
Di sebuah rumah kayu sederhana, seorang gadis tengah menata meja makan bersama sang ibu.
"Ini lagi, mom?" gerutu seorang gadis remaja kemudian mendudukkan bokong di kursi kayu yang sudah mulai lapuk.
"Berhentilah menggerutu untuk hal yang tidak kau sukai, kak." Omel si bungsu tak suka.
"Mom, duduklah. Kita makan apa saja setiap harinya, tidaklah masalah. Selagi itu mom yang memasak nya, aku akan memakannya dengan lahap." Ujar Leon menatap wajah teduh sang ibu.
"Terimakasih, nak. Ayo makan, kalian akan di tinggal oleh paman Duke nanti." titah sang ibu, lalu ikut duduk meski tidak ikut sarapan. Cloey selalu melakukan itu sejak bertahun-tahun lalu, menemani anak-anak nya makan dan dia akan memperhatikan apa yang mereka butuhkan.
"Mom, aku kenyang sekali. Makan lah sisa sarapan ku" Lizzie meninggalkan piring nya yang masih tersisa setengahnya.
"Aku juga, hari ini aku akan berlatih basket di sekolah. Makan pagi terlalu banyak tidak baik untuk pencernaan ku." Leon melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh sang kakak. Kebiasaan itu sudah mereka lakukan sejak beberapa tahun terakhir. Saat tanpa sengaja, ketiganya memergoki sang ibu memakan sisa makanan mereka di belakang. Semenjak tinggal di Meksiko, kebiasaan makan berat menjadi hal yang lumrah.
Selain jagung dan kacang-kacangan, nasi menjadi salah satu makanan pokok di sana. Pelarian mereka mengantarkan Cloey dan anak-anak ke kota tersebut. Mina kini sudah semakin menua, namun masih tetap setia pada majikannya. Kehidupan mereka yang cukup sukit, membuat Cloey harus bekerja keras seorang diri. Wanita itu bekerja di ladang jagung, juga ladang padi warga di kota kecil tempat mereka tinggal.
Rumah kayu yang mereka tinggali, adalah milik seorang wanita tua yang Cloey tolong di pasar, saat akan menjual kalung yang dihadiahkan oleh suaminya. Waktu itu mereka baru sampai di sana menjelang malam hari. Tanpa uang sepeser pun, akhirnya Cloey memutuskan menjual kalung tersebut, untuk sekedar mencari penginapan sementara waktu.
Sejak tinggal di Meksiko, Cloey menjadi buruh kasar. Namun wanita itu tidak pernah sekalipun mengeluh. Mina bertugas menjaga anak-anak nya jika dia pergi bekerja.
"Milikku tinggal sedikit, aku kenyang. Hari ini aku ikut latihan berkuda untuk persiapan olimpiade bulan depan. Aku takut muntah jika perut terisi terlalu penuh." Ujar si tengah yang selalu berbicara ketus, namun hati nya selembut kapas.
"Baiklah, taruh saja. Nanti mom akan memakannya, mom sudah kenyang sebenarnya, hanya saja sayang jika tidak di habiskan." Ucap Cloey menyimpun makanan anak-anak nya jadi satu wadah. Ketiganya menatap miris pada sang ibu, wanita tangguh itu selalu berbohong soal perutnya.
"Anak-anak, paman Duke sudah di depan. Cepatlah!" suara Mina berseru dari arah pintu depan sambil membawa sekeranjang sayuran.
"Kami berangkat mom, hati-hati saat pergi bekerja nanti." Lizzie mencium pipi sang ibu bergantian dengan adik-adik nya.
__ADS_1
"Mina kami pergi dulu, titip rumah dan jangan merindukan ku" Seloroh Leon menggoda Mina seraya mencium pipi wanita yang sudah seperti ibu kedua baginya.
"Kau ini, pergilah ke sekolah dan belajar lah dengan baik, supaya kau tidak hanya pintar merayu wanita saja." Omel Mina pada Leon yang malah tergelak sambil berlalu ke arah pintu keluar.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Tidak bisakah kita makan dengan damai sekali saja?" suara bariton Edgar mulai naik dua oktaf. Seketika perdebatan di meja maka tersebut kembali hening, hanya ada suara sendok yang beradu.
Selesai makan, Edgar bersiap untuk berangkat ke kantor, begitu juga Sky.
"Daddy? bolehkah aku membeli mobil baru? teman-teman ku semua sudah memiliki nya, aku malu jika tidak memiliki nya juga." Ujar Sora merengek seperti biasanya.
"Suruh paman mu mengurus nya, sayang. Belilah ap...."
"Kau tidak akan mendapatkan nya, Sora! tidak kali ini, kau harus belajar mengendalikan hal-hal yang tidak perlu untuk di beli." Suara tegas Sky membungkam mulut ibu dan anak tersebut.
"Biarkan saja, Sky. Sora putri mu satu-satunya, juga cucu tunggal mom. Belilah sayang, biar orang yang mengurus nya nanti." Tentang Samara tak terima, jika keinginan cucunya tidak terpenuhi.
