
Kehamilan Ashley sudah memasuki bulan ke 7, selama masa kehamilan nya, Aslan tidak pernah merasa di buat kerepotan oleh ibu hamil itu. Berbeda sekali dengan cerita teman-teman sepekerjaannya, yang selalu mengeluhkan tentang betapa cerewet nya istri-istri mereka. Aslan justru ingin Ashley ceriwis pada nya, sayangnya, wanitanya itu terlihat tangguh dan mandiri.
"baby?" Aslan datang dengan nampan di tangannya, hari ini dirinya libur kerja, dan ingin menghabiskan banyak waktu bersama sang istri di rumah. Dia ingin memanjakan wanita nya itu, meski dia tau, Ashley bukanlah tipe wanita seperti itu. Dan yang paling dia sukai adalah, Ashley menjadi lebih ke ibuan. Mulai berbicara lembut dan tidak pernah ketus lagi padanya.
"Dad, aku bilang aku bisa melakukan nya sendiri. Duduk di sini, aku sedang memantau tetangga baru kita. Aku berpikir untuk memasak kan sesuatu dan makan malam bersama. Bagaimana menurut mu?" Ashley menatap suaminya meminta pendapat.
Aslan duduk di sisi istri kemudian meletakkan nampan berisi gelas susu, dan beberapa slice cake yang tadi dia beli. Tidak lupa teh melati kesukaan nya sendiri, Aslan tidak suka kopi, itulah kenapa di dapurnya tidak ada stok kopi.
"Ide yang bagus mom, kau ingat saat kita baru pindah? para tetangga membawakan kita banyak sekali makanan. Kata mereka sebagai bentuk rasa senang mereka karena bertambahnya anggota baru di lingkungan ini." Aslan juga merasa perlu untuk melakukan penyambutan yang sama. Tetangga nya yang lain pasti sudah bertandang ke rumah tetangga baru mereka tersebut.
"Bagaimana dengan pie buah, aku juga ingin membuat iga bakar." Ujar Ashley berbinar. Dirinya sangat menyukai jenis makanan yang baru saja dia sebut barusan. Aslan terkekeh ringan, dia merasa sang istri sedang memberikan pilihan atas selera sendiri.
"Baiklah, nanti aku buat kan iga panggang nya. Kau yang membuat pie buah nya. Buahnya biar aku saja yang menyiapkan, nanti tinggal kau tata saja jika pie nya sudah matang." Aslan menyuarakan ide nya yang langsung di setujui oleh Ashley dengan senyum sumringah.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Kau yakin, itu putraku?" tanya Samara dengan nada dingin. Sudah berbulan-bulan, rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
"Saya sangat yakin nyonya. Tuan muda bersama seorang wanita dan tiga orang anaknya." Jelas Armand penuh keyakinan.
Samara menyeringai aneh mendengar laporan tersebut. Tiga orang cucu? bukan kah akan hebat, jika dirinya bisa membawa serta cucu-cucunya. Maka kekuasaan nya semakin kuat. Armand bergidik ngeri melihat seringai devil yang di tunjukkan oleh nyonya nya tersebut.
__ADS_1
"Rencana berubah. Bukan hanya putraku yang kalian bawa, serta kan juga ketiga cucuku. Dan ya, mengingat perjalanan yang panjang, bius saja ketiganya." Titahnya tanpa perasaan. Armand membelalakkan matanya, mendengar perintah tak manusiawi tersebut. Sungguh iblis versi nyata batin nya meringis ngeri.
"Maaf, nyonya. Cucu pertama anda baru berusia 4 tahun dan kedua adiknya sekitar satu bulan. Anda yakin ingin membius ketiganya untuk waktu 17 jam perjalanan?" Armand bertanya ragu-ragu dengan sedikit keberanian yang dia punya. Mungkin dia adalah seorang penjahat, yang sudah entah berapa nyawa dia hilangkan dari dunia ini. Namun membius bayi dan balita? akal sehat nya masih berfungsi dengan baik. Nurani nya memberontak, bisa saja ketiga tak terselamatkan mengingat perjalanan yang tidak lah dekat.
Samara menatap bengis pada Armand, tatapan yang mampu membuat siapa saja tunduk takut padanya.
"Kau pikir kau siapa, hah?! Lakukan saja tugasmu selebihnya adalah urusan ku. Atau kau lebih memilih untuk memberikan pekerjaan mu pada orang lain? aku bisa mencarinya dengan sangat mudah, jika saja kau lupa siapa aku." Kecam Samara dengan segala sikap arogansi nya. Armand terdiam, benar, Samara bisa saja mengalihkan tugasnya pada orang lain lalu melenyapkan nya seperti debu. Mengingat Jeff yang entah berada dimana sekarang, masih hidup atau sudah menjadi tulang belulang. Tiga bulan lebih tanpa kabar, bisa jadi bos nya itu sudah bersemayam dalam keabadian.
"Tidak nyonya!" tegas Armand tanpa sedikitpun keraguan. Samara tersenyum samar, siapapun tidak akan menolak lembar-lembar kehidupan. Dan dirinya mampu membeli nurani siapa saja dengan kekuasaan nya.
"Bagus jika kau tanggap dengan cepat. Aku tidak suka memelihara anjing pemburu, yang sudah mulai lupa siapa tuannya." Sinis Samara menatap tajam pada Armand. Armand hanya mampu mengangguk kan kepalanya, tanda dirinya pun sudah bersepakat dengan kehendak nyonya besarnya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Tolong.. jangan lakukan ini pada ku.. aku mohon tuan... ampuni kakakku... kasihanilah aku..." permohonan pilu dari Kalila terdengar begitu menyayat hati, ditelinga seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi sekelas Jeff.
