
"Aku tidak membawa nya, sungguh..!" elak si gadis yang terlihat seperti seorang kutu buku. Kaca mata tebal dan rambut yang di kuncir tinggi, di padukan dengan baju kemeja kebesaran serta rok jeans sepanjang mata kaki dan sepatu kets. Sungguh mencerminkan ciri seorang kutu buku sejati. Untung saja gadis itu tidak memakai behel, maka lengkaplah sudah predikat seorang gadis cupu yang akan di semat kan pada nya.
"Aku tidak percaya, jika kau masih berbohong. Kali ini aku akan benar-benar memperkosa mu, Helen. Bukan hanya membuat bibir mungil dan tipis mu ini saja yang memanjakan milik ku, tapi juga milik mu yang pasti tidak menarik ini." Bisik Seorang pria berdesis di telinga si gadis yang terlihat semakin ketakutan. Seringai jahat menghiasi wajah tampan nya. Sementara Helen semakin gemetar ketakutan. Apa lagi saat tangan si pria sudah bertengger indah sambil meremas kuat bokong nya tanpa perasaan.
"Ck! dasar sampah masyarakat..!" desis Berea berjalan perlahan seolah dirinya memang kebetulan melintas di sana. Sontak membuat kelima remaja itu menoleh ke arah nya dengan tatapan yang entah lah. Selama ini tak ada yang berani mengganggu Berea, baik dengan atau tanpa sengaja. Gadis dingin dan tak tersentuh itu seolah punya benteng tersendiri yang tak mampu ditembus, oleh kenakalan atau kejahilan siapa pun. Kecuali sang sahabat tentu nya.
Tatapan tajam nya membuat kelima remaja itu menelan ludah susah payah.
"Ikut dengan ku, bukan kah aku sudah bilang jangan sampai aku yang datang mencari mu." Tekan Berea menatap dalam manik polos Helen. Sontak gadis itu segera beranjak dari posisi nya yang tadi tengah duduk meringkuk di pojok. Merapikan letak kacamatanya yang sedikit melorot ke hidung.
"Maaf kan aku, Berea." Ucap Helen pelan. Seolah merasa bersalah pada Berea yang entah apa kesalahannya.
"Dan kalian berlima, cobalah menjadi remaja yang meski tidak bisa berguna untuk bangsa ini. Paling tidak untuk diri kalian sendiri dan hargai insan yang kalian sebut, orang tua. Di luar sana, dengan bangga memamerkan anak-anak mereka, tanpa tau. Jika anak-anak kebanggaan mereka hanya lah seonggok sampah di sudut sekolah."
Glek
Kata-kata yang terlontar dari bibir mungil Berea, seperti air panas yang menyiram ulu hati kelima remaja tersebut. Wajah tanpa ekspresi itu membuat mereka bernafas pun kesulitan.
__ADS_1
Setelah kepergian Berea dan Helen, kelima nya baru bisa bernafas lega. Terutama si pria yang paling sering merundung Helen. Tatapan nya masih sama terarah ke mana Berea dan Helen menghilang di ujung koridor. Ada perasaan yang sulit di jabarkan, terutama pada Berea. Bukan semacam perasaan suka layak nya seorang pria pada seorang gadis.
"Grend..!" Pria yang di panggil Grend tersebut tersentak kaget, kemudian berlalu tanpa mengucap sepatah kata pun pada teman-teman nya. Membuat mereka semua keheranan.
"Linda, kenapa ku rasa Grend sedikit kesal pada Berea karena telah membawa si kutu buku itu pergi..." ucap sahabat Linda sedikit heran, ekor matanya melirik Linda menyelidiki ekspresi wajah sahabat nya itu.
"Cih! mana ada seperti itu, kau pikir Grend serius dengan ucapan nya. Jangan gila, kutu buku itu hanya akan membuat junior Grend mati rasa, meski dia bertela*njang di depan kekasih ku." Sahut Linda menampik statement Mona, meski hati nya pun mulai was-was.
