
Sesuai janji, hari ini adalah hari ayah dan anak sulung nya berkencan. Meski tak ada yang tau, itu kencan mereka untuk yang terakhir kali nya.
"Apa semua sudah siap, honey?" Bern datang dengan pakaian kasual yang terlihat sangat menawan di tubuh nya. Lizzie menatap dalam manik sang suami dengan hati bergemuruh.
"Hei? apa aku terlihat begitu menggoda, hemmm?" goda Bern mengalihkan perhatian sang istri dari nya. Dia tau arti tatapan mata itu, tak ingin memikirkan takdir yang akan menimpa nya. Bern lebih suka menghabiskan waktu yang ada sebaik mungkin tanpa gangguan apapun.
"Kau sangat tampan dad, aku jadi cemburu pada anak nakal itu. Harus nya kita yang pergi berkencan, bukan kah kau ingin menambah satu ekor lagi benih kecebong dalam perut rata ku ini." Balas Lizzie merangkul leher sang suami dengan mesra. Sungguh bukan gaya seorang Lizzie. Merayu dan menggoda adalah bagian Bern, suami nya. Dia hanya akan menjadi yang mendominasi tanpa banyak berkata-kata.
"Aku berubah pikiran honey, sayang jika perut rata mu ini kembali membuncit. Performa mu bermain di atas ranjang pasti sedikit terganggu." Bern me*lu*mat bibir manis sang istri dengan penuh perasaan.
"Khmmm? bukan kah hari ini anda berkencan dengan ku tuan. Dan anda nyonya, bisa kah anda tidak membuat jejak apa pun di tubuh teman kencan ku." Lizzie memutar bola mata jengah. Putri nya benar-benar merusak suasana.
"Ck! dia suami ku jika kau lupa nona.." sarkas Lizzie tak mau kalah.
"Tapi hari ini, suami anda adalah teman kencan ku. Aku selangkah di depan anda bukan? bukan kah aku pelakor langganan suami tampan mu ini nyonya. Jadi kau harus ikhlas untuk berbagi dengan ku.." Berea tersenyum puas menatap sang ibu. Bern segera menengahi situasi sebelum meja makan tersebut benar-benar berubah menjadi area unjuk kebolehan.
__ADS_1
"Baiklah para wanita, pria tampan ini adalah milik kalian. Jadi jangan berebutan, ok! Apa kau sudah siap sweet heart?"
"Sudah sejak tadi.."
"Baiklah, honey bagian mu nanti malam. Aku ingin mendengar suara de*s*ahan mu memenuhi kamar tidur kita. Jadi siap kan stamina mu seharian ini sembari menunggu ku pulang." Bisik Bern di telinga sang istri, namun masih terdengar jelas oleh Berea.
"Come on, dad!" seru Berea tak sabar. Bern mengecup sekilas bibir istrinya kemudian menyusul langkah lebar sang anak keluar rumah.
π·π·π·π·π·π·π·
"Dulu danau ini air nya hanya sampai di kayu pembatas itu. Tapi seiring waktu, setiap tahun air di danau ini semakin naik. Jadi sedikit sulit untuk mendapatkan hasil pancingan yang banyak." Cerita Bern pada sang anak. Mereka tengah duduk di atas sebuah perahu. Kedua nya Sedang menunggu mata pancing di sambut antusias oleh para penghuni danau. Namun sudah setengah jam berlalu, kedua nya belum mendapatkan apapun.
"Baik, mari kita mencoba berburu di sana.." Bern pun setuju, dia tak ingin putri nya merasa bosan. Meski Berea sendiri tidak lah bosan, bersama sang ayah adalah bagian dari waktu terbaik nya.
"Kau benar, lihat lah... umpan Daddy seperti berhasil menangkap seekor anak lumba-lumba." Ujar Bern girang, ujung pemancing nya bergerak lincah. Berea mengatup bibir nya melihat tingkah sang ayah yang seperti seorang anak mendapatkan sekotak permen Halloween.
__ADS_1
"Waw! coba Daddy angkat, aku ingin lihat lumba-lumba bodoh mana yang berkembang biak di dalam danau." Kedua nya lalu tertawa geli.
Sepanjang hari, Bern dan Berea benar-benar menghabis kan waku bersama tanpa gangguan siapa pun. Sepanjang hari itu, kedua melakukan banyak hal. Mulai dari memancing, memasak hasil pancingan. Berkemah, dan menyusuri hutan untuk sekedar menghabiskan sisa waktu sebelum pulang.