Pelukan nya semakin erat, seakan takut jika gadis itu kabur darinya.
"Aku tidak akan menyakiti mu, percaya lah padaku, Lila." Suara Jeff pun tak kalah putus asa, seminggu semenjak terbangun dari koma nya. Kondisi psikologis Kalila sedikit terganggu, trauma akan kejadian buruk lalu masih membekas lekat di ingatan nya. Mau tidak mau, Kalila harus selalu di beri kan obat penenang untuk menetralkan kondisi mentalnya.
Jeff adalah salah satu orang yang tidak penting beranjak dari sana, pria itu memilih menghilangkan diri nya untuk sementara, agar bisa merawat Kalila meski dengan cara ninja. Gadis itu ketakutan setiap kali melihat laki-laki, Jeff terpaksa melakukan cara ajaib agar bisa merawat Kalila secara langsung. Setelah di beri obat penenang oleh suster, baru lah Jeff bertugas untuk membersihkan tubuh Kalila. Pria itu tidak rela jika tubuh gadis kecilnya di lihat oleh orang lain meskipun itu seorang wanita sekalipun.
__ADS_1
Walau sedikit terlambat untuk menjaganya, namun Jeff akan menebus segala dosanya di masa lalu pada gadis kecilnya itu. Para bajingan yang telah menodai tubuh suci Kalilanya telah dia kirim ke alam baka.
Jeff mengangkat tubuh mungil Kalila dan meletakkan nya di dalam bathtub, dan mulai membersihkan nya secara perlahan. Kalila memakan makanan nya dengan cara yang cukup primitif. Gadis itu kehilangan seluruh etikanya akibat gangguan mental yang dia alami. Kalila memakan makanan nya dengan kedua tangan nya sekaligus, lalu menggaruk kepalanya sesekali menepuk kedua pipinya yang berlepotan makanan. Jeff hanya bisa menatap miris dari balik kaca dua arah, tanpa bisa berbuat apa-apa. Biarlah pikir nya, toh dia bisa membersihkan nya nanti setelah Kalila selesai.
Dan sekarang gadis itu sedang dalam masa periode nya, Jeff bersyukur, ketakutan nya lenyap dengan keluarnya cairan merah tersebut. Dengan telaten Jeff membersihkan semua bagian tubuh Kalila seperti bayi baru lahir.
Selesai mandi seorang suster masuk dengan membawa kebutuhan wanita, dan menawar kan bantuan pada Jeff. Namun lagi-lagi Jeff menolaknya.
"Aku bisa melakukan nya sendiri, Luna. Pergilah, aku sudah belajar memasangnya kemarin bersamamu, dan aku masih ingat caranya." Suara datar Jeff tidak membuat Luna sakit hati. Hanya saja dia pun merasa miris, melihat gadis yang tergolek tak berdaya di atas tempat tidur tersebut. Persis seperti mayat hidup, tubuhnya mungilnya semakin kurus. Untung saja Jeff telaten merawat nya, jika tidak, maka Kalila akan terlihat seperti tubuh tua renta yang tak bernyawa.
"Baiklah Jeff, aku di luar jika kau membutuhkan bantuan ku. Kita ini teman, kau tidak lupa, bukan?" Luna menatap iba pada Jeff, entah kapan terakhir Pria itu merawat dirinya sendiri. lebih 3 bulan ini hanya berfokus pada kesembuhan Kalila tanpa peduli pada dirinya sendiri.
"Aku ingat, Luna. Jangan membuat ku seolah seperti orang yang paling laknat di dunia ini. Aku hanya ingin merawat nya dengan kedua tangan ku sendiri, dengan begitu, aku masih bisa menelan makanan ku dengan sedikit ketenangan." Suara Jeff mulai berat, antara menahan kesal pada dirinya sendiri juga menahan tangisnya. Dia sama sekali tidak marah akan perkataan Luna, hanya saja setiap kali di ingatkan akan loyalitas seorang teman, maka dirinya akan merasa sangat buruk.
Luna menyeka sudut matanya, dia tau siapa Kalila dan orang tua nya. Meski tidak lah sekaya keluarga Belluwig, namun kekayaan juga kekuasaan keluarga itu patut untuk disegani. Namun sekarang semua berbalik arah, para kolega serta sanak keluarga seolah menutup mata dan tidak satu pun mengenal mereka. Miris bukan? keluarga itu cukup dermawan, namun kini di anggap sampah bahkan oleh keluarga sendiri.
Dirinya termasuk yang beruntung mengenal keluarga tersebut, panti asuhan tempat nya tinggal bersama para saudara senasib nya. Mendapatkan bantuan setiap bulannya, juga biaya pendidikan mereka hingga menjadi pribadi mandiri. Jeff adalah sahabat nya semasa sekolah, berasal dari pantai asuhan yang sama. Hanya saja nasib baik berpihak pada nya, Jeff remaja di adopsi oleh keluarga yang cukup mampu. Namun sayang, memiliki latar belakang keluarga mafia, hingga membentuk seorang Jeff yang baik menjadi malaikat pencabut nyawa tanpa perasaan.
Dan kini pria itu hidup dalam penyesalan nya, gadis kecil yang sering dia timang ketika remaja, saat ikut orang tua nya berkunjung ke panti asuhan. Adalah Kalila kecilnya yang kini menjadi korban kebrutalan kelompok nya.
"Baiklah, aku keluar. Maria mengirimkan pesan, jika kau sudah sedikit senggang, cobalah untuk membacanya. Pesan kode merah, hanya kau yang boleh membuka nya." Setelah selesai memberikan informasi tersebut, Luna keluar mengahampiri rekannya, yang sejak tadi hanya menjadi pendengar di balik pintu yang sedikit terbuka.
__ADS_1