Darkest Dream

Darkest Dream
Candu


__ADS_3

Setelah meninggal kan teman-teman nya di rumah, Grend kini tengah mengendarai mobilnya perlahan. Dengan maksud agar bisa lebih lama di perjalanan.


"Helen?"


"Ah, ya?" rupanya gadis itu melamun sejak tadi.


"Terimakasih sudah datang, aku pikir kau tidak akan datang. Aku sempat frustasi, maaf jika kau harus mendengarkan kalimat tak enak dari mulut Marcia. Jujur saja aku hampir melakukan nya, beruntung bayangan mu mengacaukan konsentrasi ku hingga aku kembali tersadar dan urung melakukan nya. Maafkan aku.." Helen berusaha mencerna kalimat pengakuan Grend, kenapa Grend seolah merasa bersalah padanya.


"Kenapa kau meminta maaf padaku? kau tidak salah, lagi pula kita bukan siapa-siapa. Jadi apa hak ku untuk marah padamu." Tukas Helen apa adanya.


Grend memelankan mobilnya hingga berhenti total, pria itu memutar duduk nya hingga kini menghadap ke arah Helen.


"Tetap saja aku merasa bersalah padamu.." Grend menjeda kalimat nya dengan helaan nafas panjang. "Aku menyukai mu, mungkin sudah sejak lama. Tapi aku selalu menampik nya. Mungkin karena ego ku yang masih terlalu tinggi. Tapi sekarang aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Helen, aku tau aku pria brengsek, maukah kau memaafkan pria bajingan ini. Beri aku kesempatan untuk membuktikan Kesungguhan hatiku, aku mohon." Ujar Grend mengiba, Helen tertegun mendengar penuturan Grend. Serasa tak percaya, namun baru saja pria itu menyatakan perasaan nya. Apa dia tidak salah dengar.


"Helen?"


"Hah? maaf, aku terlalu terkejut. Bercanda mu sudah keterlaluan Grend. Sebaiknya segera antar aku pulang sekarang. Seperti nya pengaruh alkohol pada tubuh mu mulai bereaksi. " Balas Helen bingung sendiri harus menanggapi bagiamana. Dia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada gejolak kebahagiaan saat mendengar pernyataan cinta dari pria di hadapannya itu. Namun dia juga tak ingin terjebak situasi yang mengakibatkan dirinya terkungkung perasaan Grend yang sesaat.


"Aku akan mengantar kan mu tapi jawab dulu pertanyaan ku tadi. Maukah kau memberikan ku kesempatan untuk meraih hati mu?" ulang Grend penuh permohonan. Helen semakin dilema. Andai ada kedua temannya, dirinya bisa meminta pendapat keduanya.


"Aku tidak tau, aku bingung. aku tak ingin dipermainkan lagi. Aku masih trauma Grend." Ungkap Helen jujur. Grend kembali menghela nafas berat. Helen rupanya masih sulit untuk mempercayai nya.


"Dengar Helen, aku serius. Maaf untuk malam ini, aku tergoda karena tertekan akan perasaan ku. Dan aku tidak menyalahkan mu. Ini salah ku karena mudah tergoda. Tapi aku berjanji, akan menjadi pria idaman yang kau ingin kan. Beri aku kesempatan, sekali saja." Desak Grend terus memohon. Helen menatap manik Grend untuk melihat kesungguhan di mata biru pria itu.


Hingga akhirnya Helen mengangguk pelan, Grend langsung meraih tubuh Helen ke dalam pelukannya. Hati nya membuncah tanpa bisa di kendalikan.

__ADS_1


"Terimakasih Helen, terimakasih. Aku berjanji akan menjadi kekasih yang setia. Tolong percayalah pada ku. Terimakasih baby.." ucap Grend senang


"Jangan memanggilku seperti kau memanggil gadis lain saat kalian bercinta. Aku merasa seperti ja*l*ang" tegas Helen membuat Grend tercengang.


"Baiklah, bagaimana dengan honey? sweetie ? apa kau suka, hmm?" Helen mengangguk pelan dengan gaya malu-malu, pipi nya merona merah. Grend menangkup kedua pipi Helen dengan gemas. Sudah lama dia ingin melakukan nya, namun ego nya terlalu tinggi. Sehingga dia melampiaskan nya dengan mengerjai gadis itu agar bisa dekat dengan nya. Meski dia tau caranya salah, dengan melecehkan Helen. Justru akan membuat gadis itu membencinya.


"Maaf kan kesalahan ku selama ini, aku akan membayar nya padamu dengan banyak cinta dan perhatian ku mulai malam ini." Helen tersenyum simpul, hatinya menghangat merasakan ketulusan Grend. Walau masih ada keraguan juga kecemasan lain. Biarlah nanti dia pikir kan, dia ingin melihat bagaimana Grend menjaga nya mulai besok.


"Sekarang ayo kita pulang, padahal aku masih ingin bersamamu. Bagaimana jika kita ke pantai sebentar? di mobilku ada tenda." Usul Grend tiba-tiba. Helen sedikit bingung, dia takut Berea akan mencari nya nanti.


Mengerti arti diam Helen, Grend segera menghubungi Berea.


"Halo, aku Grend. Aku hanya ingin mengatakan, jika aku ingin mengajak Helen ke pantai. Jadi jangan mencemaskan nya, dia aman bersama ku. Aku akan menjaga kekasih ku dengan baik, kau tenang saja." Helen tersipu mendengar kalimat Grend, entah apa yang dipikirkan Berea dan Zion terhadap nya.


"Baiklah, kau sudah mendapatkan ijin dari ibu pengasuhmu" goda Grend membuat keduanya terkekeh pelan.


