Darkest Dream

Darkest Dream
Makan Bersama yang Sesungguhnya


__ADS_3

"Mom? makan lah yang banyak" ujar Leon menambah porsi makan ibu nya. Daging panggang yang hanya bisa mereka nikmati saat paman Duke membagi nya, atau saat hari raya natal di rumah para tetangga mereka. Ibu nya tidak mampu membeli daging, namun mereka tetap bersyukur bisa makan dan tumbuh sehat dan cerdas.


"Cukup Leon, ini terlalu banyak." Ujar Cloey tak enak hati, mereka tengah menikmati makan siang di rumah adik ipar nya, Ashley. Entah bagaimana, adik ipar nya itu menemukan persembunyian mereka.


Sudah satu minggu mereka tinggal di sana, Cloey merasa tak enak karena terbiasa melakukan segalanya sendiri. Namun di sana serba di layani.


"Tidak apa-apa kak, Leon benar. Kakak harus makan yang banyak, aku tidak ingin kakak ku memarahiku nanti, saat dia kembali, istri nya terlihat sangat kurus." Sambung Ashley tanpa filter. Mulut nya masih sama kejam nya seperti saat muda dulu, Aslan menyenggol lengan sang istri. Namun istri nya itu pura-pura tak tau.


"Makan yang banyak bibi, bibi harus makan banyak. Karena selama bibi di sini, selera makan kami terselamat kan. Katakan saja apa yang bibi ingin makan, mom pasti akan langsung memenuhi nya. Ingin daging domban panggang untuk makan malam nanti? mom pasti meminta Merry membuat nya. Pesan saja sebanyak yang bibi suka." Kompor Leegan bersemangat. Liur nya sudah sangat pahit dan hampir mati rasa, dengan menu ajaib ibu nya.


Cloey tersenyum lembut pada keponakan nya, sejak mereka datang, Ashley sekeluarga menyambut mereka layaknya tamu istimewa. Begitu pun si bungsu Leegan. Pria kecil itu begitu bersemangat saat bertemu Leon. Hingga tidur pun dia meminta untuk tidur di kamar nya. Leon pun tak masalah, di rumah kecil nya yang hanya setengah ruang tamu rumah sang bibi. Diri nya dan sang kakak juga berbagi kamar dan kasur kecil mereka.


"Kau makan lah yang banyak, kau sedang dalam masa pertumbuhan. Jadi harus makan yang banyak," ucap Cloey lembut, lalu memindah kan potongan daging sebagian ke piring Leegan. Remaja itu berbinar seakan tak pernah makan daging, itu karena setiap kali makan enak, ibu nya akan menjejali perut mereka dengan ramuan aneh sebagai menu penutup. Saat ada bibi nya, Leegan bisa bernafas lega, sebab, semua menu jahanam itu tidak pernah lagi mampir ke lambung kecil nya.


"Terimakasih bibi rasa ibu" ucap Leegan berhasil mendapatkan lemparan potongan selada dari ibu nya


"Makan makanan mu, jangan puji bibi mu jika hanya menginginkan sesuatu. Dasar anak nakal" tegur sang ibu mengingat kan, Leegan mengangkat kedua jarinya.


"Maaf bibi, kau memang ibu kedua ku. Dan aku juga menyayangi mu" " ujar Leegan tersenyum tulus.

__ADS_1


"Bibi tau, ayo habis kan makanan mu" titah Cloey segera di laksanakan oleh remaja itu tanpa bantahan lagi.


Leon terus memperhatikan ibu nya, sejak tinggal bersama paman dan bibi nya, itulah pertama kali nya, mereka makan bersama. Di mana ibu nya tidak hanya sekedar duduk menunggu sisa dengan mengatakan jika diri nya sudah kenyang, padahal lambung nya berusah keras menahan perih.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Ale duduk melamun di meja makan, mata nya terus menatap kursi kosong di seberang nya. Pikiran nya melayang entah kemana, Lizzie ternyata tidak kembali sampai pagi. Kekhawatiran nya semakin menjadi-jadi.