"Ayo kita berangkat, son. Perusahaan tidak akan mencetak uang tanpa ada orang yang menjalankan nya." Edgar menyela di saat yang dia rasa tepat untuk melempar kan kata-kata terbaik nya. Samara menatap tajam pada suaminya, namun di balas acuh oleh pria tersebut.
Sepeninggal Sky dan Edgar, Mora meluapkan kekesalannya benda yang ada di sekitar nya. Dan itu bukan pertama kalinya, wanita gila itu bertindak layaknya orang tidak waras.
"Mom, sudahlah. Daddy akan semakin membencimu jika mom terus begini." Bujuk sang anak menenangkan sang ibu.
"Daddy mu tidak pernah menganggap ku ada, bahkan sampai sekarang, daddymu tidak pernah mau menyentuh ku. 17 tahun aku menyia-nyiakan hidup ku untuk bersama pria yang tak pernah menginginkan ku." Mora terisak di pelukan sang anak. Hanya Sora lah yang menjadi kekuatan nya, dia pikir dengan menjadi istri seorang pewaris kerajaan Belluwig. Maka hidup nya akan tentram dalam gelimangan harta dan kekuasaan. Nyatanya dia salah, Sky sama sekali tidak pernah menoleh ke arah nya.
"Sudah mom, ada aku. Aku adalah pewaris tunggal keluarga Belluwig, maka aku akan mudah menyingkirkan mereka yang menghalangi jalan kita. Termasuk wanita tua itu" ujar Sora menyeringai misterius.
__ADS_1
Sementara di balik pintu kamar tersebut, seseorang tengah menguping pembicaraan ibu dan anak tersebut. Diam-diam dia pun menarik sudut bibirnya, senyum nya begitu menakutkan untuk di lihat.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Kemarikan Jason, sayang." Jeff menatap khawatir pada istri nya. Perut buncit nya membuat Jeff selalu ngeri jika sang istri menggendong putra mereka Jason. Usianya sudah 5 tahun, namun selalu tidak mau lepas dari ibunya. Padahal sebentar lagi Jason akan punya adik.
"Tidak masalah, dad. Tolong siapkan saja kotak bekal Jason dan taru di dalam tasnya. Jangan lupa botol minum nya juga, coba cek Jessy, Kenapa belum keluar juga." Lila terlihat semakin cerewet saja semenjak memiliki dua orang anak, belum lagi anak ketiganya lahir. Rumah Jeff akan terdengar seperti studio penyiaran radio.
"Aku sudah siap, mom." Ucap gadis remaja berusia 14 tahun tersebut.
"Baiklah, ayo kita berangkat, Jason? turun lah dari gendongan mommy mu nak. Kita bisa terlambat ke sekolah jika kau terus bergelayut seperti anak monyet." Ujar Jeff membujuk dengan cara yang menjengkelkan untuk di dengar. Lila mendelik ke arah suaminya. Selalu saja berbicara sekenanya.
"Maaf, mom." Jeff mencium pipi bulat sang istri untuk membujuk nya. "Hati-hati di rumah, mom dan dad akan ke Meksiko sore ini. Aku berpikir untuk mengantar langsung ke sana, apa kau tidak keberatan, sayang?" Yang di maksud adalah ayah dan ibu mertuanya. Keduanya memiliki kebun di Meksiko, lahan yang di beli oleh Jeff untuk kedua mertua nya.
"Boleh, cepat lah Kembali saat sudah di sana. Aku takut kau lupa jalan pulang" balas Lila tersenyum devil.
Jeff bergidik ngeri, sebagai orang yang pernah mengalami gangguan jiwa. Kadang Ucapan Lila di telan Mike bulat-bulat meski wanita itu sebenarnya hanya bercanda.
"Siap, mom. Jangan khawatir aku akan melirik wanita lain, kau sempurna untuk ku yang mulai menua." Jeff Kembali mendarat ciuman di kening sang istri juga perut buncitnya.
"Jangan melakukan hal yang membuat mu kelelahan, aku memantaumu." Ujar Jeff penuh peringatan, lalu melirik ke arah SCTV. Lila berdecak kesal, dia seperti tahanan di rumah nya sendiri.
"Pergilah, nanti anak-anak terlambat. Jessy, tidak usah bermain hari ini, pulang sekolah langsung pulang ke rumah. Kau ikut ayahmu ke Meksiko nanti sore" Jeff terkesiap mendengar ultimatum sang istri, lalu segera menoleh pada sang anak berharap gadis remaja itu menolak nya.
Yang di tatap hanya menatap nya datar "baik mom, titahmu mutlak untuk hamba" Seloroh Jessy tersenyum jahil pada sang ayah. Jeff menghela nafas panjang, beginilah jika dua wanita kesayangan nya itu sudah saling bersekutu, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kami pergi, sayang. I love you, my wife" Jeff kembali berpamitan
__ADS_1
"Love you more, my hubby" balas Lila tersenyum simpul, dia ingin selalu tertawa keras melihat reaksi pasrah suaminya. Bukannya dia tidak percaya pada suaminya, hanya saja menjaga lebih baik sebelum sesuatu terjadi. Begitu lah pikirnya.
Pria semakin berusia semakin menawan, berbeda dengan wanita. Hanya segelintir wanita yang semakin bertambah usia mampu mempertahankan kecantikan juga kulit indahnya.