Bern sangat menikmati kencan nya kali ini, hati nya sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Tak masalah jika diri nya kelak harus pergi terlebih dahulu, itu akan lebih baik. Dia tak sanggup kehilangan, dia tipe pria pecinta yang seluruh nafas nya, tergantung pada denyut nadi kedua wanita kesayangan nya itu. Tak akan ada kehidupan bagi nya, jika harus kehilangan salah satu orang kesayangan nya.
"Apa kau senang hari ini, sweet heart..?" Berea menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap sang ayah.
"Aku senang, jika ada kata yang dapat mendefinisikan isi hati ku. Aku hanya ingin mengatakan, daddy adalah bagian terbaik dalam perjalanan hidup ku. Aku mengenal segala kebaikan hati dari mu, dad. Aku belajar menahan amarah karena aku belajar dari kesabaran mu. Aku belajar ikhlas saat aku tak di inginkan, itu semua karena cinta yang Daddy berikan. Siapapun aku, daddy tak pernah peduli. Ketulusan daddy membuat sisi jahat dalam diri ku menguap begitu saja... terimakasih sudah mencintai ku tanpa syarat. Terimakasih sudah menerima kehadiran ku dengan perasaan yang sangat menginginkan, bukan hanya sekedar tanggung jawab. Aku berhutang banyak, andai aku punya sesuatu yang bisa aku tukar untuk semua itu. Maka akan aku berikan dengan seluruh hidup ku..." suara Berea tercekat. Untuk pertama kalinya, Bern melihat air mata putri nya mengalir tanpa bersembunyi di balik selimut tebal.
Dengan sigap, kedua lengan kokoh itu meraup tubuh mungil putri kesayangan nya dengan penuh kasih sayang. Dapat dia rasa kan, tubuh Berea berguncang hebat di dada nya. Hati nya sakit, sangat. Berea bukan lah anak kandung nya, namun ikatan di antara mereka, sangat lah kuat. Jika di suruh memilih di antara semua anak nya. Bern akan memilih Berea, karena gadis itu adalah takdir nya. Mahkluk pertama yang memanggil nya dengan sebutan daddy dengan gaya malu-malu dan sangat menggemaskan. Dia tak pernah menginginkan Lizzie kembali mengandung. Kedua anak nya adalah hasil konspirasi sang istri untuk mengalihkan perhatian nya dari Berea kecil nya. Sehingga gadis kecil nya yang baru berusia satu tahun itu, harus rela kehilangan kasih sayang dan perhatian seorang ibu. Meski sejati nya, itu lah tujuan Lizzie yang sebenarnya.
Bern bahkan sempat tak bereaksi apapun, ketika dengan girang nya, Lizzie memamerkan hasil tes kehamilan nya. Berea nya otomatis akan semakin terabaikan, dan dia tidak suka itu. Ketika kedua anak lahir, Berea bahkan di suruh menjauh agar kedua adik nya tak terkena sial dari nya. Sungguh hati Bern sakit kala mengingat momen menyakitkan itu. Rasa cinta nya pada sang istri sangatlah besar, namun kasih sayang nya pada Berea tak terhingga. Pilihan yang sulit memang, hingga sebuah kesepakatan pun di buat.
Bern akan mencintai kedua anak nya, dengan syarat Berea pun mendapat perhatian yang sama. Dibiarkan bermain bersama kedua adik nya tanpa di beda-beda kan. Lizzie setuju, namun sikap nya berubah semakin dingin pada Berea. Dan itu menyakiti hati kecil Bern.
__ADS_1
"Kau putri Daddy sampai kapan pun. Bahkan jika ada yang mengklaim mu sebagai darah daging nya, daddy tidak akan rela. Tetap lah menjadi Berea putri kebanggaan Daddy. Kau adalah putri terbaik yang pernah daddy miliki. Jadi apa pun yang menjadi kesedihan mu, juga menjadi kesedihan daddy. Apapun yang membuat mu terluka, maka daddy akan merasa terluka lebih parah lagi. Kita adalah kesatuan takdir yang sempurna, kau adalah permata murni yang tiada dua nya. Jangan pernah menyimpan duka mu lagi seorang diri, daddy sakit melihat air mata mu mengalir diam-diam di balik redup cahaya malam. Itu sangat menyakiti hati daddy, sweet heart...."
Diam-diam di balik pohon, ada sepasang mata yang mengurai air bening dalam jumlah yang tak sedikit. Entah apa yang membuat nya berpikir untuk menyusul kedua nya. Namun apa yang dia saksikan, seperti sebuah tamparan keras menghantam wajah nya. Rupa nya sikap nya selama ini, telah menggoreskan luka dalam di hati kedua nya. Dengan langkah lebar, dia pergi dari sana bersama setumpuk beban luka, yang telah di torehkan pada sang suami dan putri tercinta nya.