"Memang nya kalian sudah resmi berpacaran ? kenapa aku melihat Grend selalu acuh padamu ya.." balas Mona tersenyum miring. Kedua sahabat itu memang selalu saling mencari kesempatan untuk bisa menjatuhkan satu sama lain. Kedok persahabatan itu hanya agar bisa berada dalam circle pertemanan Grend. Karena mereka masing-masing mencoba menarik perhatian pemuda itu dengan cara ninja. Menjatuhkan tanpa sisa kemudian memberikan perhatian layaknya sahabat sejati. Dan itu hanya berlaku saat Grend ada diantara mereka.
Brak!
"Kau marah, Berea? maaf, aku sengaja.." ucap seorang pria menyeringai puas..Berea masih terdiam di kursi nya, tetesan minuman membasahi sebagian paha nya.
"Apa kita punya masalah, Dom?" tanya Berea dengan nada tenang. Tangan nya masih sibuk mengelap celana jeans nya menggunakan tisu.
"Masalah? ku rasa ada sedikit. Gadis cupu ini adalah akar masalah nya. Kenapa kau datang mengganggu kesenangan kami? apa kau ingin menjadi pahlawan untuk nya? kau pikir tidak ada satu pun siswa di sini yang berani dengan mu? kau salah! aku tidak takut pada mu.." ucap Dom lantang, pemuda itu sengaja mengeraskan suaranya agar seluruh isi kantin mendengar pernyataan nya yang berani.
__ADS_1
Helen semakin ketakutan, kepala nya menunduk dalam dengan perasaan takut. Berea? tentu saja tidak. Gadis itu bahkan beranjak dari kursi nya, berjalan dua langkah ke arah Don dengan tatapan sukar.
Bugh!
Suara tonjokan mentah terdengar cukup nyaring, seisi kantin meringis sambil memegang hidung masing-masing. Darah segar mengucur deras dari lubang hidung pemuda malang itu. Ringisan kesakitan juga umpatan nya menggema di setiap sudut kantin.
"Kau..! ja*l*ang sialan..!" seru Dom marah, tangan nya terkepal kuat dan di arahkan segera untuk membalas perlakuan Berea pada nya. Namun sayang, Berea lebih gesit dari nya. Sehingga dengan mudah gadis itu menangkap kepalan tangan Dom, kemudian memutar nya ke belakang punggung.
Suara teriakan Dom kembali menguar, "ku pikir kau datang padaku, sudah dengan segals kesiapan dan memiliki banyak persediaan ketangkasan. Kau hanya mempermalukan diri mu sendiri, lihat lah.." tunjuk Berea mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kantin.
"Para gadis akan mulai berpikir untuk menghadiri acara prom night dengan mu sebagai partner. Jadi belajar lah untuk melatih otot kendor mu ini, Dom sayang. Aku khawatir kau akan mengotori sprei bahkan baru saja berjongkok di atas nya." Ejek Berea dengan nada iba yang di buat-buat. Wajah Dom semakin memerah, antara menahan sakit juga malu di saat bersamaan.
Setelah beradu otot atau lebih tepatnya , Berea lah yang menguji ketangkasan otot lengan dan bahu nya sendiri. Karena lawan nya sama sekali tidak di beri kesempatan untuk melawan.
"Berea kau di panggil oleh kepala sekolah..." ucap seorang guru ketika Berea akan ikut kelas renang. Hembusan kasar keluar dari mulut Berea. Dia tau, pasti Dom dan kawan-kawan sudah mengadukan tindakan nya tadi. Mengingat jika kekasih pria itu adalah anak dari kepala sekolah tersebut.
"Bisa kah aku ke ruang kepala sekolah nanti saja setelah jam pelajaran usai.." tawar Berea yang enggan menuruti perintah tersebut.
__ADS_1
Tatapan sang guru tidak bisa di bantah, membuat mood Berea semakin buruk. Dengan tanpa peduli akan merusak fasilitas sekolah, gadis itu menendang kursi hingga patah. Bukan hal asing saat melihat bagaimana kuatnya Berea dalam merusak apapun, termasuk merusak tulang para hama di sekolah nya.
Sang ayah adalah pemilik sekolah tersebut, namun yang paling membuat semua orang tak berani menyentuh nya tak lain karena sifat nya yang tak suka di tindas.