuan Jeff akan membawa kita. Nyonya Cloey sedang hamil, perjalanan jauh tidak akan baik untuk nya." Kilah Sofi terlihat meyakinkan. Mina pun mengangguk kan kepalanya, menyetujui apa yang di katakan oleh keponakan nya tersebut.
"Kalau begitu bersikap tenanglah, jangan terus melirik pada nyonya Cloey. Kau akan menimbulkan kesalahpahaman." Ujar Mina mengingat kan sang keponakan.
"Baik, bibi. Aku tidak akan mengulangi nya lagi" balas Sofi merasa bersalah pada sang bibi.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Jeff mengemudi kan mobilnya dengan laju sedang, mengingat sedang membawa ibu hamil, dirinya tak ingin mengambil resiko apapun.
"Apa posisimu sudah nyaman seperti ini, honey?" Sky menatap iba pada istri nya yang terlihat berbaring tak nyaman, dengan posisi kaki yang harus selalu menekuk.
"Aku baik dad, tidurlah, buat dirimu nyaman. Aku tidak apa-apa, posisi ku sudah cukup nyaman begini." Terang Cloey menenangkan suaminya.
"Baiklah, aku akan tidur sebentar saja. Bangunkan aku jika kau ingin kita beristirahat" ujar Sky mengingat kan sang istri. Cloey hanya mengangguk pelan. Sky mulai memejamkan matanya, sungguh pria itu di landa rasa kantuk tak terkira. Sejak semalam dirinya menahan kantuk agar bisa terus mengawasi istri juga anaknya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Bagaimana bisa mereka lolos dari anak buah Jeff? dan Jeff, kemana pria tak berguna itu. Bisa-bisanya dia menghilang di saat sedang di butuhkan seperti ini." Ujar Samara begitu marah dan kesal. Saat mendapati laporan orang suruhannya, jika Sky dan keluarga nya telah menghilang entah kemana.
__ADS_1
Belum lagi, anak buah Jeff ditemukan tewas di rumah putranya tersebut. Dan Jeff pun ikut menghilang dan entah berada di mana sekarang.
"Tenanglah Samara, jangan terlalu keras pada mereka. Ingat, kita butuh mereka untuk menemukan Sky juga Ashley." Ujar Edgar menenangkan, melihat tempramen buruk istri nya, Edgar tidak ingin satu nyawa lagi melayang di depannya karena sikap emosional sang istri.
"Dan kau, bawa dia. Kuburkan dengan layak, anggap saja ini peringatan untuk kalian semua. Bekerja lah dengan benar, jika masih menyayangi nyawa kalian." Edgar menatap kepergian anak buah Jeff yang sedang menggotong mayat teman mereka. Istri nya jika sudah marah, maka nyawa orang lain, akan di anggap sampah olehnya.
Pria itu mengusap wajahnya kasar, pikiran nya berkecamuk. Putri nya entah berada di mana, sementara keluarga Aslan telah di buat bangkrut oleh sang istri. Ibu kekasih putri nya itu bahkan masih dalam keadaan koma akibat ulah istri nya. Orang tua mana yang tidak syok melihat anak gadisnya diperko*sa seperti bintang. Mala mengalami serangan jantung melihat kondisi putri nya yang mengenaskan di ICU Rumah sakit.
Untung saja gadis itu punya fisik yang cukup kuat, setelah diper*kosa oleh beberapa orang dan di buang di pinggir jalan. Namun masih mampu bertahan hingga ditemukan oleh seseorang.
Istri nya sungguh kejam bukan? Edgar terlihat frustasi dengan hidup nya sekarang.
"Aku hanya ingin Sky di temukan, bawa Sky ke kabin, dan lakukan seperti apa yang dulu pernah kita lakukan. Kali ini l, pasti kan, Sky tidak akan mengingat apapun untuk selama-lamanya." Titah Samara begitu kejam. Beberapa anak buah Jeff yang masih ada disana hanya mengangguk mendengar perintah tak manusiawi tersebut. Mau apa lagi memangnya, karena nyawa mereka taruhannya.
Edgar menahan sesak di dadanya, hubungan nya dengan Ashley memang tidak begitu dekat. Namun dia sangat menyayangi putrinya tersebut.
"Bisakah kau tidak perlu mengatakan hal buruk pada putrimu, Samara? bagaimana pun, darahmu mengalir di setiap urat nadi Ashley. Perhatikan setiap ucapan mu, karena penyesalan mu kelak, akan terasa seperti sampah yang tak berarti." Ujar Edgar mengingat kan, sekuat tenaga, pria itu menahan diri agar tidak tersulut oleh sikap egoisme sang istri.
"Aku tidak akan pernah menyesali nya, Ed. Kau lupa, aku tidak pernah menginginkan nya? jadi hidup dan matinya pun, aku tidak peduli." Selesai dengan kalimat kejamnya, Samara meraih tasnya lalu berjalan meninggalkan Edgar yang masih mematung.
