Darkest Dream

Darkest Dream
Bab 33


__ADS_3

Lizzie menatap pria yang masih terlihat gagah di usianya yang sudah tak muda lagi. Hati nya perih menahan sesak, karena gejolak kerinduan yang begitu dalam.


"Aku akan membawa mu Kembali ke rumah yang seharusnya menjadi tempat mu pulang, dad. Saat itu tiba, aku harap kau bisa bekerja sama dengan baik." Lizzie memutar tubuh nya menjauhi gedung pencakar langit milik keluarga Belluwig. Membawa hati yang, entahlah.


Seseorang menatap tubuh mungil Lizzie dari balik kaca mobil, tubuh kecil yang mulai berbaur diantara banyak orang yang lalu lalang di jalanan. Hatinya menyimpan banyak sesal yang tak terhingga. Andai dia mampu mengendalikan takdir, mungkin kini pewaris tahta kerajaan Belluwig yang asli lah, yang memimpin garis keturunan nya. Namun nyatanya, dirinya hanya bisa bersembunyi di balik punggung orang lain.


Setelah mengusap sudut matanya, Edgar keluar dari mobil dan menerus kan langkah nya menuju elevator. Saat akan memasuki basement tadi, dia melihat siluet seseorang yang sangat dia rindukan. Cucunya yang pernah hampir dia lenyapkan. Untuk itu dia sengaja menyuruh Sky naik terlebih dahulu, agar dia leluasa melihat cucunya lebih lama.


Sky menatap sang ayah yang terlihat sendu saat memasuki ruangan, meski sudah sering melihat ayah nya dalam situasi seperti itu. Namun kali ini terasa berbeda di penglihatan nya. Di wajah ayahnya tersirat banyak kesedihan yang tak terungkap.


"Apa daddy baik-baik saja? jika tidak enak badan, harus nya dad tidak perlu bekerja. Bersantai lah, nikmati hari tua dengan cucu kesayangan mu. Omset perusahaan ini tidak akan menurun, jika hanya sehari ayah mangkir dari pekerjaan." Setelah mengucapkan kalimat penuh sindiran, Sky berlalu pergi dari hadapan ayahnya yang kini semakin muram. Tak dia sangka, di usia nya kini, harus menyaksikan pergumulan dan konflik keluarga nya yang tidak ada habis-habisnya.


Edgar duduk di sofa menyandarkan kepalanya ke punggung sofa. Pikiran nya kacau, kehadiran cucunya menjadi sesuatu yang paling dia takut kan. Dia tau putra nya punya dua orang putri, menghadapi satu putri saja diri nya di buat kelimpungan. Apa kabar dengan dua cucu perempuan ? Lalu bagaimana dengan putri nya Ashley ? putri nya itu lenyap bagai angin, tak terlacak di mana pun keberadaan nya.


Drrrttt drrrttt drrrttt


Edgar melirik ponsel nya, id pemanggil nya membuat Edgar kembali meraup wajah nya semakin frustasi.


"Katakan jika ada kabar baik untuk ku!" ucap Edgar tanpa basa-basi.


"Maaf, tuan. Seperti nya harapan anda meleset jauh, kami membawa berita yang tidak baik. Kedua cucu anda ada di kota ini. Salah satunya telah menumpas habis orang-orang suruhan nyonya Samara, dan hanya menyisakan satu di antara nya. Entah untuk tujuan apa." Lapor seseorang di ujung telepon. Jantung tua Edgar berdetak kencang tak beraturan, ini lah yang paling diri nya takut kan.


"Cukup awasi saja kedua cucu ku, dan ya, kirim foto cucu kedua ku. Aku belum pernah melihat nya." Titah Edgar menarik sudut bibirnya, entah kenapa ada gelayar aneh di dada nya. Beda juga jika cucu sendiri, rasa sayang itu akan hadir tanpa harus di minta tanpa harus di paksa.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Leah menatap sebuah ponsel di tangan nya, mata nya menelisik setiap kali jari lentik nya menggulir layar 7" tersebut. Ponsel tersebut milik salh satu pria yang tewas di tangan nya.


"Apa kita hanya akan menatap layar ponsel anda, nona?" ujar Murdock memberanikan diri, tatapan tajam leah kembali membuat nya ciut. "Maaf" cicit nya ketakutan setengah menunduk hormat.


"Tidak perlu selalu menunduk padaku, paman. Kami tidak di ajar kan bersikap kurang ajar pada orang lain, apa lagi yang jauh lebih tua dari kami." Ujar Leah kembali memperingat kan. "Apa benar ini pusat kerajaan keluarga Belluwig, paman ?" tunjuk Leah ke arah ponsel nya.


Murdock menatap layar tersebut dengan teliti kemudian mengangguk pasti" benar nona, itu adalah pusat kerjaan klan Belluwig. Apa anda berniat menyerang langsung ke inti nya? tidak kah itu sangat berbahaya ? maksud ku....."


