
"Damn it!" seru Sky kesal. Berkali-kali Pria itu memukul kemudi mobilnya.
Drrrttt drrrttt drrrttt
"Lain kali bekerja lah menggunakan otak mu! Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi, aku lelah harus membawa anak istriku pindah ke sana kemari!" klik
Sky mengumpat tak jelas, dirinya ketinggalan jejak orang suruhan orang tua nya. Sekarang dia harus bergerak cepat, sebelum kediaman mereka ditemukan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Lagi? gumam Cloey "dad?" Cloey masih duduk di sisi ranjang, nyawanya masih belum terkumpul semua. Dan sekarang harus mencerna perkataan cepat sang suami. Mendadak Cloey merasa mual dan pusing.
"Sweet heart? kenapa kau masih Di sana? bersiaplah, kita harus segera pergi." Setelah mengemas barang yang akan mereka bawa, Sky meraih sweater rajut untuk sang istri.
"Pakai ini sweet heart, diluar sangat dingin" perintah Sky sembari memasang kan sweater tersebut ditubuh Cloey. "Ayo, Lizzie sudah menunggu di mobil bersama mina dan......" kalimat Sky tergantung akibat suara dentuman keras dari arah gerbang rumah nya. Sekilas Sky mengintip dari balik jendela, terlihat ada dua mobil hitam memasukinya pelataran rumahnya. Pikiran nya kacau sekarang, istri nya sedang hamil besar, lalu putri. Nafas Sky tercekat, Lizzie dan pengasuh nya juga Mina ada di mobil menunggu mereka.
"Sweet heart, dengar kan aku baik-baik, oke. Diluar sana ada beberapa orang jahat sedang mengepung rumah kita." Sky menjeda kalimat nya, pikiran nya kalut, Cloey terlihat tak berekspresi. Entah apa yang dipikirkan oleh wanita itu sekarang.
"Kita akan keluar melalui pintu itu," tunjuk Sky menunjukkan sebuah lemari besar. "Ada pintu dan jalan rahasia di sana, aku akan mengantarmu setelah itu aku akan kembali. Lizzie tadi aku suruh tunggu di mobil, ini keteledoran ku. Maafkan aku sweet heart, aku akan menyusul mu setelah berhasil membawa Lizzie." Raut wajah Cloey memperlihatkan kecemasan, namun sekarang dia harus menuruti apa yang suaminya perintah kan.
"Bawa Lizzie pada ku, dad" ujar Cloey akhirnya membuka suara, wanita itu memohon dengan suara bergetar.
"Pasti, ayo" kedua berjalan melewati lorong yang hanya selebar 1 meter dengan tinggi sekitar 2 meter tersebut. Setiba di ujung lorong, ada 3 jalan yang harus dipilih, Sky berhenti sejenak, Istri terlihat kelelahan, di dalam hawanya sedikit pengap.
"Lewati jalur kanan ini, didepan kau akan menemukan dua jalan lagi ambil kiri, setelah itu kau hanya perlu mengikuti sampai kemana lorong ini berujung. Saat kau keluar, disana ada mobil Range Rover warna hitam di balik semak-semak. Masuk lah ke dalamnya, bersiap di kursi kemudi. kau masih ingat cara mengemudi, sweet heart?" Sejenak Sky nampak cemas, pasalnya, sudah lama sekali istri nya tidak pernah mengemudi kan mobil.
"Aku bisa, cepatlah menyusul ku" Sky mencium bibir sang istri dengan perasaan kalut. "jika aku tidak datang dalam waktu 20 menit, pergilah ke Catalina lebih dulu. Kau mengerti sweet heart?" Cloey hanya mengangguk lemah. Sky berbalik arah, dia harap putri nya baik-baik saja. Sky merutuki kebodohan nya, bagaimana bisa dia menyuruh putri nya menunggu lebih dulu di sana.
Saat akan menggeser lemari penghubung, Sky berhenti sejenak. Terdengar suara beberapa orang di dalam kamar mereka, jantung nya seolah berhenti bekerja. Suasana ini persis seperti yang dia alami di dalam mimpi nya, di buru oleh beberapa orang tak di kenal.