"Kau akan sangat menyesali nya suatu saat nanti, Samara. Kita lihat saja, saat itu tiba, kau tidak akan mendapatkan cinta dan perhatian anak-anak mu lagi. Meski hanya sekedar belas kasihan." Gumam Edgar mengertak giginya menahan amarah. Tangannya mengepal sempurna, sayangnya dia tidak bisa menyakiti wanita itu. Tidak untuk sekarang.
__ADS_1
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Baby? jangan lakukan itu lagi, bagaimana jika anak kita kenapa-kenapa." Jantung Aslan hampir saja berhenti berdetak, saat melihat Ashley turun dari atas pohon mangga dan meloncat dari ketinggian hampir 3 meter. Bukan perkara tinggi atau rendah nya, namun wanita muda itu sedang hamil 3 bulan.
"Aku baik-baik saja, lihatlah. Anakku ini kuat seperti ibunya" balas Ashley bangga, tangannya sibuk mengupas mangga di wastafel.
"Anakku juga, baby" ujar Aslan kesal. "Jangan lakukan itu lagi, oke. Jika kau menginginkan buah apapun, katakan padaku. Buatlah suamimu ini berguna" Ujar Aslan mengingat kan dengan nada sedikit kesal. Wanita yang dia nikahi dua bulan yang lalu itu selalu melakukan segalanya sendiri. Tidak pernah sekalipun Ashley merengek padanya, dia merasa menjadi suami yang tidak berguna.
"Baiklah, bisakah kau diam sekarang. Ambilkan aku mangkuk, taruh mayonaise di dalamnya. Aku ingin makan mangga ini dengan itu, rasanya pasti nikmat sekali." Titah Ashley tanpa menoleh, air liurnya sudah hampir menetes membayangkan makan mangga tersebut dengan saus mayonaise.
"Baik, baby. Apa lagi, kau ingin ku buatkan jus mangga sekalian?" tanya Aslan antusias. Lalu mengambil apa saja yang Ashley inginkan.
"Boleh, apa mangga kemarin masih ada?" kemarin sepulang bekerja, Aslan di berikan beberapa buah mangga oleh rekan kerjanya. Tentu saja dia menerima nya dengan senang hati, Ashley sangat menyukai buah tersebut semenjak hamil. Hampir setiap hari semenjak pohon mangga tetangga mereka berbuah, Ashley selalu memantau nya dari jendela dapur.
"Masih ada 3 buah, aku sengaja tidak memakannya, aku tau kau sangat menyukai nya." Ashley nampak berbinar senang mendengar nya.
"Baiklah buatkan jus mangga, kau juga, buatlah jika ingin. Kita tidak semiskin itu sehingga harus berhemat sedemikian rupa." Tutur Ashley sambil memotong buah mangga mudanya diatas telenan.
"Kau benar, tapi kita tidak bisa hidup Terlalu mencolok disini. Tidak akan sesuai dengan kehidupan kita yang sederhana." Jelas Aslan mengingat kan. Dirinya hanya bekerja sebagai buruh di pabrik pembuatan minuman kemasan di kota kecil itu. Bisa saja dia tidak bekerja, mengingat uang yang mereka bawa tidak lah sedikit. 10 tahun menganggur pun tidak akan habis. Namun Aslan ingin menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab untuk anak dan istri nya. Untuk itu dia melamar pekerjaan dibeberapa toko dan berakhir di terima dipabrik minuman tersebut.
"Jadi, aku boleh mengambil buah manggamu ini, baby?" tanya Aslan memastikan.
__ADS_1
"Hmm, ambillah. Jusku jangan di tambah susu, aku tidak suka manis." Ujar Ashley mengingat kan, semenjak hamil, dia sangat menyukai sesuatu yang rasanya asin dan asam. Alhasil, setiap kali memasak, makanan mereka akan di dominasi oleh rasa asin. Aslan pun tak pernah protes, baginya, asal Ashley makan minumnya tercukupi, dia tidak masalah dengan rasa apapun yang dimasak oleh istri nya.
"Siap, baby." Aslan mulai mengupas dua buah mangga yang baru saja dia keluar kan dari kulkas kecil mereka. Hidup sederhana sudah membuat mereka mandiri, segalanya mereka lakukan sendiri. Sesekali Aslan memanggil orang untuk membantu sang istri, karena tidak ingin istri nya kelelahan jika harus mencuci pakaian dan membersihkan rumah meski tidak lah besar. Hanya ada dua kamar saja, Aslan membeli rumah itu saat mereka baru saja tiba disana. Awalnya ingin mencari apartemen murah, namun seseorang mengatakan jika rumah di perumahan tersebut ada yang dijual. Maka Aslan langsung membeli nya tanpa pikir panjang, akan lebih baik jika mereka tinggal di area perumahan. Ashley bisa bersosialisasi dengan tetangga mereka, dan dia tidak akan cemas jika harus terpaksa lembur kerja.