Leah mengangkat satu tangan nya, pria itu langsung terdiam. "Aku tau batasan ku paman, kita lihat saja nanti, aku ingin kau menjadi orang pertama yang menyaksikan, betapa gila nya aku." Leah menyeringai penuh arti. "Bukan kah keturunan Belluwig selalu terlahir dengan tingkat kegilaan yang luar biasa, bukan? maka akan aku tunjukkan, seperti apa kegilaan yang sesungguh nya." Seringai di wajah cantik Leah membuat urat leher Murdock mendadak kaku. Dia pernah mendengar tentang segala keistimewaan anak perempuan keturunan murni keluarga penuh misteri tersebut. Dan sial nya, kini diri nya harus terlibat langsung bersama keturunan murni keluarga itu. Benar benar mimpi buruk sepanjang masa pikir nya.


"Kalau begitu, apa yang bisa saya lakukan untuk membantu Anda, nona?" Tanya Murdock hati-hati, salah sedikit ucapan nya, nyawa nya entah apa kabar setelah nya.


"Cukup hadir di saat aku membutuhkan mu, paman. Ah ya, aku lupa. Saudari ku ada di kota ini juga, kami tidak terlalu mirip. Wajah nya perpaduan antara ibu dan ayahku. Atau lebih tepatnya, kakak ku bisa menjadi begitu mirip dengan ayah ku, juga bisa menjadi begitu persis dengan ibu ku disaat-saat tertentu. Kusaran kan paman jangan berani mengusik nya, hanya dengan menatap mu saja, maka seluruh orang tubuh mu akan meloncat keluar untuk menyelamatkan diri." Kekeh Leah seolah apa yang dia katakan adalah hal yang lucu.


Sementara Murdock menelan ludahnya susah payah, bulu kuduk nya merinding ngeri. Keturunan apakah sebenar nya anak-anak ini, cara berbicara nya saja sudah membuat jantung orang-orang langsung berhenti berdetak.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Tok tok tok


Klek


Mata Ale hampir melompat keluar, melihat siapa yang dengan santai membuka pintu rumah nenek nya.


"Kau!!" tunjuk Ale dengan wajah mengeras, dua minggu mencari informasi tentang gadis ini. Rupa-rupa nya yang di cari, tengah berada di rumah nenek nya dengan wajah tanpa dosa.

__ADS_1


"Jika bertamu itu yang sopan tuan, mari silahkan masuk. Karena aku tuan rumah yang baik, maka perilaku tidak menyenangkan ini aku maklumi. Asal kau tidak datang untuk meminta sumbangan, aku maafkan. Ayo, silah masuk, jangan sungkan-sungkan." Ajak Lizzie seolah itu adalah rumah nya.


Rahang Ale semakin mengeras menahan kesal dan marah. Yang tamu siapa yang bersikap seperti tuan rumah siapa.


"Hei! ini rumah ku, kenapa kau bisa berada di sini? apa kau sedang merampok nenek ku? Astaga! Dasar gadis bar-bar gila!" Ale menerobos masuk hingga menubruk bahu kiri Lizzie, gadis itu meringis menahan sakit.


"Nenek! nenek! ne...."


"Ya ampun, Sandro! kenapa kau berteriak seperti Tarzan. Apa kau tidak malu pada tamu nenek," gerutu wanita tua dari arah dapur membawa nampan berisi cake di tangan renta nya ke ruang tengah.


"Astaga nenek! lihat lah, bagaimana bisa kau menyiksa nenek ku begini. Apa kau tidak punya otak, hah! bisa-bisa kau memerintah nenek ku layak nya seorang pelayan seperti ini!" teriak Ale marah, mata nya menatap nyalang ke arah Lizzie setelah menurunkan loyang di atas meja.


"Auwww auwww! nenek? kenapa kau menjewer ku?" Ale mengusap telinga nya yang terasa panas akibat jeweran sang nenek.


"Mulut mu itu masih saja cerewet seperti wanita, Lizzie ini tamu nenek. Dia tinggal dengan nenek selama dua Minggu ini, setelah semua cucu ku melupakan ku begitu saja." Ujar sang nenek dengan wajah sendu.


Ale menatap nenek nya dengan wajah penuh rasa bersalah, lalu menghampiri dan menarik wanita tua yang sudah seperti ibu nya itu ke dada bidangnya.


"Maaf nek, harusnya aku sudah sampai dua Minggu yang lalu, andai saja tidak ada wanita gila membuat ku celaka." Ujar Ale melirik sinis ke arah Lizzie yang tengah menyantap cake dengan wajah datar.


"Pasti kau sibuk bermain dengan ja*l*ang?" tuduh sang nenek melerai pelukan.


"Tidak nek, aku sudah bertobat. Di perjalanan aku mengalami kecelakaan, akibat ulah seorang gadis yang berusaha merampok ku dengan berdiri di tengah jalan." Adu Ale berusaha membela dirinya, namun dengan cara memfitnah Lizzie secara tak langsung.


Lizzie hampir saja tersedak potongan cake di dalam mulutnya, mata tajam Lizzie menatap tak suka pada Ale yang kini bergantian memberikan tatapan tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


Puas melihat wajah memerah Lizzie yang tengah menahan kesal pada nya, Ale tersenyum smirk. Dia akan mencicil aksi balas dendam nya pada gadis bar-bar, meski memiliki wajah secantik Barbie tersebut. Walau sisi hati nya sedikit tidak rela, mengingat kecantikan paripurna gadis tersebut begitu memukau dan berbeda dengan kecantikan wanita kebanyakan.


__ADS_2