"Di sini gelap sekali.." ujar Helen memeluk kedua lengan nya menahan dingin. Dia hampir tidak pernah ke pantai, terakhir kali saat ayah nya masih hidup. Dan itu sudah lama sekali.


"Ada aku, sebentar aku buatkan api unggun. Masuk lah ke dalam tenda lebih dulu." Titah Grend mulai menumpuk potongan kayu untuk di jadikan api unggun. Tangan nya bergerak lincah melakukan hal itu. Helen tercengang melihat kepiawaian pria itu dalam menumpuk kayu-kayu tersebut.


"Kau seperti nya sangat mahir melakukannya.." ucap Helen yang kini tengah duduk di depan pintu masuk tenda. Dia terus memperhatikan apa yang tengah Grend kerjakan.


"Aku sudah pernah bilang padamu, aku suka berkemah. Apa kau tak menyimak perkataan ku kemarin?" Helen menggeleng pelan, dia tak menyimak. Karena dia sedang ketakutan terhadap pria itu. Grend tersenyum geli melihat kejujuran Helen.


Setelah selesai Grend duduk di dekat Helen di posisi belakang, "maju sedikit.." titah Grend pada Helen, walau bingung dia menuruti nya saja. "Sekarang mundur lagi." Lagi-lagi Helen hanya mengikuti instruksi Grend hingga lengan kokoh Grend kini melingkar di perut nya barulah Helen paham. Jika Grend ingin posisi nya berada di dekapan pria itu. Bibir nya tersenyum senang dibalik samar cahaya api unggun buatan Grend.

__ADS_1


"Apa kau suka tempat ini? aku sering kemari jika sedang bosan. Disini tenang dan aku bisa berteriak sekuat yang aku bisa." Grend menaruh dagu nya di atas bahu Helen sebagai sandaran ternyaman nya.


"Suka. Apa kau sering kemari bersama Rosa ?" tanya Helen hati-hati.


"Tidak. Kau gadis pertama yang ku ajak kemari. Lagi pula aku tidak pernah mengajak gadis lain jalan berdua dengan ku, kami biasa pergi bersama dengan yang lain. Apa kau cemburu, honey?" goda Grend senang. Dia suka jika Helen cemburu padanya.


"Tidak, itu kan hak mu. Lagi pula sudah berlalu, bukan?" elak Helen tak ingin mengakuinya. Grend memutar bahu sang kekasih, lalu menatap lekat manik yang telah berhasil meruntuhkan dingin egonya.


"Aku mencintaimu Helen, percaya lah padaku." Setelah mengucapkan kalimat penuh cinta yang memabukkan telinga, Grend meraup bibir mungil yang selalu menggodanya. Lum*atan dan hisa*pan membuat de*s*ahan kecil Helen lolos. Grend semakin bersemangat.


"Maaf.." nafas Grend tersengal-sengal, kening nya menyatu dengan kening Helen. Helen hanya mampu mengangguk pelan, sensasi yang baru saja dia rasakan untuk pertama kalinya, mampu mematahkan pertahanan nya. Ini gila, dia merasa melayang ke angkasa tanpa bisa di cegah.


"Apa kau masih kedinginan?" lagi-lagi Helen hanya mengangguk. Grend mengajak nya masuk ke dalam tenda. Ada selimut matras dan bantal. Seperti nya Grend memang sangat menyukai acara perkemahan. Di lihat dari kesiapan yang ada, Grend benar-benar seorang pecinta alam semesta.


"Kita akan tidur di sini?" tanya Helen setelah terdiam cukup lama.


"Ya, apa kau keberatan ?" Grend balik bertanya untuk memastikan.


"Tidak, hanya saja ini pertama kalinya untuk ku. Aku sedikit takut tidur di alam terbuka seperti ini." Grend tertawa pelan.


"Di sini aman, aku pernah tidur di sini selama dua malam karena sedang mogok bertemu dengan keluarga ku." Jelas Grend meyakinkan kekasih nya.


"Baiklah, lagi pula daging ku pasti tidak enak. Hewan buas pasti akan langsung terserang diare." Grend tergelak mendengar penuturan sang kekasih, lengan nya meraih tubuh mungil Helen ke dalam dekapan nya.


"Seperti aku sekarang, aku sedang terserang penyakit kronis karena melahap bibir manis mu ini. Astaga! kau benar-benar membuat ku candu honey.." ujar Grend gemes sendiri. Kedua berbaring saling menatap, perlahan tapi pasti. Grend mulai melahap kembali bibir candu milik Helen. Tangan nya pun sudah bergerak lincah menyusuri lekuk tubuh indah sang kekasih. Sungguh Grend merutuki kebodohan nya selama ini. Permata seindah ini, dia abaikan bahkan dia sakiti.

__ADS_1


"Maaf...kau marah?" tanya Grend menghentikan aktivitas nya. Mata nya menatap sayu pada netra Helen yang juga terlihat sayu seperti nya. Helen menggeleng entah apa yang tengah merasuki pikiran nya. Yang jelas dia menikmati semua perlakuan Grend padanya.


"Apa aku boleh... melanjutkan nya..." tanya Grend hati-hati, dia tau Helen pasti belum pernah melakukan nya dengan siapapun. Dan dia ingin menjadi orang pertama bagi Helen. Rasanya tak sabar menjadikah Helen miliknya seutuhnya. Ini murni gejolak jiwa remaja, tidak ada sangkut pautnya dengan moral. Semua tergantung sudut pandang masing-masing. Itulah yang Grend pikirkan.


__ADS_2