Sandora menatap cucu nya dengan tatapan sulit, cucu nya akan menjadi salah satu orang yang akan menyakiti salah seorang keturunan darah murni. Sangat di sayangkan, namun begitu lah cara takdir bekerja.


"Makan sarapan mu, Lizzie tidak akan muncul meski kau terus menatap kursi nya hingga kedua mata mu melompat keluar." Tegur Sandora penuh penekanan. Ale dengan lesu menyantap sarapan nya.


Sandora menatap punggung lebar cucu nya dengan tatapan miris.


"Kelak, kau akan menjadi pria yang paling di benci oleh Lizzie, Sandro. Jika saja aku bisa mengubah takdir mu, akan nenek lakukan dengan senang hati." Sandora mengusap sudut matanya yang berembun. Hati nya tidak tenang, kenapa keturunan klan nya harus mengulang kisah lama.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Ashley menatap kakak ipar yang tengah duduk melamun di teras belakang rumah. Dia tau kemana arah pikiran wanita itu berkelana.

__ADS_1


"Khemmm.." Cloey menoleh cepat mendengar suara deheman adik iparnya.


"Ash? ku pikir kau sudah pergi." Ucap Cloey tersenyum ke arah adik ipar nya.


"Aku baru akan berangkat, aku hanya ingin memastikan jika kakak ipar ku yang cantik ini makan siang yang banyak hari ini. Aku tidak sempat makan siang di rumah, aku ingin ke pabrik menemui Aslan. Leon hari ini akan menjemput Leegan ke sekolah, anak itu pasti modus ingin mengenalkan kakak nya pada gadis remaja di sana." Ujar Ashley panjang lebar, Cloey tersenyum simpul. Benar, Leegan sangat dekat dengan Leon semenjak mereka datang.


"Biarkan saja, Leon pasti bosan jika tidak mengerjakan apapun di rumah. Dia terbiasa melakukan aktivitas sepulang sekolah. Hanya saja, Leon belum memiliki ijin mengemudi. Aku harap putraku tidak membuat masalah untuk kalian" ujar Cloey tak enak hati.


"Ck! seperti pada siapa saja. Leon akan mendapatkan ijin mengemudi nya Minggu depan. Aslan sudah mendaftar Leon untuk mendapatkan nya. Tes nya tidak akan sulit " Terang Ashley mengibaskan tangannya.


"Aku pamit, makan yang banyak. Aku akan memarahi Merry dan Mina jika kau makan sedikit lagi hari ini." Ancam Ashley penuh peringatan, namun di balik itu, wanita itu sedang berusaha menunjukkan perhatian nya pada sang kakak ipar.


"Baiklah, aku akan menghabis kan makanan di dapur mu nanti. Kau akan kewalahan memberiku makan setelah ini" Seloroh Cloey tertawa pelan.


Setelah kepergian Ashley, Cloey menatap liontin berisi foto suami nya. Air matanya menetes tanpa bisa di cegah.


"Aku merindukan mu, dad" lirih Cloey terdengar begitu pedih. "Kapan kau akan kembali, anak-anak sedang menantang maut untuk membawa mu kembali. Tidak kah kau mengasihani wanita lemah ini, aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi. Tidak kau atau anak-anak kita. Pulang lah, aku masih menunggu mu dengan perasaan yang sama." Cloey menangis terisak, Leon yang hendak pamit menjemput adik nya, menghentikan langkah nya di balik pintu kaca.


Air mata nya ikut mengalir deras, mendengar ungkapan hati sang ibu yang begitu menyayat jiwa nya. Kapan penderitaan wanita kesayangan nya itu berakhir, dia tidak sanggup lagi melihat air mata itu mengalir diam-diam tanpa ada yang menyeka nya.

__ADS_1


__ADS_2