
Seorang pria terlihat mengendap-endap melewati lorong sepi, tujuan nya adalah sebuah kamar utama yang terletak di ujung belokan lorong tersebut.
"Huuffzz.." helaan nafas berat terhembus dari mulut nya. "Aku harap kau masih bisa bertahan nona..." ucap nya setengah meyakinkan diri sendiri. Dua hari Lizzie terkurung di dalam ruangan jahanam itu, dia sudah tau apa yang terjadi pada nona muda nya. Lizzie pasti takkan dalam keadaan baik-baik saja, terutama harga diri nya yang sudah terkoyak habis oleh iblis berwujud manusia seperti Alessandro.
Klek
Akhirnya setelah susah payah membuka kunci pintu kamar itu, dia berhasil membuka nya. Pandangan nya menyapu setiap sudut kamar yang terlihat minim pencahayaan. Ekor mata nya menangkap pemandangan yang terlihat miris. Kedua tangan nona muda nya terikat di setiap sudut ranjang, begitu pula dengan kaki nya. Hati nya mencelos melihat pemandangan begitu mengiris hati tersebut.
Langkah lebar kaki nya terayun menghampiri ranjang tersebut, tubuh Lizzie hanya tertutup sebagian. Selimut tebal itu hanya menutupi area sensitif tubuh nona muda nya. Perlahan Pedro menarik selimut untuk menyelimuti tubuh nona muda nya. Hati nya meringis ngilu, wajah cantik Lizzie terlihat lebam di mana-mana. Sudut bibir nya terlihat sedikit pecah dan ada noda darah mengering di sana.
"Anda memang binatang, tuan Alessandro. Kelak kau akan menyesali perbuatan mu ini dengan harga yang setimpal." Gumam Pedro sambil melepaskan borgol di kedua kaki dan tangan Lizzie.
"Ped...." suara lemah Lizzie terdengar samar dan lirih, Pedro lekas melepas kan borgol terakhir di kaki Lizzie lalu memutar ranjang untuk menghampiri nona muda nya.
"A..air..." suara Lizzie semakin lemah. Tangan nya menggapai udara entah kenapa.
"Di sini tidak ada air nona, kita akan keluar.. Maaf jika aku lancang..." Pedro mengangkat tubuh rikuh Lizzie dalang gendongan nya. Sesekali mata nya menelisik setiap sudut lorong yang mereka lewati.
Pedro menyentuh earphone yang terpasang di telinganya.
__ADS_1
"Sisi Utara, kami tidak bisa keluar lewat pintu utama." Begitu lah titah Pedro yang terdengar begitu samar di pendengaran Lizzie. Diri nya hampir kehilangan kesadaran nya, rasa lapar, haus dan.... sakit di sekujur tubuh nya, seperti mengoyak habis kekuatan yang dia miliki. Dia sadar dia tidak akan bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan adik nya sekarang. Seorang pewaris darah murni dengan tubuh yang sudah tidak suci? Lizzie berharap Leon nya baik-baik saja. Entah apa yang merasuki adik nya, sehingga menyerahkan diri ke sarang iblis demi sebuah perdamaian yang mustahil.
"Kenapa kau lama sekali ?" cecar Luo membantu membaringkan tubuh nona mudah di jok belakang.
"Kau pikir masuk ke sana seperti masuk ke dalam club' malam!.." sergah Pedro kesal.
"Kita harus pergi sekarang, purnama hanya tinggal beberapa jam lagi. Aku melihat ada sedikit yang berbeda pada nyonya Samara. Mora si wanita bodoh itu menghilang entah kemana sejak dua hari yang lalu. Aku yakin wanita pemuja harta itu kini sudah menjadi santapan nikmat wanita iblis itu." Ujar Pedro panjang lebar, mobil terus melaju, jantung mereka bertalu-talu seolah sedang berperang dengan waktu.
"Apa wanita iblis itu sudah menunjukkan gejala perubahan nya?" Tanya Luo penasaran. Matanya fokus ke jalanan gelap di hadapan mereka.
