
"Apa kau yakin aku tak perlu mampir? aku hanya ingin berkenalan dengan keluarga mu honey.." bujuk Grend lagi.
Helen menggeleng pelan tanda penolakan nya masih sama. Grend mende*sah pasrah.
"Baiklah, tapi besok pagi aku akan menjemputmu dengan atau tanpa persetujuan mu. Aku tak ingin mendengar penolakan." Helen mengangguk setuju, mereka baru tiba di rumah Helen pukul tiga sore. Hari ini acara perkemahan romantis mereka di recoki oleh Berea dan adik-adik nya. Dan itu berhasil membuat wajah Grend di tekuk sempurna hampir separuh hari.
Berea lebih banyak menguasai Helen, Grend menjadi sangat kesal.
"Ingat! jangan merubah apapun, aku suka kau yang seperti biasanya. Besok pagi saat aku menjemputmu, aku ingin melihat kuncir, kaca mata dan baju tertutup yang biasa kau kenakan." Ucap Grend penuh peringatan. Helen terkekeh pelan, teringat ucapan Berea di pantai tadi yang berencana mengubah penampilan nya besok menjadi Helen yang baru.
Tentu saja itu membuat Grend seperti orang terbakar. Dia tak suka Helen mengubah apapun pada penampilan nya. Dapat dia lihat tatapan curi-curi dari sahabat nya Dom dan juga Andy ketika baru melihat Helen. Tatapan terpesona yang menyebalkan.
"Baiklah, aku tidak akan mengubah apapun. Tapi jika ku pikir-pikir, kau tidak akan terpesona pada ku jika aku tidak merubah sedikit penampilan ku semalam." Goda Helen membuat pipi Grend merona malu.
"Mana ada seperti itu. Aku sudah sejak lama menyukai mu, hanya saja aku masih bodoh saat itu. Sudah jangan di bahas lagi, atau aku akan menerkam mu saat ini juga." Ancam Grend berusaha mengubah pembahasan mereka. Dia sangat malu mengingat kelakuan laknat nya selama ini.
Helen tertawa renyah melihat Grend mulai salah tingkah, dan itu berhasil membuat Grend kembali terpesona untuk kesekian kalinya.
"Satu lagi, jangan tertawa lepas seperti ini lagi jika kita berada di tempat umum. Astaga! kenapa kau semakin menggemaskan, aku jadi kesal sendiri." Ujar Grend menjawil hidung mancung Helen dengan gemas.
"Kau ini, banyak sekali aturan." Keluh Helen pura-pura merajuk.
__ADS_1
"Biar saja, aku hanya tak ingin tawa mu mengundang tatapan suka para buaya. Jadi menurut lah honey." Pinta Grend serius.
"Baiklah baiklah, aku akan menjadi kekasihmu yang penurut." Putus Helen membuat senyum penuh kemenangan terbit sempurna di bibir seksi Grend.
"Pulang lah dan hati-hati, jaga hati. Ingat kau sudah punya kekasih sungguhan." Ucap Helen penuh peringatan lalu di akhiri tawa meledek.
"Siap honey! kau juga, jaga mata dan hati mu. Aku ini pencemburu, akan aku bunuh pria yang mendekati mu jika kau berani berpaling dari ku." Balas Grend penuh ancaman mengerikan. Helen mencebik, siapa juga yang ingin dengan nya selain si bodoh Grend. Begitu lah pikir Helen yang selalu merasa insecure terhadap dirinya sendiri.
Grend pulang membawa hati dengan setumpuk cinta. Senyum lebar nya tak henti-hentinya dia perlihatkan, meski sedang sendirian. Hati nya terlalu bahagia, kini dia mengerti rasanya menjalin sebuah hubungan dengan status yang jelas. Sungguh berbeda dan terasa menyenangkan. Dia bahagia. Helen adalah cinta nya yang meski sedikit terlambat dia sadari.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Lizzie terlihat tengah berbelanja kebutuhan rumah tangga di sebuah supermarket bersama sang suami tercinta. Jika di tanya apa pekerjaan Bern, jawaban nya adalah sama seperti pekerjaan nya terdahulu. Namun pria itu lebih banyak bekerja dengan menjadi ajudan sang istri. Tidak ada yang protes. Karena dia lah kepala polisi di kota tersebut. Keluarga kaya raya dengan hati yang mulia. Mendirikan sekolah dan kampus bergengsi dengan biaya yang menyesuaikan dengan kemampuan orang tua murid. Mendirikan supermarket besar dengan harga miring. Pabrik tekstil dengan banyak karyawan. Perusahaan otomotif terbesar di kota itu dengan ribuan karyawan. Mendirikan rumah sakit terbaik dengan fasilitas lengkap dan pelayanan ekslusif.