"Katakan dimana tuanmu? Atau kepala mu akan aku tembak!" nafas Sky tercekat, jika salah satu dari mereka tertangkap, lalu bagaimana dengan putri nya. ingin sekali Sky keluar dari balik lemari, namun mengingat jika nyawa istri nya juga akan ikut terancam, jika para bajingan itu mengetahui perihal pintu rahasia tersebut. Sky akhirnya memilih menunggu, meski ketakutan melanda dirinya.
"Aku tidak tau, meski tau pun, aku tidak akan memberitahu kan pada kalian. Dasar manusia laknat, a*n*jing penjilat seperti kalian akan cocok menempati dasar neraka paling dalam!" Seru Sofi menatap nyalang pada pria yang tadi menyeretnya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Kau terlalu banyak bicara, nona. Katakan saja, maka nyawamu ku ampuni." Tegas si pria tak ingin terpengaruh oleh makian Sofi, dia tau jika wanita itu sedang berusaha membuat nya tersulut emosi.
"Maka tembaklah aku, karena meski nyawa ku sudah di ujung kerongkongan. Aku tidak akan mengatakan apapun padamu" tantang Sofi tanpa sedikitpun memperlihatkan rasa takut di wajahnya yang sudah babak belur.
"Astaga! Jeff, tembak saja dia, Wanita ini hanya ingin mengulur waktu kita, agar tuannya punya banyak waktu untuk kabur sejauh mungkin." Salah satu pria itu mengarah kan laras senjata nya ke kepala Sofi. Wanita itu hanya memejamkan kedua matanya, dalam hatinya berdoa, agar bibinya Mina dan Lizzie sudah menjauh pergi dari persembunyian mereka.
Dor dor
Tubuh Sofi tersentak, hening, suara derap langkah menghampiri nya. Perlahan Sofi mencoba membuka matanya, hal pertama ya dia lihat adalah si pria pertama, yang menyeret nya dari mobil hingga ke dalam kamar ini.
Matanya menelisik sekitar, dapat dia lihat dua pria yang salah satunya tadi mengarahkan pistolnya pada dirinya. Apa yang terjadi pikir nya.
"Bersihkan wajahmu, kau akan ikut denganku" suara dingin Jeff membuyarkan lamunan Sofi.
"Aku tidak mau, jika kau ingin membunuh ku maka lakukan sekarang. Jika tidak, aku yang akan membunuh mu" Sofi mengarahkan pistol yang dia temukan di samping ke arah punggung Jeff. Tubuh Sofi bergetar hebat. Rupanya, pistol pria tadi terlempar ke arah Sofi.
Jeff berbali, seringai remeh dia perlihatkan di wajahnya "tembaklah, apa kau tahu cara menggunakan nya? apa perlu aku ajari?" ujar Jeff memberikan penawaran merendahkan.
Krrieettt
Sofi reflek menoleh, disana tuannya berdiri dengan pistol yang sudah mengarah ke arah Jeff, Sofi berlari ke arah punggung Sky.
"Maaf kan saya tuan, nona muda telah berhasil pergi bersama bibi Mina. Mereka menuju ke ujung gelanggang utara lorong rahasia itu" Sky mematung, bagaimana bisa Sofi mengetahui perihal lorong rahasia itu. Namun sekarang yang penting melenyapkan orang kepercayaan orang tua nya itu, lalu mencari putri nya.
"Tuan muda" Jeff menunduk hormat, Sky mengernyit dahinya bingung. Bagaimana bisa Jeff memberi kan rasa hormat padanya, bukankah Jeff adalah orang kepercayaan ibu dan ayahnya.
"Kau membuat ku ingin tertawa Jeff, apa sebegitu takutnya kau pada kematian, sehingga memilih merendahkan harga diri dan juga loyalitas mu." Ejek Sky menyeringai.
"Aku di tugaskan untuk menjaga keluarga anda, tuan muda. Aku adalah bayangan yang bekerja 3 arah sekaligus" Sky menatap lurus pada Jeff, sedikit lengah pria itu bisa saja membalik keadaan. "Ikutlah bersama ku, dan kau! Tunjuk Jeff pada Sofi, "tidak usah ikut-ikutan menodongkan senjata mu padaku. Atau paling tidak, buka dulu lock nya." Ujar Jeff meremehkan. Sofi segera mengarahkan pistol ke arah untuk melihat letak lock pada pistol di tangan nya.