"Itu yang aku lihat dua hari yang lalu. Wajah nya terlihat lebih tirus dan sedikit mengerikan untuk di lihat dalam waktu lama. Kau pernah melihat tokoh penyihir di film-film lagi misteri ? seorang wanita tua dengan topi kerucut, hidup sedikit lebih panjang, dan wajah mengerikan juga sapu ajaib yang bisa terbang ? begitu lah nyonya Samara yang aku lihat waktu itu. Aku heran bagaimana bisa tuan besar melihat istrinya seperti tidak melihat hal yang aneh." Celoteh Pedro panjang lebar. Pria itu Sampai bergidik ngeri dengan pemandangan yang dia lihat, heran saja, bagaimana tuan besar nya bisa terlihat biasa saja saat berpapasan dengan istri iblis nya tersebut.
"Kau benar. Wanita itu benar-benar definisi iblis yang sesungguhnya.".Decak Pedro. Entah kagum atau malah sebaliknya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Kau yakin nona? kondisi mu tidak dalam kondisi baik untuk melakukan apapun...." ucap Pedro terlihat cemas. Dalam perjalanan tadi tiba-tiba Lizzie terbangun dan meminta di antar ke tempat itu. Kini mereka ada disebuah kastil tua yang terlihat menyeramkan.
"Tinggal kan aku di sini Pedro, pergi lah bersama Luo. Cegah siapa pun masuk ke jalur maut ini. Terutama jika itu adalah adik-adik ku." Titah Lizzie yang kini tengah duduk di sebuah kursi berbentuk seperti singgasana.
__ADS_1
Dengan ragu, Pedro dan Luo meninggalkan tempat itu. Melihat punggung kedua nya menghilang di balik pintu, Lizzie mulai melakukan ritual nya.
Dengan sekali sapuan tatapan nya, semua lilin yang berada di setiap sudut ruangan itu menyala terang.
"Sudah saat nya..." gumam Lizzie pelan. Sangat di sayangkan, di saat kondisi nya tidak dalam keadaan baik-baik saja, sang adik malah menambah beban berat di pundak kecil nya.
Wusshhh
Suara seperti sapuan angin membuat cahaya lilin sedikit bergoyang dan meredup. Sekelebat bayangan seseorang terlihat mengintai tempat tersebut. Lizzie masih fokus pada ritual nya tanpa peduli hawa dingin yang menyeruak di sela pori-pori kulit nya.
"Kau rupa nya tidak menyerah juga.. lihat lah diri mu..kau terlihat begitu menyedih kan!" suara tawa mengerikan itu membuat Lizzie sedikit terganggu. Bukan karena diri nya takut, namun kondisi nya yang belum pulih akan menyulitkan nya untuk menghadapi takdir nya malam ini.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Sekelompok orang tengah berkumpul di sebuah ruang rahasia. Perdebatan terdengar memenuhi ruangan besar tersebut. Hingga suara seseorang menginterupsi membuat suasana seketika hening.
"3 jam tidak akan menunggu perdebatan kalian selesai. Cobalah untuk bersepakat kali ini, tidak ada rugi nya jika kalian bersatu dan akur sekali saja. Nona muda butuh bantuan, kita harus mencegah ritual pengorbanan putra mahkota sebelum purnama biru muncul. Dan lihatlah apa yang kalian lakukan di sini? saling melempar kalimat menjatuh kan satu sama lain, apa itu yang akan menolong nona muda? Jika tidak, bergegas lah. Kita butuh waktu dua jam untuk tiba di sana. Atau kita semua akan benar-benar musnah malam ini.." Sela Deren marah. Sejak tadi dia hanya diam saat melihat bagaimana para tetua saling beradu argumen dan saling menyentil.
"kau lihat putra mu, Claine ? dia lebih cerdas dan tanggap dari mu. Tidak salah jika dia adalah the next Servidor pilihan nona muda, dia punya integritas dan insting seorang pengabdi sekaligus pejuang yang gigih dan layak di perhitungkan." Sambung seorang tetua menatap intens netra Deren yang bagai mata elang, mawas dan selalu berpikir cepat.
__ADS_1
"Sebaik nya kita pergi sekarang.." lanjut Hurby berusaha mengalihkan situasi. Dia tak ingin satu pun di antara mereka menyimpan berbagai macam perkara dalam benak masing-masing. Situasi mereka sudah cukup sulit, dia tidak ingin percikan api dari kalimat tetua tadi,.membuat mereka terlahir dengan jiwa seorang pengkhianat baru.