Siapa pun tidak akan ada yang berani protes jika pria itu hanya kekantor sekedar cuci mata. Bern tidak pernah betah duduk dikantornya lebih dari dua jam. Pekerjaan yang paling dia sukai adalah menjadi sopir dan asisten pribadi sang istri tercinta. Pekerjaan tanpa sepeserpun gaji tersebut, lebih menarik dari pekerjaan apapun bagi Bern si budak cinta.
"Honey, lihat apa yang aku beli..." mata Lizzie melotot sempurna melihat apa yang suami gila nya bawa di tangan nya.
"Apa kau sudah bosan bercinta secara normal dengan ku, dad?" pertanyaan Lizzie sontak membuat kepala Bern menggeleng keras seperti seorang anak yang tengah di intimidasi oleh ibu nya.
"Bagus. Letak kan kembali benda laknat itu." Bern segera menuruti ucapan sang ratu hati.
__ADS_1
"Kau? kemarilah..." ucap Lizzie pada karyawan yang kebetulan tengah melintas di hadapan nya.
"Saya nyonya? ada yang bisa saya bantu..." ucap nya senang, karena untuk pertama kalinya dia mempunyai kesempatan untuk berbicara langsung dengan pemilik supermarket tersebut.
"Bisa kah kau singkirkan benda jahanam para pria itu ke tempat yang tak langsung bisa di jangkau mata." Tunjuk Lizzie pada deretan pengaman dalam berbagai bentuk dan merk. Membuat wajah gadis itu merona malu.
"Baik nyonya, saya akan mengambil troli terlebih dahulu." Ujar nya sedikit gugup. Lalu pamit undur diri dari hadapan sang pemilik pusat perbelanjaan tersebut. Rasa nya seperti mendapat hadiah lotre saat mendapat perintah langsung dari Lizzie. Aura tegas nya membuat orang-orang merasa damai sekaligus sungkan disaat bersamaan.
"Sayang. Kenapa di pindah kan? bagaimana jika anak-anak muda malu bertanya pada karyawan." Lizzie kembali melotot mendengar kalimat nyeleneh dari mulut sang suami.
"Kau ini penegak hukum, kenapa malah ingin merusak moral para penerus bangsa!" desis Lizzie tak habis pikir. Sementara Bern terbahak mendengar kekesalan istri tercinta nya.
"Aku bercanda honey. Lihatlah, kota ini menjadi lebih aman semenjak kita kemari. Selain lebih maju dengan bertambahnya populasi manusia baru, tidak terdengar kejahatan terjadi dengan brutal. Artinya kedatangan kita membawa efek yang baik, bukan?" ungkap Bern tersenyum bangga.
Benar, dulu kota itu terlihat tak tertata dengan baik. Baik peraturan dalam kota maupun keamanan nya. Banyak orang memilih hengkang dari kota itu mencari pekerjaan di kota lain, sehingga hanya meninggalkan mereka yang tak mampu dan beberapa orang kaya yang tak peduli pada hal lain selain pundi-pundi. Namun kedatangan mereka membawa perubahan yang sangat signifikan.
Perlahan Bern merubah struktur tata kota juga aturan hukum yang terlihat lebih banyak timpang. Hingga kota itu terbenahi dengan baik tahun demi tahun. Tak ada lagi penduduk yang bermigrasi ke kota lain, bahkan banyak pendatang yang justru berdatangan. Kota itu menjadi seperti kota sekesal las Vegas dan California. Kota sibuk namun dengan tingkat kejahatan yang sangat minim.
"Ya ya, dan akan lebih baik jika kepala polisi kota ini sadar akan tugas utama sebagai seorang aparat hukum." Sindir Lizzie telak. Namun bukan Bern namanya jika mengambil hati akan ucapan sadis wanita cantik itu.
"Aku lelah menjadi orang kaya, bekerja akan membuat ku di gaji. Aku tak tau harus menyimpan uangku dimana lagi. Bank bahkan sudah menolak uang ku yang banyak itu, honey." Ujar Bern sombong. Lizzie mencebik saat melihat suami nya mulai menyombong kan diri. Meski Bern tidak benar-benar serius dengan ucapan nya. Namun jika soal kekayaan, itu memang benar adanya. Namun kesombongan ? itu tidak ada dikamus keluarga itu.
__ADS_1
Mereka bahkan memiliki Bank sendiri. Sekaya itu keluarga Bern.
Brukk