Dengan tangan yang masih menekan pelatuk, Sofi menekan lock, dalam hitungan sepersekian detik. Suara letusan pistol itu menggema di kamar tersebut, Sofi limbung, dengan sigap, Jeff menangkap tubuh lemah Sofi.
"Dasar ceroboh" umpat Jeff kesal. Bertambah lagi bebannya sekarang, tidak mungkin dia membiarkan tuan mudanya yang menggendong tubuh wanita itu.
__ADS_1
Sky masih mematung, dirinya begitu terkejut saat mendengar suara letusan pistol Sofi tepat di samping telinga nya. Jantung nya masih belum bisa berdetak dengan baik sekarang.
"Tuan, ayo kita menyusul nona muda dan istri anda." Sky yang masih syok, hanya bisa mengangguk pelan, rupanya trauma nya masih membayangi nya sampai sekarang.
Setelah berjalan hampir 20 menit, mereka sampai di tempat dimana disana sudah ada Lizzie, Cloey juga Mina. Dari dalam mobil dapat Cloey lihat bagaimana Sofi, pengasuh putri nya berada dalam gendongan pria asing.
Klek
Cloey keluar dari mobil dan menyongsong suaminya, keduanya berpelukan erat.
"Maaf, aku tidak sempat menemukan Lizzie, aku tidak tau jika Mina dan Sofi sudah tau tempat ini." Ucap Sky merasa bersalah.
"Tidak apa, aku juga terkejut, tapi yang penting kau dan Lizzie baik-baik saja sekarang." Tukas Cloey menenangkan suaminya.
"Masuklah, aku akan membawa kalian ke tempat aman" Sky menatap ragu pada Jeff, bagaimana pun Jeff adalah orang kepercayaan ayah dan ibunya, dan sekarang, pria itu menawarkan harapan keselamatan pada mereka. Sungguh di luar perkiraan nya.
"Cepatlah, kurang dari 10 menit. Kita tidak akan bisa keluar dari kota ini dengan utuh." Tekan Jeff tidak sabar.
"Dad? tidak apa-apa, paman Jeff orang baik." Sky menatap tak percaya pada putrinya, namun segera dia menggandeng tangan istri nya menuju kursi belakang. Sofi di dudukkan di kursi depan dengan jok yang sedikit di turunkan. Wanita itu mengalami luka lecet di keningnya, akibat tersapu peluru yang numpang lewat di sana.
Setelah mengambil posisi paling nyaman, Jeff mulai melakukan mobilnya menuju utara. Semua sesuai perintah yang dia dapatkan, meski kini dia tau, keluarga nya sedang terancam bahaya. Namun loyalitas nya pada tuannya, membuat Jeff mengesampingkan rasa khawatir nya untuk sekarang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah perjalanan hampir 10 jam, mereka beristirahat di sebuah rest area untuk membeli bahan bakar juga makanan. Sofi sudah terbangun sejak 4 jam yang lalu dan mulai berdamai dengan pria yang membuat wajah cantik lebam-lebam.
"Sweet heart? ayo makan ini dulu, kau harus tetap makan, ingat bayi kita di dalam sini." Bujuk Sky, Cloey mengalami mabuk perjalanan. Rasanya sungguh menyiksa, sejak hamil, Cloey tidak kuat melakukan perjalanan jauh.
"Aku masih mual, dad. Berikan pada Lizzie dan Sofi. Lihat Sofi masih pucat, seperti nya masih syok dengan kejadian tadi." Ungkap Cloey bersandar di jok mobil, wanita itu berpindah ke jok depan, mau tidak mau Sky harus menahan rasa cemburu melihat istri duduk dengan pria lain. Wlaaupun di kursi yang berbeda, tetap saja hatinya resah.
"Sofi sudah makan, begitu juga Lizzie dan Mina. Ayo, aku suapi sedikit saja, ini minum lah teh herbal hangat ini. Ini akan membantu mengurangi rasa mual mu," Sky tak menyerah untuk membujuk sang istri, Cloey terlalu banyak muntah diperjalanan tadi. Pasti sekarang perut nya kosong, dan itu tidak baik untuk Cloey juga kedua anaknya.
"Kau sangat pemaksaan, dad" namun Cloey tetap membuka mulutnya, walau mata'nya menatap sebal pada sang suami. Sky hanya terkekeh pelan, biarlah istri nya memarahinya, asal wanita itu mau mengisi perut nya walau sedikit.
__ADS_1